
Pov Raka
"Emangnya lo pikir, menjadi cantik itu tidak butuh perjuangan, tidak butuh pengorbanan. Gua selama ini mati-matian berolahraga setiap hari, berlari setiap pagi, diet ketat, pergi ke salon, perawatan tubuh. itu buat siapa?" jelas Kayla yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Emang buat siapa?" Tanyaku ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh seorang wanita.
"Ya buat pasangan kita lah. tapi gua sudah mati-matian kayak gitu saja, cowok gua masih jarang banget punya waktu buat gua. dia malah sering pergi bersama teman-teman kampusnya," jelas Kayla dengan wajah lesu, Mungkin dia merasa apa yang dia korbankan tidak mendapat balasan yang setimpal. karena Kak Derry pacarnya tidak pernah berada di sampingnya.
Suasana di ruang tamu rumah Kayla pun terdengar Hening, kita terbang melayang dengan khayalan masing masing. suara Deru hujan terus berjatuhan membasahi bumi diselingi oleh kilatan-kilatan cahaya, disusul dengan suara petir yang tidak terlalu besar.
Aku mulai meneguk kembali teh hangat yang berada di dalam mug, mataku kadang-kadang mencuri pandang terhadap kakak kelas yang terlihat sangat cantik, rambutnya yang lurus bak mahkota yang melengkapi kesempurnaannya.
"Gua capek Raka, kalau gua harus berkorban terus, tapi tidak dianggap sama sekali." lanjut Kayla memecah heningnya suasana, tangan kirinya membetulkan rambut diselipkan ke belakang telinga.
"Terus bagaimana?" Tanyaku seperti orang bodoh yang memang benar-benar tidak mengerti dengan apa keinginan seseorang perempuan, yang aku tahu perempuan itu hanya marah-marah dan bisa menyalahkan, tanpa bisa mengerti isi dalam hatinya.
"Yah buat apa kita pacaran, tapi kita hanya mendapat rasa capek, tidak bisa dimengerti oleh pacar kita, rasa jengkel yang harus terus berkorban tanpa diperlakukan lebih, rasa lelah yang harus setiap kali mengalah. Terus apa untungnya kita berpacaran, Terus apa gunanya kita pacaran, kalau hanya untuk menyiksa diri?"
Mendengar penjelasan dari Kayla aku menarik nafas dalam membenarkan Apa yang diucapkan oleh kakak kelasku itu. memang benar buat apa kita membuang waktu hanya untuk merasakan Rasanya jatuh cinta yang tidak ada manis-manisnya sama sekali, sama saja kita sedang menyiksa diri dengan perlahan sambil menunggu kematian.
"Benar juga sih, aku juga merasakan hal yang sama. gua juga merasa capek kalau gua harus bohong terus, karena kita tidak bisa jujur dengan pasangan, tidak bisa jujur dengan diri sendiri, Lantas apa gunanya kita pacaran, kalau hanya merasakan rasa capek?"
__ADS_1
"Buat apa sih, kita memiliki pacar tapi kita masih sering merasa sendirian," tambah Kayla yang membuat sudut bibirku tersenyum karena kita sepemikiran.
Aku dan Kayla, dalam hati kecil masing-masing bukan tidak mau berpacaran, tapi kita tidak mau memiliki pacar yang membebani kehidupan kita, atau mengacuhkan kehidupan kita. Yang aku dan Kayla inginkan yaitu memiliki pasangan yang selalu responsif, yang selalu ada buat kita tanpa mengganggu kehidupan masing-masing.
"Berarti Kakak menginginkan pacar yang pengertian ya?" jawabku mulai menggodanya memecahkan suasana serius dengan menyelipkan senyum menggoda dari sudut bibirku.
"Ih apaan sih....! Ya iyalah siapa yang tidak mau memiliki pasangan yang sangat pengertian, yang selalu ada ketika pacarnya membutuhkan, yang selalu mengerti ketika pacarnya menginginkan."
