Cinta Raka Vol. 2

Cinta Raka Vol. 2
Part 8. Terus Menghindar


__ADS_3

Pov Raka


Krettt! Kreeet! Krettttt!


Pintu gerbang pun sudah didorong oleh Satpam Penjaga untuk ditutup, Karena setelah bel berbunyi tidak ada yang boleh masuk lagi ke dalam sekolah, agar para murid bisa tenang ketika belajar. Melihat pintu yang sebentar lagi ditutup dengan segera aku pun menyalakan klakson memberi tanda bahwa masih ada siswa yang masih di luar gerbang.


"Maaf Pak Sandi saya telat....!" ujarku setelah berada di depan pintu gerbang yang sedikit lagi tertutup sempurna.


"Kenapa kamu kesiangan Raka...., tumben-tumbenan amat?" tanya Pak Sandi yang lumayan ramah karena kalau jajan suka aku traktir.


"Kesiangan Pak....!" jawabku spontan.


"Kamu juga kesiangan Tio?" tanya Pak Sandi sambil menatap ke arah motor yang baru datang.


"Enggak Pak.....! aku nemenin Raka ngumpet di belokan," jawab Tio dengan polosnya.


Mendengar Pengakuan dari sahabatku, dengan segera Pak Sandi pun hendak melanjutkan pekerjaannya menutup pintu gerbang, tapi dengan segera aku turun lalu menahannya. "Tolonglah Pak.....! kasihani saya, karena baru kali ini saya terlambat.....," pintaku dengan memasang wajah paling melas.


"Tapi peraturannya begitu...! kalau terlambat gak boleh masuk."


"Peraturan dibuat hanya untuk dilanggar kan pak, Lagian pelanggarannya nggak berat-berat amat, Saya hanya telat beberapa detik saja." ujarku sambil mengulum senyum agar hati Pak Sandi meleleh.


"Halah, kalau nggak ingat kamu suka neraktir cilok, Bapak malas membukanya." ujar Pak Sandi yang terlihat mau mengalah.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Pak, Terima kasih....! saya tidak akan melupakan kebaikan Bapak, nanti Kalau saya sukses dan ketika saya menulis biografi, maka bapak akan diikutsertakan di dalam buku saya."


"Halah ngelantur aja....! tapi jangan diulangi lagi ya, dan Nanti traktir cilok lagi." jawab Pak Sandi sambil membukakan pintu agar motor kita masuk ke dalam.


"Siap...! Itu masalah gampang jangankan cilok bakso pun saya akan berikan dan saya berjanji sama bapak bahwa ini yang pertama dan terakhir," jawabku sambil manggut memberi hormat.


Setelah Motorku terbebas dari pintu gerbang, aku terus menuju parkiran lalu menyimpan rapi di tempat yang biasa, kemudian berlari menuju ke lantai 2 langsung masuk ke kelas, beruntung pelajaran pertama belum dimulai sehingga aku tidak dikenakan sanksi berdiri sambil mengangkat satu kaki di depan kelas.


"Kurang ajar.....! ditemenin malah ninggalin," gerutu Tio yang baru masuk ke kelas, sehingga membuat perhatian semua murid menatap ke arahnya.


Nafas Tio terlihat terengah-engah, tak jauh beda dengan nafasku yang memburu, karena dari parkiran kita berlari menggunakan sekuat tenaga, agar tidak keduluan masuk oleh guru pelajaran pertama.


"Ngapain kalian lari-lari?" tanya salah seorang siswa yang menatap heran ke arah kita.


"Sorry Yo....., sorry gue tadi buru-buru....," ujarku mau minta maaf namun tetap mengulum senyum, merasa lucu dengan apa yang sudah aku lakukan, hanya demi menghindar dari seorang wanita aku harus sampai telat datang ke sekolah.


Setelah kita duduk dan mengatur nafas yang terasa sesak, para siswa-siswi yang berada di kelas pun kembali fokus ke kehidupannya masing-masing, ada yang mengobrol lagi dengan teman sebangkunya, ada juga yang membaca kembali pelajaran yang minggu lalu diajarkan, tapi ada juga yang santai kalem dan sama sekali tidak bertanggung jawab, karena mereka terlihat masih menguap seolah tidak memiliki semangat ketika belajar.


