
Pov Raka
Devina sekarang tidak bisa menghubungiku, karena aku sudah memblok nomornya. meski dia beberapa kali mengganti nomor handphone, tapi aku selalu bisa mengenali nomor baru Devina. sehingga sampai sekarang aku masih aman tidak pernah sekalipun bertemu langsung dengannya, paling aku hanya mengintip dari kejauhan.
Sebenarnya aku merasa kasihan dengan dirinya, tapi kelangsungan hidupku lebih penting daripada memikirkan kelangsungan hidup orang lain. kebahagiaanku lebih penting daripada kebahagiaan orang lain, memang terlihat egois tapi aku harus tetap melakukannya.
30 menit berlalu, aku tertahan di lorong sekolah tidak bisa menuju ke tempat parkiran, akhirnya cewek yang menungguku, dengan tertunduk lesu Dia berjalan menuju pintu gerbang, terlihatlah ada sebuah mobil yang menunggu, mungkin itu sopir yang menjemputnya.
Aku menarik nafas lega seperti terbebas dari hukuman, dengan perlahan aku pun menghampiri motor yang terparkir ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat.
Setelah motorku menyala, Aku meninggalkan sekolah masuk ke Jalan Raya bergabung dengan motor-motor yang lain. hari itu Suasananya sangat terik, seperti akan ada hujan besar Nanti sore, membuatku semakin mempercepat perjalanan. namun tiba-tiba pikiranku teringat bahwa ada buku yang harus ku beli untuk melengkapi pelajaran di sekolah.
Aku yang awalnya hendak pulang ke rumah, akhirnya membelokan tujuan. ketika ada pertigaan menuju salah satu mall yang menjual buku yang aku cari, aku terus menyusuri jalan itu hingga akhirnya tiba di parkiran Mall.
Setelah memarkirkan motor, aku pun berjalan menaiki lobby, lalu masuk ke lantai pertama. terlihatlah banyak orang yang sedang berjualan, mulai dari pakaian, makanan bahkan mobil dengan marketing yang berbeda. ada yang berjualan seperti biasa menawarkan barang dagangannya kepada konsumen, ada juga yang menggunakan trik seperti menjebak calon customernya dengan iming-iming hadiah. tapi kalau dijumlahkan dan ditelusuri harga barang yang kita beli plus hadiahnya itu tetap sama harganya. memang benar-benar hebat orang-orang dewasa sekarang.
Aku terus berjalan menyusuri lorong Mall menuju ke eskalator untuk naik ke lantai dua. terdengar dari samping kanan dan kiri orang-orang yang menawarkan jualannya, hidungku pun tak kalah digoda dengan wangi-wangi makanan yang sangat khas. tapi beruntung hari itu imanku sedang kuat, karena aku berpikir kalau tidak cepat menyelesaikan kebutuhanku, nanti bisa-bisa aku kehujanan.
Sesampainya di lantai dua, aku terus berjalan menuju ke tempat penjualan buku. aku mulai mencari-cari buku yang kubutuhkan, namun ketika aku melewati salah satu lorong seketika langkahku terhenti, mataku membulat, Mulutku agak sedikit menganga. karena aku melihat salah seorang cewek yang pernah aku temui.
__ADS_1
"Kayaknya itu kakak kelas yang gila hormat," gumamku dalam hati dengan segera aku mulai melangkahkan langkah mendekat ke arahnya, namun aku berusaha seolah-olah tidak sengaja bertemu dengannya.
Ketika Gadis itu mau mengambil buku yang berada di rak, dengan segera aku pun mengikuti hal yang sama sehingga cewek itu menatap ke arahku dan aku menatap ke arahnya. akhirnya kedua pasang mata pun beradu membuat jantungku berdegup kencang, pipiku memerah bahkan hatiku sedikit berdebar.
"Loh, kok lu ada di sini sih!" Tanyaku sambil mengukir senyum menunjukkan tanda bahagia.
