
Pov Raka
"Kamu lucu deh, kalau kamu lagi salah tingkah gitu," ujar Kayla sambil memperlihatkan barisan gigi putihnya, membuatku semakin Terkesima atas kecantikan wanita itu.
"Masa iya sih....!" jawabku seolah tidak percaya.
Suasana pun seketika Hening, hanya suara deru kendaraan yang berlalu Lalang melewati jalan, matahari sudah tidak terlihat lagi karena terhalang oleh awan hitam yang menggumpal di atas.
Lamunan itu terhenti ketika ada mobil taksi yang berhenti di hadapanku. setelah menurunkan penumpangnya Kayla pun memanggil sopir taksi untuk tidak segera pergi
"Pak Taksi, Pak....!" Panggil Kayla mengangkat tangan. "Gua duluan ya.....!" lanjutnya sambil menoleh ke arahku, namun dengan segera aku genggam pergelangan tangannya.
"Oke.....!" Jawabku sambil manggut namun setelah beberapa saat aku pun memanggilnya kembali. "tunggu key....! daripada uangnya digunakan untuk naik taksi, mendingan ditabung untuk masa depan," ujarku sambil mengulum senyum membuat Kayla membetulkan rambutnya yang menutupi wajah.
"Jadi nggak naik taksi?" tanya Sopir itu sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela.
"Nggak jadi Pak," jawabku dengan segera.
"Halah.....! dasar kurang sopan, kalau nggak mau niat ngapain nyuruh menunggu," jawab Sopir itu sambil memasukkan kembali kepalanya ke dalam, tak lama mobil pun melaju meninggalkan kita yang saling menatap sambil saling melempar senyum.
"Gua antar ya....!" tawarku Untuk yang kesekian kalinya.
"Gimana ya....! tapi kalau nggak ngerepotin boleh deh," jawabnya sambil berjalan ke arah belakang.
Melihat Kayla menerima tawaranku dengan segera aku pun mengambil helm yang biasa aku simpan di bagasi, lalu menyerahkannya sama cewek yang baru aku kenal.
Setelah Keyla mengenakan helm dan naik ke motor, aku mulai menarik tuas gas meninggalkan Mall, untuk mengantar cewek yang baru ku kenal ke rumahnya.
Di perjalanan kita berdua terus mengobrol membahas berbagai hal, membuat Hidupku terasa berwarna kembali, meski suasana siang itu terlihat mendung. aku mulai menemukan kembali kebahagiaanku yang sempat hilang karena direbut oleh Devina.
Kayla cewek yang sangat berbeda dengan cewek-cewek yang aku kenal, dia bisa menahan harga. tidak mudah menunjukkan rasa suka terhadap seorang pria, menandakan bahwa dia sudah sangat dewasa.
Setelah lama mengobrol aku pun merasa nyaman karena pembicaraan kita lebih maju ke depan, membuatku ingin terus mengenal lebih jauh tentang kakak kelasku itu.
"Masih Jauh rumahnya?" Tanyaku sambil menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Sudah fokus aja ke jalan, nanti kalau sudah sampai aku kasih tahu," jawab Kayla.
"Gimana mau fokus kalau ada seorang bidadari di belakangku,"
"Apaan sih Raka....! gua bukan anak kecil yang mudah lu gombalin," jawabnya dengan nada Ketus, namun aku melihat wajahnya yang sumringah dari spion.
"Oh iya, lu lapar nggak Key?" Tanyaku sambil kembali melirik ke arah belakang, ke arah di mana seorang bidadari sedang duduk memegang Pinggangku.
"Lumayan...! Kenapa emang lu mau traktir gue ya?" tanya Kayla cewek yang baru saja aku kenal.
"Ya sudah, ayo kita mampir dulu.
"Mampir ke mana?"
"Kamu mau makan apa?"
"Ayam goreng pakai terigu boleh,"
"Bolehlah, ayo...!" jawabku sambil terus melajukan motor ke arah rumah Keyla, namun ketika ada penjual ayam goreng aku pun berhenti lalu memarkirkan motor di halamannya.
"Sayap apa Dada apa Kak?" tanya pelayan berbaju merah itu.
