
Bagian Ketigabelas
Cinta Sang Penyair
Akhirnya apa yang kukhawatirkan menjadi kenyataan. Seharusnya untuk gadis lain, ini
peristiwa yang mengembirakan. Seorang pengusaha tampan, kaya raya, memiliki
segalanya, termasuk beberapa perusahaan dan ribuan karyawan, tiba-tiba saja
jatuh cinta pada gadis sederhana, cenderung tomboy, miskin, hanya punya
segudang mimpi dan berotak lumayan cerdas, selebihnya sering kelaparan, ini bagai Cinderella yang
sangat tidak mungkin untuk dipercayai. Aku pun juga tidak.
“Aku cinta padamu, Naina. Sejak pertama kali aku melihatmu,” kata Pak Beib saat membesukku di rumah sakit. Ia memegang tanganku. Sesekali ia merapikan rambut yang menutupi keningku. Meski Ace telah
memberikan kisi-kisi atau gambaran tentang perilaku Pak Beib padaku, aku masih tetap tidak yakin
akan ucapannya itu.
Sebenarnya aku malu dan ingin menarik tanganku, tapi pegangan yang kuat itu kian bertambah kuat. “Pak Beib, apakah aku salah dengar? Bapak mencintaiku? Duh, jangan lakukan itu, Pak.
Jangan,” kataku.
“Mengapa? Aku tidak mau mendengarkan alasan apa pun darimu. Kamu tahu, semua yang kulakukan ini karena aku mencintaimu. Ya, semua untuk orang yang kukasihi.”
“Mengapa, Pak? Saya rasa ini terlalu cepat. Saya tidak berani menerima cinta Bapak,” aku menarik dengan kuat tanganku. Ingatanku pada Bintang dan puisi-puisinya kembali masuk ke dalam
pikiranku. Tidak, aku tidak boleh menerima cinta ini. Bintang lebih bermakna
untukku, siapa tahu ia berasal dari kelas yang sama denganku, dan biasanya,
seorang penyiar memiliki kehidupan bohemian yang sederhana, berada di luar dari
pakem hedonis dan materialisme. Aku merasa cocok dengan lelaki penulis puisi
itu. Kami setara.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan Naina. Pastinya kau memikirkan tentang status kita kan? Dengar cantik, semua yang kumiliki hanya titipan Tuhan. Kebetulan saja aku dilahirkan oleh orangtua
yang berada dan pengusaha. Tapi rasa cinta adalah hak setiap orang. Aku memiliki
hak untuk mencintaimu. Aku rasa kau pun demikian. Aku bisa melihat itu
melalui...”
“Melalui apa?” potongku cepat.
Pak Beib memperbaiki duduknya. Ia meluruskan punggungnya, lalu menyilangkan kaki kanannya. Cara duduknya sangat elegan, khas pria yang telah belajar tentang etika di dalam body language. Pria ini kemudian menarik jasnya yang berwarna abu-abu mendekati hitam. Ia kemudian mengambil
__ADS_1
Handphonenya dan menuliskan sesuatu di sana, entah apa yang ditulisnya. Sebab
aku masih menunggu jawaban dari pertanyaanku. Beberapa menit kemudian, messanger
di Fbku berbunyi. Ya, meski sakit, Handphone selalu berada di sisiku. Aku sangat
cemas bila benda itu tidak ada. Berita tentang adikku yang di WA ibuku,
merupakan berita terpenting yang selalu kutunggu. Kubaca messanger itu, kali ini tak ada puisi yang
terkirim, akan tetapi beberapa baris kalimat yang sungguh membuat perasaanku
merambah tak tentu arah. Di tengah suasana sepi kamar rumah sakit tempat aku
menginap, dan rasa sakit yang mulai berkurang, aku menaruh Handphone yang ada
di tanganku tepat di sisi kiri tempat aku berbaring.
“Salahkah jika aku mencintaimu Naina? Salahkah? Aku bagai bayang yang kesepian, mencari sosok seseorang yang selalu ada di mimpiku, namun semua hampa, semua hanya ilusi, tak ada
kepercayaan terpancar di sana, semua penuh keraguan, semua cuma kisah epic
dengan ending penuh tanya... Bintang...”
Rasanya aku ingin bangun dari tempat
aku berbaring. Benarkah ini? Jahitan di perutku masih terasa sakit ketika aku
bergetar.
