
Bagian Keempatbelas
Cinta Sang Penyair
Kini semuanya terkuak sudah. Tak perlu kujelaskan lebih gamblang lagi, ternyata sang penyair
si Bintang Kejora adalah Pak Beib. Ketika kutanyakan pada Ace mengapa ia selama
ini tidak terbuka padaku, fotografer yang suka melucu itu tertawa sejenak. Lalu
katanya, “Biar seru, kalok gue ceritain semuanya, nanti kisahnya gak asyik
lagi. Encik lihat aja endingnya bakal seperti apa.” Ucapnya kemudian sambil
melap kamera kesayangannya.
“Dia tahu keadaan gue yang sebenarnya? Termasuk adik gue yang sikzofrenia?”
“Sudah gue ceritain semuanya.”
“Terus?”
“Dia malah tertawa, katanya di dalam hidup itu seberapa berat cobaan harus dijalani. Gak mungkin dong kalau adik kita sakit jiwa atau sakit yang parah lainnya, kemudian dia menjadi beban, kita
merasa rendah diri, kita harus memusnahkannya dari muka bumi ini. Kita harus bijak menyikapi keadaan, jika
orang menghina kita, biarkan, itu hak dia dan kita gak usah berteman dengannya,
beres. Tokh hidup harus tetap dijalani. Begitu katanya,” ujar Ace.
“Sungguh? Atau ini hanya karangan elu aja, Ce?”
“Ah si Encik, kenapa sih elu paranoid banget? Lu lihat saja nanti, kalau si Pak Beib memandang adik Encik dengan tatapan tidak bersahabat dan penuh rasa hina-dina, maka tinggalkan saja dia,
itu artinya dia gak tulus mencintai dirimu. Simpel. Hidup sudah berat, kenapa
harus dibikin berat lagi Encik Naina syanteeek...hehe!” Ace tertawa. Ucapannya
yang ringan dan bernada ‘cuek’ itu langsung menguatkan perasaanku. Tapi apakah
aku sudah jatuh cinta pada Pak Beib? Entah, perasaan ini masih menemukan jalan
yang pasti, dia berada di jalur yang berkelok dengan arah dan tujuan yang tidak
lurus. Aku masih belum bisa meyakinkan perasaanku sendiri. Ketakutan-ketakutan
tentang status sosial, apa nanti pandangan Mas Heri padaku, bagaimana gosip
yang berkembang di kantor bila semua teman tahu aku ada hubungan dengan Pak
Beib, semuanya menjadi pertimbangan yang tak bisa kuterima dengan perasaan ‘cuek’,
__ADS_1
menganggap anjing menggongong dan kafilah berlalu.
***
Di ruang kerjanya yang mewah dan
megah, Hamid Utomo merenungi semua yang telah terjadi. Ia membuka Hpnya dan memperhatikan
wajah Naina di foto profil Fbnya. Sesungguhnya gadis ini sangat cantik, namun
kecantikannya yang ada padanya tertutup oleh penampilannya yang ‘cuek’ dan
tomboy. Dia apa adanya, terlalu sederhana malah. Pakaian yang ia kenakan,
sepatu, jam tangan hingga tas ransel yang selalu ia bawa menunjukkan bahwa ia
gadis yang tak butuh dengan kemewahan glamours yang biasa ditunjukkan oleh para
gadis yang sering kutemui. Aku sudah muak dengan tampilan palsu mereka. Tapi Naina tidak. Dia penuh dengan rasa percaya
diri, dia selalu menjadi dirinya sendiri. Dia mandiri dan cerdas, aku suka itu.
Beib alias Hamid Utomo terkenang akan penuturan Ace, “Kalau tak punya uang, dia lebih memilih menahan lapar ketimbang meminjam atau minta ke teman-teman. Saya pernah melihat dia jalan
kaki, pulang ke tempat kostnya yang berjarak lima kilometer dari kantor. Ketika
saya ajak untuk naik ke motor dan akan saya traktir makan soto ayam, dia
bergantian dengan teh. Dia bilang lagi puasa, mosok puasa selalu di akhir
bulan.”
“Lho, kemana gajinya? Kok dia sampai tak punya uang?” Tanya Beib.
