
Pov Raka.
"Sama-sama Sayang....! sekarang kamu jangan bete lagi, kamu boleh meluapkan semuanya di buku itu," ujar Devina yang terlihat membalas Senyumku dengan senyum aneh yang menakutkan.
Treng! treng! treng!
Beruntung kala itu suara lonceng berbunyi, sehingga aku ada alasan untuk segera berpisah dengannya. "Devin Belnya sudah berbunyi, Ayo kita masuk ke kelas....!" ajaku sambil bangkit dari tempat duduk bersiap meninggalkan lorong.
"Iya yah....! nggak kerasa Padahal kita ngobrol sudah hampir 15 menit, mungkin begitulah ketika kita mengobrol dengan orang yang kita sayangi. Rasanya waktu itu sangat sebentar." ujar Devina sambil mengikutiku bangkit, kemudian merapikan tali tas yang digendongnya.
"Aku masuk dulu ya....!"
"Iya Ka.....! hehehe," jawabnya sambil mengulum senyum, tanpa berlama-lama aku pun meninggalkan cewek yang kemarin baru saja aku putuskan.
Lagi berjalan menuju kelas, aku terus berpikir menerka-nerka apa yang sebenarnya Devina akan lakukan. karena rasanya sangat aneh hari ini cewek itu terlihat sangat manja, terlihat sangat manis, Bahkan aku sedikit menyukainya kembali.
"Nggak, nggak boleh....! aku nggak boleh tertipu ulahnya lagi, nggak boleh tertipu....! Aku harus membulatkan tekad, karena kalau sudah wataknya seperti itu, dia tidak akan berubah. lambat laun dia akan kembali ke mode pabriknya," pikirku dalam hati sambil terus menaiki tangga.
Aku harus mencari alasan agar tidak bertemu dengan Devina, Iya benar aku harus membuat strategi agar aku tidak bisa bertemu dengannya. karena kalau aku terus bertemu dengan Devina bisa-bisa nanti aku terbujuk rayunya kembali, sehingga aku akan berkubang di lubang yang sama.
Aku terus melangkahkan kakiku, bergabung dengan para siswa-siswi yang lain yang hendak masuk ke kelas masing-masing, ada yang berlari ada juga yang terlihat santai seperti tidak memiliki beban.
"Mas bro....! mas bro tunggu......!" Panggil Tio yang baru datang sehingga aku menghentikan langkah lalu menatap ke arah datangnya suara.
"Tumben-tumbenan kamu telat Yo! Ke mana aja mas bro." jawabku sambil mengajak sahabatku untuk bertos tangan.
__ADS_1
"Biasalah, kaya nggak tahu kota Jakarta saja." jawabnya sambil menarik tanganku untuk masuk ke kelas.
Setelah kita duduk di bangku masing-masing, tak lama pelajaran pertama pun dimulai. aku mengikuti pelajaran itu dengan khusu, karena aku sudah berjanji sama ibu bahwa aku akan giat dalam belajar. Aku tidak akan membuang waktuku hanya untuk merasakan Rasanya jatuh cinta. Sekarang aku sudah sadar bahwa cinta itu tidak seindah dengan apa yang diucapkan oleh para pujangga, cinta hanya menambah masalah dalam hidupku.
Sambil mengikuti pelajaran, Pikiranku terus melayang mencari cara bagaimana aku bisa terhindar dari Devina yang berubah menjadi baik, karena kalau tidak dipikirkan dari sekarang, aku takut tidak ada waktu untuk menghindar.
Pelajaran pertama pun selesai dilanjutkan dengan pelajaran kedua, aku terus mengikuti pelajaran itu dengan sungguh-sungguh, agar tidak menyesal di kemudian hari. Masa mudaku harus dihabiskan untuk berusaha mengubah kehidupan, membuat Pondasi yang kokoh untuk menyelami ganasnya kehidupan di masa yang akan datang.
Bel istirahat pun berbunyi, Seperti biasa aku dan Tio merapikan buku, dimasukkan ke tas sebelum kita berangkat ke kantin untuk mengganjal perut yang sudah mulai terasa lapar.
"Kantin yuk Mas Bro...!" ajak Tio sambil melirik ke arahku.