Gadis itu tidak menjawab, Dia melanjutkan tujuannya yang hendak Mengambil buku. setelah itu lalu menurunkan tangannya. "kenapa lu mau bilang, bahwa ini tempat lo, dan gua nggak boleh ke sini, begitu?" jawab cewek itu dengan wajah datarnya.
"Nggak, nggak gitu....! Lagian kan ini tempat umum. lihat tuh banyak orang yang berkegiatan di sini," jawabku sambil menatap mengitari seluruh toko, menunjukkan orang-orang yang sedang berbelanja buku.
Cewek itu pun memindai area sekitar, mengikuti apa yang kulakukan, tangannya terlihat membetulkan rambut untuk disimpan di belakang kuping, membuatnya terlihat sangat manis, meski dia selalu menekuk wajah.
Aku terus menatap buku yang dipegang, ternyata buku itu adalah novel Princess, walaupun aku belum mengetahui isinya, tapi melihat sampul bukunya aku sudah bisa menebak ke sana. membuatku semakin merasa heran dengan tingkah laku cewek ini, masa iya ada Princess jutek dan galak.
"Ngapain lu, lihat-lihat....?" tanya cewek itu sambil menyembunyikan buku yang baru diambil ke dadanya.
"Nggak, bukunya....!"
"Apa lu mau bilang bawa bacaan gua norak, kayak anak kecil?" potongnya dengan nada Ketus.
__ADS_1
"Enggak, enggak gua menatap itu karena gua merasa heran, Gua nggak nyangka aja kalau Ternyata Cewek galak kayak lo buku bacaannya tentang Princess kayak gitu." sanggahku agak sedikit tergagap, tanganku menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.
"Lu belum kenal sama gua, tapi lu sudah ngatain gua dua kali. yang pertama lu bilang kalau gua senior gila hormat, sekarang lu bilang Gua cewek galak."
"Enggak, enggak....!" jawabku dengan cepat sambil mengibas-ngibaskan tangan, menolak tuduhan cewek galak yang ada di hadapanku.
"Lah terus Barusan lu bilang apa?" ketusnya sehingga membuat suasana pun menjadi Hening kembali. aku yang selalu mendapat ide ketika menulis cerpen, tapi ketika berhadapan dengan seorang cewek yang lumayan aku kagumi, semua inspirasi itu hilang seketika.
Aku dan cewek yang belum di ketahui namanya pun terus terdiam, seolah sedang menikmati mendengarkan lagu yang suaranya samar-samar yang diputar oleh Mall. suara orang yang mengobrol terdengar dari setiap lorong rak buku, mereka membicarakan buku yang hendak mereka beli.
Untuk mengusir rasa canggung, aku menarik nafas dalam lalu mengulurkan tangan ke arah cewek yang berada di hadapanku.
"Gua Raka......!" ujarku memperkenalkan diri sambil tetap mengulurkan tangan yang tidak disambut oleh cewek itu, Dia terlihat enggan menerima uluran tanganku, Mungkin memang benar dia tidak pernah main dengan Junior.
"Huh....! gua sudah dua kali loh ngajak lu kenalan, dan kalau lu masih tidak mau menerima gua dosa loh. dalam buku agama yang ada di sekolah, kalau menjalin hubungan silaturahmi antar umat beragama itu hukumnya wajib, karena itu bisa mewujudkan perdamaian, memperkecil perselisihan." lanjutku yang semakin memiliki keberanian.
Mendengar ceramahku yang mungkin mengusikan hatinya yang tersesat, membuat gadis itu merubah raut wajahnya yang semula datar, menjadi sedikit melukis senyum di sudut bibirnya.
"Iya, iya....! Maksa banget sih. gua Kayla, panggil aja key." jawab cewek yang ternyata namanya Kayla, dengan segera dia pun menyambut uluran tanganku lalu menggenggamnya.
__ADS_1