“Hampir semua gajinya dikirimkan ke orangtuanya.
“Dia harus menanggung Ibu dan ayahnya, juga biaya perawatan adiknya yang sakit. Sedang satu adiknya yang dosen, sudah menikah. Sang adik hanya mampu memberikan sebisa yang dia bisa
beri karena istrinya baru saja melahirkan.” Jelas Ace.
“Sakit apa adiknya?” tanya Beib.
“Sakit jiwa, skizofrenia.” Ujar Ace.
Beib diam sejenak. Ia kembali menatap foto profil Naina. Rasa
iba muncul di hatinya. Gadis yang mandiri dan perkasa, hatinya sungguh baik.
Kasihan sekali dia. Ia masih muda namun tanggungannya banyak sekali. Bagaimana
caranya agar aku bisa membantunya? Pikiran itu terus menghantuinya. Ia tahu
__ADS_1
memberikan bantuan secara langsung, Naina pasti menolaknya. Gadis yang keras
hati juga keras kepala itu, memiliki harga diri yang tinggi, dia bukan gadis
murahan yang memanfaatkan keindahan ragawinya untuk memikat para lelaki kaya.
Dan seperti yang sudah terjadi, tabloid anak-anak itu muncul. Ia tahu ini proyek antara untung dan tidak. Tapi Beib mengenyampingkan semua itu. Menurutnya, dengan memberikan kedudukan
sebagai Pemimpin Redaksi di Tabloid Anak itu, gaji Naina akan naik, dengan
demikian ia tak perlu menahan lapar lagi bila tanggal tua tiba. Setidaknya
Naina masih memiliki tabungan untuk dirinya sendiri. Tapi dia salah duga,
ibunya tahu kalau Naina naik jabatan menjadi Pemimpin Redaksi setingkat
manager, permintaan ibu kian meningkat. Beib mendapat penjelasan semua itu dari
Ace, sang mata-mata rahasianya.
“Sesungguhnya Encik Naina lagi pusing. Ibunya minta dibelikan motor untuk ayahnya. Sang ayah selalu naik turun angkot kala mengantarkan adiknya ke rumah sakit jiwa, ibunya tidak tega melihat suaminya yang sudah tua itu pergi dengan kendaraan umum. Naina kerap mengeluhkan hal ini pada saya.”
Beib terdiam. Bos beberapa
perusahaan besar ini kembali memikirkan jalan keluar bagaimana agar dia bisa
membantu Naina.
***
Maka ketika aku melihat gajiku naik seratus persen, aku terkejut. Ketakutanku kembali berkaitan dengan perasaan teman-temanku bila mereka tahu berapa gajiku. Aku kembali menceritakannya pada
Ace, dan temanku ini hanya bilang kalau aku harus bersyukur dengan kenaikan
gaji itu. Aku tak enak hati pada Ace. Rasanya, aku mulai curiga bahwa pasti ada
sesuatu di belakang layar yang membuat gajiku naik. Padahal aku baru lima bulan
menjadi Pemimpin Redaksi di Tabloid Anak tersebut.
“Aku sudah tahu Lu deket sama Pak Beib, Ce. Dia kan yang naikin gaji gue?” selidikku ketika kami liputan untuk mewawancarai profil seorang seorang murid dari desa yang menjadi juara
Olimpiade Sains Nasional.
“Iya, Pak Beib kasihan lihat Encik sering tahan lapar karena tidak punya duit. Cik, ini untuk kebaikan Encik juga. Encik kan ususnya sudah pernah dipotong gara-gara sering makan mie instan. Denganm kenaikan gaji itu, Encik tidak perlu makan mie instan lagi dan juga tidak perlu jalan kaki dari kantor ke tempat kost. Pak Beib sangat mencintai Encik, dia takut Encik sakit.”
“Ace...situasi ini makin membuat posisiku terpojok. Aku sudah mendengar gosip tentang aku dan Pak Beib. Sekarang gajiku naik seratus persen, sementara teman-teman yang lain hanya 25 persen. Aku makin
tidak nyaman bekerja dalam situasi seperti ini. Duh...kenapa sih si Beib itu
gak menjadi Bintang Kejora aja. Hidupku semakin rumit jadinya.”
__ADS_1
Bersambung