
Pov Raka
Aku terus menatap wajah Kakak kelasku kebetulan dia pun melirik ke arah wajahku, sehingga kedua tatap mata itu beradu membuat jantungku kembali bergejolak, dan kedua sudut bibir Kayla terangkat dengan sempurna, mungkin dia merasa lucu dengan tingkahku yang terlihat grogi.
Ketika melihat senyum Kayla, wajahnya terlihat sangat cantik dan manis. meski dia kakak kelasku, tapi tak kalah imut dari Devina. di kedua pipinya mempunyai lesung pipit menambah keindahan senyum itu, awalnya Keyla memang sangat menyeramkan, tapi ketika dia sedang tersenyum dia sangat cantik mengalahkan rembulan yang sedang bersinar.
Lama saling menatap, akhirnya kita pun tersadar bahwa tangan kita masih saling menggenggam. dengan segera aku melepaskan genggaman tangan itu, lalu ditarik menuju ke belakang kepala untuk menggaruk kembali Rambutku yang tidak terasa gatal, kedua sudut bibir kita pun dilukis dengan senyum.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Kayla sambil membalikkan wajah menyembunyikan senyum manis di bibirnya, mungkin dia juga merasa heran kenapa dirinya bisa tersenyum seperti itu.
"Enggak, aku sedang bahagia aja....!" jawabku sambil terus memperhatikan wanita yang sedang salah tingkah.
"Bahagia kenapa?" Tanyanya lagi sambil melirik ke arahku lagi.
"Karena kalau sampai perkenalan ku yang kedua tetap tidak diterima, nanti ketika aku hendak mengajak kamu berkenalan untuk yang ketiga kalinya, aku harus menyiapkan hadiah satu buah gelas cantik."
"Ish....! Apaan sih Nggak lucu tahu, garing.....!" Anggap Kayla namun tetap mengulum senyum.
"Lu suka baca Novel juga Key?" Tanyaku mencairkan suasana kembali.
"Suka, karena dengan membaca novel, kita bisa terlarut dalam alurnya sehingga bisa melupakan kehidupan nyata, yang sangat membosankan dan tidak mengasikkan. dengan adanya novel kita bisa menghabiskan berjam-jam tanpa memikirkan ribetnya kenyataan," jawab Kayla memberi penjelasan.
"Oh kalau begitu, kita Samaan dong. tapi kalau gua Selain hobi membaca novel, gue juga hobi menulis."
__ADS_1
"Oh iya.....! bentar, bentar, Kalau nggak salah, Lu yang dulu pernah juara bikin cerpen kan di sekolah kita?" tanya Kayla mengulang kejadian beberapa bulan yang lalu ketika aku masih duduk di kelas 10.
"Yah, gua juara class meeting ketika semester akhir."
"Iya gua ingat, lu yang bisa bikin cerpen tapi lu kikuk kan ketika menyampaikan pidato kemenangan, sehingga membuat semua orang menertawai lu. hahaha,"
"Sudahlah....! jangan diingatkan lagi gua malu," ujarku yang mengenang kembali waktu itu karena memang benar aku memang bisa menulis tapi bukan untuk berpidato, soalnya aku bukan caleg yang biasa mengubar janji ketika berkompanye.
"Hehehe, perasaan dulu lo sangat culun, tapi sekarang lumayan Gagah," Puji Kayla membuat kedua hidungku mengembang, mungkin mau meninggalkan wajah.
"Udahlah jangan ngebully adik kelas, nanti kena pasal."
"Lagian lu aneh sih....! Masa bisa nulis tapi nggak bisa bicara."
"Ya sudah," jawabnya pendek namun tak lupa dia pun melemparkan senyum kembali.
Akhirnya aku melanjutkan pencarian buku pelajaran untuk menunjang aktivitas belajarku di sekolah. namun mataku tetap mencuri-curi pandang ke arah Kayla yang sedang aktif membaca buku yang tadi ia ambil. setelah lama akhirnya aku pun menemukan buku yang aku cari, dengan segera menghampiri kasir untuk membayarnya, tapi ketika mataku menatap Kayla yang belum pulang bahkan masih belum beranjak dari tempat duduk. seketika Niatku berubah aku akan mendekati cewek kakak kelasku, agar aku bisa lebih jauh mengenalnya sekaligus sebagai pelarian untuk melupakan Devina yang selalu mengganggu setiap hariku.
