
Bagian Kesembilanbelas
Cinta Sang Penyair
Pak Beib menyetir sendiri mobilnya, ia menginjak gas mobil Ferrarinya dengan kecepatan di luar batas maksimum. Semula aku masih tenang. Namun ketika beberapa kali mobil hampir bertabrakan dengan beberapa kendaraan di depannya, perasaanku mulai was-was. Aku memperhatikan wajah tegangnya dari sisi
kanan. Rahangnya menguat dan di pelipisnya muncul beberapa urat yang menandakan ia sedang marah.
“Kita mau ke mana?” tanyaku sembari memegang sisi kiri jok mobil dengan
kuat.
“Lihat saja nanti. Andai kamu membatalkan semuanya dan pergi dariku, maka
kita akan mati bersama-sama.” Ucapnya dingin.
“Kamu sudah baca WA yang kukirim? Semua sudah jelas Beib, “ kataku tanpa
menyebutkan kata ‘Pak’ lagi. “Kita tidak
bisa bersama. Ancaman kakakmu sudah menjelaskan semuanya. Ada Jennifer yang
mencintaimu. Bukan aku.”
“Aku tidak menyukai Jenni, yang kucinta hanya kamu, hanya kamu!” Beib
menekan gas lebih ke dalam. Kami seakan terbang ke awan.
Sungguh aku kini mulai merasa ngeri. Kupejamkan mataku. Berkomat-kamit
membaca doa. Aku berharap setelah mataku terbuka, Beib akan memperlambat kecepatan
mobilnya. Namun, semua yang kuharapkan tidak sama, ketika kubukan mataku, kami
sudah berada di sebuah villa yang mewah di [inggir kota Jakarta. Beib memarkir
mobilnya dengan gesit. Lalu ia membuka pintu mobil dan menarik lenganku ke luar
dari dalamnya dengan setengah paksa.
“Untuk apa kita ke sini?“ tanyaku.
“Nanti kau akan tahu!” katanya masih dengan wajah yang kaku.
Di lobby villa yang megah itu, beberapa pegawai menunduk hormat pada Beib.
Kemudian ia mengajakku masuk ke ruangan khusus ber-AC yang sangat dingin. Di
sana sudah menunggu Papa dan Mamanya, dan juga...Marly Sutoyo sang kakak
bersama seorang gadis cantik, berkulit kuning langsat, tinggi semampai, di
mataku ia terlihat sangat cantik. Beib memperkenalkan aku pada semuanya.
“Perkenalkan,Papa dan Mama juga Kak Marly sudah tahu siapa dia. Jennifer,
kau pasti belum mengenalnya. Namanya Naina, dia kekasihku. Kami akan
bertunangan Minggu depan. Papa dan Mama sudah setuju. Ya kan Pa, Ma?” Beib memandang orangtuanya.
Mereka saling pandang, tak ada senyum di wajah mereka. Sedang Marly dan
Jennifer memandangku penuh rasa jijik, mereka bagai melihat gelandangan dengan penampilan compang-camping yang dibawa adik mereka.
“Pengemis dari mana yang kau bawa kemari? Kau mau bertunangan dengannya?
__ADS_1
Ingat Beib, kita berbeda dengan perempuan ini. Dia hanya jurnalis kere yang
memikatmu dengan kemasan kesederhanaan agar kau jatuh hati padanya. Aku sudah
menduga, ketika kau pertamakali diwawancarai olehnya, dia sedang menebarkan
daya pikatnya padamu dan matamu tertutup oleh semua yang ditampilkannya.
Percayalah padaku, dia hanya ingin menjebakmu.” Marly berbicara dengan suara
lantang.
Kedua orangtua Beib tidak memberi respon. Sikap mereka agak berbeda kala
pertamakali bertemu denganku di apartemen putra mereka. Aku menduga, Marly telah menceritakan kisah
tentangku pada Mama dan Papa Beib. Perempuan cantik anggun dengan penampilan
elegan dan mewah itu, tentunya sudah menyebar mata-matanya hingga ia tahu
bagaimana keadaan keluargaku.
“Mama, Papa, kalian mau berbesanan dengan keluarga miskin yang punya anak
sakit jiwa? Nanti apa yang akan dikatakan masyarakat luas tentang kalian,
apakah...”
“Cukup Kak Marly! Cukup! Jangan kau perlihatkan kesombonganmu sebagai
manusia di depan kami. Kalau aku mau, aku bisa saja menceritakan siapa kau
sesungguhnya!” bentak Beib dengan suara keras.
