
Bagian Ketiga
Cinta Sang Penyair
Wawancara belum dimulai, tapi aku sudah kedinginan di ruang tamu apartemen itu. Dinginnya AC mungkin berada di kisaran 16 derajat celcius. Sialnya aku tidak membawa jacket. Beda dengan Ace,teman fotograferku ini ke mana-mana tak pernah lepas dari jacket gunungnya. Dia paling tak tahan dinginnya AC, termasuk AC mobil. Entah jacket itu sering dicucinya atau tidak, aku tidak tahu. Ace bilang kalau ia sangat sayang dengan
jacket itu, pemberian seorang penyanyi idolanya, yang suaranya sangat ia sukai, katanya selalu. Udara dingin yang kian tak bersahabat, membuat gigiku gemelutuk dan bahuku bergerak-gerak. Gawat, bagaimana jika wawancara nanti? Pikirku. Aku ingin melakukan pemanasan dengan melakukan beberapa kali
lompatan, tapi malu. Apa kata Beib alias Hamid Utomo jika melihat aku lompat-lompat seperti penyanyi rock?
Tiba-tiba tanpa kusadari aku merasakan kehangatan yang lembut, bau parfum yang sempat
tercium, kini meruar bersama sentuhan lembut itu di tengkukku. Ketika aku menoleh, Beib tengah memakaikan jacket berbulu ke bahuku. Wajahku memerah.
“Tak apa, ini jacket Ibuku. Ruangan ini memang terlalu dingin. Saya sudah
menghubungi bagian teknisi apartemen untuk mengecilkan volume AC-nya, mereka
selalu bilang ‘iya’ tapi tidak pernah datang. Maafkan. Jika sudah agak hangat
kita bisa memulai wawancaranya.” Katanya dengan vokal ringan namun sangat
laki-laki.
Aku masih tetap merasa malu. Perempuan cantik yang tadi menyuguhkan teh dan
kudapan, sekilas kulihat menatap kami. Wajah cantiknya yang mirip boneka
Barbie, masih membuat aku terpesona. Aku sungkan dengan situasi yang ada. Takut
nanti dia marah, siapa tahu perempuan itu istri Beib atau kekasihnya. Ah, aku
segera menepis beragam perasaan yang menggerogoti pikiranku. “Baik Pak Beib...”
“Panggil Beib saja!” Potongnya cepat.
“Oh iya, Beib kita memulai wawancaranya,” ucapku dengan suara gugup. Kulirik Ace,
sepertinya sedang senyum-senyum sendirian sembari mengarahkan kameranya ke arah
Beib dan memotretnya berkali-kali.
Aku mempertanyakan tentang kondisi perusahaannya, kesejahteraan para pegawainya,
hingga inovasi-inovasi apa saja yang dilakukan perusahaannya dalam hal ini
untuk kesejahteraan masyarakat banyak, terutama kegunaan produk-produknya,
apakah selalu untuk masyarakat kelas menengah ke bawah atau ke atas. Produk
yang dihasilkan perusahaan keluarga Beib berupa mie instant, jus kemasan, kue-kue
kering dan daging serta ikan kaleng sangat laku pasaran.
Beib menjawab semuanya dengan lancar dan jelas. Termasuk
pemasaran dan kerja sosial yang dilakukan perusahaan untuk masyarakat kelas
__ADS_1
menengah ke bawah.
“Kami juga menyantuni rumah-rumah yatim piatu dan
panti-panti jompo. Membentuk yayasan untuk menolong anak-anak yang tidak bisa
sekolah dan memberi beasiswa bagi anak-anak yang berprestasi hingga mereka
lulus dari perguruan tinggi. Harta kekayaan tidak dibawa mati, selama masih di
dunia kita harus melakukan banyak kebajikan, tidak hanya pada sesama manusia,
tapi juga pada alam dan seisinya. Hidup hanya meniti waktu, selama waktu itu
berjalan hingga di titik batas yang tidak bisa diprediksi, di sana kita akan
pergi dengan bahagia apabila semua yang kita lakukan sangat berguna untuk orang
banyak...” ucap Beib bak seorang pendeta.
Aku dan Ace terdiam. Pria muda yang tampan di hadapanku
ini, sepertinya telah menggiring perasaanku pada lorong sunyi tanpa batas. Aku bagai
menemukan kesejatian hidup yang kadang membuatku merasa hampa. Kediamanku membuatnya
bertanya, “Mbak Naina, apakah wawancaranya sudah selesai?”
