Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 12


__ADS_3

Bagian Keduabel**as**


Cinta Sang Penyair


            Ketika aku tersadar dari pingsan, aku mendapatkan tubuhku ada di sebuah pembaringan di


sebuah rumah sakit yang tidak kutahu  namanya. Tanpa sadar aku menoleh ke sisi


kanan, aku terkejut. Tadinya samar-samar aku merasa ada seorang lelaki yang


duduk di tepi pembaringanku. Setelah kesadaranku pulih dan mataku bisa melihat


dengan jelas, Pak Beib duduk sembari memegang tanganku. Reflek segera kutarik pergelangan


tanganku.


            “Loh, mengapa saya ada di sini, Pak?


Ada apa dengan saya?” tanyaku dengan kepala yang masih terasa pusing.


            “Tadi kamu pingsan di kantor Naina.


Dokter bilang maagmu tidak bagus. Lambungmu luka. Kata dokter kamu sering makan


mie instant. Mengapa kamu tidak memperhatikan kesehatanmu?”


            Tubuhku sangat lemas. Pertanyaan Pak Beib membuat aku ingin menangis, tapi kutahan. Mengapa aku terkena maag, tidak


memperhatikan kesehatan dan selalu makan mie instant? Haruskah kututurkan kalau


hampir seluruh gajiku kukirim pada ibu dan ayah, juga adikku agar mereka bisa


membayar listrik, air dan tidak kelaparan? Aku bukan tipe jurnalis yang pandai


mencari obyekan di luar dari pekerjaanku. Beberapakali memang tawaran untuk


menjadi model dan bintang sinetron datang, tapi kutolak.  Ada idealisme bahwa suatu saat aku akan


menjadi wartawati yang berkualitas, yang memakai otaknya untuk berkreasi, bukan


melalui kecantikan dan tubuh indah semata. Dan seperti yang sudah kututurkan


sebelumnya, aku bertahan untuk puasa jika uang gajiku sudah menipis dan habis.


Biarlah ibu, bapak dan adikku tidak kelaparan, tidak susah, biarlah aku yang


merasakannya. Mengingat itu, tanpa kusadari air mataku menetes.


            “Pak Beib, tolong lepaskan tangan


saya. Perut saya sakit sekali...” Kataku lemah. Derai air mata membasahi


pipiku.


            “Oh Baik Naina. Aku panggil perawat,


ya!” ucapnya cepat.


            “Tak usah, Pak, mungkin obatnya sedang bekerja. Bapak pulang saja, pekerjaan Bapak masih banyak...” ucapku


terbata-bata.


            “Jangan bersikap resmi begitu Naina.

__ADS_1


Sudah kukatakan berkali-kali jangan panggil aku Bapak. Panggil Beib saja.”


katanya masih memegang tanganku.


            “Pak, jangan marah. Duh perut saya


sakit sekali.” Ucapku sambil menahan rasa sakit yang amat di sekitar perutku.


            Pak Beib terlihat panik. Kemudian ia


memencet tombol yang ada diatas kepalaku. “Tolong suster, Nona Naina


kesakitan...” ucapnya dengan nada cemas.


            Aku menitikkan air mata, menahan


rasa sakit. “Jika...jika...saya tiada, tolong cari nama Reina di Handphone


saya. Dia Ibu saya, tolong kabarkan tentang keadaan saya...” ucapku lemah.


            Aku tak tahu apa yang terjadi kemudian, ada tubuh hangat memelukku dengan kuat, setelah itu kehebohan


terjadi. Dan lamat-lamat kudengar Pak Beib berkata sembari menepuk-nepuk


pipiku. “Naina sayang...Naina sayang...jangan pergi, jangan pingsan...ayo buka


matamu Naina...”


            Seminggu setelah itu, kabar yang kutahu dari Mas Heri dan teman-teman, aku telah dioperasi. Beberapa senti meter ususku dipotong karena infeksi dan membusuk. Beruntung aku terbebas  dari kanker usus mematikan. Selama seminggu ada kisah yang kemudian kutahu dari Ace. Pak Beib sosok yang sangat khawatir


dengan keadaanku. Dialah yang membiayai operasi ususku, dan setiap hari dia


yang selalu ada di sampingku. Ace tahu itu.


            “Cik, sepertinya Pak Beib takut sekali kehilangan Encik. Kayaknya dia jatuh cinta sama Encik...” ucap Ace,


            “Tidak. Tidak boleh. Aku tidak mau dia mencintaiku, Ce.  Aku tidak cocok


dengannya. Kita antara tanah dan langit. Aku tanah yang penuh lumpur dan debu.


