
"Jangan dek, nggak usah, lagian percuma juga, Clarista bilang kalo dia sangat mencintai Roky. Selain itu, Clarista saat ini sedang hamil anaknya Roky," ucap sang kakak lagi-lagi membuat Alina terkejut.
***
"Apa? Kak Claristsa hamil anaknya Roky? Lo.. Lo nggak bercanda kan kak?" tanya Alina memastikan. Ia seolah tak percaya jika Clarista sejahat itu kepada kakaknya.
"Nggak, buat apa gue bercanda sama lo. Nggak ada untung nya juga. Clarista benar-benar hamil anaknya Roky. Dia sendiri yang memberi tahukannya sama gue dek," jawab Dominic dengan wajah lesunya.
"Gue nggak nyangka jika kak Clarista akan seperti itu sama lo kak. Padahal kalo gue lihat-lihat dia sangat cinta banget sama lo," balas Alina lagi.
"Udah lah, biarin aja. Gue juga nggak mau larut dalam masalah ini lagi," ucap Dominic menutup pembicaraannya mengenai kisah percintaannya.
Empat puluh menit kemudian, Dominic dan Alina pun tiba di rumah mereka.
Rupanya kedatangan mahasiswa abadi itu telah di tunggu oleh kedua orang tuanya.
"Dom, darimana saja kamu. Kenapa mama hubungi nomor kamu nggak aktif?" tanya Leoni dengan wajah masamnya.
"Ya dari kampus lah ma. Mama pikir aku darimana lagi?" jawab Dominic yang seperti sudah hafal suana hati mamanya itu.
"Kamu memang dari kampus, tapi itu tadi. Alina, katakan, darimana kakak mu ini? Kenapa kalian pulangnya bersamaan?" tanya Leoni beralih menatap putrinya itu.
"Hmmmmmm, itu ma, kak Dom dan aku baru saja dari rumah Khadijah, itu lo ma, temen sekolah aku waktu sd dulu. Mama ingat nggak, yang anaknya ibu Siti itu," jawab Alina, si gadis cantik itu.
"Oh, mama ingat. Tapi bukannya katamu Khadijah mondok di luar kota?" ucap Leoni lagi.
"Iya ma, tapi sekarang Khadijah sudah pulang kembali. Rencananya kami akan masuk ke universitas yang sama," jawab Leoni lagi.
"Lalu apa hubungannya dengan kakak mu? Apa dia juga kenal dengan Khadijah?" tanya sang papa Cristinus.
"Ya aku juga nggk tau pa. Tapi sepertinya kak Dom baru kenal sama Khadijah," jawab Alina tak mau memberi tahukan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya.
"Dom, memang kamu kenal Khadijah dimana?" tanya Cristinus penasaran.
"Hmmmm, ya adalah pa. Pa udah ya, aku mau ke kamar dulu,"pamit Dominic hendak meninggalkan ruang keluarga itu.
__ADS_1
"Eh tunggu dulu, jangan main pergi saja. Mama belum selesai bicara. Ada yang mama ingin tanyakan sama kamu Dom," ucap Leoni membuat langkah kaki anaknya terhenti.
"Ada apa lagi sih ma, aku mau istirahat ini," protes Dominic menghindari perdebatan antara ia dan mamanya.
"Sebentar saja Dom. Ini masalah kuliah mu," ucap Leoni membuat Dom semakin merasa kesal.
"Hhhhhh, memang ada apa dengan kuliahku ma?" tanya Dominic pura-pura tidak tau.
"Ada apa kamu bilang Dom? Kamu jangan pura-pura nggak tau. Dosen mu bilangkan jika untuk tahun ini kamu nggak akan lulus lagi?" ucap Leoni emosi.
"Ma sudah ma, jangan marah-marah. Ingat darah tinggi kamu," ucap Cristinus mengingatkan istrinya.
"Gimana aku nggak marah pa, anakmu ini lagi-lagi menjadi mahasiswa abadi di kampusnya. Mama malu pa," ucap ibu dua anak itu lagi.
"Ya mau gimana lagi ma. Biarkan saja. Nanti jika waktunya sudah tiba, Dominic pasti akan berubah dengan sendirinya," balas Cristinus menenangkan istrinya.
"Apa kamu bilang? Berubah dengan sendirinya? TApi kapan? Kapan dia akan berubah? Ini semua salah kamu pa, kamu selalu membela anakmu itu," ucap Leoni juga memarahi suaminya itu.
