
Bagian Keduabel**as**
Cinta Sang Penyair
Ketika aku tersadar dari pingsan, aku mendapatkan tubuhku ada di sebuah pembaringan di
sebuah rumah sakit yang tidak kutahu namanya. Tanpa sadar aku menoleh ke sisi
kanan, aku terkejut. Tadinya samar-samar aku merasa ada seorang lelaki yang
duduk di tepi pembaringanku. Setelah kesadaranku pulih dan mataku bisa melihat
dengan jelas, Pak Beib duduk sembari memegang tanganku. Reflek segera kutarik pergelangan
tanganku.
“Loh, mengapa saya ada di sini, Pak?
Ada apa dengan saya?” tanyaku dengan kepala yang masih terasa pusing.
“Tadi kamu pingsan di kantor Naina.
Dokter bilang maagmu tidak bagus. Lambungmu luka. Kata dokter kamu sering makan
mie instant. Mengapa kamu tidak memperhatikan kesehatanmu?”
Tubuhku sangat lemas. Pertanyaan Pak Beib membuat aku ingin menangis, tapi kutahan. Mengapa aku terkena maag, tidak
memperhatikan kesehatan dan selalu makan mie instant? Haruskah kututurkan kalau
hampir seluruh gajiku kukirim pada ibu dan ayah, juga adikku agar mereka bisa
membayar listrik, air dan tidak kelaparan? Aku bukan tipe jurnalis yang pandai
mencari obyekan di luar dari pekerjaanku. Beberapakali memang tawaran untuk
menjadi model dan bintang sinetron datang, tapi kutolak. Ada idealisme bahwa suatu saat aku akan
menjadi wartawati yang berkualitas, yang memakai otaknya untuk berkreasi, bukan
melalui kecantikan dan tubuh indah semata. Dan seperti yang sudah kututurkan
sebelumnya, aku bertahan untuk puasa jika uang gajiku sudah menipis dan habis.
Biarlah ibu, bapak dan adikku tidak kelaparan, tidak susah, biarlah aku yang
merasakannya. Mengingat itu, tanpa kusadari air mataku menetes.
“Pak Beib, tolong lepaskan tangan
saya. Perut saya sakit sekali...” Kataku lemah. Derai air mata membasahi
pipiku.
“Oh Baik Naina. Aku panggil perawat,
ya!” ucapnya cepat.
“Tak usah, Pak, mungkin obatnya sedang bekerja. Bapak pulang saja, pekerjaan Bapak masih banyak...” ucapku
terbata-bata.
“Jangan bersikap resmi begitu Naina.
__ADS_1
Sudah kukatakan berkali-kali jangan panggil aku Bapak. Panggil Beib saja.”
katanya masih memegang tanganku.
“Pak, jangan marah. Duh perut saya
sakit sekali.” Ucapku sambil menahan rasa sakit yang amat di sekitar perutku.
Pak Beib terlihat panik. Kemudian ia
memencet tombol yang ada diatas kepalaku. “Tolong suster, Nona Naina
kesakitan...” ucapnya dengan nada cemas.
Aku menitikkan air mata, menahan
rasa sakit. “Jika...jika...saya tiada, tolong cari nama Reina di Handphone
saya. Dia Ibu saya, tolong kabarkan tentang keadaan saya...” ucapku lemah.
Aku tak tahu apa yang terjadi kemudian, ada tubuh hangat memelukku dengan kuat, setelah itu kehebohan
terjadi. Dan lamat-lamat kudengar Pak Beib berkata sembari menepuk-nepuk
pipiku. “Naina sayang...Naina sayang...jangan pergi, jangan pingsan...ayo buka
matamu Naina...”
Seminggu setelah itu, kabar yang kutahu dari Mas Heri dan teman-teman, aku telah dioperasi. Beberapa senti meter ususku dipotong karena infeksi dan membusuk. Beruntung aku terbebas dari kanker usus mematikan. Selama seminggu ada kisah yang kemudian kutahu dari Ace. Pak Beib sosok yang sangat khawatir
dengan keadaanku. Dialah yang membiayai operasi ususku, dan setiap hari dia
yang selalu ada di sampingku. Ace tahu itu.
“Cik, sepertinya Pak Beib takut sekali kehilangan Encik. Kayaknya dia jatuh cinta sama Encik...” ucap Ace,
“Tidak. Tidak boleh. Aku tidak mau dia mencintaiku, Ce. Aku tidak cocok
dengannya. Kita antara tanah dan langit. Aku tanah yang penuh lumpur dan debu.
