
Pov Devina
"Sudah gua maafin kok. yang terpenting Lu harus tetap semangat karena menurut pikiran gua sekarang kita tidak harus memikirkan hal-hal yang berat, kita harus menikmati masa muda kita dengan kebahagiaan, kita tidak harus memikirkan hal-hal yang tidak penting yang mengganggu konsentrasi belajar," nasihat Rita yang terdengar sangat dewasa.
Rita pun duduk kembali di sampingku, kemudian tangannya mengusap punggungku, memberikan ketenangan yang tidak bisa aku dapatkan dari orang tua. Seharusnya aku bersyukur mempunyai sahabat seperti Rita yang selalu mensupport dan menasehatiku ketika aku sedang terpuruk seperti sekarang, bukan aku malah membebaninya dengan keegoisanku.
"Terus sekarang aku harus berbuat apa?" tanyaku Untuk yang kesekian kalinya Karena aku masih belum memiliki solusi dari apa yang sedang aku alami sekarang.
"Terserah lu...!"
"Serius Rita Sekarang gua nggak akan menyanggah pendapat kamu lagi, gua benar-benar butuh pencerahan dari kamu."
"Beneran mau mendengarkan nasihat gua?"
"Iya....!" jawabku sambil menganggukkan kepala.
"Begini saja, kalau si Raka itu jodoh lu. menurut pepatah orang tua dia tidak akan kemana-mana, tapi kalau bukan jodoh....! mau Lu berusaha sekuat apapun, sekencang apapun, dia tetap akan menjauh. sekarang lu bersabar dan fokuskan diri lu untuk menghadapi rintangan yang akan lebih berat lagi, sekarang kita fokus belajar dan menikmati masa muda kita, jangan ditambah dengan beban-beban yang tidak terlalu penting."
Aku Mendengarkan nasehat Rita dan menghayati semua penyampaiannya, otakku bekerja untuk mencerna apa yang disampaikan oleh sahabatku. setelah lama terdiam dan berpikir akhirnya aku pun membenarkan apa yang disarankan oleh Rita. Seharusnya aku tidak harus menambah bebanku dengan orang yang sama sekali tidak menyayangiku.
"Terima kasih ya Rita...!" hanya kata itu yang keluar dari mulut.
"Sama-sama....! Jadikan semua ini pembelajaran buat lu ke depannya, karena Gua yakin semakin bertambahnya usia maka akan semakin bertambah juga beratnya ujian. Dan gua pesan sama lu nanti kalau ada cowok lain yang mendekati Lu harus pahami dulu sikapnya, Lu harus pahami dulu karakternya sebelum lu mengambil keputusan, agar kejadian bersama Raka tidak terulang lagi."
"Terima kasih Rita, Terima kasih banyak....! entah bagaimana aku harus membalas kebaikanmu?"
"Ah basi lu, kalau lu mau membalas kebaikan gua mendingan lu bikinin gua mi instan rebus, soalnya hujan-hujan begini enak kali makan mie."
"Siap komandan, tapi bantu ya!"
"Halah, masak ada tamu yang nyuguhin diri sendiri."
__ADS_1
"Ayo....!" ajakku sambil menarik tangan Rita untuk keluar dari kamar langsung menuruni anak tangga menuju ke dapur untuk membuat mie instan. karena memang benar apa yang disampaikan oleh Rita daripada memikirkan hal yang tidak penting, mendingan memikirkan perut yang mulai terasa keroncongan karena kedinginan.
Aku dan Rita membuat mie instan rebus, sambil terus mengobrol membahas apa yang sedang aku alami sekarang. Rita terus menasehatiku agar aku tetap baik-baik saja, agar aku menunjukkan bahwa aku adalah wanita yang kuat.
Setelah mie Insan itu matang, kita pun makan bersama Sambil tertawa riang, karena Rita sangat pandai menghibur orang yang sedang bersedih dan dengan hadirnya Rita aku sedikit melupakan kejadian yang menimpaku tentang hilangnya seorang pacar.
Setelah menyantap mie masing-masing, kita pun naik kembali ke kamarku yang berada di lantai atas, kita berdua terus mengobrol sambil tiduran di atas kasur yang empuk.
