
Pov Raka.
"Bohong lu, gua nggak percaya dengan akal bulus laki-laki." elak Windy sambil kembali hendak memukul kepalaku menggunakan buku, namun dengan segera aku bangkit lalu keluar dari kelas. beruntung Windy tidak mengejarku sehingga aku bisa terbebas dari ancamannya.
Wajahku terasa memanas, karena malu dituduh mengintip oleh orang lain padahal itu tidak sengaja. tapi aku baru pertama kali melakukan hal kurang ajar seperti itu, sehingga rasa kesal terhadap Devina semakin meningkat dan aku semakin meyakinkan tekadku bahwa menjauh dari Devina adalah pilihan yang tepat.
Dari kejadian aku dihajar oleh Windy, aku bisa menyimpulkan bahwa ketika kita dikejar oleh mantan pacar dan sedang berada di kelas. bersembunyilah di bawah kolong meja, tapi pastikan meja itu tidak ada orangnya, karena kalau ada orangnya kita akan dituduh mesum dan mengintip.
Sambil berjalan sambil memindai area sekitar, mencari tempat yang aman untuk bersembunyi. Tadinya aku mau menyusul Tio pergi ke kantin, tapi Mendengar pembicaraan Devina dengan teman sekelasku, membuatku menghentikan niat itu, karena aku yakin Devina akan pergi ke sana.
Mataku Terhenti Di perpustakaan, sehingga Otaku menemukan ide untuk tempat teraman ketika bersembunyi. tanpa berpikir panjang aku pun masuk ke tempat itu lalu mencari buku untuk dibaca.
Setelah menemukan buku yang pas, aku mengambil bangku posisi paling pojok dan bisa leluasa memperhatikan ke arah pintu, karena nanti ketika ada si Devina masuk aku bisa dengan cepat melarikan diri.
Sambil membaca, aku terus membagi perhatianku kedua tempat, yang pertama ke buku yang sedang aku genggam, yang kedua ke pintu. takut orang yang mencariku datang ke perpustakaan, tapi beruntung sampai Bel pelajaran ketiga berbunyi, Devina tidak kunjung hadir. membuatku mengelus dada, merasa lega karena sudah berhasil menghindari mantan pacarku.
Setelah bel berbunyi, aku menarik nafas dalam karena hari itu aku bisa bersembunyi dari Devina. Aku tidak mau berhubungan lagi dengannya, karena aku takut tergoda oleh keluguannya, yang akhirnya itu akan menyusahkan diriku sendiri kalau sampai harus terjatuh lagi ke lubang yang sama.
Aku berjalan menuju kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, sama dengan para siswa-siswa yang lain yang terlihat berlarian menuju ke kelas masing-masing, mungkin mereka takut ketinggalan pelajaran yang akan diberikan oleh Sang Guru.
*****
Keesokan paginya, setelah mengantarkan Mbak Vira ke kantor tempat kerjanya. aku memacu motorku menuju ke arah sekolah, namun ketika masuk gerbang aku memindai area sekitar terlebih dahulu, takut dari salah siswa siswi ada Devina yang menungguku. Setelah memperhatikan agak lama, benar saja aku melihat keadaan di sekitar pintu gerbang ada seorang cewek yang tidak asing bagiku, dengan segera aku memundurkan motor agar tidak terlihat olehnya.
__ADS_1
"Mau ngapain sih Dia nungguin pake segala?" gerutuku yang merasa kesal karena terus diikuti oleh cewek yang sudah aku putuskan.
Beruntung sebelum menuju ke sekolah ada belokan, sehingga aku bisa bersembunyi dibelokkan itu dari pandangan Devina. Matahari mulai tinggi memberikan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang kedinginan, aku terus memindai area pintu gerbang yang terlihat jelas dari arah bersembunyianku, memastikan bahwa Devina sudah beranjak dari tempat menunggunya. Namun sayang Setelah lama aku menunggu, Devina tetap berdiri seperti Patung Selamat Datang.
Tin...! tin....! tin.....!