"Bukan gitu ma.....," ucap Cristinus terputus.
Selama ini, seorang Dominic tak pernah bicara seperti ini.
Hal itu lantas membuat Leoni dan juga Cristinus cukup terkejut.
'Sepertinya, setelah diselingkuhi oleh si Clarista itu membuat otak kakak gue mulai bekerja. Buktinya saja, dia bisa bicara seperti itu saat ini.
Semoga ini bukan akal-akalan nya saja agar mama nggak marah,' batin Leoni juga sedikit terkejut melihat perubahan sang kakak.
Sementara itu, di rumah Khadijah, gadis cantik itu kini telah melepas cadarnya.
Saat ia tengah bersantai di kamar yang sudah lama tidak ia tempati itu, tiba-tiba ia teringat akan perkataan ustadz Zaki sebelum ia pulang.
Khadijah lalu bangkit dari tidurnya dan membuka tasnya. Ia nampak mengeluarkan cincin pemberian ustadz tampan itu dan menatapnya dengan seksama.
"Bagaimana caranya aku mengatakannya sama ibu dan juga ayah? Bagaimana jika mereka menyetujui lamaran ustadz Zaki? Mana mungkin aku menolak nya jika ayah dan ibu setuju dengan lamaran itu," gumam Khadijah tampak bimbang.
__ADS_1
Ditengah kegelisahannya itu, tiba-tiba saja ponsel miliknya berdering. Khadijah yang tengah bimbang itu semakin di buat bimbang oleh si penelpon yaang menghubungi ponselnya.
"Angkat nggak ya?" tanya Khadijah pada dirinya sendiri.
Karena kelamaan berfikir, akhirnya ponsel tersebut berhenti berdering. Namun di detik berikutnya, ponsel miliknya kembali berdering dengan si penelpon yang sama.
"Hhhhhh, bismillah," gumam Khadijah lalu menekan tombol berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo Assalamualaikum Khadijah?" ucap suara laki-laki yang ternyata adalah ustadz Zaki sendiri.
"Ha.. Ha.. lo, wa'alaikum salam ustadz Zaki," jawab Khadijah gugup.
"Khadijah bagaimana? Apa kamu sudah tiba di rumah?" tanya ustadz Zaki dengan suaranya yang selalu lembut.
"Alhamdulillah ustadz," jawab Khadijah singkat.
Jujur saat ini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia takut jika ustadz Zaki menanyakan perihal lamaran itu.
"Syukurlah, alhamdulillah. Hmmmm, Khadijah, apa kamu sudah makan?" tanya ustadz Zaki yang sebenarnya juga sama gugupnya dengan Khadijah.
"Su.. Su.. Sudah ustadz. Ustadz Zaki sedang apa? Bukannya di jam-jam seperti ini ada pengajian di pondok?" tanya Khadijah yang sudah hafal sekali dengan rutinitas tempat ia menempuh pendidikan itu.
"Hhhhhhh, iya, kamu benar, tapi saya tidak menghadirinya Khadijah. Jujur, rasanya saya seperti merasa kehilangan kamu sekali. Selain itu, saya juga masih penasaran dengan jawaban atas lamaran saya terhadap kamu," jawab ustadz Zaki benar-benar membuat Khadijah bingung harus menjawab apa.
Untuk sesaat, Khadijah tampak diam dan suasana tampak hening. Baik di tempat ustadz Zaki, maupun di kamar Khadijah.
'Apa saya terlalu mendesak Khadijah ya,' batin ustadz tampan itu.
"Halo, Khadijah? Kamu masih di sana?" tanya ustadz Zaki gugup.
"I...I..Iya ustadz, saya masih di sini, jawab Khadijah gugup.
"Hmmmmm, Khadijah, maafkan saya jika kesannya saya terlalu mendesak mu masalah lamaran itu. Jujur saya sangat berharap sekali kamu menerima lamaran saya.
Tapi kamu tidak usah khawatir, kamu tidak perlu terburu-buru untuk menjawab pertanyaan saya. Saya akan menunggu jawaban mu kapan pun itu, dan apapun keputusanmu, InsyaAllah saya akan menerimanya," ucap ustadz Zaki membuat Khadijah merasa sangat lega.
__ADS_1