Cinta Lintas Agama

Cinta Lintas Agama
Bab 13


__ADS_3

"Mama bukannya tidak merestui Al. Mama tau jika Khadijah itu adalah wanita yang baik. Tapi kan kamu tau sendiri jika Khadijah adalah muslim yang taat, sedangkan kakak mu adalah seorang katolik. Mereka nggak akan bisa bersatu karena Khadijah pasti tidak akan mendapatkan izin dari kedua orang tuanya, begitu juga sebaliknya," jelas Leoni kepada sang anak.


***


Mendengar penjelasan dari sang mama, Alina pun mulai mengerti.


'Kasihan juga kak Dom jika memang benar dia mencintai Khadijah,' batin Alina.


"Alina.. Sayang.. Kamu kenapa diam? Hmmm? Katanya mau ke kampus," ucap Leoni mengingatkan anaknya itu.


"Oh iya, Aku lupa. Ya sudah, aku berangkat dulu ya ma," balas Alina lalu mencium kedua pipi Leoni.


"Hati-hati di jalan," ucap sang mama.


Sementara itu, di mobil, Dominic yang sedang menyetir nampak tidak fokus karena terus teringat kata-kata sang mama. Hal itu akhirnya membuat Dominic menabrak sebuah pohon dan saat ini laki-laki tampan itu tengah berada di ruang UGD akibat dari kecelakaannya itu.


Leoni yang sedang bersantai dengan majalahnya seketika terkejut saat mendapatkan kabar dari piha rumah sakit. Begitu juga dengan Cristinus yang langsung meninggalkan meeting pentingnya setelah mendapatkan telepon dari sang istri.


Di kampus, Alina yang baru saja memulai pelajaran pertamanya di beritahu oleh dosennya jika kakaknya Dominic mengalami kecelakaan. Di saat Alina hendak pergi, seketika dosennya langsung melarang karena itu merupakan perintah dari papanya.


"Ada apa Al? Kamu kenapa cemas sekali?" bisik Khadijah setelah Alina kembali ke kelasnya.


"Kak Dom Khadijah, kak Dom kecelakaan," jawab Alina lesu.


"Apa? Kakak mu kecelakaan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Khadijah lagi.


Alina melihat jika Khadijah tidak bisa menutupi kekhawatirannya terhadap Dominic.


"Aku nggak tau Khadijah. Nanti setelah jam ini, kamu mau kan temanin aku ke rumah sakit?" tanya Khadijah yang langsung di balas dengan anggukan cepat oleh Khadijah.

__ADS_1


Baik Alina dan juga Khadijah, sudah tidak sabar menunggu jam pelajaran ini usai. Mereka sudah tidak sabar untuk segera mengetahui kabar dari Dominic.


Hingga tiga puluh menit kemudian, jam pelajaran pun usai, seketika Alina dan juga Khadijah bergegas meninggalkan kampus menuju rumah sakit.


"Khadijah, kamu tau, aku sangat merasa bersalah sekali atas kecelakaan kak Dominic," ucap Alina dengan tiba-tiba.


"Kenapa kamu bicara begitu Al? Apa kamu dan kakak mu tadi bertengkar?" tanya Khadijah penasaran.


"Nggak, kami nggak bertengkar kok. Hanya saja, tadi pagi kak Dom bilang dia mau nebeng sama gue berangkat ke kampusnya, tapi aku nggak mau. Jika terjadi sesuatu sama kak Dom, aku sangat nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri Khadijah," jelas Alina dengan air mata penyesalannya.


"Al, sudah. Ini semua bukan salah kamu. Ini semua sudah takdirnya. Sekarang kamu tenang ya. Kakak kamu InsyaAllah pasti akan baik-baik saja," jawab Khadijah menenangkan sahabatnya itu.


"Tapi Khadijah, aku tetap merasa bersalah. Andai saja tadi pagi aku mau memberikan tumpangan sama kak Dom, ini semua pasti tidak akan terjadi," balas Alina masih tidak tenang.


"Ya sudah, kalau begitu, mari kita sama-sama berdoa agar kakak mu baik-baik saja," ucap Khadijah lalu mulai memanjatkan doa untuk Dominic.


Setengah jam kemudian, mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit tempat sang kakak tengah di tangani oleh dokter.


