
"Ini mama habis dari pasar beli sayur," jawab Leoni memperlihatkan barang belanjaannya.
"Oh, ya udah, kalau gitu aku berangkat dulu ya ma. Bai," pamit Alina bergegas meninggalkan ruang makan itu.
***
"Kamu nggak ke kampus Dom?" tanya Leoni kepada anak tampannya itu.
"Kampus ma. Tapi bentar lagi," jawab Dominic terus saja kepikiran Khadijah.
"Ya sudah, kalau begitu mama ke kamar dulu. Kamu kalau mau pergi, pergi saja," pamit Leoni mengusap kepala putranya itu.
Lima belas menit telah berlalu dengan cepatnya. Dominic masih saja duduk di ruang makannya. Entah apa yang dia pikirkan selama itu, yang jelas saat ini perasaannya campur aduk.
"Apa gue susul Khadijah di rumahnya saja ya? Tapi kan dia lagi ada acara keluarga. Jadi nggak sopan gue kayak nya. Udahlah, semoga saja besok Khadijah segera masuk kampus lagi," gumam Dominic lalu beranjak dati tempat duduknya.
Sepanjang perjalanan, Dominic masih terus terpikirkan wanita pujaannya itu. Hingga tak terasa, Dominic pun sudah tiba di kampusnya.
Sedangkan di rumah, Khadijah tengah bersiap-siap untuk menunggu kedatangan ustadz Zaki dan keluarganya.
Karena terlalu semangat untuk menikahi Khadijah, ustadz Zaki langsung mendesak keluarganya untuk meminang sang calon istri.
Sekira pukul sebelas, keluarga ustadz Zaki pun datang ke rumah Khadijah. Khadijah yang saat itu sedang berada di kamarnya di buat dag-dig-dug karena sang ibu memberi tahukan bahwa keluarga ustadz Zaki telah tiba dan menunggu dirinya.
"Hmmmmm, bu? Apa semua akan baik-baik saja?" tanya Khadijah sedikit cemas.
"InsyaAllah semuanya akan baik-baik saja nak. Bismillah. Ayo, kita turun ke bawah sekarang," jawab ibu Siti lalu mengajak sang putri untuk turun menemui keluarga calon suaminya itu.
Setibanya di lantai satu rumah Khadijah, gadis cantik itu dengan malu-malu mengucapkan salam dan mencium tangan calon mertuanya. Kedua orang tua ustadz Zaki nampak sangat senang sekali melihat calon menantunya itu.
__ADS_1
Begitu cantik, soleha, dan juga sopan. Begitulah kira-kira batin mereka. Tak hanya kedua orang tua ustadz Zaki. Ustadz Zaki sendiri yang merupakan calon suami Khadijah sangat-sangat senang sekali melihat calon istrinya itu.
"Ayo silahkan diminum teh nya, bapak, ibu, nak Zaki," ucap ibu Siti menawarkan.
"Ah, baiklah bu Siti terima kasih. Maaf sebelumnya. Tujuan kami datang kemari adalah untuk melamar anak bapak dan ibu yaitu Khadijah untuk menjadi istri dari Zaki, anak kami. Bagaimana menurut bapak dan juga ibu?" tanya ibu Salma, ibu dari ustadz Zaki.
Mendengar ucapan dari ibu ustadz Zaki, perasaan Khadijah rasanya campur aduk. Ia jadi teringat Dominic yang sudah mengutarakan cintanya beberapa waktu yang lalu.
"Kami sebagai orang tua dari Khadijah menyerahkan semua keputusan ke tangan anak kami Khadijah. Bagaimana nak? Apa jawabanmu atas lamaran ini?" jawab ayah Husin lalu melempar pertanyaannya ke Khadijah.
Khadijah nampak mengangkat kepalanya sejenak lalu menatap semua orang satu persatu, termasuk ustadz Zaki.
"Hhhhhhhhhh, bismillah. Saya menerima lamaran ustadz Zaki," jawab Khadijah menarik nafasnya dengan panjang. Ia berharap semoga saja keputusannya ini tidak salah.
"Alhamdulillah," ucap semua orang nampak senang dan juga lega.
'Maafkan aku kak. Aku terpaksa menerima lamaran ustadz Zaki. Aku harap kakak bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku. Yang seiman dan sejalan,' batin Khadija lirih.
