
Pov Raka
Aku terus menyusuri lorong lantai bawah, sehingga aku sampai di ruang kelas Devina. ketika aku masuk keluarlah seorang cewek berbadan gempal tersenyum menyapaku.
"Eh kak Raka, mau ngapain ke sini. nyariin aku ya?" Tanya wanita itu sambil lenggak-lenggok bak batok Supra yang kekurangan baut.
"Mau mencari Devina?" jawabku sambil mengukir senyum sipit di sudut bibir.
"Oh mau nyari Devina." tanggap wanita itu yang terlihat kecewa, kemudian dia pun melirik ke arah ruang kelas.
"Devina pacar Lo nyariin nih...!" teriaknya dengan nada kesal, kemudian dia pun keluar dari kelas mungkin hendak pergi ke kantin Atau menikmati waktu istirahat.
Dengan ragu Aku langkahkan kakiku masuk ke ruangan kelas Devina, mataku memindai area sekitar yang dipenuhi dengan bangku. Di sekeliling ruang itu dipenuhi dengan jendala kaca mungkin agar ruangan terlihat terang dan tidak harus membutuhkan lampu tambahan ketika belajar.
Mataku terhenti di salah satu meja yang dijadikan tempat sandaran kepala, melihat dari rambutnya yang di cempol Aku yakin bahwa orang itu adalah Devina. dengan perlahan Aku berjalan mendekati, kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan Devina.
"Devin, Devina....!" panggilku dengan pelan membuat gadis itu bergerak, lalu menatap heran ke arah wajahku.
"Kamu kenapa, kok kamu murung, kamu sakit ya?" Tanyaku mulai mengintrogasi, merasa khawatir dengan wajahnya yang sangat murung.
"Bukan urusan....! ngapain lu datang ke kelas gua kalau hanya untuk menyakiti," jawab Devina yang terdengar Ketus.
"Maksudnya bagaimana?"
"Udahlah kalau kamu nggak mau mengerti, aku mau ke WC." jawab Devina sambil bangkit kemudian dia hendak pergi meninggalkan ruang kelas, namun dengan segera aku menangkap tangan kirinya.
Mataku tiba-tiba terbelalak kaget, ketika melihat luka di pergelangan tangan mantan pacarku, membuatku merasa heran dengan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
"Ini kenapa?" Tanyaku sambil tetap memegang tangannya.
"Sudahlah...! Jangan ikut campur urusanku," ujar Devina sambil menghempaskan tangan agar terbebas dari cengkraman.
Aku yang tidak Sigap, sehingga tangan itu terlepas. kemudian dengan segera Devina pun berlari keluar dari ruang kelas meninggalkanku yang masih merasa bingung dengan apa yang baru saja aku lihat. Kenapa Devina bisa tega berbuat seperti itu, bagaimana dia bisa menyayangi orang lain, sedangkan sama dirinya sendiri dia tidak sayang. Aneh memang benar-benar aneh pikiran seorang wanita itu, mungkin butuh riset yang mendalam untuk memahami otaknya.
Aku terus menatap kepergian Devina sampai tidak terlihat lagi, aku menghela nafas dalam seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat, karena aku tidak meminjam mata tidak meminjam kepala, di tangan Devina ada goresan luka seperti remaja-remaja labil yang ingin mengakhiri hidupnya.
"Bagaimana kamu mau menyayangi orang lain, sama diri kamu sendiri saja kamu tidak bisa. ini tidak bisa dibiarkan, berpisah denganmu adalah keputusan yang terbaik," gumamku yang masih tetap duduk di kursi. belum beranjak dari tempat yang tadi.
Mataku menatap meja-meja belajar yang berbaris rapi, namun hatiku terus terbang menerka-nerka Apa yang dilakukan Devina. Aku tidak menyangka kalau dia bisa berbuat sekerdil itu, melukai dirinya sendiri hanya gara-gara masalah sepele.
"Lagi ngapain Kak, Kok sendirian?" tanya salah seorang siswa yang baru masuk ke kelasnya, membuatku sedikit terperanjat kaget terbangun dari lamunanku.
"Nggak, nggak apa-apa, tadi aku sedang mengobrol dengan Devina, tapi dianya izin untuk pergi ke toilet," jawabku dengan agak sedikit tergagap
"Terima kasih sudah mau membaca," jawabku membalas senyumnya.
