
"Iya kak. Maafkan aku. Aku nggak mungkin nutupin kenyataannya. Kakak memang masih kuliah, dan kakak memang mahasiswa abadi. Dan untuk tahun ini, kakak kembali tidak lulus. Maka dari itu aku nanya sama kakak, kapan kakak akan mulai kuliah lagi?" jawab Khadijah apa adanya.
***
"Ya sudah, kalau begitu aku akan mulai besok. Bagaimana? Apa kamu bisa menemaniku?" jawab laki-laki yang berpura-pura lupa ingatan itu.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan bertemu di kampus besok. Kebetulan kita ini satu universitas," jawab Khadijah tersenyum.
"Ok, ya sudah, kalau gitu kakak istirahat ya. Aku dan Alina ada keperluan sebentar," ucap Alina menggandeng tanga Khadijah.
"Eh.. Eh.. Kalian mau kemana?" tanya Dominic menghentikan langkah kedua sahabat itu.
"Kepo banget sih lo kak. Udah, mending lo istirahat atau lakuin hal yang bermutu sana. Jangan tiap harinya kayak gini. Kapan sembuhnya lo kalo lo malas kayak gini," ucap Alina mencibir.
"Awas lo ya dek. Gue jitak baru tau rasa lo," ucap Dominic kesal.
.
.
"Khadijah, ada yang mau aku ceritain sama kamu," ucap Alina tiba-tiba.
"Ceritain apa? Apa kamu mau cerita kalau kamu kemaren dapat kenalan baru?" balas Khadijah membuka cadarnya.
"Loh, kamu kok tau sih khadijah? Kan kemaren kamu nggak masuk kampus?" tanya Khadijah balik.
"Ya tau lah Al. Kamu ini sahabat aku. Masak aku nggak tau sih?" jawab Khadijah tersenyum memperlihatkan gingsul dan juga lesung pipinya.
Sementara itu, Dominic yang penasaran dengan obrolan kedua sahabat itu memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka di kamar Alina.
__ADS_1
"Mumpung mama nggak ada di rumah, gue bisa nguping pembicaraan mereka berdua," gumam Dominic sembari berjalan menaiki anak tangga.
Tak butuh waktu lama. Kini Dominic pun sudah berada di depan kamar Alina. Pintu kamar Alina yang tidak tertutup rapat itu memudahkan Dominic untuk melihat dan mendengar apa yang tengah mereka bicarakan.
"Astaga Khadijah, lo.. Lo.. Lo ternyata cantik sekali. Gue nggak nyangka jika lo memilih wajah dan senyuman semanis itu. Nggak salah jika gue jatuh cinta sama lo. Bahkan lo lebih cantik dari mantan-mantan dan wanita yang pernah gue temuin selama ini," gumam Dominic yang terpana dengan kecantikan Khadijah.
"Ih, Khadijah. Kamu itu memang sahabat terbaikku. Tapi sumpah, aku masih penasaran, dari mana kamu mengetahuinya?" ucap Alina lagi.
"Sudah, jangan di pikirkan lagi. Oh ya Al, aku mau cerita juga sama kamu. Dan kali ini nggak hanya sekedar cerita. Aku juga mau meminta pendapat mu sebagai sahabat terbaikku," jelas Khadijah tiba-tiba.
"Kamu mau cerita apa Khadijah? Cerita saja. Aku akan memberikan pendapatku yang terbaik untuk mu," jawab Alina menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Apa sebenarnya yang ingin di katakan oleh Khadijah? Jadi penasaran gue," gumam Dominic lagi.
"Hmmmm, Al, aku baru saja di lamar oleh seorang laki-laki," jawab Khadijah membuat Alina terkejut. Begitu juga dengan Dominic yang berdiri di balik pintu menguping pembicaraan sahabat itu.
"Apa? Kamu baru saja dilamar Khadijah? Siapa yang melamar mu? Lalu, apa jawaban mu?" tanya Alina balik.
"Yang melamar ku adalah seorang ustadz. Dia adalah salah satu guru ku sewaktu aku di pondok pesantren dulu. Aku belum menjawab apa-apa Al. Tadi, waktu dia ke rumah ku, aku bilang jika aku minta waktu tiga hari buat salat istikharah. Al, bagaimana menurut mu jawabannya?" jelas Khadijah meminta pendapat dari sahabatnya itu.
