
Pov Raka
"Devina melukai pergelangan tangan?" ulang Tio seolah tidak percaya.
Aku tidak menjawab pertanyaan itu, aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. tanganku terus meremas rambut sesekali memijat kening, rasanya kepalaku mau pecah menghadapi sikap Devina yang tidak bisa dimengerti oleh akal sehatku.
"Wah parah tuh....! Kok bisa seperti itu."
"Nggak tahu Yo, Gua juga bingung. Coba tolong kasih gua solusi!"
"Solusi apa, gua juga bingung kalau masalahnya seperti itu, tapi lo yakin bahwa goresan luka itu adalah luka yang disengaja."
"Nggak tahu yo, Tadi gua tanya dia malah kabur, tapi kayaknya Benar."
Mendengar penjelasanku, Tio tidak menjawab lagi. dia pun menatap ke arah whiteboard yang masih belum dihapus, Sehingga ruang kelas pun terasa hening terlarut dalam khayalan dan pemikiran masing-masing, menerka-nerka apa yang sudah dilakukan oleh Devina mantan pacarku.
Terlalut dalam khayalan, tak terasa Bell pelajaran ketiga pun berbunyi. aku dan Tio yang terasa malas dengan terpaksa membuka tas lalu mengeluarkan buku untuk melanjutkan kewajiban sebagai seorang siswa sekolah menengah atas.
Tak lama setelah bel berbunyi pak guru pun masuk untuk memberikan pelajaran ketiga hari itu. namun kala itu Aku tidak semangat sama sekali, apa yang disampaikan oleh Guruku hanya masuk dari telinga sebelah kiri dan keluar dari telinga sebelah kanan, Bahkan aku beberapa kali ditegur agar memperhatikan apa yang disampaikan oleh orang yang berdiri menyampaikan materi dari depan kelas.
Selesai pelajaran ketiga, dilanjutkan dengan pelajaran keempat. Aku masih sama seperti tadi, aku masih belum bisa fokus mengikuti pelajaran, karena khayalan Devina yang melukai tangannya terus mengganggu pikiranku, menari-nari di otakku, sehingga tidak ada sedikitpun keseriusan ketika belajar.
Hari itu rasanya pelajaran keempat terasa sangat lama, karena aku ingin segera mengakhiri pelajaran itu dan pulang ke rumah untuk mengistirahatkan pikiranku yang sedang carut marut, yang sedang kacau balau. Yang hanya memikirkan seorang cewek yang tidak menyayangi dirinya. dalam hati kecil aku ingin membiarkan semuanya terjadi, aku ingin tidak peduli dengan Devina, Tapi entah mengapa aku sehawatir itu, sampai-sampai aku tidak bisa fokus dalam belajar.
Lama ditunggu Akhirnya bel pulang pun berbunyi, dengan segera aku pun memasukkan buku ke dalam tas. setelah berdoa untuk pulang, dengan segera Aku berlari menuju keluar kelas, langsung menuju parkiran untuk segera pulang ke rumah, agar aku bisa membaringkan tubuh mengistirahatkan otak yang terasa lelah.
"Tunggu gua mas bro!" Teriak Tio dari belakang.
Aku mengacuhkan panggilan itu, dengan segera Aku mengeluarkan motor lalu menarik tuas gas melaju agak sedikit kencang keluar dari halaman sekolah. mataku terus menatap ke arah depan namun tiba-tiba mata itu terhenti di salah satu siswi yang berjalan menggunakan tote bag di lengan kanannya.
__ADS_1
Aku menatap wanita itu agak lama, karena ketika tadi aku melihatnya aku langsung menurunkan tarikan. setelah diperhatikan agak lama ternyata aku mengenal wanita itu hingga dengan segera aku pun menghentikan motor di sampingnya.
"Haduh kaget...! Kirain siapa, ternyata adik kelas gua yang membegal," ujar wanita itu sambil melempar senyum membuat kegundahan dan keresahan sirna seketika, teralihkan oleh Senyum manisnya.
"Pulang sendirian saja Kei?" Tanyaku sambil membalas senyum yang dilempar.
"Yah sendirian, kan biasanya gua seperti ini. Paling nanti di depan naik busway," jelas Kayla sambil menunjuk ke arah halte.