"Kalau Aku meminta kepastian tentang hubungan kita sekarang, salah apa nggak ya?" tanyaku sama Rita yang tidur di sampingku.
"Kepastian bagaimana?" tanya Rita sambil membalikkan wajahnya menatapku dengan penasaran.
"Iya Apakah Raka benar-benar sudah memutuskan ku atau belum, agar aku tenang kalau sudah mendapat kepastian."
"Oh , jadi kamu masih belum yakin, kalau Raka sudah memutuskanmu?" tanya Rita.
"Iya begitu...! kira-kira akan menambah masalah yang baru nggak?"
Mendapat persetujuan dari Rita, aku pun bangkit kemudian mengambil handphone yang ada di atas nakas, lalu menekan tombol Panggil nomor Raka, Setelah lama menghubungi telepon itu tetap tidak terhubung, Mungkin dia memang benar-benar sudah memblokir nomor aplikasi pesanku.
Merasa penasaran, aku pun pinjam nomor Rita untuk meneleponnya, Namun sayang sekali nomornya Raka tidak bisa dihubungi seperti sedang tidak aktif.
Aku terus berpikir mencari cara agar bisa mendapatkan kabar dari Raka, sehingga aku teringat ada satu nomor yang pernah menghubungiku, Tapi aku tidak tahu itu nomor siapa.
"Ya sudah, coba aja siapa tahu saja itu nomor keduanya!" saran Rita setelah aku menceritakan.
Aku pun menelepon nomor itu, hingga tak lama telepon pun terhubung kemudian ada suara-suara wanita yang menyapaku dari ujung sana.
"Hello ini siapa kok nggak ngomong?" tanya suara wanita itu penuh keheranan.
"Maaf ini siapanya Raka ya?" tanyaku ragu-ragu sedikit memberanikan diri.
__ADS_1
"Eh nggak baik loh, kalau ditanya malah balik bertanya?" Ketus cewek yang berada di ujung telepon.
"aku Devina Kak, temennya Raka...."
"Oh Devin, pacarnya Raka itu ya, gua Mbak Vira kakaknya Raka."
"Oh Kakaknya, Salam kenal Kak...! Maaf kalau saya mengganggu, soalnya dulu Raka pernah menghubungi menggunakan nomor ini. aku kira ini nomor kedua Raka."
"Iya nggak apa-apa, ada apa?" Tanya Mbak Vira.
"Maaf Rakanya ada kak, soalnya aku telepon Nomornya tidak aktif?"
"Kurang tahu, soalnya Kakak masih berada di tempat kerja, nanti kalau sudah pulang Kakak cariin ya."
"Beneran Kak...!" Tanyaku seolah tidak percaya.
"Beneran lah.....! masak aku bohong, ya sudah aku lanjut kerja dulu ya!"
"Makasih banyak Kak, maaf mengganggu....!" ujarku yang sedikit sumringah ternyata kakaknya Raka yang bernama Kak Vira sangat baik dan sangat humble.
"Bagaimana?" tanya Rita sambil menatap ke arahku.
"Nanti kalau sudah sampai ke rumah, kakaknya Raka akan mengabari." Jawabku menjelaskan
"syukurlah kalau begitu, tapi kalau si Raka sudah memutuskan, bahwa dia sudah tidak mencintai lu lagi, dan dia mau putus dengan serius. lu mau bagaimana?"
"jangan bebani gua dengan pertanyaan yang berat gua tidak sanggup berpikir sampai ke arah situ." ujarku yang belum bisa membayangkan Bagaimana kalau aku hidup tanpa Raka, karena dengan adanya Raka hidupku lebih berwarna di tengah sulitnya masalah keluarga.
"harus dipikirkan dari sekarang, agar kedepannya lu bisa melanjutkan hidup, karena biasanya orang yang diputuskan oleh cinta, mereka akan patah hati. gua sebagai sahabat terbaik lu, gua tidak mau melihat sahabat gua satu-satunya terpuruk, gara-gara putus cinta."
"mendapat pertanyaan seperti itu, Aku hanya menarik nafas dalam. bingung harus menjawab apa, karena Sampai sekarang aku belum siap kalau aku diputuskan oleh Raka, Aku tidak mau hidupku gelap Tanpa Cinta.
__ADS_1