"Jadi dia adalah guru mu waktu di pondok pesantren dulu. Lalu, gimana dengan kedua orang tua mu Khadijah?" tanya Alina masih penasaran.
"Kalau kedua orang tuaku sangat setuju untuk mengambil ustadz Zaki sebagai menantunya. Soalnya ustadz Zaki itu adalah tipe imam yang baik," jawab Khadijah lagi.
'Apa? Jadi kedua orang tua Khadijah menerima lamaran itu? Nggak.. Nggak.. Aku nggak boleh keduluan dengan ustadz itu,' batin Dominic panik.
"Khadijah, setau aku, pilihan kedua orang tua itu adalah pilihan terbaik. Nggak ada orang tua yang ingin anaknya menderita setelah menikah. Kalo menurut aku sih, mending kamu terima saja lamaran ustadz Zaki itu. Siapa tau dia adalah jodoh terbaik untuk mu," ucap Alina memberikan pendapatnya.
'Ah, si Alina benar-benar. Ngapain dia nyuruh Khadijah buat nerima lamaran tuh si ustadz sih,' batin Dominic mengumpat.
__ADS_1
"Tapi aku tidak mencintainya Al. Aku sepertinya telah jatuh cinta pada laki-laki lain," jawab Khadijah membuat Alina lagi-lagi terkejut dengan ucapan Khadijah.
"Apa? Kamu mencintai seorang laki-laki? Tapi siapa Khadijah? Kenapa aku tidak tau?" ucap Alina manyun.
"Maafkan aku Al. Bukan begitu maksud ku. Sebelumnya aku masih ragu dengan perasaan ku. Tapi saat ini aku sudah yakin. Tapi banyaknya perbedaan di antara kita membuatku merasa tak mungkin untuk memilikinya. Selain itu, aku tidak yakin apakah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ku atau tidak," jawab Khadijah membuat Alina semakin penasaran siapa laki-laki yang di sukai oleh sahabatnya itu.
"Memang kalau aku boleh tau, siapa laki-laki beruntung yang telah berhasil mendapatkan cinta sahabatku ini?" tanya Alina mencubit hidung pesek milik Khadijah.
"Hmmmm, kasih tau nggak ya. Tapi malu Al. Nggak papa ya kalo aku tidak memberitahukannya sama kamu. Kali ini aja," ucap Khadijah merayu Alina.
"Yah kok gitu sih. Aku penasaran tau," ucap Alina semakin manyun.
"Tapi jangan kasih tau orangnya ya. Cukup kita berdua saja yang tau," balas Khadijah mulai berbisik di telinganya Alina.
"Kakak kamu," bisik Khadijah membuat Alina merinding.
"Apa? Ka...," teriak Alina yang tiba-tiba saja mulutnya di tutup oleh Khadijah.
"Ssssttttt, jangan teriak," ucap Khadijah takut jika ada yang mendengarkannya.
"Hehe.. Maaf.. Maaf.. Tapi kamu yakin Khadijah? Kalian kan...," ucap Alina terputus.
'Siapa ya laki-laki yang di maksud Khadijah? Kalo nanya Alina, takutnya dia curiga lagi sama gue,' batin Dominic semakin penasaran.
Ia pun melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya.
"Iya. Aku tau Al. Maka dari itu aku meminta waktu kepada ustadz Zaki untuk mempertimbangkan lamarannya. Aku sangat bingung sekali. Di satu sisi, aku tidak ingin melihat orang tuaku kecewa. Dan di sisi lain juga tidak mungkin rasanya rasaku ini akan berbalas," jelas Khadijah lagi.
"Tapi aku rasa dia juga mencintai mu Khadijah. Kita sendiri sudah lihat sendiri kan selama ini. Di saat kakak ku hilang ingatan, hanya kamu saja orang yang dia ingat di masa lalu mu. Dan kamu juga lihat, bagaimana sikap nya terhadap kamu. Khadijah, aku akan sangat senang sekali jika kamu menjadi kakak ipar ku," ucap Alina bersungguh-sungguh.
__ADS_1