Pak Beib, tak menjawab pertanyaanku. Ia hanya menatapku tajam. Kemudian, kilas balik dari kisah yang ia tuturkan mengalir bagai monolog dengan sosok pemain tunggal yang berolah tubuh tanpa
cela, aktingnya memukau.
“Aku sudah lama mengikuti jejakmu di Facebook juga instagram. Mungkin dua tahun lebih. Ketika kau mengkonfirm pertemanan yang kuminta, aku senang. Kubaca di status-statusmu kau sering hadir
di pertemuan-pertemuan sastra, seperti di pembacaan puisi juga cerita pendek.
Kau selalu hadir di Pusat Sastra HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki, menonton
drama dan pembacaan puisi. Aku sangat suka dengan laporan-laporan singkatmu,
juga artikel yang kau tulis di tabloid tempatmu bekerja. Kau bercerita tentang
keberadaanmu, juga teman-teman jurnalismu. Kau sangat mandiri dan aku terus
menjadi followermu hingga detik ini. Lalu akhirnya aku jatuh cinta padamu, pada setiap kisah dan aktivitasmu. Aku
sering mendatangi kantormu, tentu dengan penampilan senimanku, bukan pengusaha
seperti ini. Di sana aku sering bertemu dengan sahabatmu sang fotografer Ace
__ADS_1
Kusnandar. Kami kerap terlibat percakapan yang panjang, terutama tentangmu.
Kuminta Ace merahasiakan semuanya. Aku ingin perkenalan kita terjadi secara
alami. Tapi ketika kau sakit dan harus dioperasi, aku merasa separuh jiwaku
pergi. Naina, itulah kisah mengapa aku jatuh cinta padamu. Sungguh aku tulus
mencintaimu, aku tidak ingin kau berpikir yang bukan-bukan tentangku.”
Aku membisu beberapa saat. “Kau suka sastra dan puisi, mengapa kau sembunyikan itu?” tanyaku akhirnya.
“Karena orangtuaku tidak setuju jika aku terjun ke dunia itu. Menurut Ayahku, tak ada seorang pun keturunannya yang menjadi sastrawan, terlebih lagi penyair. Ayahku, konglomerat asal Taiwan dan
ibuku campuran Eropa dan Cina, mereka semua aktif di bisnis. Tak ada saudara
mereka yang menjadi penyair. Maka ketika mereka tahu aku sering membuat puisi,
Ayah sangat marah. Itu pekerjaan orang yang membuang waktunya dengan percuma,
katanya. Aku mematuhi permintaan mereka. Kuturuti apa yang mereka mau, termasuk
kuliah bisnis di Amerika Serikat, tepatnya di Santa Monica College. Aku berada
di dua dunia, satu sisi aku ingin menjadi penyair, sisi lain aku harus menjadi pengusaha,
mewarisi semua aset Ayahku dan mengurusi ribuan pegawai. Aku letih Naina, hanya
pada puisi-puisi yang kukirimkan kepadamulah yang bisa membuat batinku tenteram
dan bahagia. Aku tahu kamu masih meragukan perasaanku ini.” Pak Beib alias si
Bintang Kejora tak mengalihkan pandangannya dari wajahku.
Kini semuanya terkuak sudah. Rentang waktu yang terjadi bagai buih ombah yang pecah kala menerpa tubir pantai. Sayup-sayup aku seperti mendengar suara nyanyian yang menyusup ke perlahan ke telingaku.
Suhu kamar rumah sakit yang dingin, mempengaruhi pernafasanku. Beberapakali aku
bersin-bersin. Kurasa penyakit ashma yang kuidap sejak masa kecilku yang
kuyakin sudah hilang dan sembuh, kini muncul lagi. Aku merasakah dadaku agak
sesak. Selain jahitan di perut yang kadang terasa pedih, nafas juga mulai
terasa megap-megap, aku juga tak mampu menghapus air mataku. Kepercayaanku pada
Pak Beib atau Bintang, atau...ah aku bingung harus memanggilnya apa, membuatku
bagai berjalan di labirin panjang yang remang-remang. “Bintang, dadaku sakit, sepertinya
ashmaku kambuh. Tolong panggilkan dokter...” Akhirnya, aku menyebut nama
__ADS_1
Bintang, aku merasa akbrab dengan nama itu. Bintang... (Bersambung)