“Apa? Apa yang akan kau ceritakan? Ayo katakan saja!” Marly mendongakkan wajahnya
dengan sikap menantang, keramahan yang pernah kulihat dulu saat menyambut aku
“Sudah, sudah, jangan diperjang lagi!” tiba-tiba Papa Beib buka suara. “Ini
bukan ajang untuk saling bertengkar. Nona Naina, benar apa yang dikatakan
Marly, benarkah adikmu ada yang sakit jiwa?”
Rasanya aku ingin mengeluarkan semua sumpah serapahku pada mereka. Namun
tangan Beib memegangku dengan kuat. Ketika Marly kembali mengejekku, aku sudah
tidak tahan lagi. “Saya berasal dari keluarga miskin Pak Utomo. Meski miskin,
kami hidup merdeka dengan tidak meminta-minta pada siapa pun. Saya dan
adik-adik memperoleh beasiswa sejak SD hingga kuliah. Adik saya ada yang
menjadi dosen dan dia juga lulusan S2 Amerika dengan beasiswa. Ya benar, ada
adik saya yang terganggu mentalnya akan tetapi dia tidak gila, dia terlalu
jenius hingga otaknya tidak kuat menerima kenyataan yang ada, dia pernah menari
Bali ke Prancis bersama kelompok tari terkenal. Kami menjalani kehidupan dengan
kemerdekaan penuh, kemerdekaan sebagai manusia seutuhnya dengan tidak meminta
atau memberatkan orang lain. Saya bekerja keras sejak kecil untuk membantu
orangtua, apa pun saya kerjakan asal itu halal. Saya bukan pengemis atau
gelandangan yang diajak ke sini oleh putra Bapak.” Kataku dengan tekanan suara
__ADS_1
yang tegas.
“Lalu, mengapa kau bisa menyukai anakku?” tanya sang Mama, Ibu Utomo.
Meski Beib menekan tanganku dengan keras, aku kembali menyampaikan semua
kisah yang terjadi di antara kami. “Saya menyukai puisi, Bintang yang saya
kenal di Facebook, sering mengirimi saya puisi. Ketika saya menyukai sosoknya,
saya tidak pernah menduga kalau Bintang adalah Beib. Saya tidak pernah berpikir
kalau ia anak konglomerat yang kaya raya, saya hanya menyukai seorang penyair
dengan puisi-puisinya yang indah penuh naluri
kemanusiaan yang tersirat di puisi-puisi itu. Jika kejadiannya sampai seperti
ini, saya siap mundur dari kehidupan kalian semua.”
“Tidak bisa, jika sampai kau pergi dariku, maka aku akan mati bunuh diri.
Aku tidak main-main. Puisi, kau dan pengusaha adalah tiga bagian yang menjadi
satu di kehidupanku. Jika salah satunya dipisahkan, maka tak ada artinya
hidupku ini. Dan kau Kak Marly, kau jangan sembarangan menuduh Naina ingin
mengambil harta yang Papa dan Mama miliki, dia bukan perempuan seperti itu,
perempuan yang hanya bisa bersolek, memoles penampilan dengan uang orangtua,
bergaya mewah tapi bukan dari penghasilannya sendiri. Naina adalah perempuan
perkasa yang menghidupi kehidupannya sendiri dan juga orangtua serta adiknya.
Dia tidak meminta-minta pada siapa pun.”
“Apa kau bilang? Itu berarti kau menuduh aku dan Jennifer perempuan yang
hanya bisa menghabiskan harta keluarga? Ingat adikku, dia memiliki keturunan
sakit jiwa dan itu menurun. Nanti anak-anakmu pun akan ada yang sakit jiwa!”
“Stop! Apa Kakak punya sejarah kehidupan yang lebih baik? Ingat, Kakak
diambil dari panti asuhan, dan mengingat latar belakang Kakak, sadarlah bahwa
manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, Kakak jangan sombong...!”
Ucapan Beib membuat semua yang mendengarnya terdiam. Marly tampak
terbengong-bengong, kedua orangtua Beib juga tidak dapat berbicara, suasana
sunyi bagai tersihir oleh pembukaan rahasia yang barusan diucapkan Beib.
“Seharusnya jangan kau ucapkan itu, anakku...” Mama Beib menangis terisak.
Sang suami memegang pundak istrinya dengan penuh rasa sedih.
“Maafkan, saya yang menyebabkan semua ini terjadi. Saya mohon pamit,”
ucapku akhirnya.
Beib mengantarkan aku hingga ke tempat kostku. Sebelum aku masuk kukatakan
padanya, “Sebaiknya pertunangan ini tidak usah dilanjutkan. Sudah kukatakan
sebelumnya, aku tidak cocok untukmu.” Pintu kamar kost kututup, dan aku
__ADS_1
menangis hingga malam menutup hari. (Bersambung)