
Bagian
Keempat
Cinta Sang Penyair
Tulisan feature tentang Beib alias Hamid Utomo yang dimuat di tabloid tempat aku
bekerja, memperoleh respon yang bagus dari pembaca. Menurut kabar burung, saham
perusahaannya naik. Hal ini diutarakan Pemimpin Redaksiku, Mas Heri ketika
rapat redaksi. Dan kelangsungan dari itu, menurut bosku, Beib akan bekerjasama
dengan perusahaan tempatku bekerja untuk mendirikan tabloid anak-anak.
“Tapi ada syaratnya,” kata Mas Heri di ruang rapat. “Pak Hamid Utomo meminta Naina
yang mengelola tabloid anak-anak itu. Kau jadi pemimpin redaksinya, dan kau
pula yang akan menyeleksi wartawan yang akan bekerja di tabloid itu. Bagaimana
Naina?” Mas Heri memandangku tajam.
Aku terkejut. Keterkejutanku belum punah ketika notofication Fb-ku berbunyi. Kubaca
sekilas, ada puisi muncul di sana. Cepat kusilent Hp-ku. Rapat redaksi masih
berlangsung.
“Naina Jaqueline Haning, apakah kau bersedia?” tanya Mas Heri lagi.
Aku terdiam sejenak. Kemudian ucapku, “Saya tidak mengerti mengapa harus saya yang
menjadi Pemimpin Redaksi di tabloid anak-anak yang akan didirikan itu, Mas.
Lagi pula saya kan baru dua tahun bergabung di sini, masih banyak yang lebih senior.
Saya merasa belum sanggup, Mas.”
“Jika kau menolak, berarti kerjasama ini batal. Pak Hamid wanti-wanti meminta agar
kau yang menjadi pemimpin redaksinya. Saya merasa ini peluang yang bagus. Meski
kau baru dua tahun bergabung di tabloid ini, tapi kinerjamu bagus dan kau
bertanggungjawab dengan tugas-tugas yang kami berikan, sama seperti rekan-rekan
yang lain. Jangan takut, kami jurnalis yang ada di ruangan ini akan membantumu.”
“Beri saya waktu untuk berpikir Mas.”
“Jangan lama-lama, di rapat Minggu depan, saya sudah menerima jawabannya.” Tekan Mas
Heri.
Dari lantai lima belas kantorku, aku melayangkan pandanganku melalui kaca jendela, melihat
gedung-gedung megah yang berjejer bagai susunan kubus dengan tampilan beragam,
ada yang kaku, ada pula yang artistik dengan arsitektur bergaya ghotic dan
futuristik. Aku melamun mengingat jalannya rapat tadi. Ini permintaan yang terlalu
terburu-buru, pikirku. Menjadi seorang pemimpin redaksi dari sebuah tabloid
anak-anak, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku harus mengerti tentang
pangsa pasar anak-anak, psikologis anak, rubrikasi yang mendidik yang sesuai
dengan bacaan anak-anak. Semua yang berkaitan anak-anak harus kukuasai.
__ADS_1
Sementara aku sendiri belum pernah berkecimpung di dunia anak-anak. Dan yang
lebih mengkhawatirkanku, bagaimana jika kelak tabloid tak laku? Oplag menurun
terus? Semua pasti akan dibebankan di pundakku. Aku akan menjadi pekerja yang
berada dalam cengkeraman sang kapitalis. Harus memberikan keuntungan dari modal
yang sudah dikucurkan. Kemelut yang datang beragam bagai menusuk tempurung
kepalaku. Tanpa sadar, akhirnya jemariku membuka layar Fb dan mengklik kata
messanger. Di sana kubaca puisi yang diupload Bintang.
Rindu
Beratus rindu telah kukirim
Bersama kata yang
meliuk di dekap mimpi tentangmu
Lirih aku memanggilmu, agar mata tak berpaling walau
sejenak
Meski sekejap, wajah itu terus terpatri di dinding hati
Kau yang menjadi diri sendiri, tak ada polesan semu
membayang di wajah
Kau yang sederhana, luluh hati kian merindu
Memanggilmu untuk menemukan jalan pulang
Aku iba kala gigil
menerpa, ingin memeluk agar rindu terbayar sudah
Kau yang nyata kian mempercepat debar di dada
Dengarlah ucap lirih di jalur nada, “aku rindu padamu...”
Bintang/Jkt/2020
Aku menarik nafas dalam-dalam usai membaca puisi itu. Sedikit ada rasa lega saat membacanya.
