Cinta Raka Vol. 2

Cinta Raka Vol. 2
part 22. Devina Raka!


__ADS_3

Pov Raka


Kita berdua terus berjalan menyusuri lorong sekolah, mataku terus memindai area sekitar mencari keberadaan Devina, namun beruntung kala itu Devina sampai saat ini belum menampakkan wujudnya.


"Kenapa kamu sering celingukan, kayak maling yang sedang dikejar masa?"


"Yey Kalau ngomong itu asal nguap saja. nggak apa-apa, nggak tahu nih leher gua terasa kebas," ujarku berbohong karena untuk jujur dengannya aku tidak berani.


"Oh iya, Bagaimana hubungan lu dengan Devina ,apa sudah diselesaikan atau belum?"


"Maksudnya?"


"Ya maksudnya lo apa sudah mutusin dia atau belum, katanya lo mau break, Katanya lu mau cuti dari berpacaran?"


"Oh itu. sudah, sudah beres!"


"Syukurlah...! semoga hidup lo semakin bahagia dan lo bisa fokus belajar tanpa memikirkan hal yang lain."


"Amin, Terima kasih doanya ya!"


Berjalan sambil ditemani dengan obrolan-obrolan ringan, akhirnya kita berdua pun sampai di kantin sekolah. dengan segera aku memesan bakso sesuai dengan kesukaanku, berbeda dengan Tio yang selalu suka memakan gorengan Atau jajanan-jajanan lainnya.


Suasana di ruang kantin pun terdengar riuh dengan obrolan obrolan para siswa yang sedang jajan, ada yang mengobrol dengan pasangannya, ada juga yang mengobrol bercanda riia dengan sahabat-sahabatnya, seperti aku yang sedang mengobrol dengan Tio. obrolan yang sempat menghilang karena aku disibukan berpacaran dengan Devina.


Sesekali terdengar suara gelak tawa, sesekali pula terdengar suara bentakan, sesekali pula terdengar suara ejekan. Memang begitulah para siswa siswi di sekolahku, karena Mungkin mereka belum mengerti tentang apa yang dinamakan jatuh cinta.


Aku terus melahap bakso yang ada di hadapanku sedikit mendesah, karena pedas. Entah mengapa hari itu rasanya sangat ingin sekali memakan makanan itu, mungkin untuk menyamarkan kegelisahan karena tidak mendapat kabar dari Devina.


Sedang asik menyantap makanan diselingi dengan obrolan-obrolan ringan, tiba-tiba di hadapanku berdiri seorang perempuan yang membuat mataku terbelalak, merasa kaget dengan kehadirannya. Beruntung aku sedang tidak mengunyah, mungkin kalau sedang menelan bisa-bisa aku tersendat.


"Ada apa Adik Rita tersayang?" tanya Tio sambil menatap ke arah wanita yang berdiri di hadapan kita.


"Jaga bicaramu kambing! jangan asal nguap," dengus Rita seolah tidak suka ketika mendapat sapaan dari Tio.

__ADS_1


"Yey ditanya malah ngambek, Jangan ngambek apa Nanti cantiknya hilang."


"Suka-Suka Gua, emang kenapa?" bentak Rita tidak mau kalah.


"Yah kalau kamu ngambek, cantiknya Nambah loh!" gombal Tio sambil mengulum senyum, membuatku sedikit merasa mual mendengar rayuan Anak Sekolah Dasarnya.


Suasana pun menjadi kaku seketika, karena Rita tidak menyahuti gombalan Tio. wanita itu terlihat menatap ke arahku, membuatku merasa heran dengan Tatapan yang aku dapatkan.


"Kenapa?" Tanyaku sambil menatap penuh rasa penasaran ke arah Rita.


"Devina Raka, Devina....!"


"Iya kenapa dengan Devina?" Tanyaku dengan wajah datar seolah tidak ingin mengetahui tentang cewek itu.


"Devina sakit, Devina Murung, Bahkan dia tidak mau keluar dari kelas. coba kamu temui dia, takut terjadi apa-apa." pinta Rita.


"Buat apa, kan gua sudah nggak ada hubungan lagi dengannya?"