"Oh iya Kak, ajarin kita dong Bagaimana cara menulis cerita seperti itu." pinta salah seorang temannya, karena aku tidak tahu siapa nama kedua cewek ini.
"Boleh, tapi lain kali ya. soalnya saya masih banyak urusan, saya pamit dulu," ujarku sambil membangkitkan tubuh hendak pergi meninggalkan ruang kelas Devina.
"Serius, Terima kasih banyak Kak, nanti aku hubungi kakak ya!" Balas Adik Kelasku itu
Aku hanya mengangkat ibu jari sebagai persetujuan atas permintaannya, Kemudian aku pun berjalan keluar dari ruang kelas 10 Ips B, aku berjalan menyusuri lorong sekolah dengan sedikit gontai, kelakuan Devina sudah tidak bisa dimaafkan lagi, karena kalau aku tidak mengambil tindakan bisa-bisa aku akan menjadi kambing hitam dari apa yang dia lakukan, bisa-bisa akulah orang yang akan disalahkan atas semua yang menimpanya.
Perasaanku terasa melayang membayangkan kengerian Devina yang sedang mengiris tangannya, aku tidak habis pikir kenapa dia bisa nekat melakukan hal bodoh seperti itu. padahal aku hanya meminta untuk mengakhiri hubungan bukan mengakhiri hidup.
__ADS_1
Suasana di lorong sekolah terasa sangat ramai, banyak siswa-siswi yang berlarian, saling mengejar seperti terjebak dalam halusinasi Sekolah Dasar, Ada pula yang mengobrol bercanda Ria, ada juga yang saling mengungkapkan perasaan dengan pasangan-pasangannya. namun keriuhan itu tidak sedikitpun menggugah hatiku yang sedang terasa melayang, Aku terjebak dalam halusinasi tentang Devina.
Lama berjalan dalam keadaan sedikit tersadar atau tidak, akhirnya aku sudah sampai di ruang kelasku. tak lama setelah duduk Tio pun datang menghampiri, dengan segera dia duduk di sampingku, wajahnya terlihat sangat sumringah seolah sedang mendapatkan kebahagiaan.
"Mas Bro, ternyata Rita itu sangat mengasikkan ketika diajak ngobrol, gua kira dia sangat jutek, tapi ketika ngobrol bersama, dia sangat berbeda dengan dugaanku." ujar Tio tanpa jeda.
Aku tidak menanggapi perkataannya, mataku menatap ke arah whiteboard yang belum dihapus, khayalanku terus terbang memikirkan tentang Devina. di satu sisi aku ingin segera meresmikan putusnya hubungan, namun di satu sisi yang lain aku takut kalau Devina akan semakin nekat. Aku terjebak dalam dua pilihan yang keduanya tidak memberikan keuntungan.
"Mas bro, denger gak sih kalau gua lagi ngomong," bentak Tio sambil menepuk pundak, membuatku melirik ke arahnya dengan perlahan.
"Lu Kenapa, lu kesambet ya?" tanya Tio sambil menatap kedua bola mataku.
"Ada apa sih, gua lagi bingung nih, gua lagi pusing...!" ujarku sambil memijat-mijat pelipisan yang terasa mengenut.
"Pusing kenapa mas bro, Hidup itu dibawa enjoy saja, jangan dibawa pusing nanti cepat tua loh."
"Pengennya gua juga seperti itu, tapi Ini masalahnya Sudah berat," jelasku dengan suara pelan.
"Berat, berat Bagaimana?" tanya Tio sambil menautkan alis.
"Devina Yo....! Devina. gua bingung bagaimana cara menghadapinya?" ujarku sambil mengalihkan tangan yang memijat kening untuk meremas rambut menirukan orang yang sedang frustasi.
"Devina kenapa, coba lu cerita yang jelas, biar gua nggak bingung seperti ini." tanya Tio yang terdengar serius.
"Nggak ngerti lah, Yo....! Gua bingung sama cewek yang satu itu."
"Ya cerita...! dari tadi lo bilang berat, bingung. tapi lo nggak menceritakan masalahnya, Jadi gua juga ikut bingung juga."
__ADS_1
"Devina sudah keterlaluan Yo, dia menggores pergelangan tangannya seperti hendak mengakhiri hidup. gua bingung harus melakukan apa, bingung, bingung, haduh.....!" desisku yang tidak mendapat solusi dari masalah yang sedang aku hadapi.