Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 4


__ADS_3

Bagian


Keempat


Cinta Sang Penyair


            Tulisan feature tentang Beib alias Hamid Utomo yang dimuat di tabloid tempat aku


bekerja, memperoleh respon yang bagus dari pembaca. Menurut kabar burung, saham


perusahaannya naik. Hal ini diutarakan Pemimpin Redaksiku, Mas Heri ketika


rapat redaksi. Dan kelangsungan dari itu, menurut bosku, Beib akan bekerjasama


dengan perusahaan tempatku bekerja untuk mendirikan tabloid anak-anak.


            “Tapi ada syaratnya,” kata Mas Heri di ruang rapat. “Pak Hamid Utomo meminta Naina


yang mengelola tabloid anak-anak itu. Kau jadi pemimpin redaksinya, dan kau


pula yang akan menyeleksi wartawan yang akan bekerja di tabloid itu. Bagaimana


Naina?” Mas Heri memandangku tajam.


            Aku terkejut. Keterkejutanku belum punah ketika notofication Fb-ku berbunyi. Kubaca


sekilas, ada puisi muncul di sana. Cepat kusilent Hp-ku. Rapat redaksi masih


berlangsung.


            “Naina Jaqueline Haning, apakah kau bersedia?” tanya Mas Heri lagi.


            Aku terdiam sejenak. Kemudian ucapku, “Saya tidak mengerti mengapa harus saya yang


menjadi Pemimpin Redaksi di tabloid anak-anak yang akan didirikan itu, Mas.


Lagi pula saya kan baru dua tahun bergabung di sini, masih banyak yang lebih senior.


Saya merasa belum sanggup, Mas.”


            “Jika kau menolak, berarti kerjasama ini batal. Pak Hamid wanti-wanti meminta agar


kau yang menjadi pemimpin redaksinya. Saya merasa ini peluang yang bagus. Meski


kau baru dua tahun bergabung di tabloid ini, tapi kinerjamu bagus dan kau


bertanggungjawab dengan tugas-tugas yang kami berikan, sama seperti rekan-rekan


yang lain. Jangan takut, kami jurnalis yang ada di ruangan ini akan membantumu.”


            “Beri saya waktu untuk berpikir Mas.”


            “Jangan lama-lama, di rapat Minggu depan, saya sudah menerima jawabannya.” Tekan Mas


Heri.


            Dari lantai lima belas kantorku, aku melayangkan pandanganku melalui kaca jendela, melihat


gedung-gedung megah yang berjejer bagai susunan kubus dengan tampilan beragam,


ada yang kaku, ada pula yang artistik dengan arsitektur bergaya ghotic dan


futuristik. Aku melamun mengingat jalannya rapat tadi. Ini permintaan yang terlalu


terburu-buru, pikirku. Menjadi seorang pemimpin redaksi dari sebuah tabloid


anak-anak, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku harus mengerti tentang


pangsa pasar anak-anak, psikologis anak, rubrikasi yang mendidik yang sesuai


dengan bacaan anak-anak. Semua yang berkaitan anak-anak harus kukuasai.

__ADS_1


Sementara aku sendiri belum pernah berkecimpung di dunia anak-anak. Dan yang


lebih mengkhawatirkanku, bagaimana jika kelak tabloid tak laku? Oplag menurun


terus? Semua pasti akan dibebankan di pundakku. Aku akan menjadi pekerja yang


berada dalam cengkeraman sang kapitalis. Harus memberikan keuntungan dari modal


yang sudah dikucurkan. Kemelut yang datang beragam bagai menusuk tempurung


kepalaku. Tanpa sadar, akhirnya jemariku membuka layar Fb dan mengklik kata


messanger. Di sana kubaca puisi yang diupload Bintang.


Rindu


Beratus rindu telah kukirim


Bersama  kata yang


meliuk di dekap mimpi tentangmu


Lirih aku memanggilmu, agar mata tak berpaling walau


sejenak


Meski sekejap, wajah itu terus terpatri di dinding hati


Kau yang menjadi diri sendiri, tak ada polesan semu


membayang di wajah


Kau yang sederhana, luluh hati kian merindu


Memanggilmu untuk menemukan jalan pulang


Aku iba  kala gigil


menerpa, ingin memeluk agar rindu terbayar sudah


Kau yang nyata kian mempercepat debar di dada


Dengarlah ucap lirih di jalur nada, “aku rindu padamu...”


 Bintang/Jkt/2020


            Aku menarik nafas dalam-dalam usai membaca puisi itu. Sedikit ada rasa lega saat membacanya.


