
"Ah, nggak kenapa-kenapa. Dom ingat, jodoh itu nggak akan kemana dan nggak akan pernah tertukar. Jika tuhan yesus mentakdirkan mu berjodoh dengan wanita itu, maka tak ada satu pun yang akan bisa memisahkan kalian berdua. Termasuk agama yang menjadi penghalang tersebut," jawab Dominic menanggapi bijak pertanyaan sang anak.
***
"Papa benar. Makasih atas pencerahannya pa. Jawaban papa sangat memuaskan sekali. Aku jadi tenang dan tidak pusing lagi. Ya sudah, kalau begitu aku akan coba pelajari agama yang di anut oleh wanita pujaan ku itu. Selanjutnya, aku akan membandingkannya dengan agama yang aku anut saat ini. Tapi pa, aku mohon sama papa, jangan sampai mama tau. Aku nggak mau mama mengamuk lagi," ucap Dominic semakin bangga dengan papanya itu.
"Ok. Kamu tenang saja. Tapi ingat nak, agama itu tidak ada yang buruk. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi jika kamu mencintai suatu agama, maka kamu tidak akan melihat kekurangan dari agama tersebut. Sama seperti papa melihat mama mu. Meskipun mama mu itu galak dan judes, tapi papa tidak menganggap itu kekurangannya, melainkan kelebihannya," jawab Cristinus membuat tawa Dominic pecah.
"Haha, papa ini bisa saja. Bagaimana kalau mama dengar, papa pasti akan kena omel olehnya," ucap mahasiswa abadi itu.
"Tenang, papa sudah punya jurus buat bikin mama mu tidak marah," balas Cristinus membalas candaan anaknya itu.
"Wiro sableng kali pa jurus. Ya sudah, kalau gitu aku mau pergi dulu. Sekali lagi makasih ya pa. Papa memang papa terhebat ku," ucap Dominic meninggalkan ruangan kerja papanya itu..
"Sama-sama nak. Kamu sudah tumbuh besar sekarang. Hhhhhh, waktu memang berjalan begitu cepat. Entah bagaimana keadaan Siti sekarang. Aku harap dia bisa menemukan kebahagiaannya walaupun tak bersama ku. HHhhhhhh, maafkan aku Siti. Aku pengecut. Aku tak seberani Dominic putraku," gumam Cristinus teringat kembali masa-masa bahagianya dengan Siti beberapa tahun yang lalu.
Sementara itu, Khadijah yang tengah melamun memikirkan Dominic, tiba-tiba saja di buat terkejut dengan ketukan pintu kamarnya. Dengan cepat, ia memasang hijabnya dan juga cadarnya seketika.
"Ibu. Silahkan masuk bu," ucap Khadijah meminta sang ibu untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa bu? Apa ibu perlu sesuatu?" tanya Khadijah kembali melepas hijab dan juga cadarnya.
__ADS_1
"Nggak nak. Ibu hanya ingin bersama mu saja. Hmmmmmm, Khadijah, kalau ibu boleh tau, apa kamu sudah punya keputusan mengenai lamaran itu?" tanya ibu Siti membuat Khadijah menarik nafasnya panjang.
"Hmmmmmm, gimana ya bu. Kalau aku boleh jujur, sebenarnya aku sudah mencintai pria lain," jawab Khadijah membuat ibu Siti membelalakkan matanya. Ia terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh anaknya itu.
"Apa? Kamu mencintai laki-laki lain? Siapa? Kenapa ibu nggak tau nak?" tanya wanita paruh baya itu.
"Maafkan aku bu. Bukannya aku ngga mau cerita sama ibu, tapi selama ini aku masih bingung bu dengan perasaanku bu," jawab gadis cantik itu.
"Kalau ibu boleh tau, siapa laki-laki itu?" tanya ibu Siti lagi.
"Dia.. Dia.. Dia kakaknya Alina bu," jawab Khadijah menundukkan kepalanya.
"Bu, ibu kenapa diam? Aku tau aku salah bu. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaan ku ini," ucap Khadijah takut jika sang ibu akan kecewa padanya.