"Alhamdulillah. Kalau begitu kita langsung saja menghitung kapan hari baik untuk melangsungkan ijab kabulnya. Lebih cepat lebih baik," ucap Zakarya, ayah dari ustadz Zaki.
"Benar sekali. Lebih cepat lebih baik. Kami sebagai orang tua dari Khadijah menyerahkan semuanya kepada bapak dan ibu. Kapan kira-kira hari baik itu akan kita laksanakan?" tanya ayah Husin antusias.
"Bagaimana Zaki? Apa kamu punya usulan?" tanya ibu Salma kepada anaknya itu.
"Hmmmmm, kalau aku terserah ibu dan ayah saja. Lebih cepat lebih baik bukan?" jawab ustadz Zaki juga menyerahkan semuanya kepada kedua orang tuanya.
Sedangkan Khadijah hanya diam terpikirkan Dominic.
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita langsungkan ijab kabulnya jumat ini saja. Untuk acara pernikahannya kan kita adakan pada keesokan harinya. Bagaimana pak, bu?" tanya ayah Zakarya kepada kedua orang tua Khadijah.
__ADS_1
"Bagaimana yah? Kalau ibu terserah ayah saja," ucap ibu Siti menyerahkan semua keputusan kepada calon suaminya.
"Hmmmm, baiklah. Saya setuju. Kalau begitu ijab kabul antara nak Zaki dan Khadijah akan kita langsungkan jumat ini. Semoga ini semua awal yang baik untuk mereka berdua," jawab ayah Husin semkin membuat hati Khadijah tersayat.
Sudah tidak ada harapan lagi untuk dirinya dan Dominic bersatu. Khadijah harus mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap cintanya yang terpisahkan karena agama itu
Sementara di kampus, Dominic nampak duduk di bangku taman sendirian. Ia masih saja terpikirkan Khadijah yang tidak masuk kampus hari ini.
Perasaannya tiba-tiba tidak enak saat memikirkan pujaan hatinya itu.
"Dor," ucap Alina mengejutkan kakaknya itu.
"Apaan sih lo dek. Nggak lucu tau," jawab Dominic kesal.
"Abis lo ngapain sih kak melamun kayak gini? Pantas saja lo itu jadi mahasiswa abadi. Orang kerjaan lo kayak gini terus," ledek Alina mengambil posisi duduk di sebelah kakaknya.
"Ngeledek aja lo bisanya. Oh ya dek, lo tau nggak Khadijah ada acara keluarga apaan? Kok gue perasaan gue nggak enak gini ya?" tanya Dominic berharap bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan dari sang adik.
"Gue nggak tau juga kak. Apa jangan-jangan Khadijah di lamar? Soalnya waktu itu Khadijah bilang jika ada gurunya yang akan datang untuk melamarnya," jawab Alina yang ternyata satu pemikiran dengan Dominic
"Gue juga berpikiran seperti itu Al. Lo tau, waktu gue antar Khadijah pulang, gue ketemu sama tuh ustadz di rumahnya Khadijah. Khadijah juga bilang kalau si ustadz itu akan kembali menagih jawaban Khadijah atas lamarannya," ucap Dominic semakin tidak tenang.
"Lah, berarti iya. Kali aja itu alasannya Khadijah nggak masuk kantor hari ini," balas Alina membuat Dominic buru-buru untuk menyusul Khadijah ke rumahnya.
"Eh.. Eh.. Mau kemana lo kak?" tanya Alina juga ikutan berdiri.
"Gue mau ke rumah Khadijah. Gue mau mastiin kalo Khadijah menolak lamaran ustadz itu," jawab Dominic lalu melanjutkan pergi.
"Eh kak jangan. Lo jangan nekat gitu dong," ucap Alina namun tak di dengarkan oleh kakaknya itu.
__ADS_1
Sementara itu, Dominic melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Khadijah dan memastikan jika Khadijah tidak menerima lamaran laki-laki itu.
Merasa cemas, Alina pun langsung menghubungi Khadijah dan menceritakan semuanya. Ia meminta maaf atas kelakuan kakaknya dan berharap tidak mempengaruhi persahabatan mereka.