
Pov Devina
Rintik hujan pun turun setelah mendung yang sekian lama, seperti hatiku yang sedang gelisah tak menentu membuat butiran air mata tak bisa tertahan, Bagaimana tidak bersedih karena Pacarku Yang sudah 2 bulan menjalin hubungan, beberapa hari terakhir di sekolah menjauh tidak mau mengenalku lagi.
Hidupku sangat gelap karena tidak ada kasih sayang yang kudapat dari keluarga terdekat. ibu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, bapak yang selalu sibuk dengan urusan bisnisnya. sehingga mereka melupakan tanggung jawab yang harus mereka emban, mereka seolah lupa bahwa mereka memiliki buah hati yang harus dipupuk dengan kasih sayang, bukan hanya dengan harta yang berlimpah atau barang-barang yang mewah.
Ketika aku mengetahui ada kakak kelas yang pandai menulis cerpen, aku mulai sering menghabiskan waktu bermenit-menit berdiri di dekat mading hanya untuk membaca tulisannya. dari situ rasa kagumku mulai timbul karena dalam tulisannya dia sangat memahami situasi dan kondisi anak yang kekurangan kasih sayang dari orang tuanya, sehingga keyakinanku mulai timbul bahwa Penulis itu adalah orang yang sangat dewasa.
Tiap hari aku membaca mading itu, hingga akhirnya aku mengetahui dari Rita sahabatku, bahwa Penulis itu bernama Raka Aditya, anak kelas 11 IPA B.
Aku sering bercerita tentang kekaguman ku terhadap cowok yang bernama Raka, sehingga membuat Rita menyarankanku untuk mengajaknya berkenalan. Awalnya aku menolak karena itu sangat tidak etis, masa iya ada seorang perempuan yang mengajak berkenalan seorang laki-laki. tapi Rita terus menyemangatiku agar Aku memberanikan diri berkenalan dengan kakak kelasku itu, sehingga akhirnya keberanian itu muncul setelah aku terus ditakut-takuti oleh Rita. kalau tidak sekarang mau kapan lagi, Nanti bisa-bisa kakak kelasnya keburu diambil oleh cewek lain, karena ternyata orang yang bernama Raka itu sangat ganteng, namun dia tidak terlalu pandai bergaul.
Hari itu, akhirnya aku di comblangkan oleh Rita untuk berkenalan dengan Raka, ternyata setelah aku berkenalan dia orangnya sangat Asik, tidak kaku seperti yang aku bayangkan. dia sangat ramah bahkan pandai bergurau, sehingga aku semakin jatuh cinta terhadapnya.
Kebahagiaan pun memuncak, ketika aku mau pulang dari sekolah namun dia menahanku karena hendak ada yang disampaikan. Awalnya aku merasa ragu tentang apa yang hendak dibicarakan karena malamnya ketika dia mau berbicara dengan serius, dia hanya pergi ke toilet.
Aku terus memberikan waktu agar dia bisa mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan isi hatinya, sehingga kebahagiaan itu pecah ketika dia menembakku secara Satria, dia mengungkapkan cinta langsung di hadapanku seperti pria-pria yang ada di cerpennya.
__ADS_1
Awalnya aku pura-pura menolak agar aku tidak terlihat gampangan, padahal hatiku sangat bahagia, Hidungku kembang-kempis, bahkan tubuhku terasa terbang melayang menuju antariksa. hari itu adalah hari terbahagia dalam hidupku.
Semenjak kita jadian, aku merasakan perhatian yang sangat luar biasa diberikan oleh Raka. dia sering menemaniku lewat telepon ketika aku kesepian sampai berjam-jam, karena kita tidak puas Kalau hanya mengobrol di sekolah, makanya kita melanjutkannya dengan berteleponan. tapi setelah sebulan berpacaran dia mulai menunjukkan perubahan, Raka sering tidak mengabariku, dia sering mengabaikanku, sehingga aku pun terus menanyakan tentang kabarnya, karena ketika aku tidak mendapat kabar darinya, rasanya ada yang hilang dari Separuh Jiwaku.