Setibanya di sana, Alina langsung memeluk sang mama yang tengah menangis di kursi tunggu pasien.


"Ma, bagaimana keadaan kak Dominic? Apa dia baik-baik saja?" tanya Alina melepas pelukannya.


"Mama tidak tau sayang. Kakak mu masih di tangani oleh dokter di dalam sana. Semoga saja lukanya tidak parah ya nak," jawab Leoni menangis tersedu-sedu.


Beberapa saat kemudian, di saat semua orang tengah tegang menanti kabar dari sang dokter, pintu UGD pun terbuka. Dokter yang mereka tunggu-tunggu pun akhirnya keluar. Dengan cepat, Leoni dan yang lainnya bergegas menghampiri sang dokter paruh baya tersebut.


"Dokter.. Bagaimana keadaan anak saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya Cristinus yang sedari tadi hanya diam.


"Hhhhhhhh, begini pak, bu, akibat benturan keras di kepalanya, dan di tambah lagi dengan penyebab lainnya, maka untuk saat ini, anak bapak dan juga ibu mengalami amnesia. Maka dari itu, anak ibu akan kehilangan sebagian bahkan semua dari ingatannya selama ini. Kalau untuk kondisi lainnya seperti luka-luka sudah kami tangani dengan baik. Untuk saat ini, pasien masih belum sadarkan diri. Saya minta kepada keluarga pasien untuk tidak memaksakan pasien mengingat masa lalunya, karena itu semua hanya akan memperburuk kesehatannya," jelas sang dokter membuat Khadijah dan yang lainnya terkejut.

__ADS_1


"Ya tuhan Dom. Hmmmmm, dokter, kapan saya bisa bertemu dengan anak saya?" tanya Leoni masih shock.


"Sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruangan rawat inap. Kalian akan bisa menemuinya di sana. Tapi ingat, jangan masuk semuanya," jawab dokter tersebut lalu pergi.


Lima belas menit kemudian, Dominic pun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Ma, mama sama papa masuk saja dulu. Aku dan Khadijah akan masuk setelahnya," ucap Alina memilih untuk mengalah.


"Baiklah, kamu dan Khadijah tunggu di sini dulu. Mama sama papa ke dalam dulu," ucap Leoni bergegas masuk ke dalam ruangan sang anak.


Setibanya di dalam, tangis Leoni pecah ketika melihat sang anak yang terbaring lema dengan slang infus di tangannya. Hatinya begitu teriris karena baru kali ini ia melhat Dominic lemah tak berdaya.


Beberapa saat kemudian, Dominic pun sadarkan diri. Perlahan ia membuka mata dan melihat ke sekitarnya.


"Dimana ini?" tanya Dominic nampak memegangi kepalanya.


"Dominic, sayang, kamu sudah sadar nak?" ucap Leoni mengusap kepala sang anak.


"Ibu siapa?" tanya Dominic seketika membuat hati Leoni sakit. Hatinya sangat sakit sekali karena anak yang ia lahir kan dan besarkan, tidak mengingat ia sebagai ibu.


"Dom, ini mama nak. Dan ini papa mu. Kamu sekarang ad adi rumah sakit, dan dokter bilang kamu terkena amnesia. Maka dari itu, kamu tidak mengingat kami sebagai orang tua mu," jawab Leoni berharap Dominic dapat kembali mengingat dirinya.


Dominic tampak diam menatap ke dua orang tua itu bergantian. Beberapa saat kemudian, Dominic pun memegangi kepalanya.


"Khadijah mana?" tanya Dominic seketika membuat Leoni dan juga Cristinus kaget. Bagaimana bisa, anaknya sendiri lupa dengan kedua orang tuanya, namun ingat dengan Khadijah yang baru beberapa hari ia kenal.


"Dom, kamu ingat Khadijah, tapi tidak ingat kami orang tua mu?" tanya Cristinus heran.


"Aku tidak tau. Yang aku tau hanya Khadijah. Wanta bercadar yang telah menggagalkan ku sewaktu aku akan lompat dari sebuah jembatan," jawab Dominic yang hanya ingat tentang itu.

__ADS_1


"Kamu ingat nak? Apa lagi yang kamu ingat?" tanya Leoni berharap Dominic akan ingat banyak hal lagi.


__ADS_2