Kembali puisi melankolik yang dikirim Bintang membawaku ke arena khayali yang
saat ini menemani rasa gundahku. Lalu kuberikan komentar singkat di bawah puisi
itu, kataku, “ Rindu itu ditujukan pada siapa? Jangan terlalu melankolis. Di
luar puisi, dunia sedang sekarat, covid-19 semakin ganas tak terkendali.
Terlalu lama bermain di jalur metafora, telah membuatmu lupa bahwa hidup ini
sangat berat dan penuh tekanan.”
“Rindu kutujukan padamu. Jangan terlalu berpikir keras, bernyanyilah dengan hatimu. Seberapa
berat pekerjaan yang kau tanggung dan rasakan, semua akan terlihat baik-baik
saja jika kau menyikapinya dengan tanpa beban. Please my lady, give me smile!”
“Huh, dasar cowok kurang kerjaan!”
“Loh ini aku sedang bekerja, membuatkanmu puisi.”
“Itu urusanmu, aku kan nggak minta.”
__ADS_1
“Tapi kau selalu membacanya, Kan? Seperti saat ini. Aku melihat kau sedang gelisah.
Dan aku yakin, puisiku telah menghiburmu.”
“Wah, sok kepedean, dari mana kau tahu aku sedang gelisah?”
“Dariperasaanku. I know that...”
Kualihkan kursor di layar Hpku. Aku menelusuri foto-foto yang ada di wallnya. Tapi foto
profilnya kulihat sangat tidak mungkin. Itu foto Brad Pitt, aktor Hollywood
kesayanganku. Dan foto-foto yang lain hanya berisi bunga-bunga serta pepohonan
rindang dan sejuk yang ada di berbagai negara. Ada beberapa foto tentang dirinya.
Tapi hanya merupakan sebuah siluet. Wajahnya tak nyata. Posisi saat difoto
lebih banyak memperlihatkan punggung, kaki serta jemari. Lelaki ini memang
piawai di dalam menyembunyikan wujudnya. Tapi yang terlihat jujur adalah bait
demi bait puisi yang memenuhi hampir seluruh wallnya. Meski aku tidak suka
dengan kata-kata melankolis, tapi aku tahu kalau puisi-puisi yang ditulisnya
orisinil bukan plagiat.
“Kau pengecut,” kataku di messangernya. “Mengapa tak ada foto profilmu di sana?
Sementara kau sudah melihat seluruh aktivitas di wallku. Ayo, kalau berani
tunjukkan wajahmu, jangan bersembunyi di balik punggung, jemari, kaki dan
puisi-puisimu saja. Jangan-jangan kau psikopat terselubung yang suka
bersembunyi di balik kata?” tanyaku.
Emoticon tertawa muncul. “Sayang,” katamu. “ini masih pemanasan. Tak baik menembak
langsung bila musuh tengah terlena. Mainkan dulu game-game yang menghanyutkan
sekaligus menegangkan, hingga rasa penasaran itu terus menghantui benak. Waktu
masih berjalan di hadapan dear, kita tak usah terburu-buru.”
“Kau pandai bersembunyi di balik kata. Sebenarnya, kau ini banci atau laki-laki
sungguhan sih? Atau kau seorang transgender?”
Emoticon tertawa yang sangat menggelikan muncul kembali. Bintang tidak marah. Lalu dia
mengirim kembali foto Brad Pitt padaku dengan pose yang berbeda. Kali ini ada
komennya, “Aku tahu kau mengagumi dia. Tapi nanti jika kau sudah bertemu
denganku, Brad Pitt pasti kau lupakan. Aku lebih tampan dari dia tau...”
Sialan. Gerutuku sendirian. “Awas kau, akan kulacak akunmu dan akan kucari apakah kau Bintang
sesungguhnya atau akun abal-abal sekaligus manusia jadi-jadian!”
“Ups! Jangan marah-marah terus, nanti kau bisa stroke. Suatu saat kita pasti akan bertemu.
Yang penting kau nikmati dulu puisi-puisi yang kukirimkan. Percayalah, aku
bukan lelaki mata keranjang yang selalu menambatkan hatinya pada
perempuan-perempuan cantik dan seksi. Aku hanya suka padamu, cewek galak tapi
manis dan cerdas. Sungguh.”
__ADS_1
Bintang lalu tak muncul-muncul lagi. Aku kembali membisu.
(Bersambung)