Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 12


__ADS_3

"Gimana Dom? Kamu puas?" tanya Cristinus kepada anak laki-lakinya itu.


"Puas pa. Aku puas sekali," jawab Dominic.


***


"Baguslah kalau begitu. Ya sudah, kalau begitu, papa mau ke kamar dulu," pamit Cristinus lalu meninggalkan ruang tamu tersebut.


.


.


"Malam cantik," sapa Dominic melalui aplikasi berkirim pesan.


Khadijah yang baru saja selesai salat isya itu pun langsung meraih ponsel miliknya yang ia letakkan di atas kasurnya itu.


Awalnya Khadijah mengira jika ustadz Zaki lah yang mengiriminya pesan, karena ustadz tampan itu pernah mengatakan jika ia akan menghubungi Khadijah setelah ia sampai di Jakarta.


Namun saat Khadijah membuka pesannya, ia merasa lega jika yang menghubunginya ternyata bukanlah ustadz Zaki, tapi melainkan Dominic, kakak dari sahabatnya.


"Malam juga kak," balas Khadijah disertai emoticon tersenyum.


"Khadijah, kamu lagi apa? Hmmmmm, besok kita jalan yuk," ajak Dominic dalam pesan tersebut.


'Gimana ya? Besok hari pertama ku masuk kuliah,' batin Khadijah.


"Hmmmmm, maaf kak, kayaknya aku nggak bisa. Soalnya besok adalah hari pertama ku masuk kuliah," balas Khadijah lagi.


"Oh iya.. Besok kan Khadijah mulai kuliah. Asik... Bisa ketemu terus," gumam Dominic senang.


"Oh iya, aku lupa. Ya sudah, kalau gitu, sampai ketemu di kampus. Aku seneng banget jika kamu sudah mulai kuliah," balas Dominic lagi.


Keesokan paginya, Dominic bangun lebih awal dari yang biasanya. Dengan girang, Dominic duduk di meja makan menanti sarapan pagi yang masih di masak oleh sang mama.

__ADS_1


Leoni kembali heran karena melihat sikap anaknya yang jauh berubah dari yang biasanya. Ia mengira jika Dominic tengah jatuh cinta.


"Dom, kamu bangun pagi sekali. Mau kemana sayang?" tanya Leoni sembari terus mengaduk masakannya.


"Ya mau kampus lah ma. Memang mau kemana lagi?" jawab Dominic sembari menuangkan segelas air putih ke gelasnya.


"Mama lihat kamu semangat sekali Dom berangkat kampusnya. Apa kamu sedang jatuh cinta lagi?" tanya Leoni membuat Dominic yang tengah minum itu langsung tersedak.


"Apaan sih ma. Siapa yang jatuh cinta. Aku semangat karena hari ini kan bak ada mahasiswa baru yang mulai masuk. Ya... Siapa tau ada yang kecantol gitu.. Hehe," jawab Dominic membayangkan Khadijah.


"Cepat sekali Dom kamu move on nya. Semudah itu ya kamu melupakan Clarista. Tapi nggak papa. Mama senang sekali melihatnya," ucap Leoni tampak senang sekali.


"Ya iyalah ma. Ngapain juga galau lama-lama," balas Dominic lagi.


Beberapa saat kemudian, semua anggota keluarga Dominic pun sudah berkumpul di meja makan. Seperti biasa, setelah mereka semua selesai santap pagi, baik Cristinus dan juga Alina akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Palingan hanya tinggal Leoni saja yang tinggal di rumah sendirian.


"Hmmmm dek, lo masuk kampus kan hari ini??" tanya Dominic di saat Alina akan berangkat.


"Lo mau berangkat pake apa?" tanya Dominic lagi.


"Ya pake mobil gue lah kak. Ada-ada aja sih kak pertanyaan lo," jawab Alina merasa ada yang aneh dengan kakak satu-satunya itu.


"Iya, kamu ini kenapa Dom? Kok aneh sekali?" tambah Leoni juga heran.


"Ya nggak kenapa-kenapa ma. Aku hanya mau nebeng degan Alina saja," alasan Dominic agar ia bisa ikut dengan sang adik menjemput Khadijah ke rumahnya.


"Apa? Nebeng? Tapi kenapa kak? Mobil lo kan ada. Ngapain numpang mobil gue," protes Alina keberatan.


