
Pov Raka.
Setelah menghabiskan bakso yang kupesan, aku menyimpan mangkoknya ke dalam ember cucian, setelah minum aku pun membayar pesanan yang tadi aku makan. Otaku terus mencari jalan dan mencari tempat bersembunyi yang paling aman, karena kalau bersembunyi di kantin sekolah, aku tidak enak mengganggu orang yang sedang mencari rezeki.
"Kayaknya gua harus ke perpustakaan lagi deh, biar otak gua tenang dan bisa mencari referensi buat cerpen-cerpen gua selanjutnya." putusku sambil melangkahkan kaki keluar dari kantin.
Aku menyusuri lorong sekolah untuk menuju tempat tersunyi, sambil berjalan aku tetap menerapkan kehati-hatian dan kewaspadaan takut kalau bertemu dengan mantan pacar. jantungku lumayan terasa berdegup, hati sedikit berdebar, akibat rasa takut yang selalu menghantui. aku semakin mempercepat langkahku agar bisa cepat sampai ke tempat yang dituju.
"Raka......!" Panggil suara seorang wanita yang tidak asing di telingaku, tanpa menoleh dengan segera aku pun berlari menjauh, beruntung suara itu terdengar dari belakang, sehingga aku bisa berlari ke arah depan.
"Raka tunggu.....! Raka......!" teriak Devina terus memanggilku, membuatku sedikit merasa malu dikejar-kejar seperti seorang copet yang baru menyerang mangsanya.
Aku terus berlari menyusuri lorong sekolah, lalu berbelok menuju ke arah kanan. mataku terhenti ketika melihat ada tulisan toilet, tanpa berpikir panjang aku pun masuk ke dalam.
"Raka tunggu.....! Raka.....! Raka.....," teriak Devina yang terus memanggil-manggil namaku.
"Waduh kenapa jadi kayak maling ayam seperti ini?" Gumamku sambil mendorong salah satu pintu, mataku terus tertuju ke arah lorong takut Devina memeregoki.
__ADS_1
Benar saja, tak lama setelah aku masuk ke dalam toilet, terdengar suara sepatu kets yang menapaki lantai, suaranya sangat berdecit memenuhi lobang telinga, bak seorang psikopat sedang mencari mangsanya yang kabur. Jantungku mulai berdegup, hatiku semakin berdebar, karena dalam sanubariku merasa bahwa yang aku lakukan ini adalah kesalahan, Seharusnya aku menghadapi Devina dan memberikan pengertian bahwa aku sudah tidak menyayanginya lagi, bukan harus lari dari tanggung jawab. Tapi nasi menjadi bubur, aku tidak bisa melakukan apa-apa, Hanya berdiam sambil mendengarkan suara di luar memperhatikan langkah kaki Devina yang terdengar mundar-mandir.
Ceklek!
Terdengar salah satu pintu terbuka, membuat suasana terasa hening, karena suara orang yang berjalan berhenti seketika.
"Kamu mau ngapain ke toilet laki-laki, Mau ngintip ya?" tanya suara seseorang laki-laki.
"Kalau ngomong itu dijaga....! enak aja gua ngintip. Emangnya gue cewek apaan, Gua sedang mencari pacar gua yang bernama Raka....! lu lihat nggak?" tanya Devina yang terdengar sangat sangar, berbeda ketika situasinya terbalik, kalau ada seorang laki-laki berada di toilet seorang wanita mungkin laki-laki itu tidak akan bisa menjawab.
Sama seperti prediksiku. suara orang yang bertanya pun tidak terdengar kembali, namun suara langkah sepatu terdengar menjauh, menandakan Devina sudah pergi dari area toilet.
Dari arah belakang terdengar suara yang membuatku merinding, kemudian disusul dengan bau yang sangat menyengat menyeruak memenuhi hidung, bahkan sampai tembus ke ulu hati, memanggil toge dan mie yang tadi masuk ke dalam perut.
Dengan perlahan Aku menoleh ke arah datangnya suara, Alangkah terkejutnya ketika aku melihat ada seorang laki-laki yang sedang duduk di closet dan mengulum senyum.
"Ragil.....! Sejak kapan kamu ada di sini, Sial4n kamu, pakai berak segala....!' Tanyaku sambil menutup hidung menggunakan kerah baju.