"Khadijah.. Bagaimana bisa kamu mencintai laki-laki yang tidak seiman dengan mu? Kamu tau sendiri kan nak jika agama kita melarangnya?" tanya ibu Siti dengan mata yang mulai berembun.
Melihat sang ibu akan menangis, seketika Khadijah merasa bersalah. Wanita soleha itu segera memeluk sang ibu dan meminta maaf berkali-kali.
"Bu, maafkan aku bu. Maafkan aku. Aku janji akan membuang jauh-jauh perasaan ku ini. Aku janji bu. Aku nggak mau ibu menangis karena aku. Aku mohon maafkan aku bu," ucap Khadijah di sela-sela tangisannya.
"Khadijah sudah, jangan menangis. Kamu nggak salah nak. Kamu nggak salah apa-apa. Perasaan cinta itu memang tidak bisa di tentukan. Ia datang dan menetap di tempat yang ia sukai. Begitu juga dengan perasaan mu terhadap kakaknya Alina. Jadi bagaimana? Apa kamu akan menolak lamaran ustadz Zaki?" tanya ibu Siti lagi.
__ADS_1
"Aku nggak tau bu. Aku benar-benar bingung. Hmmmm, bu,kalau menurut ibu, apa aku dan kak Dominic akan bisa bersatu?" tanya Khadijah membuat sang ibu menghela nafas berat.
"Maafkan ibu nak. Ibu tidak tau karena ibu bukan tuhan. Tapi kalau menurut ibu, kamu sepertinya tidak akan bersatu dengan kakaknya Alina. Kamu tau sendiri kan nak, agama kita melarang pernikahan beda agama. Kecuali ada di salah satu kalian yang mengalah dan memutuskan untuk pindah mengikuti agama pasangannya. Tapi sumpah demi Allah nak, ibu tidak akan ikhlas dan ibu tidak akan rela jika kamu yang mengalah dan mengikuti agama mereka. Lebih baik kamu pikirkan lagi matang-matang sebelum mengambil keputusan," jawab ibu Siti semakin membuat semangat Khadijah patah.
Rupanya pembicaraan ibu dan anak itu di dengar oleh sang ayah yang entah sejak kapan berdiri di dekat pintu masuk. Melihat sang istri yang mulai kebingungan, ia pun melangkah masuk ke kamar anak gadisnya itu.
"Hhh'mmmm.. Khadijah, ayah telah mendengar semua pembicaraan kamu dengan ibumu. MAafkan ayah, bukan maksud ayah untuk menguping pembicaraan kalian. Tetapi saat ayah akan melewati kamar mu, aya tak sengaja mendengar semuanya," ucap ayah Husin dengan tatapan dingin dan berwibawa nya.
"Maafkan aku yah, aku tidak bermaksud membuat ayah sama ibu kecewa. Tapi aku janji jika aku akan membuang jauh-jauh perasaanku terhadap kakaknya Alina.
"Hhhhh, baguslah kalau begitu. Ayah senang mendengarnya. Kalau begitu, terimalah lamaran ustadz Zaki. Dengan begitu secara perlahan rasa cintamu terhadap Dominic akan hilang dan berpindah kepada ustadz Zaki," ucap ayah Husin bagaikan suatu perintah yang harus ia taati.
"Hhhhhh, baiklah yah. Aku akan menerima lamaran ustadz Zaki," jawab Khadijah yang sebenarnya merasa keberatan.
"Bagus. Kalau begitu, besok ayah akan bawa ustadz Zaki ke rumah ini sekali lagi.
"Be.. Be.. Besok? Kenapa harus besok yah? Bukankah aku meminta waktu tiga hari untuk menjawabnya?" tanya Khadijah lagi.
"Tidak. Ayah mau besok. Lebih cepat lebih baik nak. Ayah nggak mau pikiran mu menjadi lain lagi.
"Hhhhhhh, baiklah, terserah ayah saja," balas Khadijah terpaksa mengikuti kemauan sang ayah.
__ADS_1