
Pov Devina
Hatiku sangat hancur, ketika mendengar ucapan Raka untuk kesekian kalinya, Dia meminta mengakhiri hubungan. Padahal selama ini aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat dirinya, namun apa yang aku dapatkan, dia ingin mengakhiri hubungan yang sudah susah payah kita jalin, susah payah aku pertahankan. Padahal kalau dia ingin aku berubah, maka bimbinglah, agar aku bisa menjadi sesuai dengan apa yang dia inginkan, bukan malah pergi meninggalkan luka yang mengiris hati.
Aku mematikan telepon yang terhubung dengan Raka, tubuhku tiba-tiba lemas hingga tak sanggup lagi menahan beban yang berada di pundaku, tiba-tiba tubuhku ambruk ke atas kasur, air mata mulai mengalir membasahi pipi. karena hanya benda itulah yang selalu hadir ketika aku mendapat perlakuan tidak adil, baik dari pasangan atau orang tua.
Kenapa hidupku selalu ditimpa dengan kesedihan, kenapa hidupku tidak bisa disayangi oleh orang lain, kenapa aku yang harus selalu disalahkan. ketika ada pertengkaran di dalam keluargaku. kenapa aku yang selalu dituduh ketika Raka ingin mengakhiri hubungan, padahal kalau dia tahu aku sangat menyayanginya, karena Raka lah yang membuat hidupku menjadi cerah di tengah kegelapan broken home, yang terjadi di rumahku.
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, berharap semua beban yang sedang mengujiku Terhempas ikut dengan hembusan nafas. aku terus menangis sejadi-jadinya meluapkan penyesalan dan kekesalan yang tidak aku mengerti apa penyebabnya. apa memang Aku ditakdirkan untuk menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan atau aku orang yang diciptakan untuk mengalami kesialan.
"Coba kalau ada Rita, mungkin aku bisa curhat dengannya." gumamku dalam hati.
Kehadiran seorang sahabat sangat penting dalam kehidupan, karena selain bisa memberikan solusi mereka juga bisa menjadi penyemangat ketika kita sedang terpuruk, mereka akan terus menyayangi kita tanpa melihat kejelekan kita. mungkin suatu saat nanti kalau aku bertemu dengan pria, aku harus lebih memilih menjadikannya sebagai sahabat daripada menjadi seorang pacar, karena pacar akan sering menyakiti, dibandingkan dengan memberikan kebahagiaan.
Tring! tring! tring!
Tiba-tiba teleponku berbunyi, membuatku terperanjat kaget. dengan segera aku menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.
"Aku tidak mau putus sama kamu Raka, Aku sangat sayang banget sama kamu, Please jangan tinggalkan aku." ujarku Setelah telepon itu terhubung.
"Hey, hey....! apa-apaan sih lu Devina, gua Rita...! Emang lu nggak lihat apa nomor kontak yang menelpon lu?" sanggah suara seorang perempuan membuatku sedikit mengerutkan dahi, dengan segera melihat layar handphone dan ternyata itu adalah Rita bukan Raka.
"Yah ada apa Rit?" jawabku dengan malas ketika aku mengetahui bahwa orang yang menelepon, bukan orang yang aku harapkan.
"Ya nggak apa-apa, gua cumaa ingin tahu bagaimana kabar lu sekarang, dan bagaimana kamu sudah bisa menghubungi Raka atau belum?" tanya Rita yang terdengar khawatir.
"Nggak apa-apa, aku baik kok. Raka sudah bisa dihubungi?"
"Baguslah, Terus bagaimana?" tanya sahabatku yang terdengar penasaran.
Aku tidak menjawab pertanyaan itu yang ada hanya senggukan seperti diingatkan kembali dengan luka yang baru ditorehkan oleh pria yang aku kagumi lewat tulisan-tulisannya. aku menangis sejadi-jadinya namun Mulutku aku sumpal menggunakan bantal, agar suara itu tidak terdengar keluar kamar.
"Devina...! Devin....! kamu tidak apa-apa?" tanya Rita yang terdengar khawatir setelah tidak mendapat jawaban.
Aku tetap tidak menjawab perkataan sahabatku. kenangan indah bersama Raka yang pernah kita lalui membuat itu semakin mengiris hati, melukai jiwa, menghancurkan raga. karena sekarang aku sadar bahwa aku tidak akan bisa merasakan kembali kebahagiaan itu, sekarang hanya tinggal kenangan yang membekaskan luka.