"Iya Bro....! kalau kamu tidak bisa membahagiakan wanita, minimal kamu tidak menyakiti." ujar Tio menyahuti.


"Lah lu, tahu apa sih! pakai ikut-ikutan segala," jawabku sambil mendelik ke arah Tio, karena merasa kesal Bukannya dia membantuku, dia malah memojokkan.


"Yah lu harus bertanggung jawab lah, kalau berani berbuat berani bertanggung jawab."


"Sulistyo....! Asal lu tahu, gua belum melakukan apa-apa sama Devina, gua masih Suci begitupun dengan Devina."


"Sudah, sudah...! Kenapa kalian malah berdebat, ada yang lebih penting dari perdebatan kalian." pisah Rita sambil menekuk wajah, Mungkin dia merasa kesal karena dicuekin.


"Nah, dengerin tuh!"


"Sulistyo....! bisa nggak kamu jangan ikut campur, gua mau ngomong sama si Raka."


"Silahkan nona manis, tapi Jangan menaikkan intonasi suara seperti itu, karena walau kamu berbicara dengan lembut aku akan tetap mengikuti. karena keinginan sang Nona adalah perintah bagi hamba," ujar Tyo yang semakin melantur.

__ADS_1


"Raka Tolong lihat keadaan Devina, kasihan dia Murung seperti itu."


"Kenapa harus gua?" Tanyaku sambil menunjukkan wajah malas.


"Karena Devina Murung gara-gara lu, sana buruan, ayo....!" ajak Rita sambil menarik tanganku yang sedang memakan bakso.


"Iya, iya....! bentar aku selesaikan makan siangku terlebih dahulu. Ya sudah kamu tunggu dulu, kalau kamu mau jajan, sana ambil biar aku yang bayar."


"Serius?" Tanya Rita berkaca-kaca.


"Seriuslah...! sana ambil kalau nggak Si Raka yang bayar aku aja yang bayar," jawab Tio yang terus memberikan perhatian membuat Rita terlihat malas.


"Tapi lu janji ya, kalau sudah selesai makan baksonya. Lu harus menemui si Devina!"


Aku tidak menjawab, Aku hanya mengangkat Ibu jariku sebagai tanda mengiyakan permintaannya, kemudian Rita pun menatapku kembali.


"Serius Aku boleh jajan?"


"Sana ambil, kebetulan tadi pagi aku sudah gajian." jawabku dengan cuek kemudian melanjutkan suapanku yang tertunda.


Sedangkan Rita, dia pun berjalan menuju penjual makanan kemudian dia mengambil beberapa jajanan lalu dibawa kembali ke meja tempat aku makan.


Setelah Rita duduk, Tio terus mengganggunya dan menggodanya. aku hanya memperhatikannya dengan sudut mata, terlihatlah bahwa temannya Devina itu sebenarnya menyukai Tio, tapi mungkin cara Tio lah yang terlalu norak, sehingga cewek itu terlihat cuek. hatiku merasa bahagia ketika melihat Tio mendekati Rita, karena aku ingin dia disiksa dengan namanya jatuh cinta, biar dia merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, biar mulutnya tidak terlalu ngegombal terhadap perempuan.


Setelah menghabiskan makan dan meminum teh tawar yang terasa hangat, aku mengeluarkan uang lembaran sebesar Rp50.000, kemudian aku kasih sama Tio untuk membayar semua makanan yang kita makan.


"Lu mau ke mana?" tanya Tio sambil menatap heran ke arahku.


"Aku mau menemui Devina terlebih dahulu, kamu baik-baik ya...!" Jawabku sambil mengedipkan mata.


"Siap laksanakan komandan, Terima kasih. saya akan berusaha menjadi yang terbaik buat Rita," jawab Tio yang selalu melantur.


Aku hanya membalasnya dengan tersenyum kecut, kemudian berjalan keluar dari kantin menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi dengan anak-anak sekolah yang sedang menikmati waktu istirahat dari jam pelajaran. ada yang membaca buku, Ada pula yang mengobrol, Ada pula yang menikmati jajanannya yang dibawa keluar dari kantin.

__ADS_1


__ADS_2