Terdengar suara klakson motor yang dibunyikan dari arah belakang, dengan segera aku pun menoleh ke arah datangnya suara. terlihatlah Tio yang menghentikan motor di hadapanku, dengan segera aku pun menarik motornya agar tidak membuat kecurigaan Devina.
"Ada apa sih Mas Bro, kok ngendap-ngendap kayak maling aja?" tanya Tio sambil menatapku penuh keheranan.
"Gua lagi ditungguin tuh di gerbang," jawabku sambil menunjuk ke arah gerbang dengan mulut.
Medengar jawabanku, dia pun memperhatikan ke area di mana Devina berdiri. setelah lama memperhatikan dia pun melirik ke arahku lalu tersenyum, seolah mengerti apa yang sedang aku lakukan.
"Hush, ngaco aja....! kalau ngomong asal nguap. gua nggak pernah ngapa-ngapain si Devina, tapi walaupun belum pernah gua cium sekalipun, dia tetap mengejarku seperti orang yang sudah kehilangan kesuciannya." Aduku dengan nada Ketus karena pikiran Tio ngelantur ke mana-mana.
"Dalamnya lautan bisa di selami, Tapi dalamnya hati orang tidak ada yang tahu."
"Maksudnya apa?" Tanyaku sambil menautkan alis
"Ya siapa tahu saja kamu sudah kasih yang lebih, sehingga cewek itu nggak mau kehilangan lu. sekarang mending lu tanggung jawab saja, daripada nanti kayak cerita-cerita novel yang harus putus sekolah gara-gara pasangannya hamil."
"Ah, gil4 lu ya! semakin didengarkan semakin asal mangapĀ sana duluan, adanya lu bukan membantu tapi malah menjengkelkan." usirku dengan nada kesal.
__ADS_1
"Hahaha, Kalem mas bro. kalem.....! kalem.....! kalau nggak jangan marah-marah. tapi kalau beneran gua sebagai sahabat lu, gua mensupport kalau lo mau menikah muda, biar nanti gua dipanggil ke stasiun TV untuk menjadi narasumber tentang masih sekolah kok sudah hamil."
"Hah...!" dengusku yang tak tahu harus berkata apalagi.
Aku tidak melanjutkan pembicaraan lagi dengan sahabatku yang sangat menyebalkan, karena berbicara dengannya bukannya solusi yang kudapat, melainkan penumpukan masalah yang menimpa. aku terus memperhatikan gerbang sekolah berharap Devina sudah pergi, namun Devina tetap mematung menunggu kehadiranku.
Tio terus nyerocos dengan uapan-uapan yang tidak memberikan arti, tapi itu cukup membantu karena aku bisa memiliki radio butut untuk penghibur.
Treng....! treng....! treng.....!
Suara lonceng yang dipukul samar-samar terdengar dari arah sekolah, membuatku semakin merasa khawatir kalau Devina tidak mau masuk ke kelas, karena kalau seperti itu aku bisa bolos tidak mengikuti pelajaran. memang benar ternyata jatuh cinta itu bukannya mengasikan tapi sangat menyiksa secara tidak langsung, sampai harus bersembunyi seperti buronan.
Mataku terus menatap ke arah Devina yang terlihat gelisah, sesekali dia melirik ke arah jam yang ada di tangannya, sesekali matanya memindai ke area sekitar Jalan di luar pintu gerbang. ketika lonceng berbunyi dengan menghentakkan kaki seperti sedang memanggil peliharaan, dia pun pergi meninggalkan pintu gerbang mungkin masuk ke kelasnya.
"Ayo.....!" ajakku sambil melirik ke arah Tio karena merasa situasi sudah aman.
"Ayo cabut ke mana, Ke rental PS?" jawab Tio yang terlihat santai.
"Ya masuk kelas Lah, emang lu nggak mau sekolah."
"Kalau sama Mas Bro, aku nggak apa-apa nggak sekolah, yang penting bisa seharian sama kamu....!" ujar Tio sambil mengedipkan sebelah mata.
"Halah ngaco aja....! lagian kalau gua mau hom0 gua pasti akan mikir-mikir dulu cowoknya seperti apa," ketusku dengan segera menyalakan mesin motor, lalu menuju ke gerbang sekolah.
__ADS_1