Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 21


__ADS_3

"Tidak. Ayah mau besok. Lebih cepat lebih baik nak. Ayah nggak mau pikiran mu menjadi lain lagi.


"Hhhhhhh, baiklah, terserah ayah saja," balas Khadijah terpaksa mengikuti kemauan sang ayah.


***


"Baguslah. Ayah akan menghubungi ustadz Zaki sekarang juga," ucap Husin langsung meninggalkan kamar putrinya itu.


"Bu," panggil Hanania dengan mata yang mulai basah dan suara yang bergetar.


"Ada apa nak?" tanya ibu Siti kembali menatap putrinya itu.


"Bagaimana ini? Apa aku nggak punya kesempatan untuk bersama dengan kak Dominic?" tanya Khadijah memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.


"Khadijah sayang, dengarkan ibu. Kamu dan Dominic itu sangat jauh berbeda. Agama yang kita anut dan agama yang di anut olehnya itu berbeda nak. Agama kita melarang menikah beda agama. Akan banyak rintangan yang akan menghambat kalian berdua. Ibu juga yakin sekali jika keluarganya pasti tak akan setuju jika andaikan Dominic berpindah agama," jelas ibu Siti mencoba menenangkan hati anaknya itu.


Melihat Khadijah, ibu Siti teringat dengan kisah cintanya beberapa tahun yang silam. Ibu Siti juga pernah jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Sayang sekali cintanya harus kandas karena laki-laki itu tidak berani untuk pindah dari agamanya. Laki-laki tersebut memilih untuk pergi dari kehidupan ibu Siti dan hingga sampai detik ini, mereka tak pernah bertemu lagi.


"Tapi aku mencintainya bu," ucap Khadijah lagi.


"Khadijah sayang, cinta itu tak meski memiliki. Kadang kita harus ikhlas melepas orang yang kita cintai. Kamu dan Dominic bisa mencintai sebagai sahabat ataupun teman," jelas ibu Siti lagi.


Khadijah hanya diam. Ia tak menyangka sekalinya jatuh cinta, Khadijah harus rela mengikhlaskan cintanya pergi begitu saja.


"Khadijah, ibu tau bagaimana perasaan mu saat ini. Jujur dulu waktu ibu masih gadis, ibu juga pernah berada di posisi mu ini nak. Ibu juga mencintai laki-laki yang agamanya tidak sama dengan ibu. Nenek mu juga melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan saat ini. Dia mencoba menenangkan ibu dan memberi ibu semangat. Hingga suatu hari, datanglah ayahmu melamar ibu langsung kepada kakek dan nenek mu. Mereka meyakinkan ibu untuk menerima ayahmu, dan dengan berat hati, ibu pun akhirnya menerima lamaran dari ayah mu. Awalnya ibu mengira jika rumah tangga ibu nggak akan bahagia. Tapi ibu salah. Ayah mu adalah laki-laki yang bak dan bertanggung jawab sampai detik ini," jelas ibu Siti menceritakan kisah masa lalunya agar sang anak bersemangat kembali.


"Oh ya? Apa ibu sedang membohongiku dengan menceritakan sebuah dongeng ataupun kisah seseorang?" tanya Khadijah kurang percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh sang ibu.


"Haha, ya ampun nak. Ibu nggak bohong. Ini benar-benar pengalaman pribadi ibu. Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanyakan langsung sama ayah mu," jawab ibu Siti meyakinkan anak gadisnya itu.

__ADS_1


"Lalu apa ibu tersiksa seperti aku?" tanya Khadijah lagi.


"Tentu saja nak. Tapi itu semua perlahan hilang setelah ibu mulai mencintai ayah mu," jawab ibu Siti tersenyum.


"Hhhhhhh, baiklah bu. Aku akan bulatkan keyakinan ku untuk menerima ustadz Zaki. Semoga saja aku bisa seperti ibu. Mendapatkan laki-laki baik seperti ayah," ucap Khadijah merasa tenang.


Keesokan paginya, Khadijah tidak lagi ke rumah Dominic. Ia sudah memberi tahu Alina jika hari ini ia ada acara keluarga. Bahkan untuk hari ini, Khadijah tidak masuk kuliah.


