
Pov Devina
Sebelum menjawab pertanyaan Rita aku menyeka air mataku dengan telapak tangan, lalu menarik nafas terlebih dahulu seperti sedang mengumpulkan kekuatan menceritakan kesedihan yang sedang kualami. setelah agak tenang Aku pun mulai bercerita tentang Raka yang memutuskanku seminggu yang lalu. Aku menceritakan Semuanya dari awal sampai akhir tidak ada yang terlewat sedikitpun, Meski aku bercerita sambil menangis, tapi Rita harus tahu dengan apa yang aku alami agar dia bisa memberikan saran terhadapku.
"Jadi sudah seminggu lu diputuskan oleh Raka?" ulang Rita setelah mendengar semua cerita Malang yang menimpa kehidupanku.
"Iya Rita," jawabku sambil mengganggukan kepala.
"Terus lu nggak mau putus dengan dia?"
"Enggak.....!" jawabku sambil menggelengkan kepala.
"Haduh Devin.....! Devin, dengan dia sudah minta putus sama lo saja, itu sudah jelas kalau dia tidak sayang sama lo Devin," putus Rita menyimpulkan.
"Tapi kan gua sayang sama Raka, Rita....! Gua sayang banget dan lu juga tahu kalau Raka itu adalah pacar pertama gua,"
"Iya gua tahu kalau si Raka itu adalah pacar pertama lu, tapi itu bukan menutup mata hati lo bahwa dia bukan cowok yang baik yang harus lo pertahankan, Buktinya dia tidak sayang sama lu, Buktinya dia tidak bisa menempati janjinya yang akan menemani loh sampai kapanpun, yang akan menjadi penerang dalam hidupmu yang gelap."
"Raka sayang kok sama gue, mungkin guenya saja yang salah selalu mengekangnya.
"Oh ya.....!" jawab Rita seolah tidak percaya.
"Iya Ta....! Sebenarnya aku sudah dua kali diputuskan oleh Raka, kejadiannya 2 minggu yang lalu dia pun meminta hubungan kita untuk berhenti sementara, karena dia merasa bete dengan sikapku yang terus menanyakan kabarnya, menurut keterangan dia kalau kelakuan gua itu seperti majikan sama hamba sahayanya, padahal aku sangat menyayanginya Aku tidak mau dia pindah ke lain hati.
__ADS_1
"Oh jadi itu permasalahannya, Kenapa lu nggak bisa berubah, kalau Lu sudah tahu akar permasalahannya di mana."
"Aku nggak bisa Ta...., semenit tidak mendapat kabar darinya itu serasa setahun," terangku yang sedang dilanda jatuh cinta, sedang merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.
"Ya Itu tandanya kalau Raka tidak sayang sama lu."
"Nggak Rita....! Raka sangat sayang sama gua," jawabku yang tetap Kukuh mempertahankan pendapat.
"Asal kamu tahu ya Devina yang tersayang, kalau Si Raka itu tidak bisa menerima kekurangan lu yang super duper over protektif, maka dia tidak bisa menyayangimu dengan sikapmu yang sekarang, kalau dia sayang pastinya dia akan tetap menerima lu dan menjadikan ruh ratu dalam hidupnya.
"Nggak seperti itu Rita, mungkin sekarang Raka sedang bete aja sama tingkah kekanak-kanakanku, Gua yakin kok nanti dia juga bisa berubah kembali, Dia akan lebih sayang sama gua."
Suasana kamar pun menjadi Hening, mungkin Rita sudah kehabisan kata-kata untuk mengingatkan kalau Raka sudah tidak menginginkanku berada di sampingnya. karena menurut Rita kalau Raka sayang dan mencintaiku dia tidak akan pergi menjauh begitu saja.
"Gua bingung, gua harus bagaimana?" curhatku kembali sama Rita.
"Apalagi gua semakin bingung, melihat Tingkah lu yang tidak bisa diingatkan."
