
Sinar matahari mulai memancarkan sinarnya, yang memasuki celah-celah jendela. Udara pagi yang begitu segar, membuat semua orang merasa relax dan segar. Ayara yang sudah berada di balkon kamar, karena ia tak akan melewatkan kesegaran dan keindahan pulau. Deburan ombak yang membuat tenang, setelah merasakan nyaman, dan segara Ayara langsung bergegas membangun sang calon suami.
"Mas, bangun." bisik Ayara di telinga Alka sambil mengelus-elus rambutnya. Melihat Alka yang tak mau bangun dari tidurnya, membuat Ayara menggelengkan kepalanya. Karena baru kali ini melihat Alka tidur sangat nyenyak, terlihat raut wajahnya semalam yang begitu kelelahan akibat perjalanan panjang.
"Mas, aku akan menyiapkan sarapan. Jika sudah bangun, mandilah aku sudah menyiapkan baju di atas meja ruang ganti." lanjut Ayara sambil mengecup pipi Alka. Kemudian ia beranjak meninggalkan Alka yang masih tidur dengan pulas.
Saat menuju ke dapur, langkah Ayara terhenti melihat kamar nenek yang masih tertutup. nenek yang memilih kamar di bawah agar tidak sulit untuk naik dan turun tangga. Dengan cepat Ayara melangkah kakinya menuju kamar nenek.
Tok..
Tok..
Tok..
"Nek, apa nenek sudah bangun." tanya Ayara yang masih di depan pintu, menunggu sautan dari dalam.
"Masuklah nak." jawab wanita paruh baya itu yang sedang duduk di ranjangnya. Ayara yang mendengar suara itu langsung membuka pintu dan masuk ingin melihat kondisi sang nenek.
"Nek, mari ke taman. Udaranya sangat segar ini akan membuat nenek tenang dan relax." ucap Ayara sambil membantu nenek beranjak dari tempat tidurnya. Ayara yang memapah nenek menuju taman, dengan lembut dan penuh kesabaran. Membuat pria di atas melihat dengan tersenyum penuh haru. Sudah pasti pria itu adalah Alka, sesampainya di taman Ayara mendudukkan nenek di kursi.
"Selamat pagi wanita-wanita hebatku." ucap Alka dari belakang sambil memeluk Ayara dan nenek.
__ADS_1
"Huh, mas kau membuat kami terkejut." ucap Ayara sambil memukul kecil tangan Alka yang berada di pundak nya itu.
"Hehe, sudah sayang." ucap Alka sambil berpindah, memilih duduk di samping neneknya.
"Oh gitu, kalian ingin menikmati udara segar ini tanpa mengajakku." ucap Bona yang baru saja datang dan langsung duduk di kursi kosong.
"Tentu saja, jika ada kau udara segar di sini akan menjadi sumpek!" Ketus Alka. Nenek dan Ayara hanya terkekeh melihat dua pria itu seperti anak kecil yang tak pernah akur.
"Huh, yang bikin sumpek itu, melihat wajah mu yang kusut. Seperti kanebo kering." ucap Bona sambil terkekeh, menunjukkan wajah Alka yang sudah kemode dingin dan datar.
"Sialan, kau ingin menjadi ikan asin? Akan ku hukum kau berjemur di pinggir pantai itu." ucap Alka sambil tersenyum menampakkan deretan gigi rapi dan putihnya. Seperti sudah membayangkan jika Bona berjemur di pinggir pantai hingga kulit putih nya gosong.
"Am..Ampun tuan, aku hanya bercanda. Biar ga makin akrab kita semua." ucap Bona yang sedikit was-was karena ia takut kulit putih nya berubah menjadi hitam gosong.
"Sayang kamu mau kemana." ucap Alka yang melihat Ayara sudah berjalan masuk meninggal Nenek, Alka, dan Bona di taman.
"Mau bikin sarapan!" teriak Ayara yang sudah agak jauh dari mereka
......................
Setelah setengah jam Ayara berkutat dengan benda-benda di dapur. Kini Sebuah nasi goreng seafood telah matang dengan sempurna. Ayara segaja memasak banyak, sudah pasti mereka akan terus nambah. Karena sudah secandu itu dengan masakan Ayara. Ayara juga menyisihkan makanannya untuk para pelayan agar bisa menikmati sarapan bersama meski beda tempat.
__ADS_1
"Pak mukmin, tolong bikin kan teh hangat ya. Kemudian bawakan ke taman, karena kami akan sarapan di sana. Ooiyaa, jangan lupa bikin lebih untuk para pelayan juga." ucap Ayara yang membawa mangkuk besar yang berisi nasi goreng seafood.
"Siap nyonya!" ucap Pak Mukmin dengan tegas.
Setalah sampai di tamam, Ayara meletakkan mangkuk besar itu di meja. Beberapa pelayan membawa pring, sendok, dan gelas. Serta Pak Mukmin yang membawa teko berisi air teh sangat dengan pelan-pelan.
"Hummmm, enak sekali wanginya." ucap Nenek sambil mengendus-endus nasi yang masih berasap itu, akibat masih panas.
Krukk..
Krukkk..
Terdengar suara cacing sedang demo di perut semua orang. Tanpa sengaja mereka tertawa dengan lepas.
"Ayo kita sarapan bersama." ucap Ayara sambil menatap para pelayan.
"Kami sarapan di dapur saja nyonya." ucap Pak Mukmin dan di anggukkan oleh beberapa pelayan
"Tak apa, panggil semua pelayan dan sarapan bersama di sini. Semakin ramai maka semakin seru dan meriah." ucap Ayara yang antusias.
Para pelayan yang menoleh ke Alka seakan meminta izin. Dengan anggukan dan senyuman Alka menandakan setuju, dengan gembira para pelayan. Mendapatkan perlakuan lembut dan ramah pada majikannya itu. Setalah membentang karpet di taman seperti sedang piknik, membuat tawa dan senyuman selalu menghiasi pagi hari yang begitu bahagia.
__ADS_1
Karena kehadiran Ayara lah yang membuat perubahan besar dalam hidup Alka, Nenek, dan Bona. Meraka yang tak pernah merasakan bahagia seperti ini. Tak henti-hentinya pujian kebahagiaan dalam benak mereka. Mereka terus memanjatkan doa agar kebahagiaan ini terus dan selalu ada.