Tapi dia mahluk sempurna dengan keberadaannya. Aku tidak mau dia mencintaiku.


Nanti akan ada penderitaan dan masalah yang sangat besar Ace. Sungguh.” Ucapku dengan


pelupuk mata yang berair.


            “Ini bukan masalah tanah dan langit.


Tapi ini tentang cinta. Encik tidak bisa menolaknya kalau Tuhan sudah


berkehendak.” Kata Ace lagi.


            Aku terdiam cukup lama. Tak lama pintu terbuka, Mas Heri dan hampir seluru teman jurnalisku datang membesuk.


            “Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa melihat tulisan yang turun Minggu ini.” Kataku ketika Mas Heri memegang tangan dan mengusap keningku. Aku menganggap Mas Heri seperti abang kandungku sendiri.


Ia juga bagai pengganti orangtua yang jauh dariku. Dan Mas Heri tahu itu.


            “Jangan dipikirkan Naina. Semua sudah beres. Kami tak mau kau tambah sakit memikirkan pekerjaan. Sudahlah, yang penting kau benar-benar sehat dulu, nanti baru kita berkumpul lagi, ya adikku?”


            “Terima kasih, Mas...” ucapku masih dengan suara lemah.


            Teman-teman menghiburku dengan cerita-cerita mereka yang lucu selama liputan. Hanya Ace yang sesekali ikut tertawa. Aku tahu apa yang dirasakannya. Ace memiliki insting yang kuat tentang

__ADS_1


perasaan seseorang. Aku ingat ketika seorang cameramen televisi swasta


menyukaiku, Ace yang mengatakannya. Meski lelaki yang enggan kusebutkan namanya


itu sangat menyintaiku, aku tetap menolak cintanya. Alasan klise yang selalu


sama tak ingin kusampaikan padanya.


            “Kenapa Encik gak mau sama cameramen


itu? Sekarang dia sudah jadi produser loh, dan kabarnya sudah punya Production


House sendiri.” Ucap Ace.


            “Mungkin selamanya gue tidak akan


menikah, Ce,” jawabku.


            “Kenapa?”


            Akhirnya kuceritakan semua rahasia kehidupanku. “Orang tua dari para lelaki yang menyukai gue pastinya akan berpikir ulang apabila mereka akan memiliki menantu seperti gue. Kata ‘gila’


itu sangat menyakitkan Ce.Ya pada awal-awalnya masih terlihat baik-baik saja,


tapi setelah berjalan beberapa tahun, sifat asli akan terkuak. Kalau cowok yang


jadi suami gue marah dan kesal, keberadaan adik gue pasti akan


diungkit-ungkitnya. Gue gak mau hidup gue tambah menderita lagi dengan keadaan


seperti itu.” ucapku.


    Kini di dekat pembaringanku Ace berdiri termenung. Ketika para sahabatku dan Mas Heri kembali ke kantor, Ace mendekatiku. “Cik, kayaknya Pak Beib gak seperti yang Encik pikirin deh. Gue rasa,


karena dia cinta sama Encik, maka dia bersedia memberikan segalanya. Buktinya,


di tengah persaingan media massa dengan media online lagi gencar-gencarnya, Pak


Beib bersedia untuk mendanai tabloid anak itu. Menurut saya sih, itu semua dia


lakukan karena dia cinta sama Encik. Buktinya Encik yang disuruh jadi


Pemrednya.”


            “Emang elu tau dari mana, Ce?” tanyaku.


            “Gue tahu ketika kita wawancara dia


pertama kalinya. Matanya gak pernah lepas dari Encik. Sampai dia memakaikan


Encik baju hangat karena kedinginan. Dari sikapnya, dia sudah jatuh cinta sama


Encik. Bener.”


            Aku tidak membalas ucapan Ace,


fotografer yang selalu bersamaku saat liputan. Ketika Pak Beib datang di sore


hari itu menjengukku, Ace siap-siap untuk pamit. Perasaan aneh mulai menjalari


diriku. Entah mengapa, aku rindu pada puisi-puisi si Bintang Kejora. Oh, apakah


yang sudah terjadi padaku? Siapakah yang kusukai, Bintang Kejora atau Pak Beib?

__ADS_1


Dalam keadaan perutku yang perih akibat bekas jahitan operasi, rasa bimbang itu


kian merajam hatiku  (Bersambung)


__ADS_2