
Pov Raka
Keesokan paginya, seperti biasa rutinitas keluargaku yaitu sarapan bersama, karena hanya waktu itu kita bisa berkumpul sebelum melakukan aktivitas masing masing.
Selain waktu sarapan Kita Tidak punya waktu berkumpul seinten ini, karena aku biasanya disibukkan dengan tulisanku, Begitu juga dengan Mbak Vira yang disibukkan dengan bertelepon dengan Mas Akbar, kalau bapak dan ibu mereka memang sering menikmati waktu istirahat dengan bercengkrama. tapi aku dan Mbak Vira tidak terlalu tertarik untuk mendengarkan obrolan mereka, sehingga waktu pagilah waktu kita duduk bersama saling menanyakan kabar.
"Nelepon lagi nggak Mbak?" Tanyaku setelah memasukkan sendok ke dalam mulut.
"Maksudnya?" jawab Mbak Vira sambil mendelik, dahinya terlihat berkerut.
"Si Devina nelepon lagi nggak, ups.....!" dengan segera aku menutup mulut karena aku baru sadar aku berbicara seperti itu di hadapan kedua orang tuaku, tiba-tiba wajahku memerah tidak kuat menahan rasa malu.
"Enggak, emang kenapa?"
"Nggak, nggak apa-apa Mbak, udah kita lanjutkan sarapannya!" ujarku sambil menyendok nasi goreng buatan ibu lalu dimasukkan ke dalam mulut.
"Yey....., dasar aneh lu!"
"Sudah, sudah, kalau lagi makan itu tidak boleh berbicara! Bagaimana kalau makanan yang ada di mulut keluar, itu kan sangat jorok." ujar ibu mengingatkan ajaran etika yang selalu dia pegang Teguh.
"Maaf Bu, Raka lupa!"
"Marahin Bu....! biar tahu rasa," Timpal Mbak Vira sambil tersenyum sinis ke arahku.
Aku hanya bisa mendelik ke arah kakakku yang rese itu, bukannya dia membela malah memojokkan. seenggaknya Kalau tidak mau membela dia tidak usah mengompori.
Suasana ruang makan pun menjadi Hening, hanya terdengar pelan suara sendok yang bergesekan dengan piring, karena kalau menimbulkan suara bising, Ibu pasti akan membulatkan mata karena itu sangat tidak sopan.
Setelah selesai sarapan, kita menurunkan nasi terlebih dahulu sebelum kita melakukan aktivitas masing masing, sambil diberikan sedikit wejangan dan uang jajan.
__ADS_1
"Terima kasih banyak pak!" ujarku sambil mengulum senyum ketika mendapat uang jajan dari bapak.
"Iya sama-sama yang hemat ya, jangan boros....!" jawab bapak dengan wajah datarnya.
Setelah sepuluh menit kita mengobrol, aku dan Mbak Vira bangkit untuk pergi memulai aktivitas hari itu. seperti biasa aku akan mengantarkan kakakku ke kantor terlebih dahulu sebelum aku berangkat ke sekolah.
Motorku mulai melaju meninggalkan rumah menuju ke kantor Mbak Vira, di perjalanan aku mulai bertanya kembali tentang Devina.
"Kenapa lu bertanya seperti itu, emang handphone lu nggak ada?" jawab Mbak Vira tidak memberikan jawaban, dia malah balik bertanya.
"Yey....! tidak sopan tahu, Kata Ibu ketika pertanyaan dijawab dengan pertanyaan."
"Lagian lu aneh sih! masa iya punya telepon tapi lu menggunakan telepon orang lain."
"Ya namanya juga masih SMA Mbak, masih kere, masih belum mampu beli kuota. Bagaimana Devina masih menghubungi Mbak?"
"Ya Maaf mbak, aku tidak bermaksud seperti itu. Syukurlah kalau tidak menghubungi lagi."
"Yah kamu bilangin pacar kamu itu jangan mengganggu Kakakmu yang sedang sibuk, dan Kenapa kamu memblokir nomor si Devina?"
"Nggak Mbak, aku nggak memblokir nomor Devina. tapi kemarin baterai handphone ku habis," jawabku berbohong.
"Gua bilangin ya, karena lu adik gua. Jadi gua punya hak menasehati lu."
