Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 10


__ADS_3

Bagian Kesepuluh


Cinta Sang Penyair


        Sungguh, aku menjadi salah tingkah ditatap sedemikian rupa oleh lelaki tampan di depanku


ini. Mau bertanya apakah ada yang salah dengan penampilanku atau wajahku yang


polos tanpa sentuhan make-up, aku tidak berani. Bisa jadi ia sedang memikirkan


modal yang sudah dikeluarkannya untuk tabloid anak yang kupimpin, jadi


pandangannya terus tertuju ke arahku. Ya, aku tak boleh ‘geer’ dulu. Maka ketika


makan yang dipesannya sudah tersaji di atas meja, aku belum berani


menyentuhnya. Takut nanti disangka cewek rakus yang seminggu belum makan.


        “Oh, maafkan, aku sedang banyak pikiran.


Silakan makan, mana yang kamu suka ambil saja!” kata Beib tiba-tiba.


        “Tidak, Bapak duluan yang makan. Lama


menunggu saya pasti lapar.”


        “Kan sudah kubilang jangan panggil


Bapak. Paling aku satu tahun lebih tua di atasmu. Berapa usiamu sekarang?”


tanyanya.


        “Dua puluh lima,” jawabku asal saja, aku juga kadang lupa dengan usiaku sendiri. Bila orang bertanya, kerap kujawab 24 tahun, di saat yang berbeda, 26 tahun, namun seiringnya 25 tahun.  Aku tidak pernah merayakan ulang tahun, bagiku itu ritual yang cukup mewah. Ibuku selalu bilang, tak usah memikirkan


masalah hari ulang tahun atau tahun dan tanggal berapa kau lahir. Jika terlalu


mendesak, nanti lihat saja di akte kelahiranmu yang ibu simpan di lemari


pakaian lusuh kita. Usiamu sekitar 24, 25 dan 26, tak lebih dari itu. Nah, jadi


kusebutlah demikian. Ibuku yang kuanggap super cuek itu sudah mengajarkanku demikan.


        “Hah, dua puluh lima? Ah kurasa kau


tidak serius. Mungkin bisa lebih dari itu. Aku saja sudah dua puluh delapan


tahun, tepatnya hari ini.” Katanya sembari sesekali melihat ke Handphonenya.


        “Oh baik, jadi Pak Beib ulang tahun hari


ini? Wah selamat ya,” kuulurkan tanganku untuk memberikan ucapab selamat. Aku


tetap bertahan menyebut kata “Pak’ di depan namanya. Aku tak mau formalitas

__ADS_1


yang sudah terjalin selama ini berubah menjadi keakraban pribadi yang dapat


menghilangkan rasa hormatku. Dan yang lebih terpenting lagi, aku tak mau ada


rasa ketertarikan fisik  saat melihat wajah tampannya yang penuh daya pikat itu.  Jujur, aku tidak mau menderita oleh perasaanku


sendiri.


        “Baiklah, terima kasih. Sebenarnya bukan masalah ulang tahun yang ingin kubicarakan kepadamu.  Saya ingin mangatakan sesuatu padamu, tapi


saya takut nanti kamu tidak setuju. Baiklah, kamu makan saja dulu. Nanti selesai


makan baru akan saya utarakan.” Kata Pak Beib dengan bahasa Indonesia yang


formal dan rapi.


        Aku makan dengan perasaan tidak nyaman. Kulirik sekilas messanger di Fbku, kembali ada pesan dari si Bintang Kejora.Kali ini pesannya membuat aku bertanya-tanya, dari mana aku sedang makan siang


di restoran hotel mewah ini?  “Makan harus dengan hati riang, supaya makanan berjalan lewat usus hingga ke


pembuangan dengan sempurna. Jangan terlalu banyak bermain di ranah rasa, nanti


akan membuatmu kelelahan sendiri. Sebab di kamar kostmu yang sunyi itu, hanya


kau sendirian. Ayah dan Ibumu jauh, bila kau sakit pada siapa kau mengadu?


Makanlah perlahan-lahan, kunyah semuanya hingga menjadi halus dan lembut dan


makanan sendiri. Makanan mie instant yang selalu menggempur ususmu, itu tidak


baik, selamat makan sayang...”


