Cinta Raka Vol. 2

Cinta Raka Vol. 2
Part 19. Devina terus Mengejar


__ADS_3

Pov Raka


"Hehehe, Ya sudah aku pamit dulu ya. Terima kasih atas tumpangan berteduhnya dan terima kasih juga atas pengalamannya." ujarku sambil bangkit dari tempat duduk, kemudian memberikan handuk yang sejak dari tadi aku kaitkan di leher, lalu membuka bajuku untuk dikembalikan kepada Kayla.


"Ngapain lu buka baju, nggak sopan tahu...!" bentak Kayla yang tidak setuju.


"Aku mau mengembalikan bajumu, kan aku mau pulang."


"Pakai aja sih...! nanti kapan-kapan lu bisa balikin, Lagian baju lu kan basah. Nanti lu masuk angin kalau memakai baju yang basah." ujar Kayla mengingatkan.


"Serius nih nggak apa-apa. Kalau kaosnya aku pinjam dulu?" Tanyaku seolah tidak percaya bawa Kayla akan meminjamkan bajunya terlebih dahulu.


"Iya kalau lo mau, lo ambil saja!" Jawab Kayla dengan tegas.


"Kenapa?" Tanyaku mengerutkan dahi.


"Itu kan kaos cowok, Tadinya aku mau Berikan sama pacarku. tapi sampai sekarang dia selalu sibuk, jadi buat kamu aja, daripada aku capek menunggu Dia memiliki waktu."


"Aduh jadi nggak enak nih, tapi terima kasih ya, aku akan menjaga kaos ini dengan separuh Jiwaku."


"Halah Lebay lu, Ya sudah sana buruan pulang! Nanti hujannya deras kembali."


Setelah merapikan baju  yang basah dan dimasukkan ke dalam tas, aku keluar dari rumah Kayla menuju ke halaman di mana motorku terparkir. hujan kala itu sudah berhenti Hanya menyisakan gerimis kecil membuat langit terlihat berkabut, berbeda dengan hati dan harapanku yang sangat cerah sesudah mengobrol dengan Kayla.


Ternyata wanita itu sangat mengasikkan, tidak seperti pacarku yang bernama Devina yang bisanya hanya menjengkelkan, memusingkan, membuat Hidupku tidak tenang  pandanganku terhadap sosok perempuan mulai berubah kembali, ternyata tidak semua wanita seperti Devina, karena masih ada Kayla yang sangat nyambung ketika aku ajak berbicara. pembahasan yang tidak penting akan berubah menjadi asik ketika dibicarakan dengannya.


"Aku pulang dulu ya," ujarku sambil mengenakan helm.


"Iya, kamu harus hati-hati ya!"


"Siap...!" jawabku sambil menekan starter motor.


Setelah motorku menyala, aku pun manggut memberi hormat sebagai ungkapan terima kasih atas sambutannya yang sangat baik. aku keluar dari halaman rumah Kayla yang kebetulan pintunya masih terbuka, karena tadi belum sempat ditutup soalnya keburu hujan besar turun.


"Biarkan aku saja yang menutup." tahan Kayla dari teras.


Aku tidak menjawab, Aku hanya mengangkat jempol sebagai jawaban perkataan dari Kayla. Tapi meski begitu aku tetap menutup pintu itu agar tidak ada orang yang tidak bertanggung jawab masuk ke dalam rumah cewek cantik yang sangat aku kagumi.


Setelah pintu gerbang tertutup, aku mulai melajukan kembali motorku membelah suasana kota Jakarta yang berbeda dari hari biasanya. Suasana kota Jakarta kala itu terasa sangat dingin, akibat gerimis hujan yang turun. air-air comberan menggenangi sebagian jalan, Mungkin mereka belum masuk ke dalam saluran pembuangan, akibat Debit air yang sangat banyak, ditambah resapan yang sangat sedikit. Karena hampir seluruh permukaan tanah di kota Jakarta sudah dilapisi oleh beton beton yang sangat keras.


Meski tubuhku terasa dingin, tapi hatiku sangat bahagia karena aku bisa bertemu dengan Kayla, wanita yang sangat dewasa yang mengerti akan keinginan seorang pasangan, mungkin kalau aku bernasib baik bisa memilikinya, tidak akan aku sia-siakan wanita sepengertian itu, karena mencari wanita yang bisa mengerti, bukan hanya ingin dimengerti, kayaknya itu sangat susa seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

__ADS_1


Aku memajukan motorku dengan pelan, karena keadaan jalan setelah hujan terlihat sangat licin, apalagi ketika ada air yang menggenang, aku tidak berani menarik tuas gas karena aku takut air itu akan menciprat orang lain, karena aku juga sangat kesal, ketika kita sudah melindungi tubuh kita dengan payung, tiba-tiba ada air yang menyambar dari arah samping.


Aku terus Manahan tuas gas motorku hingga akhirnya tiba di rumah, suasana kala itu sudah mulai gelap, bahkan lampu-lampu jalan sudah terlihat menyala, begitupun lampu-lampu di rumahku Sudah terang, menandakan sudah ada orang di dalamnya.


Aku memarkirkan motorku di garasi rumah, namun Baru saja aku mau beranjak masuk ke dalam. tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang yang didorong, membuatku menghentikan langkah lalu menatap ke arah datangnya suara. terlihatlah Mbak Vira yang berlari menutup kepalanya menggunakan telapak tangan, melindungi rambutnya dari rintik gerimis hujan yang turun.


"Jangan lari-lari....! nanti kepeleset," ujarku menggodanya.