Kembali puisi melankolik yang dikirim Bintang membawaku ke arena khayali yang


saat ini menemani rasa gundahku. Lalu kuberikan komentar singkat di bawah puisi


itu, kataku, “ Rindu itu ditujukan pada siapa? Jangan terlalu melankolis. Di


luar puisi, dunia sedang sekarat, covid-19 semakin ganas tak terkendali.


Terlalu lama bermain di jalur metafora, telah membuatmu lupa bahwa hidup ini


sangat berat dan penuh tekanan.”


            “Rindu kutujukan padamu. Jangan terlalu berpikir keras, bernyanyilah dengan hatimu. Seberapa


berat pekerjaan yang kau tanggung dan rasakan, semua akan terlihat baik-baik


saja jika kau menyikapinya dengan tanpa beban. Please my lady, give me smile!”


            “Huh, dasar cowok kurang kerjaan!”


            “Loh ini aku sedang bekerja, membuatkanmu puisi.”


            “Itu urusanmu, aku kan nggak minta.”

__ADS_1


            “Tapi kau selalu membacanya, Kan? Seperti saat ini. Aku melihat kau sedang gelisah.


Dan aku yakin, puisiku telah menghiburmu.”


            “Wah, sok kepedean, dari mana kau tahu aku sedang gelisah?”


            “Dariperasaanku. I know that...”


            Kualihkan kursor di layar Hpku. Aku menelusuri foto-foto yang ada di wallnya. Tapi foto


profilnya kulihat sangat tidak mungkin. Itu foto Brad Pitt, aktor Hollywood


kesayanganku. Dan foto-foto yang lain hanya berisi bunga-bunga serta pepohonan


rindang dan sejuk yang ada di berbagai negara. Ada beberapa foto tentang dirinya.


Tapi hanya merupakan sebuah siluet. Wajahnya tak nyata. Posisi saat difoto


lebih banyak memperlihatkan punggung, kaki serta jemari. Lelaki ini memang


piawai di dalam menyembunyikan wujudnya. Tapi yang terlihat jujur adalah bait


demi bait puisi yang memenuhi hampir seluruh wallnya. Meski aku tidak suka


dengan kata-kata melankolis, tapi aku tahu kalau puisi-puisi yang ditulisnya


orisinil bukan plagiat.


            “Kau pengecut,” kataku di messangernya. “Mengapa tak ada foto profilmu di sana?


Sementara kau sudah melihat seluruh aktivitas di wallku. Ayo, kalau berani


tunjukkan wajahmu, jangan bersembunyi di balik punggung, jemari, kaki dan


puisi-puisimu saja. Jangan-jangan kau psikopat terselubung yang suka


bersembunyi di balik kata?” tanyaku.


            Emoticon tertawa muncul. “Sayang,” katamu. “ini masih pemanasan. Tak baik menembak


langsung bila musuh tengah terlena. Mainkan dulu game-game yang menghanyutkan


sekaligus menegangkan, hingga rasa penasaran itu terus menghantui benak. Waktu


masih berjalan di hadapan dear, kita tak usah terburu-buru.”


            “Kau pandai bersembunyi di balik kata. Sebenarnya, kau ini banci atau laki-laki


sungguhan sih? Atau kau seorang transgender?”


            Emoticon tertawa yang sangat menggelikan muncul kembali. Bintang tidak marah. Lalu dia


mengirim kembali foto Brad Pitt padaku dengan pose yang berbeda. Kali ini ada


komennya, “Aku tahu kau mengagumi dia. Tapi nanti jika kau sudah bertemu


denganku, Brad Pitt pasti kau lupakan. Aku lebih tampan dari dia tau...”


            Sialan. Gerutuku sendirian. “Awas kau, akan kulacak akunmu dan akan kucari apakah kau Bintang


sesungguhnya atau akun abal-abal sekaligus manusia jadi-jadian!”


            “Ups! Jangan marah-marah terus, nanti kau bisa stroke. Suatu saat kita pasti akan bertemu.


Yang penting kau nikmati dulu puisi-puisi yang kukirimkan. Percayalah, aku


bukan lelaki mata keranjang yang selalu menambatkan hatinya pada


perempuan-perempuan cantik dan seksi. Aku hanya suka padamu, cewek galak tapi


manis dan cerdas. Sungguh.”

__ADS_1


            Bintang lalu tak muncul-muncul lagi. Aku kembali membisu.


(Bersambung)


__ADS_2