"Sudah kamu jangan nangis, Jangan bersedih. karena masih ada aku di sini. ya sudah kalau kamu tidak mau cerita sekarang, kamu istirahat saja terlebih dahulu. ingat pesanku, masa muda kita jangan dihancurkan dengan memikirkan hal-hal yang tidak penting, masa muda kita harus dinikmati dengan membebaskan pikiran. Ya sudah, selamat bobo ya Devina!" ujar Rita sambil memutus teleponnya.
Aku menarik nafas dalam, kemudian membangkitkan tubuh lalu duduk di tepian ranjang. aku terdiam agak lama tidak melakukan apa-apa, hanya pikiranku yang terbang kemana-mana menerka-nerka Apa yang akan terjadi, ketika aku sudah tidak hidup berdampingan dengan Raka.
__ADS_1
Aku mengangkat kepalaku, lalu melihat ke arah nakas. mataku terhenti di salah satu bingkai foto yang menampilkan kebersamaanku dengan mantan pacar, hatiku mulai teriris kembali, karena fotoku waktu itu mengulum senyum yang lebar, menandakan aku sangat bahagia berada di samping Raka.
Aku mengambil foto itu, lalu aku tatap dengan lekat Wajah pria yang selalu singgah di hatiku, Wajah pria yang selalu membuatku tersenyum melihat tingkah lucunya, membuatku merasa bebas mengekspresikan perasaan, membuatku merasa ada orang yang bisa menjagaku. Tapi semua itu sekarang sudah sirna, karena Raka sudah jelas memintaku untuk mengakhiri hubungan..
Aku mendekap fotoku yang bersama Raka ke dada, karena hanya lewat fotolah aku sekarang bisa memeluk pria pujaanku. Aku tidak tahu kalau dia akan kembali setelah pergi, air mataku terus bercucuran membasahi bantal yang aku tiduri.
Mataku menatap ke arah langit-langit kamar, membayangkan bahwa hidupku sudah tidak ada lagi orang yang akan menyayangi. orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Ibu sibuk bekerja di kantor, Bapak sibuk dengan bisnisnya. sehingga mereka tidak sadar bahwa mereka memiliki anak hasil dari cinta mereka.
Kenapa mereka menghadirkanku ke dunia ini, kalau hanya untuk disakiti, kalau hanya untuk dibiarkan, kalau hanya untuk disengsarakan. Apa memang benar seorang orang tua mereka tidak berniat untuk membuat anak, melainkan itu adalah kesalahan dari kenikmatan yang mereka lupakan.
"Iya mungkin aku dilahirkan ke dunia ini hanya untuk menanggung beban siksaan?" gumamku dalam hati sambil membangkitkan tubuh kemudian melemparkan foto yang berada di tanganku.
Prak!
Serpihan kaca pun berhamburan dari bingkai foto yang aku lempar, aku terdiam menatap serpihan itu dengan lama, merasa benci dengan orang yang sedang tersenyum di foto itu, seperti sedang menertawakan kehidupanku yang selalu dipenuhi dengan kesusahan.
Lama terdiam, akhirnya Otaku mulai berjalan kembali, hingga aku membangkitkan tubuh dari tepian ranjang, kemudian berjalan mengambil serpihan kaca yang paling besar.
Aku duduk kembali di tepian ranjangku, sambil menatap kosong ke arah depan, di tanganku ada serpihan kaca yang baru saja aku ambil. khayalku mulai terbang melayang mengingat kembali kesedihan kesedihan yang aku lalui.
"Mungkin memang benar aku di dunia ini sudah tidak dibutuhkan lagi, aku hanya menjadi kambing hitam dari pertengkaran kedua orang tuaku yang tidak memiliki waktu. aku hanya menjadi kesalahan atas hubunganku dengan Raka, mungkin Aku harus pergi agar mereka bisa hidup bahagia, tanpa aku ganggu." gumamku dalam hati sambil mengangkat tangan kiriku, menatap pergelangannya, sehingga terlihatlah urat nadi yang sedikit bergerak.
Awwww!