Tapi dia mahluk sempurna dengan keberadaannya. Aku tidak mau dia mencintaiku.
Nanti akan ada penderitaan dan masalah yang sangat besar Ace. Sungguh.” Ucapku dengan
pelupuk mata yang berair.
“Ini bukan masalah tanah dan langit.
Tapi ini tentang cinta. Encik tidak bisa menolaknya kalau Tuhan sudah
berkehendak.” Kata Ace lagi.
Aku terdiam cukup lama. Tak lama pintu terbuka, Mas Heri dan hampir seluru teman jurnalisku datang membesuk.
“Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa melihat tulisan yang turun Minggu ini.” Kataku ketika Mas Heri memegang tangan dan mengusap keningku. Aku menganggap Mas Heri seperti abang kandungku sendiri.
Ia juga bagai pengganti orangtua yang jauh dariku. Dan Mas Heri tahu itu.
“Jangan dipikirkan Naina. Semua sudah beres. Kami tak mau kau tambah sakit memikirkan pekerjaan. Sudahlah, yang penting kau benar-benar sehat dulu, nanti baru kita berkumpul lagi, ya adikku?”
“Terima kasih, Mas...” ucapku masih dengan suara lemah.
Teman-teman menghiburku dengan cerita-cerita mereka yang lucu selama liputan. Hanya Ace yang sesekali ikut tertawa. Aku tahu apa yang dirasakannya. Ace memiliki insting yang kuat tentang
__ADS_1
perasaan seseorang. Aku ingat ketika seorang cameramen televisi swasta
menyukaiku, Ace yang mengatakannya. Meski lelaki yang enggan kusebutkan namanya
itu sangat menyintaiku, aku tetap menolak cintanya. Alasan klise yang selalu
sama tak ingin kusampaikan padanya.
“Kenapa Encik gak mau sama cameramen
itu? Sekarang dia sudah jadi produser loh, dan kabarnya sudah punya Production
House sendiri.” Ucap Ace.
“Mungkin selamanya gue tidak akan
menikah, Ce,” jawabku.
“Kenapa?”
Akhirnya kuceritakan semua rahasia kehidupanku. “Orang tua dari para lelaki yang menyukai gue pastinya akan berpikir ulang apabila mereka akan memiliki menantu seperti gue. Kata ‘gila’
itu sangat menyakitkan Ce.Ya pada awal-awalnya masih terlihat baik-baik saja,
tapi setelah berjalan beberapa tahun, sifat asli akan terkuak. Kalau cowok yang
jadi suami gue marah dan kesal, keberadaan adik gue pasti akan
diungkit-ungkitnya. Gue gak mau hidup gue tambah menderita lagi dengan keadaan
seperti itu.” ucapku.
Kini di dekat pembaringanku Ace berdiri termenung. Ketika para sahabatku dan Mas Heri kembali ke kantor, Ace mendekatiku. “Cik, kayaknya Pak Beib gak seperti yang Encik pikirin deh. Gue rasa,
karena dia cinta sama Encik, maka dia bersedia memberikan segalanya. Buktinya,
di tengah persaingan media massa dengan media online lagi gencar-gencarnya, Pak
Beib bersedia untuk mendanai tabloid anak itu. Menurut saya sih, itu semua dia
lakukan karena dia cinta sama Encik. Buktinya Encik yang disuruh jadi
Pemrednya.”
“Emang elu tau dari mana, Ce?” tanyaku.
“Gue tahu ketika kita wawancara dia
pertama kalinya. Matanya gak pernah lepas dari Encik. Sampai dia memakaikan
Encik baju hangat karena kedinginan. Dari sikapnya, dia sudah jatuh cinta sama
Encik. Bener.”
Aku tidak membalas ucapan Ace,
fotografer yang selalu bersamaku saat liputan. Ketika Pak Beib datang di sore
hari itu menjengukku, Ace siap-siap untuk pamit. Perasaan aneh mulai menjalari
diriku. Entah mengapa, aku rindu pada puisi-puisi si Bintang Kejora. Oh, apakah
yang sudah terjadi padaku? Siapakah yang kusukai, Bintang Kejora atau Pak Beib?
__ADS_1
Dalam keadaan perutku yang perih akibat bekas jahitan operasi, rasa bimbang itu
kian merajam hatiku (Bersambung)