Aku kembali masuk ke barisan rak buku lalu membuka buku-buku yang sebenarnya tidak kubaca, aku hanya berkamuflase agar aku tidak terlihat sedang memantau Kayla yang sedang duduk di bangku panjang.
Setelah lama menunggu, Kayla pun tidak menunjukkan perubahan. dia tetap masih membaca buku, bahkan sudah hampir lewat dari seperempat jam, tapi belum menunjukkan tanda-tanda Kayla mau menyudahi aktivitasnya. membuatku sedikit merasa bosan bahkan hampir menyerah, aku terus bersembunyi di rak-rak buku yang berjajar rapi, sambil terus menatap ke arah Kayla yang terlihat sudah menurunkan bukunya, lalu melihat jam yang ada di tangan.
Mata indah Gadis itu memindai area sekitar seperti sedang mencari sesuatu, namun itu tidak lama, karena dengan segera Kayla pun bangkit lalu berjalan menuju kasir.
__ADS_1
Aku terus bersembunyi karena aku takut kehilatan curiga bahwa aku sedang membuntutinya. ketika dia sudah keluar dari toko buku dengan segera aku pun menghampiri kasir lalu membayarnya. Namun sayang antriannya lumayan panjang, sehingga membuatku sedikit menyesal kenapa aku nggak dari tadi menunggunya di luar, agar aku tidak kehilangan jejak seperti sekarang.
Setelah Buku yang aku beli selesai dibayar, dengan segera aku pun menuruni lantai dua, sambil mencari ke setiap sudut berharap Kayla ada di tempat itu, Namun sayang orang yang dicari tidak ada.
"Apa jangan-jangan dia sudah pulang?" Tanyaku sambil terus berjalan menuju pintu, namun ketika aku hendak keluar aku menatap Kayla sedang berdiri, sambil menatap ke arah jalan seperti sedang menunggu sesuatu.
Merasa kesempatan ini sangat baik, dengan segera aku pun turun ke lantai bawah untuk mengambil motor ku, setelah motor itu menyala aku pun bergegas menghampiri tempat Kayla berdiri di samping jalan, mungkin dia sedang menunggu angkutan umum.
"Mau pulang?" tanyaku berbasa-basi agak sedikit malu-malu.
"Iya lagi nunggu taksi nih," jawab Kayla sambil manggut-manggut wajahnya yang imut terlihat semakin manis, matanya yang indah terus memindai ke area jalan.
"Kalau kamu mau, aku bisa ngantar kamu pulang," tawarku dengan sedikit ragu-ragu.
"Nggak usah, gua bisa pulang naik taksi kok...!" tolaknya dengan halus membuat mentalku menjadi dwon, namun aku tidak Patah Arang, dengan segera aku pun melanjutkan serangan selanjutnya.
"Tidak baik loh.....! menolak tawaran orang?" ujarku sambil mengulum senyum meledeknya, namun hatiku terasa berdebar seperti mau copot dari tempatnya.
"Tidak baik juga loh...! kalau mengganggu pacar orang." jawabnya sambil menatap ke arah wajahku, membuatku merasa malu mendapat penolakan yang tidak terprediksikan, sehingga aku hanya menggaruk-garuk pangkal hidung karena kepalaku tertutup oleh helm.
Melihatku salah tingkah, Kayla mengulum senyum menatap wajahku yang mungkin terlihat lucu, karena aku juga tidak jelek-jelek amat. namun keberanianku saja yang selalu menciut, sehingga aku hanya baru pacaran satu kali dengan Devina, mungkin kalau PD ku tingkat dewa, aku bisa meluluhkan seluruh hati wanita yang ada di sekolahku.
"Kenapa kok mengulum senyum?" tanya aku ragu-ragu.
__ADS_1