"Aku juga menginginkan pasangan yang perhatian, tapi tidak over protektif, tidak sampai menanyakan kabarku Setiap saat bahkan setiap detik. aku aja ingin memiliki kepercayaan dari pasangan, bahwa aku tidak akan berani Mencoba berbuat yang tidak diharapkan, karena aku sebagai seorang pria memiliki tanggung jawab, aku akan mempertanggungjawabkan dengan apa yang sudah aku ucapkan. ketika aku mengatakan 'Aku mencintaimu' maka sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya. dengan catatan dia tidak meracuni perasaanku dengan sikap-sikap yang over thinking, karena kalau perasaan cintaku terus diganggu, maka lambat laun perasaan itu akan terkikis, seperti air yang melewati batu."
"Aku tidak over thinking kok, Yang aku ingin, dia memiliki waktu untukku. Aku tidak pernah menanyakan kabar ketika dia sedang melakukan aktivitasnya, ketika dia sedang berkuliah atau sedang menjalankan rutinitas rutinitas yang sudah biasa dia lakukan. Aku hanya meminta waktunya ketika dia senggang, karena walaupun sesibuk apapun seorang manusia pasti mereka akan memiliki waktu untuk beristirahat, waktu untuk keluarga, waktu untuk pasangan."
Dari pembicaraan kita aku semakin mengerti, bahwa ternyata komunikasi ketika berhubungan itu sangat penting dan memahami perasaan pasangan itu juga tidak kalah penting, karena kalau dibicarakan secara baik-baik maka kita akan menemukan solusinya.
Setelah lama mengobrol, hujan pun mulai reda meski tidak seutuhnya, karena masih ada gerimis yang turun. Aku yang merasa sudah terlalu lama berada di rumah Kayla, dengan segera mengakhiri obrolan yang sangat seru.
"Ternyata kamu dewasa juga ya!" Puji Kayla sambil melempar senyum ke arahku, membuat jantung ini terasa Berhenti Berdetak, seolah tidak ingin mengganggu ketika aku menatap senyum indah di wajahnya
"Nggak juga, mungkin orang yang sedang berbicara akan terbawa oleh lawan pembicaranya."
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Iya ketika orang yang mengajak kita mengobrol adalah orang yang lebih dewasa, maka lambat laun mindset kita akan berubah pula. terima kasih atas semua obrolan ini, aku mulai mengerti dengan apa yang harus aku lakukan sekarang."
"Nggak mempan kali, aku bukan anak SMP yang mudah kamu gombali." jawab Kayla sambil memalingkan wajah menyembunyikan senyum tipis yang terlukis di bibirnya, menyembunyikan wajah yang terlihat memerah seperti tomat.
"Aku tidak sedang memuji, Aku sedang mengatakan kebenaran. Oh iya, bukannya aku tidak.....," ujarku menghentikan pembicaraan merasa tidak enak, takut Kayla tersinggung.
"Tidak apa?" tanya Kayla sambil membalikkan wajah, sehingga kedua tatapan kita beradu membuat hatiku berdebar tak karuan, Seperti takut kehilangan senyum cantik itu.
"Sehubung Hujannya sudah reda, Aku mau pamit terlebih dahulu, takut orang tuaku khawatir."
"Oh begitu, nggak nunggu bokap sama nyokap gua pulang dari kantor?"
"Lain kali aja, aku main lagi ke sini kalau boleh."
"Bolehlah, Lagian menjamu adik kelas kayak lo tidak terlalu merepotkan, cukup dengan secangkir teh kamu betah tinggal berlama-lama di rumahku."
"Bagaimana tidak betah kalau ada seorang bidadari yang menemani."
"Udahlah jangan ngegembel, Sudah aku bilang Ucapanmu tidak akan mempan. Ya sudah sana kalau mau pulang hati-hati di jalan."
"Kamu mengusirku key?"
__ADS_1
"Yeeey! Gimana sih, Katanya mau pulang. tapi disuruh pulang malah nuduh seperti itu?" jawab Kayla sambil menekuk wajah membuatnya semakin terlihat sangat cantik.