"Bilangin apa?" Tanyaku sambil melirik ke arah belakang.
"Fokus aja mata lo ke jalan, jangan melirik lirik Begitu Nanti nabrak orang. gua mau bilang sama lu, kalau lu sudah nggak sayang sama cewek, kalau lu sudah bosan sama cewek, mendingan lu ambil jalan tegas agar tidak menggantung orang lain, kasihan tahu si Devina kalau lo cuek seperti itu."
"Iya mbak, aku juga ngerti sekarang, aku sudah membulatkan tekad agar bisa hidup tanpa Devina."
__ADS_1
"Baguslah kalau sudah mengambil keputusan, Daripada lo pacaran mendingan lu fokus aja ke sekolah. nanti kalau sudah saatnya, lo bisa kenyang tuh puas-puas berpacaran," nasehat Mbak Vira mengingatkan.
"Makasih banyak Mbak!"
Aku terus menarik tuas gas motorku membelah hingar-bingar kota Jakarta, Suasananya sangat sejuk apalagi kemarin hujan turun. matahari yang baru terbit memberikan kehangatan bagi jiwa-jiwa yang tersinari oleh sinarnya, memberikan semangat bagi jiwa-jiwa yang hendak mencari kehidupan.
Lama di perjalanan Akhirnya aku sampai di kantor Mbak Vira. setelah menurunkannya, aku melanjutkan perjalananku menuju ke sekolah hingga akhirnya aku sampai di depan gerbang. mataku cilingukkan mencari keberadaan Devina takut dia menungguku Dan membuatku stress kembali, tapi pagi itu dia tidak terlihat bahkan semenjak Tadi malam dia tidak pernah menghubungiku lagi, mungkin dia sudah mengerti dengan apa yang aku inginkan.
Aku melenggang mulus masuk ke dalam halaman parkir sekolahku, setelah menyimpan motor dengan aman, Aku berjalan menuju mading untuk menempelkan cerpen yang kubuat tadi malam. walaupun Sesibuk apapun aku akan tetap menulis, karena itu sudah menjadi hobi. dengan menulis aku bisa mengekspresikan semua khayalku tanpa ada yang menghakimi.
Sambil mencopot cerpenku yang hari kemarin, mataku terus bersiaga takut Devina menyapaku. tapi entah apa yang terjadi dengannya, Devina tidak kunjung menampakkan batang hidungnya, membuatku semakin merasa lega sekaligus merasa heran dengan perubahan sikap Devina.
Harusnya Aku senang ketika Hidupku tidak diganggu dengan Adik Kelasku itu, Tapi entah mengapa seperti ada yang kurang, ketika aku tidak mengetahui kabarnya, mungkin aku belum terbiasa saja hidup tanpa diganggunya.
Setelah menempelkan cerpen yang kubuat tadi malam, Aku menarik nafas dalam kemudian melanjutkan perjalananku untuk pergi ke kelas, untuk mengikuti pelajaran pertama yang sebentar lagi akan segera dimulai.
Benar saja setelah aku mengobrol sebentar dengan sahabat sebangku yang bernama Sulistyo, bel pelajaran pertama pun berbunyi disusul dengan masuknya guru. aku mengikuti pelajaran itu dengan giat, meski hatiku tidak enak karena belum mengetahui kabar Devina.
Pelajaran pertama pun selesai dilanjutkan dengan pelajaran kedua, aku terus mengikutinya dengan semangat, hingga Bel istirahat pun berbunyi. aku segera merapikan bukuku untuk dimasukkan ke dalam tas.
"Ke kantin nggak Tio?" Tanyaku sambil melirik ke arah sahabatku yang baru selesai merapikan buku-bukunya.
"Ya Iyalah...! emang mau ke mana lagi Mas Bro, kalau kita beristirahat paling ke kantin, kalau nggak ke kantin paling ke perpustakaan, kalau nggak keduanya paling kita ngobrol di taman dengan pasangan."
"Emang punya?" Tanyaku sambil memicingkan mata.
"Ya enggaklah...! itu kan orang lain. Ya sudah ayo kita ke kantin," jawab Tio sambil bangkit kemudian berjalan mendahului.
"Tunggu Tio, jangan buru-buru!" jawabku sambil berlari mengejar Tio yang sudah keluar dari dalam kelas.
__ADS_1