"Halah Apaan sih lo, sok perhatian banget jadi orang." ujar Mbak Vira tanpa memperdulikanku dia terus berjalan masuk ke dalam rumah langsung menuju kamarnya.


Melihat kelakuan Mbak Vira, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menaiki tangga untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu karena habis terkena air hujan.


Setelah berada di kamar, tiba-tiba Niatku berubah, aku yang awalnya ingin segera membersihkan tubuh, tapi aku malah membaringkan tubuh itu di atas kasur merasa lelah dengan kehidupan yang aku alami. di satu sisi Aku merasa bahagia karena bisa bertemu dengan wanita yang sudah dewasa bernama Kayla. namun di sisi lain aku merasa malas, ketika menghadapi pacarku yang bernama Devina.


Aku menarik nafas dalam tidak tahu Harus Berbuat Apalagi untuk menghadapi pacarku yang over protektif itu padahal aku sudah sering memutuskannya tapi dia selalu mengejarku, seperti wanita yang tidak memiliki harga diri.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamarku ada yang membuka, membuatku terperanjat kaget sambil membulatkan mata, menatap ke arah datangnya suara. ternyata itu adalah Mbak Vira yang menekuk wajah, di kepalanya terlilit handuk Mungkin dia baru selesai membersihkan tubuhnya.


"Ketuk pintu dulu apa, sebelum masuk itu....!" gerutuku dengan kesal.


Aku hanya terdiam kaget karena aku tidak menyangka kalau Devina seagresif itu, Bahkan dia sampai mengganggu ketenangan Mbak Vira, membuatku semakin merasa jengkel dengan wanita yang satu ini.


"Nih...! terus buka blokiran aplikasi pesannya, agar dia tidak mengganggu kehidupan gua," lanjut Mbak Vira sambil menyodorkan handphonenya Ke wajahku.


Tanpa berbicara lagi, Mbak Vira pun keluar dari kamarku dengan sedikit membanting pintu, Mungkin dia merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Devina. tapi aku tidak memperdulikannya karena aku sudah sangat hafal dengan sikap Kakakku itu.


Setelah Mbak Vira pergi, aku mulai menempelkan telepon itu ke telingaku, lalu membaringkan tubuh kembali seperti tidak memiliki semangat untuk melanjutkan kehidupan.


"Halo....!" Aku menyapa orang yang berada di ujung sana.


"Ya ampun, Raka.....! kamu itu ke mana aja sih, Kenapa kamu tidak mengabari? Aku khawatir sama kamu, Aku nyariin kamu, dari tadi telepon nggak bisa-bisa, buka apa blokiran aplikasi telepon kita!" semprot Devina tanpa jeda.


"Maafkan aku Devin, aku sibuk."


"Sibuk apa, masa masih sekolah sudah sibuk, kamu jangan banyak alasan, sekarang kamu buka blokiran aplikasi pesan ku."


"Tapi Devin?"


"Nggak ada tapi, tapi. buka sekarang!"

__ADS_1


"Iya, iya...!" jawabku dengan kesal kemudian membangkitkan tubuhku kembali, lalu mengambil handphone untuk membuka blokiran nomor kontak Devina.


"Sudah....!" ujarku memberitahu.


Tut! tut! tut!


Telepon itu terputus membuatku mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan maksud wanita yang satu ini. namun ketika kebingunganku belum menghilang, tiba-tiba teleponku berbunyi, sehingga membuatku Menatap layar handphone. Setelah dilihat ternyata Devina lah yang memanggil, Mungkin dia merasa malu kalau dia harus menelepon ke nomor Mbak Vira.


"Iya ada apa Devin?" ujarku dengan malas.


"Hari ini kamu ke mana aja sih, Di sekolah aku tidak menemukanmu, di telepon malah diblokir. sebenarnya apa sih mau kamu?" cerocos Devina.


"Devin...!"


"Iya kenapa kamu tidak ngasih kabar, apa aku sudah tidak berarti lagi dalam hidupmu."


"Devin...! kayaknya kita harus benar-benar Break dulu dengan hubungan kita."


"Apa?" tanya Devina yang terdengar kaget.


"Iya kita harus berhenti dulu berhubungan."


"Kenapa?" tanyanya dengan suara Parau.


"Aku butuh waktu buat diriku sendiri dan aku yakin kamu juga butuh waktu buat diri kamu sendiri." jawabku menjelaskan.


Seketika telepon itu terdiam, membuatku merasa khawatir dengan keberadaan cewek labil itu.


"Bagaimana, nggak apa-apa kan?" Tanyaku yang dipenuhi ketakutan takut Devina melakukan hal yang tidak tidak.


"Mau break sampai kapan?" tanya Devina dengan suara lemas.


"Sampai kamu bisa berubah dan gak membuat aku stress lagi."


Seketika suasana pun menjadi Hening, terdengar suara isakan tangis seorang perempuan dari ujung telepon, membuat hatiku merasa tidak enak sudah menyakiti perasaan orang lain, tapi Walau begitu aku harus tetap Teguh dengan pendirianku. Aku harus berkata jujur atas apa yang sedang aku rasakan, buat apa membahagiakan orang lain kalau diri kita tidak bahagia.


"Devin...!" panggilku.


Tut! tut! tut!


Tidak ada jawaban dari ujung sana, yang ada hanya bunyi telepon yang terputus, membuatku menarik nafas dalam tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menghadapi Devina yang sifatnya seperti anak baru lulus sekolah dasar.

__ADS_1


__ADS_2