"Ya, nggak kenapa-kenapa dek. Gue cuma mau nebeng aja sama lo. Emang salah gitu? Gue ini kan kakak lo dek," jawab Dominic berusaha membujuk Alina.


"Tapi kak, gue itu mau sekalian jemput Khadijah. Masak lo mau ikut kami sih?" ucap Alina berharap jika kakaknya itu berubah pikiran.


"Ya nggak masalah. Bagus dong jika lo jemput Khadijah, itu artinya gue....," ucap Dominic segera menghentikan ucapannya yang hampir saja keceplosan.

__ADS_1


"Artinya lo apa kak? Kenapa lo nggak lanjutin ucapan lo?" tanya Alina curiga.


Sedangkan Leoni hanya diam menyimak perdebatan antara anak-anaknya itu.


"Hmmmm itu... Apa.. Hmmmmm, itu artinya... Artinya bagus dong. Kita bisa barengan berangkat ke kampusnya," jawab Dominic gugup.


"Aaaaaa, gue tau nih. Lo sengaja nebeng sama gue karena mau ketemu Khadijah kan? Hayo jujur lo," tuduh Alina membuat Dominic semakin gelagapan.


"Apaan sih lo dek. Jangan ngadi-ngadi. Nggak lucu tau," jawab Dominic semakin gugup.


"Alah, bohong lo. Gue tau kok kak, lo itu suka sama Khadijah. Iya kan?" tuduh Alina semakin menjadi.


"Apa yang di katakan Alina itu benar Dom? Kamu suka sama Khadijah?" tanya Leoni menatap lekat anak laki-lakinya itu.


"Ah, nggak kok ma. Siapa juga yang suka sama Khadijah. Si Alina aja tuh yang ngaco," jawab Dominic tidak membenarkan apa yang di katakan oleh Alina.


"Yakin?" tanya Leoni lagi.


"Ya yakin lah ma. Masak aku suka sama Khadijah? Dia itu sama sekali bukan tipe ku," jawab Dominic lagi.


"Baguslah kalau begitu. Dom ingat, secinta apapun kamu dengan Khadijah, tetap, kamu dan dia itu nggak akan bisa bersatu. Khadijah itu seorang muslim yang taat. Sedangkan kamu seorang katolik. Ada tembok tinggi yang membatasi kalian berdua, kecuali salah satu dari kalian mengalah dan berpaling dari kepercayaan yang kalian anut. Dan andaikan kamu yang memilih untuk mengalah, maka mama sama sekali tidak ikhlas Dom," ucap Leoni mewanti-wanti sang anak. Wanita paruh baya itu sepertinya tau jika Dominic benar-benar telah jatuh cinta kepada wanita bercadar itu. Dari pada Dominic kecewa untuk yang ke dua kalinya, lebih baik Leoni mengantisipasinya dari awal.


Mendengar perkataan sang mama, Dominic seketika terdiam. Ia tampak merenungi apa yang baru saja di katakan oleh wanita yang telah melahirkannya itu.


"Iya ma. Aku ngerti kok. Aku nggak akan jatuh cinta sama Khadijah," balas Dominic kemudian pergi meninggalkan meja makan.


"Ma, kayaknya kak Dom memang suka deh sama Khadijah," pendapat Alina lalu menghabiskan segelas susu yang rutin ia minum setiap paginya.


"Iya, kamu benar Al. Dominic memang sudah jatuh cinta dengan sahabat mu itu," jawab Leoni membenarkan apa yang dikatakan oleh anak perempuannya itu.


"Tapi kenapa mama nggak merestui kak Dom dengan Khadijah? Mama tau sendiri kan jika Khadijah itu baik sekali orangnya," ucap Alina yang penasaran dengan dengan alasan sang mama.


"Mama bukannya tidak merestui Al. Mama tau jika Khadijah itu adalah wanita yang baik. Tapi kan kamu tau sendiri jika Khadijah adalah muslim yang taat, sedangkan kakak mu adalah seorang katolik. Mereka nggak akan bisa bersatu karena Khadijah pasti tidak akan mendapatkan izin dari kedua orang tuanya, begitu juga sebaliknya," jelas Leoni kepada sang anak.

__ADS_1


__ADS_2