        Aku menaruh sendok dan garpuku dengan wajah kebingungan. Kutolehkan wajahku ke kiri dan ke kanan. Mencoba mencari lelaki mencurigakan yang bisa saja dia si Bintang Kejora, dan dia tengah


memata-mataiku. Tapi di sekitarku hanya ada Beib atau Pak Beib dan beberapa


pria dan perempuan asing manula. Ah, aku kembali dihantui perasaan tak enak,


ada apa ini? Mengapa Bintang bisa tahu aku sedang makan siang? Aku mengunyah


makananku pelan-pelan, sesuai anjurannya. Di hadapanku, Beib masih asyik sibuk


dengan Hp-nya.


        “Pak Beib, saya sudah kenyang. Maaf, saya ingin tahu apa yang akan Bapak sampaikan. Apakah ada masalah penting?” tanyaku sembari menatap matanya dengan berani.


        “Wah itu belum habis, makanan ini masih banyak. Habiskan dulu!” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar Hpnya.


        Aku mulai merasa kesal. Sikapnya seolah-olah tak peduli dengan pernyataanku. Timbul beberapa pikiran yang mengasumsikan kalau dia merasa kasihan pada anak kost sepertiku. Barangkali dia


sengaja menyuruhku kemari agar aku bisa makan enak dan ditraktir olehnya, sebab


selama ini bisa saja dia berpikir aku tidak pernah merasakan makanan-makanan

__ADS_1


yang lezat, dan bila itu memang kenyataannya, aku merasa mulai terhina dengan


sikapnya, ini sikap arogansi dari orang-orang kaya yang berkantong tebal,


menganggap bahwa orang miskin sepertiku seperti **** piara yang dijejalkan


makanan enak ke mulutnya maka semuanya beres sudah. Kutunggu sampai kesibukan


dengan Hpnya usai. Aku sudah merapikan garpu dan sendokku dengan aturan table manner, sopan dan elegan. Paling tidak pelatihan kala mengikuti tata cara makan dengan tamu-tamu internasional saat meliput di istana negara, masih kuingat.  Jadi aku bukan manusia purba yang makan dengan kerakusan maksimal hingga perut kekenyangan dan terasa mau muntah.


        “Oh, baiklah. Tunggu sebentar,


kuhabiskan semua makanan ini. Sayang kalau sudah dibayar dengan mahal dan


mereka dibuang di tong sampah. Kasihan para petani dan nelayan yang sudah menanamnya,”


katanya tanpa basa-basi, kemudian melahap semua makanan yang tersisa hingga


tandas.


Melihat itu, rasa bersalahku timbul. Ah, dia ternyata tidak sesombong yang


kuduga. Kemudian ada sisa sup asparagus di mangkukku, kuhabiskan sup itu tanpa malu-malu.


Dan sekilas Beib tersenyum melihatku.


        “Begini, aku mau memberimu tugas lagi.


Tapi ini sifatnya lebih ke pribadi bukan perusahaan. Aku ingin kamu membuat


tulisan biografi yang berkaitan dengan kisah kehidupanku dan juga berkembangnya


perusahaanku ini. Jika buku ini sukses dan nanti di publish di umum, aku yakin namamu di dunia kepenulisan juga akan terangkat. Keadaan media massa sekarang ini berada di jalur yang


menghkawatirkan. Seiring dengan berkembangnya teknologi di mana media sosial dan


jejaring mereka bisa diakses dengan mudah, media online pun mengikutinya.


Sekarang kita bisa dengan mudah membaca berita di media online. Jika semua


media online bisa terakses dengan mudahnya, buat apa lagi mereka membeli koran


atau tabloid. Aku percaya kamu pasti bisa menuliskannya. Syaratnya mudah, cukup


menemuiku semingga dua kali dan kita lakukan wawancara langsung dengan


merekamnya. Tempat pertemuan nanti aku yang tentukan. Pikirkanlah, nanti kamu


bisa mengirim WA jika kamu setuju. Oke, aku dan sopirku akan mengantarmu ke


tempat kostmu.”


        Siang itu, aku tak kuasa untuk menolak kalau Pak Beib hendak mengantarku.  Mengenai tawaran penulisan tulisan biografi, aku akan memikirkannya malam ini. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2