__ADS_1
"Eh Mas Raka.....! kirain Mas Raka suka," jawabnya tanpa dosa bahkan terlihat senyum penuh kepuasan di bibirnya.
"Sial, sial, sial4n lu....!" bentakku rasanya ingin menghajar cowok gemulai itu, tapi menyelamatkan diri dari gas racun yang sangat berbahaya itu lebih penting. sehingga dengan segera aku pun keluar dari pintu lalu masuk ke toilet lain, menguras bakso yang sudah tenang bersemayam di dalam perut.
Setelah semuanya habis terkuras, aku pun menarik nafas dalam, mengatur hidupku yang baru saja hendak direbut oleh si Ragil. Entah kenapa Hari ini aku sangat sial dan kenapa aku sangat bodoh ketika tadi masuk ke dalam toilet tidak memperhatikan keadaan sekitar. kalau tahu di dalam toilet itu ada orang, mungkin aku tidak akan masuk ke tempat itu. Dan kenapa si gemulai itu malah diam saja tidak memberitahu kalau dia ada di dalam dasar b4nci.
"Ini semua gara-gara si Devina, gara-gara cewek itu hidupku sampai harus mengalami kejadian mengerikan. Lagian dasar cowok gemulai masa iya mau buang hajat pintunya tidak dikunci, emang benar-benar sudah nggak beres....!" pikirku dalam hati, rasa marah pun mulai menyeruak Ingin rasanya masuk kembali ke kamar si ragil, lalu menghajarnya sampai dilarikan ke rumah sakit. tapi kalau masuk lagi itu akan menambah masalah dalam hidupku, bisa-bisa Aku melakukan tindak kriminal.
Setelah semuanya kembali ke keadaan yang normal, aku pun berjalan dengan gontai melanjutkan tujuanku yang hendak pergi ke perpustakaan. pikirku mulai menyesali apa yang sudah aku lakukan hari ini, aku selalu menghindari Devina karena tidak mau kembali terjerat oleh tipu dayanya. padahal kalau dihadapi dan bicara dengan baik-baik mungkin kejadiannya tidak akan sesedih hari ini.
Sesampainya di perpustakaan Aku mencari tempat duduk tanpa Mengambil buku terlebih dahulu, aku sandarkan punggungku lalu memejamkan mata membayangkan kekonyolan kekonyolan yang Baru saja aku alami. tapi ini adalah pelajaran yang sangat berharga dalam merasakan Rasanya jatuh cinta.
Aku terdiam lama di perpustakaan, beruntung sekali Devina tidak menyusulku sampai ke tempat itu, karena ketika aku menjalin hubungan dengannya aku tidak pernah mengajaknya untuk berpacaran di perpustakaan, sehingga misi menghindari Devina hari itu berhasil kembali, namun entah sampai kapan aku akan terus bisa bersembunyi darinya.
Selama beberapa hari terakhir, aku terus menghindari dari kejaran Devina. Bukannya aku tidak sayang dengan gadis itu, tapi aku tidak mau memusingkan tentang berpacaran. beberapa hari menjauh darinya kehidupanku mulai kembali normal, aku mulai sering curhat dengan laptopku sambil mendengar lagu-lagu melow, tidak ada keresahan atau kegundahan dalam hati. Yang ada hanyalah ketenangan, ketentraman seperti sedang berada di atas gunung.
Melihat kejadian seperti itu, Aku semakin yakin bahwa berpacaran bukanlah solusi untuk mencapai kebahagiaan, Karena untuk mencapai kebahagiaan aku masih bisa menggapainya dengan cara yang lain, bisa dengan cara menulis atau mengobrol bersama sahabat atau teman sebaya.
__ADS_1
Meski aku terus menghindari mantan pacarku, tapi Devina dia seperti mempunyai mental baja, karena tidak pernah sedikitpun mengendorkan perjuangannya. Begitu juga dengan hari ini, aku harus tertahan dulu di tempat persembunyian sebelum pulang ke rumah. karena Devina menungguku di dekat motor.
Cewek itu terlihat gelisah, bahkan mondar-mandir di sekitar motorku. sesekali dia bertanya kepada teman sekelas tentang keberadaanku, membuatku semakin takut kalau kembali dengan dirinya hidupku tidak akan bebas.