
"Hmmmmm, Khadijah, maafkan saya jika kesannya saya terlalu mendesak mu masalah lamaran itu. Jujur saya sangat berharap sekali kamu menerima lamaran saya.
Tapi kamu tidak usah khawatir, kamu tidak perlu terburu-buru untuk menjawab pertanyaan saya. Saya akan menunggu jawaban mu kapan pun itu, dan apapun keputusanmu, InsyaAllah saya akan menerimanya," ucap ustadz Zaki membuat Khadijah merasa sangat lega.
***
'Alhamdulillah,' batin Khadijah merasa lega.
"Baik ustadz," hanya jawaban itu yang diberikan oleh Khadijah kepada gurunya tampannya itu.
"Baiklah, ya sudah, kalau begitu kamu istirahatlah. Jika kamu sudah memiliki jawabannya, jangan lupa segera kabari saya," ucap ustadz tampan itu.
"Baik ustadz, InsyaAllah," balas Khadijah.
"Ya sudah, kalau begitu saya tutup dulu panggilannya. Assalamualaikum," ucap ustadz Zaki menutup panggilan teleponnya.
"Walaikum salam,," jawab Khadijah meletakkan kembali ponselnya.
"Alhamdulillah, setidaknya aku punya banyak waktu untuk memikirkannya," gumam gadis cantik itu.
Tak lama kemudian, terdengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Dengan cepat, Khadijah kembali memasang hijabnya dan bergegas membukakan pintu.
"Ibu, ayo masuk bu," ucap Khadijah mempersilahkan wanita yang telah melahirkannya itu masuk.
"Khadijah, kamu belum tidur nak?" tanya ibu Siti sembari mengusap kepala sang putri.
"Belum bu. Hmmmmm, bu, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan sama ibu dan juga ayah. Tapi aku bingung harus memulainya dari mana," ucap Khadijah membuat ibu Siti penasaran.
"Loh, kenapa kamu harus bingung nak? Katakan saja," ucap ibu Siti dengan lembut.
"Begini bu, waktu aku akan meninggalkan pondok, ustadz Zaki memanggilku ke ruangannya, ustadz Zaki tiba-tiba saja melamar ku dan memintaku menjadi istrinya bu,"
Mendengar perkataan anaknya itu, seketika tangan ibu Siti berhenti mengusap kepala anaknya.
__ADS_1
Ia nampak terdiam dan seperti memikirkan sesuatu.
"Ustadz Zaki, ustadz Zaki yang waktu itu memperkenalkan dirinya sama ibu?" tanya ibu Siti mencoba mengingat-ingat wajah laki-laki yang bernama Zaki tersebut.
"Iya bu, ustadz Zaki yang itu. BAgaimana menurut ibu?" tanya Khadijah balik.
Ibu Siti nampak terdiam untuk beberapa saat. Ia sendiri masih bingung harus menjawab apa.
"Bu, bagaimana? Kenapa ibu diam?" tanya Khadijah lagi.
"Hmmmmm, begini nak, ibu sendiri bingung harus menjawab apa. Bagaimana kalau kita bicarakan masalah ini sama ayahmu," ucap ibu Siti kembali mengusap kepala anaknya.
"Baiklah bu. Terserah ibu saja," balas Khadijah.
"Khadijah, kalau perasaan mu bagaimana? Apa kamu mempunyai niat untuk menerima lamaran ustadz Zaki?" tanya ibu Siti beberapa saat kemudiannya.
"Hmmmm, jujur aku nggak ada niat sama sekali untuk menikah cepat bu. Ya meskipun ustadz zaki bilang jika ia tidak mempermasalahkan jika aku tetap melanjutkan kuliahku, tapi, aku benar-benar tidak memiliki niat sama sekali untuk menikah cepat. Selain itu, aku juga tidak memiliki rasa apa-apa sama ustadz Zaki. Tapi, kalau ayah dan ibu ingin aku menikah dengan ustadz Zaki, maka aku tidak mungkin menolaknya bu," jawab Khadijah rinci.
Mendengar jawaban Khadijah, ibu Siti bisa mengambil kesimpulan jika putrinya itu tidak berniat untuk menerima lamaran ustadz Zaki.
Keesokan paginya, Khadijah dan keluarganya nampak duduk di meja makan. sudah menjadi kebiasaan di rumah Khadijah, tidak ada yang bicara jika mereka sedang menikmati makanan yang tengah terhidang.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah selesai menyantap makan paginya.