"Sayap.....!" jawabku dan Kayla serempak, sehingga membuat mata kita beradu lalu mengulum senyum. berbeda dengan waiter yang mungkin merasa jijik ketika melihat anak SMA saling menunjukkan rasa sukanya.
"Baik kak, kalau begitu silakan ditunggu pesananya...!" jawab waiter itu sambil meregangkan tangan, mempersilahkan kita duduk di kursi yang sudah disediakan.
Aku pun menggeser kursi yang akan diduduki oleh Kayla membuat mata Gadis itu menatap ke arahku, seolah tidak percaya bahwa aku sangat romantis. namun aku tidak menggubris tatapannya. aku hanya membalas dengan senyuman.
"Terima kasih....!" tanggapnya pelan hampir tidak terdengar.
"Ah, cuma ngegeserin kursi doang, kok harus bilang terima kasih segala." jawabku sambil menggeser kursi yang satunya lagi Kemudian aku duduk menghadap Kayla.
Wajahnya terlihat semakin manis, meski dia kakak kelasku tapi tak kalah imut dengan teman-teman sebaya atau adik kelas. lesung pipit yang berada di pipinya, menambah kesempurnaan wajahnya, ketika tersenyum maka duniaku seolah teralihkan oleh kecantikannya.
"Ternyata kita suka sama sayap ya....!" ujar Kayla memecah heningnya suasana canggung di antara kita.
__ADS_1
"Iya aku suka sayap, karena ada sedikit tulangnya, sedangkan daging yang bertulang itu rasanya sangat nikmat, berbeda dengan dada yang hanya daging doang rasanya hanya anyep, begitupun dengan paha yang bumbunya tidak bisa meresap ke dalam," jawabku memberikan alasan.
"Wah, Sama dong kalau aku lebih suka ke kecilnya, karena Bagian terkecil dari ayam itu adalah sayap. jadi aku tidak khawatir kalau aku gemuk, hehehe." ujar Kayla sambil mengulum senyum, tangannya yang dilipatkan di depat wajah membuatku semakin betah menatap wajahnya dari sela-sela tangan itu.
"Ternyata kita memiliki banyak kesamaan ya."
"Ooooya, Masa sih kita memiliki banyak kesamaan?"
"Iyalah.....! kita suka baca novel, makanan kesukaan kita sayap ayam. mungkin semakin kita mengenal, semakin kita tahu tentang kesamaan-kesamaan yang lainnya," jawabku menjelaskan.
"Emang kamu mau mengenalku sejauh mana?" Tanya Kayla seolah menantang.
"Sampai Di Ujung Waktu?"
"Aku sudah punya pacar, nggak baik loh ngegodain cewek yang sudah memiliki pasangan." ingat Kayla yang membuat raut wajahku seketika bermuram durja.
"Iya, iya deh...! yang sudah punya pacar emang hebat," jawabku sambil memalingkan wajah.
"Kamu lucu deh, kalau wajahmu ditekuk seperti itu, seperti bayi yang sedang gemas-gemasnya. rasanya pengen nyubit.....!" ujarnya sambil mengambil pipiku lalu mencubit gemas membuatku sedikit meringis berpura-pura kesakitan.
"Aduh apaan sih key....! sakit tahu," ujarku sambil mengelus-ngelus pipi yang terasa nikmat, wajahku terus menatap wajahnya yang dipenuhi dengan kebahagiaan. Dia terlihat semakin cantik ketika tertawa sangat lepas.
"Ah masa sakit. baru dicubit sedikit aja udah ngeluh seperti digigit tawon saja."
"Kalau tawon bukannya menyengat ya?"
"Eh iya, lupa, hehehe."
"Emang pernah digigit tawon?"
"Pernah....! dulu ketika masih kecil, kan biasanya suka ada tawon masuk ke rumah. aku iseng tuh pegang pantatnya, eh ternyata dia nyengat, sampai telunjukku bengkak tahu...!" jawab Kayla sambil menunjukkan jari jemarinya yang terlihat lentik.
"Waduh....! ternyata kamu bandel juga ya."
"Ya namanya juga lagi bocah, mana tahu kalau Tawon bisa nyengat, aku nangis semalaman loh, sampai-sampai dilarikan ke rumah sakit karena demam."
__ADS_1