Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 14


__ADS_3

"Aku tidak tau. Yang aku tau hanya Khadijah. Wanta bercadar yang telah menggagalkan ku sewaktu aku akan lompat dari sebuah jembatan," jawab Dominic yang hanya ingat tentang itu.


"Kamu ingat nak? Apa lagi yang kamu ingat?" tanya Leoni berharap Dominic akan ingat banyak hal lagi.


***


"Aku nggak ingat apa-apa lagi. Yang aku ingat hanyalah Khadijah yang menyelamatkan ku di jembatan itu," jawab Dominic membuat sang mama kecewa.


"Ma sudah, jangan paksakan Dominic untuk mengingat masa lalunya. Kamu ingat kan apa pesan dokter tadi?" ucap sang suami mengingatkan istrinya.


"Iya pa. Maafkan aku. Aku hanya merasa ini semua nggak adil. kenapa anakku sendiri lebih lebih mengingat wanita lain dari pada aku ibunya sendiri," ucap Leoni berbisik.


"Ma sudah. Biarkan saja," balas Cristinus.


"Oh ya, Khadijah mana? Apa dia ada di sini?" tanya Dominic menghentikan percakapan suami istri itu.


"Hmmmm, Khadijah ada. Dia ada di luar. Sebentar, papa panggilkan dulu," jawab Cristinus bergegas untuk memanggil Khadijah di luar sana.


"Pa, gimana? Kak Dom udah sadar?" tanya Alina yang sedari tadi menunggu gilirannya masuk ke dalam ruangan sang kakak.


"Sudah sayang. Seperti yang di katakan dokter tadi, kakak mu lupa ingatan. Dia sama sekali tidak mengingat papa dan juga mama. Tapi dia ingat dengan Khadijah, dan kakak mu ingin bertemu dengan Khadijah," jawab Cristinus membuat Alina dan juga Khadijah terkejut mendengarnya.


"Apa? Kak Dom cuma ingat Khadijah? Papa serius kan?" tanya Alina tak percaya.


"Iya sayang. Papa nggak bercanda," balas laki-laki paruh baya itu.


"Hmmmmmmm, Khadijah, kamu mau kan buat menemui anak saya di dalam?" tanya Cristinus beralih menatap wanita bercadar itu.


"I...Iya om, saya mau," jawab Khadijah menatap Alina dan juga Cristinus.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau gitu, ayo masuk. Dominic sudah menunggu di dalam. Alina, kamu masuk saja sekalian. Tapi ingat, jangan ribut," ajak Cristinus lalu kembali ke kamar tempat anaknya di rawat.


Setibanya di dalam, Dominic langsung menyambut kedatangan Khadijah dengan raut wajah yang sangat senang sekali. Dominic bagaikan hidup dan sembuh kembali saat melihat kehadiran wanita bercadar itu.


"Khadijah, ucap dominic berusaha untuk bangun dari tidurnya.


"Hmmmmm kak, nggak usah bangun. Kakak sepeti itu saja," ucap Khadijah menghampiri Dominic.


Dominic pun hanya mengangguk menuruti perintah dari Khadijah. Ia tampak senang sekali saat melihat gadis bercadar itu.


"Hmmmm, kak, apa kabar? Bagaimana keadaan kakak? Apa kakak baik-baik saja?" tanya Khadijah memulai percakapannya.


"Aku baik-baik saja Khadijah. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu baik-baik saja?" jawab Dominic balik bertanya.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja kak," jawab wanita bercadar itu lagi.


"Syukurlah. Oh ya Khadijah, apa benar ibu dan bapak ini kedua orang tua ku?" tanya Dominic yang tadinya masih belum percaya dengan pengakuan dari kedua orang tuanya Dominic.


"Baiklah, kalau begitu aku percaya," jawab Dominic lagi.


Beberapa hari telah berlalu begitu cepat. Dan hari ini adalah hari dimana Dominic keluar dari rumah sakit. Di saat Khadijah akan berangkat untuk ke rumah Dominic, tiba-tiba saja ibunya masuk ke kamar Khadijah dan memberi kabar jika Ustadz Zaki datang untuk mencarinya.


Sontak, Khadijah yang suah siap berangkat itu pun di buat terkejut. Bagaimana Khadijah bisa lupa jika hari ini Ustadz Zaki akan datang untuk menagih jawaban atas lamarannya tempo hari.