Dan ayah Khadijah pun meminta putrinya itu untuk menemuinya di ruang kerja.
"Khadijah sudah, temui ayah mu di ruangan kerjanya, biarkan ibu yang membersihkan ini semua," perintah ibu Siti yang hanya di balas Khadijah dengan anggukan ringannya.
Kini, Khadijah pun sudah berada di ruangan kerja ayahnya. Gadis cantik itu kini tengah duduk dengan menundukkan kepalanya.
"Khadijah, ibumu sudah menceritakan semuanya sama ayah.
Menurutmu bagaimana? Apa keputusanmu? Ayah ingin mendengarnya langsung dari mulutmu," ucap ayah Husin yang terus menatap putri kesayangannya itu.
"Hmmmmm, maafkan aku ayah, seperti yang sudah aku katakan sama ibu, aku sama sekali belum memiliki niat untuk menikah dalam waktu dekat ini yah.
__ADS_1
Selain itu, aku juga tidak memiliki perasaan apa-apa kepada ustadz Zaki," jawab Khadijah masih dengan kepala yang ia tundukkan.
"Tapi ustadz Zaki itu laki-laki yang sempurna. Selain memiliki ilmu agama yang tinggi, dia juga tampan dan juga kaya sebagai bonusnya. Dia adalah laki-laki yang sempurna untukmu dunia dan akhirat," ucap ayah Husin mencoba memberikan masukan kepada sang putri.
"Apa yang ayah katakan itu benar adanya, tapi aku sama sekali tidak mencintai ustadz Zaki yah.
"Khadijah, cinta itu bisa datang kapan saja, bahkan setelah terjadinya pernikahan. Tapi pasangan yang sempurna itu sangat sulit untuk mencarinya nak. Tapi ayah tidak akan memaksakan kehendak ayah. Ayah hanya ingin yang terbaik untuk mu sayang," ucap ayah husin menyerahkan semua keputusannya kepada Khadijah.
"Maafkan aku yah, tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa sama ustad Zaki," jawab Khadijah menyampaikan keberatannya.
"Hhhhh, baiklah nak, kalau begitu ayah tidak akan memaksa mu. Hidupmu, kamu yang akan menjalaninya.
Semua keputusan ada di tangan mu," balas sang ayah yang tidak mau memaksakan kehendaknya meskipun ia sangat ingin sekali menjadikan ustadz Zaki sebagai menantunya.
"Makasih ayah, ayah sudah mau mengerti dengan perasaanku. Aku sayang ayah," ucap Khadijah merasa senang sekaligus lega.
"Sama-sama sayang," balas laki-laki dua anak itu.
"Oh ya yah, lalu bagaimana cara aku untuk menyampaikannya kepada ustadz Zaki?" tanya Khadijah bingung.
"Kalau masalah itu, kamu tenang saja. Nanti biar ayah sama ibu yang menghubunginya dam berbicara dengannya," jawab ayah Husin tersenyum.
"Alhamdulillah. Ya sudah, kalau begitu aku keluar dulu yah. Assalamualaikum," pamit Khadijah meninggalkan ruangan kerja ayahnya itu.
"Walaikum salam. Khadijah, Khadijah, rasanya baru kemaren ibumu melahirkan mu nak, tapi sekarang sudah ada saja laki-laki yang melamar mu," gumam ayah Husin menggelengkan kepalanya.
Sementara itu, tidak seperti biasanya, Dominic sudah bangun lebih awal dan sudah terlihat sudah rapi dengan mengenakan celana hitam dan juga sweater hitamnya. Tak lupa sebuah tas yang selalu ia kenakan jika laki-laki tampan itu akan berangkat ke kampusnya.
Leoni yang tengah menyiapkan sarapan pagi nampak terkejut dan terheran saat melihat putra nakalnya itu telah standby di meja makan sebelum sarapan pagi tersedia.
"Loh Dom, tumben kamu bangun pagi. Memang kamu mau kemana?" tanya Leoni heran.
"Ya mau ke kampus lah ma, masak mau ke pasar," jawab Dominic sembari menuang segelas air putih ke gelas yang ada di tangannya.
"Kampus? Tumben pagi amat. Biasanya kalo nggak di bangunin, kamu nggak bakalan bangun," ledek Leoni yang tetap fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1