"Ayo, sikat.....!" jawabku sambil mengangkat ibu jari.
"Tumben-tumbenan Mas Bro mau diajak ke kantin, udah insaf dari pacaran-pacaran itu?" tanya Tio mulai meledek.
"Sudah, sudah....! jangan marah Mas Bro, ayo jangan buang waktu kita Serang kantin sekolah kita.....!" ajak Tio sambil meresletingkan tasnya.
Setelah semuanya dirasa rapih aku dan Tio pun keluar dari kelas, menuju ke kantin. namun ketika mau menuruni tangga, dari ujungnya terlihat Devina yang mau naik sehingga dengan cepat aku menghentikan langkah.
"Kenapa diam, Ayo buruan.....! nanti kehabisan loh sama anak-anak lain," ujar Tio sambil menatapku penuh rasa heran.
"Lo duluan aja mas bro....! dan kalau Devina bertanya Aku ada di mana, Bilang aja tidak tahu.....!" jawabku sambil berlari menuju ke kelas kembali membuat dia semakin merasa heran, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak mengikutiku bersembunyi.
Sesampainya di kelas, kebetulan kelasku sudah sepi karena para muridnya sudah berhamburan keluar untuk beristirahat setelah belajar dua pelajaran. dengan segera aku pun menuju ke bangku paling belakang, Lalu masuk ke dalam kolongnya, agar ketika Devina datang dia tidak bisa menemukanku, seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet.
__ADS_1
"Benar saja, tak lama setelah itu. terlihat Devina masuk ke dalam kelasku, dia memperhatikan seluruh ruangan untuk mencari keberadaanku."
"Raka...., Raka......! kamu di mana sayang?" panggilnya dengan suara yang memenuhi seluruh ruangan.
"Kak...! melihat Kak Raka nggak?" tanyanya sama seseorang.
"Nggak tahu, tadi gua lihat dia berjalan sama keluar bareng Tio," jawab suara seorang wanita memberitahu.
"Oh.....!" tanggapnya yang terdengar kecewa, lalu suara sepatu pun pergi menjauh meninggalkan kelas, membuatku sedikit merasa lega karena terbebas dari kejaran mantan pacar.
Setelah merasa aman, aku pun memindai area kolong itu. namun Alangkah terkejutnya ketika di hadapan mataku ada dua buah paha yang terlihat sangat putih, dengan segitiga berwarna merah jambu. aku baru sadar ternyata meja yang dijadikan tempat persembunyian ada pemiliknya, karena ketika tadi masuk aku tidak memperhatikan area sekitar, mataku terfokus ke arah luar sehingga tidak sadar kalau aku bisa mendapatkan pemandangan yang luar biasa itu. merasa tidak enak dan tidak nyaman, aku segera keluar dari bawah bangku takut Dituduh yang enggak-enggak. Namun sayang aku tidak mengontrol kepalaku sehingga.
Dugk!
Awwwww.....!
Kepala itu terjedot ke pinggir bangku, membuatku sedikit meringis merasakan sakit di area belakang kepala, membuat belahan paha yang tadi terlihat menganga, sekarang menutup dan berdiri.
"Eh kurang ajar.....! siapa lo.....!" Bentak suara seorang perempuan. "Raka ngapain berada di bawah meja, lu mesum ya....! Ih Raka mesum......!" Lanjut Windy Teman sekelas, dengan memukul kepalaku menggunakan buku yang dipegang. mungkin tadi dia sedang asyik membaca buku sehingga dia tidak sadar dengan keberadaanku, yang berada di bawahnya.
Mendapat serangan seperti itu, dengan segera aku melindungi kepalaku menggunakan kedua tangan, sambil meminta ampun seperti maling ayam yang sedang dihakimi oleh masa.
"Maaf Windy.....! Gua nggak ngintip, gua nggak tahu kalau lu ada di sini, gua tadi bersembunyi dari Devina." Ujarku mencoba menjelaskan.
"Halah Lu pasti bohong kan...! kalau memang Mesum Jawab aja yang jujur....!" hardik Windy yang tidak menerima alasan.
__ADS_1
"Serius dari tadi aku tidak memperhatikan itu, sorry aku nggak sengaja....!"