"Bukan nggak bisa diingatkan, tapi gua benar-benar sayang sama Raka, karena Raka adalah Pacar Pertama gua, dia adalah pria sejati yang berani mengungkapkan perasaannya di hadapanku secara langsung."
"Ya mau bagaimana lagi, Sekarang kan kenyataannya sudah begini. bahwa Si Raka itu sudah tidak menganggapmu lagi."
"Kasih solusi dong gua harus ngelakuin apa, agar Kak Raka bisa kembali ke pelukanku."
__ADS_1
"Semua cara sudah lu Lakukan kan, sekarang tinggal lu sabar aja dan terima semua keputusan yang diberikan oleh Raka, karena mungkin ini adalah yang terbaik buat lu dan ini pertanda bahwa Raka bukan orang yang baik."
"Enggak....., Raka baik Kok. akunya saja yang terlalu over protektif," sanggahku yang tidak setuju Raka dicap orang tidak baik karena dulu Raka sangat menyayangiku.
"Haduh....., susah lu kalau diingatkan...! ya sudahlah Terserah lu saja mau begini, mau begitu, gua nggak akan perduli. soalnya lu susah banget untuk diingatkan," ujar Rita sambil menekuk wajahnya, tangannya dilipatkan di depan dada seolah dia sudah menyerah dengan tingkah lakuku yang keras kelas.
Mendengar omelan Rita aku hanya diam sambil memeluk boneka Teddy Bear yang diberikan oleh Raka, ketika mengikuti game di pasar malam. air mataku mulai mengalir kembali merasa sedih kalau harus berpisah dengan Raka, Aku tidak tahu bagaimana hidupku kedepannya kalau tidak bersama dengan kakak kelasku itu.
"Sekarang begini saja, kalau lu susah dinasehati, kalau susah untuk diingatkan lu jalankan saja apa yang menurut lo baik dan mungkin inilah Kenapa Raka menjauhi lo, karena lo sangat keras kepala tidak mau mendengarkan perkataan orang lain," ujar Rita memecah heningnya suasana.
"Kok lu jadi malah nyalahin gua sih, apa gua salah kalau gua menyayangi pacar gua lebih dari apapun."
"Nggak ada yang salah kalau sesuai porsinya, kalau melebihi porsi itu namanya berlebihan dan apapun yang sangat berlebihan itu tidak baik."
"Terus gua harus bagaimana?" tanya aku yang sudah bingung harus melakukan apa.
"Terserah lu tadi kan sudah gua bilang apapun yang terbaik Menurut lo jalankan saja...! karena apapun nasihat yang gua berikan Lu pasti tidak akan menganggap," jawab Rita dengan putus asa.
"Maafin gua Rita, gua nggak bermaksud seperti itu tapi sekarang gua benar-benar butuh teman curhat yang bisa mengertikan keadaanku sekarang," ujarku sambil menundukkan pandangan tak terasa butiran bening pun jatuh kembali membasahi pipi, sehingga tertahan di kepala boneka teddy bear.
Suasana di kamarku Hening kembali, hanya suara tetesan air hujan yang terdengar dari balkon seperti sedang mengisyaratkan bahwa hatiku sangat sangat hancur karena sudah seminggu aku dicuekkan sama pacar pikiranku terus terbang mengingat kembali, masa-masa indah bersama Raka ketika dia sangat sayang ketika aku marahi, karena menurut pengakuannya ketika aku marah aku terlihat sangat cantik, tapi beberapa hari terakhir dia lebih memilih banyak terdiam daripada mengobrol denganku.
"Rita maafin gua ya....! kalau gua keras kepala. mungkin benar apa yang lu bilang kalau aku diputuskan sama Raka gara-gara keras kepala. Aku tidak mau kalau kamu pun menjauh dariku, Maafkan Aku....!" ujarku yang mulai sadar dengan keadaan dan kesalahan yang kuperbuat.
__ADS_1