Dominic yang beberapa hari ini sangat semangat, sudah berada di meja makan menunggu sarapannya siap. Rencananya hari ini ia akan menjemput Khadijah ke rumahnya.


"Wihh, tumben amat kak lo bangun pagi. Mau kemana?" tanya Alina yang juga ada kuliah pagi hari ini.


"Ya dong. Gue mau jemput Khadija ke rumahnya," jawab Dominic sembari memainkan ponsel miliknya.


"Haha, ngapain? Lo ngga tau ya jika hari ini Khadijah ada acara keluarga. Dia nggak ngampus tau," ujar Alina membuat Dominic meletakkan ponselnya di atas meja.


"Pasti bohong kan lo dek?" tanya Dominic tak percaya.


Dominic pun langsung meraih ponselnya dan menghubungi Khadijah melalui panggilan suara.


Khadijah yang saat ini sedang merapikan kamarnya di buat berhenti karena mendengar dering ponsel miliknya.


Khadijah pun mengambil ponsel miliknya dan melihat nama Dominic tertera di ponsel pintar tersebut.


"Halo kak, Assalamualaikum," ucap Khadijah membuka percakapan di antara mereka berdua.


"Walaikum salam Khadijah. Khadijah kamu dimana? Alina bilang kamu nggak ke kampus hari ini. Apa itu benar?" tanya Dominic langsung.


"Aku di rumah kak. Alina benar. Hari ini aku ada acara keluarga. Aku nggak masuk kampus hari ini," jawab Khadijah dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Oh. Lalu kamu kapan kampus lagi? Aku sangat merindukan mu Khadijah," tanya Dominic membuat hati Khadijah semakin sakit.


"InsyaAllah besok kak. Ya sudah kak. Aku tutup dulu ya kak panggilannya. Aku sibuk sekali soalnya. Assalamualaikum," ucap Khadijah lalu bergegas memutuskan panggilannya. Khadijah kemudian kembali menitikkan air matanya. Ia tidak tega memberi tahu Dominic jika hari ini ia akan di lamar.


"Maafkan aku kak. Tapi kita memang tidak akan bisa bersatu," gumam Khadijah di dalam tangisannya.


"Khadijah kenapa ya?" gumam Dominic heran.


"Kenapa? Khadijah nggak masuk kampus kan?" tanya Alina yang hanya di balas dengan anggukan oleh laki-laki tampan itu. Sikap Khadijah yang dingin membuatnya merasa tidak nyaman.


"Ya udah, kampus bareng gue aja yuk kak. Kebetulan gue berangka sendiri nih," tawar Alina sembari mengunyah rotinya.


"Ogah, gue bisa berangkat sendiri," tolak Dominic mentah-mentah.


"Ih, coba aja Khadijah, pasti mau lo kan," ledek Alina kesal.


"Oh ya Al, kira-kira lo tau nggak Khadijah ada acara keluarga apa? Gue penasaran nih. Kenapa Khadijah sampai-sampai nggak masuk kuliah ya?" tanya Dominic heran.


"Entahlah kak. Gue sendiri juga nggak tau. Khadijah aja ngasih kabar baru pagi ini," jawab Alina membuat Dominic heran.


'Kenapa acara keluarga Khadijah terkesan mendadak gitu ya?' batin Dominic.


"Woi kak.Yakin kan lo ngga ma nebeng sama gue? Nanti kalo lo kenapa-napa gue lagi ang merasa bersalah.


"Yakin. Udah sana lo berangkat," jawab Dominic lagi.


"Kalian ini sedang membicarakan apaan sih? Kayaknya serius banget?" tanya Leoni yang tiba-tiba saja muncul dari arah belakang.


"Nggak ada apa-apa kok ma. Mama dari mana sih? Kok dari tadi aku panggil mamanya nggak ada?" tanya Alina penasaran.

__ADS_1


"Ini mama habis dari pasar beli sayur," jawab Leoni memperlihatkan barang belanjaannya.


"Oh, ya udah, kalau gitu aku berangkat dulu ya ma. Bai," pamit Alina bergegas meninggalkan ruang makan itu.


__ADS_2