"Hmmmmm baik bu, aku akan menemui ustadz Zaki, tapi ibu sama ayah temani aku ya," jawab Khadijah kembali menaruh tas yang akan ia gunakan.


"Baiklah nak. Ya sudah, ayo kita turun," ajak ibu Siti lagi.


Setibanya di lantai satu, ustad Jerry yang duduk di ruang tamu langsung berdiri saat melihat gadis pujaannya itu. Sudah lama sekali rasanya Jerry tidak bertemu dengan Khadijah.

__ADS_1


"Assalamualaikum Khadijah," sapa ustadz Jerry dengan senyuman dan lesung pipi nya.


"Wa'alaikum salam ustadz. Ustadz apa kabar?" jawab Khadijah balik bertanya.


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, saya baik Khadijah. Kamu sendiri bagaimana? Apa kabar? Bagaimana rasanya setelah menjadi mahasiswa?" tanya ustadz Zaki tak puas-puas nya memandangi wanita bercadar itu.


"Alhamdulillah saya juga sehat ustadz. Dan alhamdulillah rasanya saya bahagia sekali. Oh ya, ustadz mau minum apa? Biar saya buatkan sebentar," balas Khadijah menawarkan minuman untuk guru nya semasa di pesantren itu.


"ah, nggak usah repot-repot Khadijah. Ibu mu baru saja membuatkan saya teh ini," jawab ustaz Zaki meraih teh hangat yang ada di hadapannya.


"Oh, baiklah. KAlau begitu, silahkan di minum," balas Khadijah lagi.


"Hmmmmmm, pak, bu, Khadijah, langsung saja. Kedatangan saya ke sini untuk menanyakan bagaimana pendapat bapak dan juga ibu mengenai lamaran saya terhadap anak bapak dan juga ibu. Apa Khadijah sudah memberi tahu kalian berdua perihal lamaran ini?" ucap ustaz Zaki yang sebenarnya gugup berhadapan langsung dengan kedua orang tuanya Khadijah.


"Begini ustadz, kalau saya sebagai ayah dari Khadijah, saya sangat-sangat mendukung sekali niat baik ustadz Zaki untuk meminang Khadijah. Saya bahkan sangat senang sekali karena ada seorang laki-laki yang tampan rupanya, baik imannya dan jelas pekerjaannya datang dan melamar anak saya. Rasanya ustadz Zaki adalah calon imam yang sempurna untuk Khadijah putri saya. Namun, semua keputusan kembali saya serahkan kepada Khadijah, karena yang akan menjalani rumah tangga ini adalah Khadijah, bukan saya. Jadi sebaiknya ustadz Zaki tanyakan langsung saja sama Khadijah," jawab ayah Khadijah membuat ustadz Zaki merasa ada angin segar untuk lamarannya terhadap Khadijah.


"Iya ustadz. Saya pun selaku ibunya Khadijah juga seperti itu. Kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untuk Khadijah. Jika Khadijah setuju, maka kami sebagai orang tuanya Khadijah juga setuju," tambah ibu Siti semakin membuat ustadz Zaki senang.


"Hmmmm Khadijah, bagaimana jawaban mu? Kedua orang tua mu sudah menyerahkan semua keputusannya kepada dirimu. Hmmmm, Khadijah, apa pun jawaban mu, InsyaAllah saya akan menerimanya dengan lapang dada," ucap ustadz Zaki beralih ke Khadijah.


Khadijah yang rasanya tersudut pun bingung harus memulai jawabannya dari mana.


Di satu sisi, Khadijah iba melihat wajah ustadz Zaki yang seolah sangat-sangat berharap sekali jika lamarannya di terima.


"Bagaimana nak? Apa keputusan mu? Kamu katakan saja. Ibu dan juga ayah mu ini juga ingin mendengar jawaban mu nak," ucap bu Siti yang juga penasaran dengan jawaban sang anak.


Jujur, ibu Siti juga berharap jika Khadijah mau menerima lamaran ustadz Zaki.


Karena bagi dirinya, ustadz Zaki adalah imam yang baik untuk anaknya itu.

__ADS_1


"Hmmmm aku.. Aku.. Aku....," ucap Khadijah gugup.


__ADS_2