Aku gores lengan itu menggunakan kaca, berharap nadiku terputus. Namun ternyata itu sangat sakit, sehingga aku berteriak agak sedikit kencang. terdengarlah suara Deru langkah kaki yang menapaki tangga membuatku merasa khawatir, lalu menatap ke arah lengan yang tergores sedikit, karena ujung kaca tidak setajam ujung pisau, jadi goresan itu hanya menimbulkan luka kecil sedikit mengeluarkan darah. Hanya kulitnya saja yang terluka tidak sampai tembus ke dalam daging.
Truk! truk! truk!
Terdngar suara pintu yang diketuk, dengan segera Aku lempar serpihan kaca dan menyembunyikan lenganku ke dalam selimut.
"Dorong aja Pak, takut ada apa-apa." pinta suara seorang wanita.
Ceklek!
Pintu pun terbuka, lalu masuklah kedua orang tuaku, mereka berdua berlari menghampiri aku yang sedang duduk di tepian ranjang.
"Kenapa sayang, kamu kenapa?" tanya ibu sambil duduk di sampingku kemudian dia memelukku begitu erat, pelukan yang sudah lama aku dambakan.
"Aku nggak apa-apa Bu, tadi kaget saja karena tiba-tiba foto itu terjatuh," jawabku sambil menunjuk bingkai foto di pojok kamar.
__ADS_1
"Oh kirain ada apa, tadinya Bapak sangat kaget. Ya sudah kalau begitu Bapak lanjutkan kerja lagi ya," ujar Bapak sambil membalikkan tubuh kemudian dia turun membuatku sangat kecewa dengan perlakuannya yang tidak memperdulikan keberadaan anaknya.
"Kenapa kamu nangis, kamu lagi ada masalah ya dengan Raka?" tanya ibu sambil menatap wajahku yang terlihat sembab.
"Nggak kok, nggak. Aku nggak ada masalah Bu, Beneran aku cuma kaget saja."
"Kalau kamu punya masalah, kamu boleh cerita sama Ibu, jangan dipendam sendirian."
"Emang ibu punya waktu buat aku?"
"Selalu ada buat kamu, Ibu sangat menyayangimu. maaf kalau selama ini ibu selalu sibuk bekerja. tapi kalau masalah sayang itu jangan ditanya lagi, karena kamu adalah buah hati ibu."
"Serius?" Tanyaku berkaca-kaca.
"Seriuslah, Masa Ibu bohong sama anak ibu." jawabnya sambil memeluk tubuhku dengan begitu erat, namun tetap menyembunyikan tangan kiriku yang masih terasa sakit. namun aku pura-pura menyembunyikannya karena aku tidak mau Ibu mengetahui.
"Yah pelukan kok gak ngajak-ngajak," ujar suara seorang pria yang berdiri di ambang pintu.
"Sinilah Pak kalau mau gabung, kita sudah lama tidak memiliki waktu buat anak kita yang tercantik ini " ujar Ibu sambil meregangkan tangan mengajak Bapak berpelukan.
Seketika aku pun melirik ke arah suara Bapak, merasa heran Kenapa dia tadi pergi meninggalkanku, tapi sekarang dia kembali dengan membawa ART rumah yang membawa sapu dan sekop.
"Ini yang harus dibersihkan Pak?" tanya si bibi.
"Ya Bi, nanti Devina terluka. Tolong bersihkan dengan teliti!" Pinta bapak sambil berjalan mendekati ke arah kita, Kemudian Bapak pun bergabung memelukku sehingga aku merasa bersalah, karena ternyata kedua orang tuaku sangat menyayangiku setulus hati, mereka memelukku penuh kehangatan.
"Sudah beres Pak!" Ujar asisten rumah tangga yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Ya terima kasih Bi. Ya sudah kamu tidur nanti kamu terlambat ke sekolah. Oh iya, minggu depan kita jalan-jalan yuk....!" ajak bapak sambil melepaskan pelukannya.
"Serius pak?" Tanyaku berkaca-kaca.
"Seriuslah, Apa pernah Bapak bohong sama kamu."
"Sering...!" jawabku dengan Ketus
"Untuk kali ini Bapak tidak akan berbohong. Ya sudah kamu tidur ya! ayo bu...!" ajak bapak sambil menarik tangan ibu keluar dari kamarku.
Seperginya mereka dengan segera aku melihat tangan kiriku yang terasa perih, ternyata tangan itu terlihat memerah bekas goresan kaca, dengan segera aku mengambil obat luka untuk menghentikan darah yang keluar. Beruntung luka itu tidak dalam sehingga tidak harus melakukan perawatan yang lebih.
__ADS_1