Tak lama setelah aku beristirahat, masuklah bu guru pelajaran pertama. hingga aku pun melupakan kejadian tadi pagi, ketika aku menghindari dari kejaran Devina. aku mulai fokus mengikuti pelajaran itu, karena aku tidak mau lagi memikirkan hal yang tidak penting.


Pelajaran pertama sudah selesai, dilanjutkan dengan pelajaran kedua. aku tetap mengikuti pelajaran itu sampai Bel istirahat berbunyi. dengan segera aku merapikan buku lalu dimasukkan ke dalam tas.


"Mau ke mana lu Mas Bro?" tanya Tio yang menatap heran karena beberapa hari terakhir aku seperti tidak ada semangat untuk beristirahat di luar sekolah.

__ADS_1


"Aku harus buru-buru cabut bro, Soalnya kalau telat Nanti keburu Devina datang ke sini urusannya akan lebih ribet lagi." jawabku sambil berlari keluar dari kelas Lalu menuruni tangga menuju Kantin Sekolah. Entah mengapa hari itu perutku terasa lapar, karena biasanya walaupun tidak jajan aku masih kuat.


Sesampainya di kantin, dengan segera aku pun memesan seporsi bakso untuk mengganjal perut sebelum makan siang di rumah tiba. tanpa basa basi penjaga kantin pun membuat pesananku, tak lama pesanan itu sudah selesai, karena biasanya mereka sudah meraciknya sebelum Bel istirahat berbunyi, agar ketika waktu istirahat datang penjual bakso ini tidak keteteran, mereka hanya tinggal menambahkan kuah dan bakso.


"Kenapa makan di situ Raka...., Kenapa nggak duduk di bangku saja?" tanya ibu penjual bakso yang merasa heran karena aku masuk ke dalam kios lalu meminjam tempat duduknya.


"Nggak apa-apa Bu, di luar sangat gerah," jawabku ngasal.


"Bukannya di dalam lebih gerah."


"Udah ah Bu, saya mau makan....!" jawabku cuek kemudian mulai mengaduk kuah bakso agar tercampur rata dengan bumbunya.


Setelah tercampur aku mulai menyendok bakso itu lalu dimasukkan ke dalam mulut, mataku menatap ke arah pintu masuk kantin, takut ada Devina yang datang menghampiri.


Tak salah dengan dugaanku. wanita yang aku takutkan pun terlihat masuk ke dalam kantin, dengan segera aku berjongkok agar mantan pacarku tidak bisa melihat, beruntung gerobak penjual bakso lumayan tinggi sehingga dia tidak bisa  menemukanku.


Devina terus celingukkan memindai seluruh Kantin Sekolah, menatap satu persatu seluruh siswa-siswi yang memenuhi setiap bangku yang sudah disediakan. wajahnya terlihat sangat gelisah dipenuhi dengan ketakutan, matanya yang sedikit menunjukkan kekhawatiran membuatku sedikit merasa kasihan.


"Maafkan aku Devin, Aku bukan tidak menyayangimu. tapi aku ingin terbebas dari yang namanya jatuh cinta. Aku tidak mau jadi budakmu lagi, Aku tidak mau menjadi bahan omelanmu lagi. sekarang kita sudah saatnya hidup masing-masing," gumamku dalam hati mengumpat cewek yang pernah singgah di hatiku.


Hati kecilku berkata, Sebenarnya aku sangat menyayangi Devina, karena walau bagaimanapun Devina adalah wanita terbaik yang datang dengan sendirinya menghampiriku, Dia sangat kagum dengan tulisan cerpen-cerpen yang aku pajang di mading sekolah. namun rasa sayang itu berubah menjadi rasa ketakutan yang teramat dalam, takut hidupku akan berada di bawah pengaruhnya.


Setelah lama mencari dan Devina tidak menemukanku, dia pun Kembali keluar dari kantin. sehingga aku bisa menarik nafas lega seperti merasa terbebas dari kejaran depkolektor.

__ADS_1


__ADS_2