"Mau bareng...?" tawarku tiba-tiba seperti itu entah mengapa khayalan yang mengganggu ketenangan Otaku sirna seketika, teralihkan oleh senyum Kayla yang menyejukkan hati.
"Emang boleh?" tanya Kayla nampak ragu.
"Bolehlah, Makanya aku tawarin." jawabku tetap mengulum senyum, merasa bahagia karena bisa bertemu dengan Kayla, karena menurutku Kayla adalah wanita yang sangat dewasa, aku bisa menceritakan semua keluh kesahku terhadapnya.
"Kalau tidak merepotkan, ya sudah." jawab Kayla sambil menundukkan pandangan membuatnya terlihat semakin anggun nan cantik.
Mendengar kesediaan Kayla yang mau diantar pulang, dengan segera aku mengambil helm lalu diserahkan kepada Kayla, inginnya aku memasangkan helm itu agar dia tidak kesusahan, tapi aku belum berani karena takut disangka aku tidak sopan.
Di perjalanan itu aku terus mengajak Kayla untuk mengobrol meski hanya pembicaraan-pembicaraan ringan tentang sekolah, namun Kayla yang sangat dewasa sehingga membuatku betah berlama-lama mengobrol dengannya.
"Lapar nggak?" Tanyaku di sela-sela Obrolan.
"Enggak, emang kamu lapar?" jawab Kaila balik bertanya.
"Nggak juga, tapi kalau boleh aku ingin mengajakmu mengobrol, karena ada yang ingin aku ceritakan sama kamu."
"Tentang apa?" tanya Kayla sambil memajukan wajahnya ke depan membuat aroma wangi menyeruak melewati hidung.
"Banyak, Aku ingin bercerita banyak denganmu."
__ADS_1
"Ya Sudah, kita main ke mall aja, nanti kita cari minum disana," jawab Kayla memberi saran.
"Serius?" Tanyaku sambil memalingkan wajah ingin mengetahui tentang keseriusan tawarannya.
"Seriuslah, Ya sudah fokus aja bawa motor."
"Siap Bu komandan."
Aku terus mengendarai motorku hingga ketika ada mall aku membelokkan kemudinya, kemudian menyimpan motorku di parkiran.
Setelah motor terparkir dengan aman, Aku berjalan beriringan layaknya pasangan seorang kekasih menuju ke lantai dua, di mana Banyak makanan-makanan yang dijual di tempat itu.
Sesampainya di lantai dua, dengan segera aku dan Kayla pun memesan minuman kesukaan masing-masing, sambil menunggu pesanan dibuat aku dan Kayla Mencari kursi yang berada di dekat kaca, kebetulan waktu itu sudah agak sepi karena mungkin waktu makan siang sudah terlewat.
Setelah kita berdua duduk, aku menatap wajah Kayla yang dihiasi dengan senyum Manis, Rambutnya yang terurai menambah kesempurnaannya. aku terus menatap wajah itu tanpa sedikitpun merasa bosan, namun ketika dia menatap ke arahku, dengan segera aku memalingkan wajah karena tidak sanggup untuk beradu tatap dengan wanita cantik seperti Kayla.
"Kenapa terus menatap ku?" tanya Kayla yang terlihat malu-malu bahkan kedua pipinya berubah menjadi merah merona.
"Nggak nggak apa-apa, enak aja menatap wanita cantik seperti kamu." pujiku Tulus dari dalam hati.
"Masa sih gua secantik itu," ujar Kayla yang tidak menyangga pujianku.
"Iya, Aku sangat kagum sama wanita yang bisa merawat tubuhnya, sehingga enak untuk dipandang."
"Kenapa, kok bisa seperti itu?"
"Iya karena wanita yang bisa merawat tubuhnya itu menandakan bahwa dia sangat sayang terhadap dirinya, jadi ketika dia menyayangi orang lain itu adalah kebenaran."
"Maksudnya,"
__ADS_1
"Bagaimana mau menyayangi pasangan, kalau dia tidak menyayangi dirinya sendiri. karena kalau menyayangi diri sendiri harus lebih tinggi daripada menyayangi orang lain,"