
Bagian Kedua
Cinta Sang Penyair
Melalui inbok Facebook, dia mempersoalkannya. Dan dia kuanggap sama seperti lelaki muda pada umumnya, berusaha memberikan citra positif saat pertama kali memperkenalkan diri.
Penyambutanku masih datar. Dan tatkala ia menanyakan namaku, aku tak mau mendustainya. "Panggil aku Naina! Jangan tanya nama panjangku, karena itu akan memusingkan kepalamu," ucapku ringan.
Well, Naina, itu nama yang indah. Aku suka. Kau jurnalis, kan? Aku sudah tahu semuanya di wall Facbookmu. Aku sudah mengirimkan permohonan untuk menjadi temanmu, tapi kau tidak meresponku. Namun sudahlah, itu tidak masalah, yang penting kau senang dengan puisiku ini, tulisnya di inbox.
Kemudian dia menulis satu puisi untukku. Aku masih tak mau terbawa perasaan. Tetap kuanggap ini puisi cengeng yang disampaikan seorang lelaki kala perasaannya diharubirukan rasa cinta sesaat. Cinta dari kulit luar saat mata bersirobok pada wajah seorang gadis. Itu perwujudan dari rasa suka yang mainstream, masih belum matang. Tapi tak apalah dengan puisi yang dikirimkannya. Biar kusimpan di inboxku. Siapa tahu ini berguna dan menghibur kala penat mengejar berita melandaku, pikirku.
Naina
Namamu sungguh indah
kusimpan kuat di relung jiwa
kelak bila rindu datang tiba tiba
kusebut nama itu dengan bisik suara penuh nada
oh Naina, bukan kata tanpa makna yang kukirim padamu
tapi tiap larik mengandung getar jiwa kala rasa enggan berpaling
__ADS_1
aku menunggu balas katamu
meski itu kubawa dalam mimpi
serta larung rasaku padamu
jangan biarkan waktu berlalu sia sia
Naina...
Ada semacam rasa suka kala membaca larik puisi itu. Tapi keteguhan hatiku untuk bertahan dengan tidak meresponnya, tetap bertumpu di lubuk hati yang terdalam. Aku belum tahu siapa dia. Mungkin dia mirip dengan ratusan penggemar terselubungku yang satu-persatu menghilang dari peredaran di wall Fbku. Jadi, kubiarkan saja waktu yang berbicara dan yang paling penting dari semuanya, aku harus bertemu dengan si penyair yang kurasa hidupnya berada di dunia khayali. Jika ia ingin menjadi sahabatku, dia harus tahu bahwa hidup tak hanya sekedar rangkuman dari beragam imaji. Namun sembilan puluh persennya adalah dunia nyata dengan segala hiruk-pikuk dan pernak-perniknya.
***
"Sudah, gitu aja juga keren," ujar Ace teman fotografer ketika melihat aku mematut diri di depan cermin panjang yang ada di lobby kantor.
Aku percaya diri. Kami berangkat menggunakan mobil kantor. Tulisan tentang profil singkat sang pengusaha muda harus selesai hari ini, setelah tulisan selesai langsung dilayout dan aku harus kerja cepat. Kukatakan pada Ace, tak ada kesempatan mampir di warung kopi atau nongkrong sejenak di Taman Ismail Marzuki sembari makan ketoprak dan es campur, seperti biasa kami lakukan usai liputan. Ace mengangguk cepat. "Yoi!" katanya.
Mobil meluncur, memasuki jalan Sudirman, lalu menembus jalan Thamrin. Di sisi kanan jalan berjejer gedung pencakar langit nan tinggi menjulang, Jakarta semakin padat dan megapolitan. Aku mendengarkan suara Enrique Iglesias melalui tape mobil, entah apa judul lagunya. Tapi suara Enrique yang seksi membuatku tiba-tiba saja teringat akan puisi tadi yang berjudul Nania. Hm lelaki bernama Bintang itu menggiring ingatanku sejenak padanya. Tapi segera kutepis. Suasana di luar mobil yang muram karena mendung terlihat sejak pagi, membuat perasaanku ikut mengharu biru. Ups! Harusnya kusingkirkan semua pikiran tentang penyair itu. Sihir puisinya telah membuatku sibuk memikirkannya.
Lima menit kemudian, mobil tiba di apartemen yang dituju. Terletak di daerah Kuningan. Aku dan Ace berjalan tidak terburu-buru. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit. Seperti yang dijanjikan, sang pengusaha muda yang bernama Hamid Utomo itu, meminta kami datang pukul sekian. Kupencet bel yang ada di samping kanan pintu apartemen. seorang lelaki berdiri di hadapanku. Aku hanya melihat sekilas. Meski sekilas aku tahu dia sempurna. Tinggi, bertubuh ramping tentunya dengan sixpack sentuhan fitnes yang rutin, berkulit terang, beralis lebat mirip lengkung bulan sabit, bermata abu-abu dan yang terakhir berpenampilan chic proporsional, ada sentuhan maskulin sejati di sana. Aku yakin pakaian yang dikenakannya buatan disainer terkenal. Dan wangi parfumnya sangat lelaki, aku belum bisa menebak apa merek parfum tersebut, tapi aku yakin itu pasti mahal. Tentunya, penilaian cepatku tak kuberitahukan Ace sahabat fotograferku. Kulihat Ace tersenyum penuh arti ketika memandang raut wajahku.
"Gile ganteng bener, Cik," bisiknya padaku. Ace selalu memanggul diriku Cik, singkatan dari Encik. Itu sebutannya sendiri. Dan aku suka dengan panggilan itu.
Lelaki yang bernama Hamid Utomo itu, mempersilahkan kami masuk. Wangi harum ruang tamu apartemen tercium lembut di hidungku. Ruangan super mewah dengan interior sempurna dan perabotan berkelas yang kualitasnya kelas satu, tertata elegan dan penuh cita rasa seni yang tinggi. Aku berpikir pastinya sang pemilik apartemen menyewa konsultan interior disainer untuk menatanya.
__ADS_1
"Halo, saya Hamid Utomo. Kalian dari media yang hendak mewawancarai saya, kan? Mau minum apa?" tanyanya sembari mengembangkan senyum kharismatiknya dan mengulurkan tangannya ke arahku juga Ace.
Aku dan Ace beridiri kikuk. Kami menganggukkan kepala bersamaan. "Terima kasih, tak usah repot-repot, Pak Hamid," sahutku sembari menciptakan senyum termanis yang pernah kumiliki.
"Jangan panggil Bapak, kita mungkin sebaya. Saya belum menikah dan belum punya anak," ujarnya masih dalam keadaan masih menggenggam tanganku.
Aku mengangguk cepat. "Baik, saya harus memanggil apa?" tanyaku perlahan, berusaha dengan hati-hati menarik tanganku yang ada di genggamannya.
"Panggil saja saya Beib, saya lebih suka dipanggil begitu." Katanya sembari mempersilakan kami duduk.
Lalu ia memerintahkan seorang perempuan puntuk membuatkan kami minum. Aku yakin perempuan itu asisten rumahtangga yang bekerja padanya. Namun ketika ia datang membawakan minuman dan kudapan untuk kami, aku dan Ace terkejut. Perempuan itu sangat cantik sempurna. Berkulit kuning langsat dengan tampilan yang tak kalah mewahnya dengan Beib sang pengusaha muda.
Bersambung
__ADS_1