Aku mengangguk dengan cepat. “Sudah, Beib. Kami akan
segera pamit ke kantor lagi. Hasil wawancara ini harus segera saya tulis dan
dijadikan berita feature yang penuh dengan sisi humanis. Terima kasih Pak...”
cepat dan tegas.
“Oh maaf, baiklah Beib. Kami mohon pamit.”
“Wah jangan cepat-cepat pulang, saya mengundang kalian
untuk makan siang. Biar nanti setibanya di kantor kalian bisa langsung bekerja!”
Ujarnya.
Aku dan Ace semakin merasa tidak enak hati. Aku kembali
melihat perempuan secantik Barbie itu tengah menyiapkan makanan di meja makan. Ace
tahu, nanti setelah pulang, kami berdua pasti akan membahasnya dengan serius,
siapa perempuan itu.
“Kak Marly terima kasih atas makanannya. Ini teman-teman
jurnalis yang hari ini mewawancaraiku. Kenalkan, ini Kak Marly, Kakak perempuan
tepat di atas saya, ia sengaja datang membantu saya. Asisten rumah tangga yang
biasa datang memasak, hari ini pulang kampung melihat anak perempuannya yang sedang
__ADS_1
sakit. Beginilah kehidupan bujangan,” ucap Beib akrab.
Usai makan, kami berpamitan. Beib alias Hamid Utomo, mengantar kami hingga di lobby
apartemen. Aku dan Ace merasa sungkan sebab orang-orang yang berjumpa dengannya
membungkuk dengan hormat. Termasuk Satpam apartemen.
“Jangan lupa, jika kisahku sudah dimuat, tolong antarkan
tabloidnya ke apartemen, jangan dikirim dengan pos atau yang lainnya. Aku mau
mengajak kalian makan siang lagi. Kakakku jago masak,” Ajaknya sembari
memasukkan sesuatu ke kantong celana Ace.
Perasaanku Beib pasti memberikan kami uang. Itu tidak
diperbolehkan perusahaan. Lalu, tanpa menunggu lebih lama lagi, kuminta Ace
mengambil bungkusan itu dan menyerahkannya padaku. Aku segera berlari mengejar
Beib yang hendak masuk ke dalam lift. “Tunggu!” teriakku sedikit kencang.
“Ada apa?” tanya Beib sambil menatapku tajam.
“Ini apa Beib?”
“Oh, itu sekedar hadiah dariku. Maaf jangan marah.”
“Wah maaf sekali, kami dilarang menerima hadiah seperti ini. Saya bersyukur sudah dijamu makan siang dan kopi juga kudapan yang lezat. Pak Beib eh Beib, tolong terima kembali hadiah ini. Sekali lagi maafkan kami,”
kali ini dengan berani aku menarik tangannya dan menyerahkan amplop putih itu dengan
setengah memaksa. “Maafkan saya, jangan marah,” kataku segera berbalik sebelum
ia sempat mengucapkan sesuatu.
“Untung uangnya dikembalikan. Jika tidak, nanti dia akan bicara ke bos, duh maka habislah kita,
pastinya uang yang dia berikan lumayan banyak, bisa sebulan gaji kita,” kata Ace.
“Sudah, itu bukan rejeki kita dan kita tidak berhak untuk
menerimanya. Nanti Tuhan pasti akan berikan yang lebih banyak lagi,” ujarku.
Ace tersenyum penuh arti. “Cik, gue lihat Encik rada
berbeda hari ini. Jatuh cinta ya dengan Pak Beib?” selidik Ace penuh rasa ingin
tahu.
“Gila kau Ce, masak baru kenal sudah jatuh cinta, yang benar saja. Lagi pula, antara dia dan gue seperti bumi dan langit. Dia orang kaya sedang aku apa sih? Sudah tomboy, miskin pula,” sahutku sambil meringis.
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku teringat pada Bintang. Segera kulihat Hpku, membuka
inbox dan mencari huruf-huruf yang tertera di sana. Ada debar tersamar di
dadaku, ada rindu ingin melihat larik demi larik puisi yang dikirim Bintang.
__ADS_1
Tapi kali ini tak ada. Ah, kemana kata-kata puitis itu? Tanyaku dalam hati,
hanya di dalam hati... (Bersambung)