
Sementara itu, Dominic melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Khadijah dan memastikan jika Khadijah tidak menerima lamaran laki-laki itu.
Merasa cemas, Alina pun langsung menghubungi Khadijah dan menceritakan semuanya. Ia meminta maaf atas kelakuan kakaknya dan berharap tidak mempengaruhi persahabatan mereka.
***
"Apa? Jadi kak Dominic mau ke rumahku?" tanya Khadijah balik. Gadis bercadar itu nampak terkejut. Ia tak mau jika Dominic kecewa secepat ini.
"Iya. Memang kakak ku tidak memberi tahukannya sama kamu Khadijah?" tanya Alina lagi.
"Enggak. Tadi kak Dominic sempat nelpon aku. Cuma nggak bilang jika dia mau ke sini," jawab gadis bercadar itu lagi.
"Hhhhhh, aku takut nanti kakak mu merusak acara keluarga mu Kha," ujar Alina nampak khawatir sekali.
"Bahkan sebaliknya Al. Aku bahkan takut jika kakak mu yang akan rusak hatinya jika ia nekat ke sini," jawab Khadijah membuat Alina tidak mengerti.
"Apa maksud mu Khadijah?" tanya Alina penasaran.
"Aku baru saja dilamar dan aku menerima lamaran itu Al," jawab Khadijah dengan suara yang berat.
"Apa? Kamu menerima lamarannya?" tanya Alina terkejut.
Ia masih belum menyangka jika Khadijah menerima lamaran laki-laki itu.
"Iya. Maafkan aku Al. Aku mohon sama kamu tolong hubungi kak Dom dan katakan padanya untuk tidak menemui ku ke rumah. Aku tidak benar-benar belum siap membuatnya patah hati," ujar Khadijah di dengan suara sendu.
"Baiklah Khadijah. Aku tau masalah ini sangatlah rumit. Maka dari itu, aku akan segera menelpon kakakku untuk segera kembali," jawab Alina lalu mematikan panggilannya.
Alina pun terus menelpon sang kakak berkali-kali. Namun sayang sekali, ponselnya tidak bisa di hubungi.
Sementara itu, saat ini Dominic tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia sudah tidak sabar untuk segera bisa bertemu dengan Khadijah.
__ADS_1
Saking buru-buru nya, Dominic sampai tidak sadar jika sang adik telah mencoba menghubunginya berkali-kali.
Lima belas menit kemudian, Dominic pun sudah tiba di pekarangan rumah Khadijah.
Dan di waktu yang bersamaan itu pula, keluarga ustadz Zaki tengah berada depan pintu dan berencana meninggalkan rumah Khadijah.
"Itu.. Itu.. Itu bukannya laki-laki yang melamar Khadijah. Dan itu, apa mereka orang tua dari laki-laki itu?" tanya Dominic pada dirinya sendiri.
Perasaan Dominic rasanya semakin tidak karuan. Ia ingin sekali untuk segera turun. Tapi entah kenapa, ia tidak memiliki keberanian untuk itu.
Setelah rombongan ustadz Zaki pergi, Dominic kemudian memutuskan untuk menghubungi Khadijah, namun panggilannya sama sekali tidak di angka. Tak putus semangat, Dominic pun kembali menghubunginya dan pada akhirnya Khadijah mengangkat panggilannya.
"Halo, Assalamualaikum kak," ucap Khadijah setelah panggilan mereka terhubung.
"Walaikum salam Khadijah. Kamu dimana? Ini aku sedang berada di depan rumah mu," balas Dominic membuat Khadijah yang tengah duduk bersama kedua orang tuanya jadi sedikit terkejut.
"Di.. Di.. Diluar? Ngapain kak?" tanya Khadijah membuat mata kedua orang tuanya menatap wajah sang putri yang terlihat sangat panik sekali.
"Ada apa nak?" tanya ibu Siti penasaran.
"Dominic? Ngapain?" tanya ayah Husin mengernyitkan keningnya.
"Aku juga nggak tau," jawab Khadijah menggeleng.
"Ya sudah, suruh masuk saja. Tidak enak dilihat orang," perintah ayah Husin yang langsung di laksanakan oleh sang anak.
"Kak," panggil Khadijah sembari mengetuk kaca pintu mobil laki-laki itu.
"Khadijah, syukurlah kamu datang. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Dominic segera keluar dari mobilnya.