Puncak dari kekecewaan terjadi beberapa hari terakhir, di mana Raka Aditya memintaku untuk mengakhiri hubungan. aku yang sangat mencintai pria itu dengan segera menolak, karena aku tidak sepenuhnya bersalah, Aku memberhentikan perhatian terhadapnya sesuai porsi ku, sesuai kapasitasku sebagai seorang pacar yang sangat menyayanginya.
Aku menarik nafas dalam mengingat kenangan indah yang diakhiri dengan penderitaan, mataku terus menatap air hujan yang terus turun membasahi bumi, tanganku memeluk boneka Teddy Bear yang diberikan oleh kak Raka, ketika awal pertama kita jalan bersama, ketika kita menikmati Wahana pasar malam.
Aku menggigit sudut bibirku, untuk memastikan bahwa apa yang kurasakan sekarang adalah kenyataan, membuatku semakin merasa teriris karena bibirku terasa sakit menunjukkan bahwa Sekarang aku tidak sedang bermimpi, Aku sedang berada di dunia yang sangat terpuruk, tidak mendapat perhatian dari orang tua, pacar yang hanya satu-satunya sudah tidak mau memberi kabar, bahkan sudah memutuskanku.
Tin.....! tin....! tin....!
"Rita...!" gumamku yang merasa bahagia karena tadi aku meneleponnya agar dia datang ke rumahku, aku merasa takut kalau harus menghadapi kesulitan sendirian.
Awalnya aku hendak bangkit membukakan pintu gerang untuk Rita, namun aku melihat seorang wanita tua yang membukakan pintu membuatku menghentikan niat itu, aku yang sudah bangkit kembali terduduk di dekat kaca sambil menatap ke arah bawah.
Lama menunggu akhirnya pintu kamarku ada yang mengetuk kemudian didorong, terlihatlah Rita yang masuk ke kamarku.
__ADS_1
"Kurang ajar lu ya, bukannya membukakan pintu, malah menonton orang yang sedang kehujanan." Gerutu Rita sambil menutup pintunya kembali, rambutnya terlihat sedikit basah mungkin terkena cipratan air hujan.
"Sorry Rita gua sedang galau nih.....!" jawabku sambil bangkit kemudian memeluk Rita, Tak ada kata yang terucap lagi, hanya deraian air mata yang membasahi pipi membuat Rita merasa heran.
"Kenapa lu malah nangis?"
Aku tidak bisa melanjutkan perkataanku, rasa sedih yang sudah memenuhi dada, akhirnya keluar tumpah di dada sahabatku membuat Rita merasa kasihan dan mungkin juga merasa heran. dengan perlahan dia pun mengelus punggungku, lalu mengajak duduk di tepian ranjang.
Aku Terus menerus ditenangkan oleh Rita agar aku tidak terlalu bersedih memikirkan apa yang sedang terjadi, dia memotivasiku agar aku menjadi wanita yang kuat, tidak boleh cengeng, tidak boleh mudah menyerah, harus tetap memiliki motivasi yang tinggi.
"Kenapa kamu menangis, coba cerita sama gua!" ujar Rita setelah tangisanku agak reda, dia mengangkat kepalaku yang berada di dadanya, kemudian menatap mataku yang berlinang air mata dengan lekat seolah dia ingin tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang.
"Raka Rit, Raka Rita...!" gumamku Hanya seperti itu, mataku tiba-tiba perih kembali, kesedihan mulai menyeruak memenuhi dada menyakiti hidung.
"Kenapa dengan Raka?" tanya Rita sambil mengerutkan dahi.
"Raka memutuskan gua rita, Raka Tega, Raka jahat.....!" Aduku sama sahabat.
__ADS_1
"Coba lu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, biar gua gak bingung seperti sekarang, biar gua bisa mencarikan solusi yang tepat buat lo," Pinta Rita yang terlihat semakin penasaran. menunjukkan perhatian yang sangat luar biasa sebagai seorang sahabat yang selalu ada di setiap aku merasakan kesusahan.