Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 25


__ADS_3

"Khadijah, selamat ya. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan baru mu," giliran Dominic mengucapkan selamat walaupun hatinya hancur berkeping-keping.


***


"Makasih banyak kak," jawab Khadijah dengan suara bergetar. Hatinya sangat pilu sekali saat melihat sorot mata Dominic yang jelas sekali memperlihatkan keterpurukan dan kehancuran.


"Hmmm, ya sudah, aku, aku, aku pergi dulu ya," ucap Dominic gugup.


"Baiklah kak. Terima kasih karena sudah menyempatkan hadir di sini," jawab Khadijah lagi.


"Khadijah," panggil ustadz Zaki yang saat ini telah sah menjadi suaminya.


"Iya ustadz, ada apa?" jawab Khadijah balik bertanya.


"Hmmmm, saya tau jika laki-laki tadi adalah cinta kamu. Saya minta maaf jika saya telah hadir di antara kalian berdua," ucap ustadz Zaki merasa bersalah.


"Tidak, ini semua bukan salah ustadz. Memang kami sudah ditakdirkan untuk tidak bisa bersama. Kepercayaan kami berbeda ustadz," jawab wanita bercadar itu.


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat. Setelah selesai melangsungkan ijab kabul di masjid, Khadijah pun ikut pulang ke rumah orang tuanya sembari menunggu pihak laki-laki melaksanakan ibadah salat jumat di masjid yang sama.


Setibanya di rumah, Khadijah langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa.


"Saat ini statusku sudah berbeda dari beberapa jam sebelumnya. Aku sudah menjadi seorang istri sekarang. Aku tidak boleh lagi memikirkan laki-laki lain selain imam ku sendiri. Ayo Khadijah, kamu pasti bisa," ucap Khadijah menyemangati dirinya sendiri.


Saat Khadijah tengah asik melamun di dalam kamar, tepatnya di depan cermin. Ibu Siti pun masuk dan menghampiri putrinya itu.


"Khadijah," panggil ibu Siti sembari menyisir rambut panjang anaknya itu.


"Iya bu. Ada apa?" jawab Khadijah balik bertanya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya ibu Siti dengan lembut.


"I, iya bu. Aku baik-baik saja," jawab Khadijah namun dengan wajah yang masih sendu.


"Khadijah. Ibu sebagai ibu mau mengingatkan sama kamu jika saat ini kamu sudah menjadi seorang istri. Dan ingat nak, haram bagi kamu untuk memikirkan bahkan mencintai laki-laki lain dalam hidup mu," ucap sang ibu mengingatkan putrinya.


Ibu Siti tau jika Khadijah pasti masih mencintai Dominic. Dan wanita paruh baya itu tak ingin hal ini menjadi duri daam rumah tangga putrinya kelak.


"Hhhhhh, iya bu. Aku tau. Aku berjanji akan melupakan kak Dominic dan belajar untuk mencintai ustadz Zaki bu. Doa kan aku ya bu," ucap Khadijah membuat ibu Siti lega.


"Alhamdulillah kalau begitu nak. Ibu sangat senang sekali mendengarkannya. Ibu pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kamu dan rumah tangga mu nak," jawab ibbu Siti memeluk putrinya itu.


"Makasih banyak bu," jawab Khadijah lagi.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo buruan ganti pakaian mu. Sebentar lagi suami mu akan pulang dari masjid," uca ibu Siti lalu bangkit an mengganti seprai putrinya itu.


"Bu, kok seprainya di ganti? Bukannya baru di ganti kemarin lusa?" tanya Khadijah heran.


"Ya harus diganti lah nak. Malam ini suami mu akan tidur di rumah ini. Mungkin besok atau lusa kamu baru akan pindah dari rumah ini nak," jawab ibu Siti membuat Khadijah terkesiap.


"Ti.. Ti.. Tidur di rumah ini?" tanya Khadijah menatap ibunya serius.


"Iya, tidur di rumah ini. Memang kenapa?" tanya ibu Siti balik.


"Kalau ustadz Zaki tidur di kamar ini? Lalu aku tidur dimana bu?" tanya Khadijah lagi.


"Hehe. Kamu ini gimana sih sayang. Kamu dan Zaki kan sudah menikah. Ya kamu tidur di kamar ini juga dong sayang. Gimana sih nak," ucap ibu Siti terkekeh.


Khadijah tak banyak bicara lagi. Dia hanya bisa diam membatu untuk beberapa saat.


"Selesai. Sayang, ibu ke bawah dulu ya. Nanti ibu akan suruh Habibi untuk memanggil mu jika suami mu telah sampai di rumah," ucap ibu Siti beberapa saat kemudian.