"Kita bicaranya di dalam saja kak. Ayah sama ibuku meminta kakak masuk ke dalam," jawab Khadijah seketika membuat wajah Dominic berubah.
__ADS_1
"Tapi untuk apa?" tanya Dominic yang perasaannya mulai tidak enak.
"Nanti kakak juga bakalan tau. Mari kak," jawab Khadijah lalu berjalan kembali masuk ke dalam rumahnya. Sementara dari belakang, mau tak mau Dominic terpaksa mengikuti langkah wanita itu.
Setibanya di dalam, Dominic langsung di sambut dengan senyuman ramah kedua orang tua Khadijah. Mereka meminta Dominic untuk duduk, sedangkan ibu Siti pamit ke belakang untuk membuatkan laki-laki tampan tersebut air minum.
"Nak Dom, kalau om boleh tau, ada apa ya nak Dominic menemui Khadijah?" tanya ayah Husin menatap lekat manik mata Dominic.
"Hhhhhh, sebenarnya tujuan saya kesini hanya ingin menemui Khadijah om. Waktu itu, Khadijah bilang jika ia dilamar oleh seorang laki-laki. Saya hanya takut jika Khadijah menerima lamaran laki-laki itu karena hari ini Khadijah tidak masuk kampus," jawab Dominic berterus serang.
"Hhhhh, maaf nak Dominic. Apa yang kamu katakan itu benar. Khadijah memang di lamar,, dan ia pun sudah menerima lamaran laki-laki itu," jawab ayah Husin membuat Dominic seketika mengangkat kepalanya.
"Apa? Khadijah.. Khadijah menerima lamaran laki-laki itu?" tanya Dominic lagi. Ia nampak terkejut dengan mata yang mulai berembun.
"Ya, Khadijah menerima lamarannya," jawab ayah Husin sekali lagi.
"Nggak.. Nggak mungkin om. Saya dan Khadijah itu saling mencintai. Bagaimana bisa Khadijah menerima lamaran laki-laki lain?" protes Dominic dengan suara bergetar.
"Maafkan om nak. Bukan maksud om untuk memisahkan cinta kalian. Tapi melihat banyaknya perbedaan yang ada di tengah kalian menjadi penghalang untuk kalian bersatu. Yakinlah, suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan wanita yang seiman dengan mu. Yang jauh lebih mencintai kamu dari Khadijah," jawab ayah Husin merasa iba melihat Dominic.
"Nggak om. Nggak ada yang lebih mencintai saya selain Khadijah. Saya mohon tolong beri kami restu. Saya sangat-sangat mencintai anak om. Saya bahkan bersedia pindah dari agama saya demi Khadijah om," ucap Dominic yang menjadi salah satu alasan ayah Husin tidak memberikan restunya meskipun laki-laki itu rela berpaling dari agamanya.
"Maaf nak. Om tetap tidak bisa. Inilah yang membuat om tidak bisa memberikan Khadijah kepadamu. Kamu saja rela berpaling dari agamamu demi cinta dunia. Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan kamu rela berpaling dari Khadijah demi kecintaan kamu terhadap wanita yang lebih menarik lainnya," jelas ayah Husin membuat Dominic terdiam membatu.
Apa yang di katakan oleh ayah Husin itu benar adanya. Bagaimana ia bisa ia berpaling dari agamanya hanya karena seorang wanita?
"Nggak om. Bukan begitu maksud saya. Saya mohon tolong restui saya dan Khadijah," ucap Dominic lagi setengah memohon.
"Hhhhhh, silahkan kamu minta jawabannya kepada Khadijah. Om sudah tidak tau harus berkata apalagi," ujar ayah Husin menatap putrinya itu sekilas.
"Khadijah, ayo katakan sama ayah mu jika kamu mencintaiku. Aku janji akan membuat mu bahagia," jawab Dominic dengan tatapan penuh pengharapan.
__ADS_1
Khadijah nampak diam dan menitikkan air matanya. Keadaan mendadak sunyi untuk beberapa detik.
"Hhhhhh, kak, aku memang mencintai kakak sampai detik ini. Tapi maaf kak, begitu besar pembatas di antara kita berdua yang membuat aku harus mengalah. Aku telah memutuskan untuk menerima lamaran ustadz Zaki dan menerima beliau sebagai imam ku. InsyaAllah dalam beberapa hari lagi kami akan segera menikah.