"Baiklah bu," jawab Khadijah lemas.


Dengan langkah lunglai, Khadijah pun meraih paper bag yang berisikan pakaian baru untuknya.


Pakaian itu sengaja di belikan oleh sang ibu sebagai hadiah pernikahan untuk putrinya.


Namun di detik berikutnya, ibu Siti pun menyusul Habibi dan membawa Khadijah turun bersama dengannya.


"Bu, aku sangat gugup sekali," ucap Khadijah menggenggam erat tangan ibunya.


"Tenang sayang. Kamu harus tenang. Semuanya akan baik-baik saja," jawab ibu Siti mengusap punggung Khadijah.


Setibanya di lantai satu rumah tersebut. Khadijah pun langsung berhadapan dengan ustadz Zaki yang tengah tertawa dengan keluarga lainnya.


Berbeda dengan Khadijah yang larut dalam kesedihannya karena tak bisa bersatu dengan Dominic.


"Nah itu dia istri mu datang nak,"ucap ibu Salma membuat semua mata tertuju kepada Khadijah. Tak terkecuali ustadz Zaki sendiri.


"Khadijah, ayo kesini. Duduk di sebelah suami mu," pinta ibu Salma yang saat ini sudah resmi menjadi ibu mertua Khadijah.


Dengan gugup, Salma pun mengikuti perkataan mertuanya dan duduk tepat di sebelah ustadz Zaki. Namun agak sedikit berjarak.


"Khadijah, Zaki. Sesuai kesepakatan kita bersama, untuk beberapa hari ini kalian akan tetap tinggal disini. Bagaimana? Kalian nggak keberatan kan?" tanya Zakarya, ayahnya ustadz Zaki.


"Nggak papa kok yah," jawab ustadz Zaki menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Syukurlah. Kalau begitu ayo kita makan. Ibunya Khadijah sudah masak banyak hari ini," ucap ayah Husin mengajak para tamunya makan.


Beberapa saat kemudian, setelah acara makan bersama, keluarga dari ustadz Zaki pun pamit untuk pulang. Dan meninggalkan ustadz Zaki di rumah tersebut.


"Khadijah, Zaki. Sekarang istirahatlah di kamar. Ibu tau kalian pasti akan sangat lelah sekali," ucap ibu Siti meminta anak dan menantunya itu untuk beristirahat.


"Baiklah bu," jawab Khadijah menganggukkan kepalanya.


"Hmmmm Zaki, mulai hari ini, kamu akan tidur di kamarnya Khadijah di lantai dua. Semoga kamu betah tinggal di rumah ini," ucap ibu Siti kepada menantunya itu.


"Baik bu. Terima kasih," jawab ustadz Zaki menganggukkan kepalanya.


.


.


"Mari ustadz, ikut saya," ucap Khadijah setelah beberapa saat mereka saling diam karena bingung harus memulai dari mana.


Ustadz Zakki pun mengangguk sembari tersenyum. Jujur, jantungnya saat ini berdetak dua kali lebih cepat dari yang biasanya. Dengan langkah yang sedikit gemetar, ustadz Zaki mengikuti Khadijah yang menaiki anak tangga dengan perlahan.


Ternyata apa yang di rasakan ustad Zaki juga di rasakan oleh Khadijah. Ia bahkan lebih gugup dari pada suaminya itu.


Setibanya di depan pintu kamar, Khadijah nampak ragu-ragu untuk membuka pintu kamarnya tersebut.


"Khadijah. Ada apa?" tanya ustadz Zaki membuat Khadijah menggeleng dan segera membuka pintu kamarnya.


"Silahkan masuk ustadz," jawab Khadijah mempersilahkan suaminya itu untuk masuk ke kamarnya.


Ustadz Zaki pun mengangguk dan menghela nafasnya kasar.


"Hhhhhh, bismillah. Assalamualaikum," ucap ustadz Zaki melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar sang istri dan di susu dengan Khadijah yang menjawab salam sang suami.


Setibanya di dalam, Khadijah pun menutup pintu kamarnya.. Nampak ustadz Zaki mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar yang bercat kan putih itu.


"Kamar mu sangat nyaman sekali Khadijah," puji ustadz Zaki menatap wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.


"Alhamdulillah ustadz," jawab Khadijah menundukkan pandangannya.


"Khadijah," panggil ustadz Zaki lagi.


"I, i, iya ustadz," jawab Khadijah yang masih menundukkan pandangannya.


"Kemari lah," perintah ustadz Zaki menepuk ranjang kosong di sebelah ia duduk.

__ADS_1


__ADS_2