Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 7


__ADS_3

 


 


Bagian Ketujuh


 


Cinta Sang Penyair


 


 


 Pengukuhanmitu akhirnya terjadi. Aku telah dibaptis menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Anak


yang diberi nama Galaksi. Entah apa makna dari nama itu, yang memberinya Hamid


Utomo alias Beib sang penyandang dana. Dengan pengukuhan ini, otomatis aku


harus meninggalkan tabloid dewasa yang selama ini menjadi tempat aku menjaring


ilmu dan mengekspresikan apa yang kurasa dan kualami ke dalam bentuk tulisan.


Di tabloid dewasa itu, aku yang semula menjadi diriku sendiri dan sama seperti


apa yang aku cita-citakan sejak masa remajaku, kini harus kukubur rasa bahagia


dan jati diriku.


            Menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Anak-Anak, aku bagai berada di jalan panjang yang tak


berujung. Kadang aku merasa linglung harus bagaimana bertindak, sementara aku


sendiri belum punya pengalaman dengan anak-anak. Seperti yang sudah kututurkan,


jika aku menolak maka banyak teman yang akan kehilangan mata pencaharian. Sebab


di dunia media massa, persaingan itu cepat dan ganas. Dan dengan adanya investor


pada tabloid anak-anak, maka dia bisa menjadi pembantu jika tabloid dewasa


mengalami kemunduran atau oplag turun. Menurut Mas Heri Pemimpin Redaksiku,


pangsa pasar untuk tabloid anak bagus dan yang disasar bukan pembaca anak saja,


akan tetapi juga orangtua mereka, itu berarti harus ada keterikatan antara


orangtua, anak-anak pada tabloid yang akan kupimpin. Itu artinya, di dalam


rubrikasi nanti, harus ada metode pembelajaran yang membantu para pembaca


anak-anak di dalam belajar. Dengan demikian, aku harus paham pula tentang


kurikulum anak-anak usia kelas satu SD hingga kelas enam. Antara kesal, sedih


dan memikul tanggungjawab yang ada di pundakku, aku menangis diam-diam di kamar


kostku. Kali ini, aku membaca surat ibuku, mengabarkan kalau adikku yang sakit


skizofrenia itu kini harus berobat sebulan dua kali ke rumah sakit jiwa. Ayahku


yang manula, sudah letih bila harus naik turun angkot untuk mengantar adikku.


Ibu bilang, jika aku punya dana lebih, ia aku  membelikan ayah motor bekas agar ia tidak


letih naik turun angkutan kota. “Maafkan Ibu Nak, karena kami selama ini selalu


memberatkanmu. Kami tidak berani minta ke adikmu yang dosen itu, istrinya baru


melahirkan. Tanggungjawab untuk keluarganya sangat besar. Karena kau belum


menikah, maka Ibu memberanikan diri meminta bantuan padamu.” Kata ibu di

__ADS_1


suratnya.


            Membaca surat ibu, aku tercenung. Ingin kuceritakan padanya kalau aku menjadi mahluk


yang super irit di Ibu Kota ini. Aku jarang membeli baju baru, sepatuku pun


solnya sudah mulai robek dan aku kerap kedinginan bila tidak memakai kaos kaki


di kantor. Hampir sepertiga gajiku kuberikan pada ibu. Sisanya aku sangat


menghemat. Bahkan di lemari dapurku, selalu kupenuhi dengan mie instant, agar


bila aku lapar dan kehabisan uang, masih ada makanan dengan pelezat buatan itu


untuk mengganjal perutku. Bagiku yang penting ibu dan Bapak serta adikku yang


sakit bisa makan dan tidak kelaparan, itu sudah membahagian hatiku yang


terdalam. Kini, ibu meminta aku membelikan bapak motor bekas agar ia tidak


berjalan kaki kala mengajak adikku berobat ke rumah sakit jiwa. Rasa sedih itu


bagai mengikis ruang terdalam di dadaku. Aku tidak memiliki uang lebih, bahkan


tabunganku pun saldonya nol. Dibarengi dengan situasi kantor yang menuntutku untuk


memberikan ide-ide cemerlang agar oplag Tabloid Anak-Anak ini melambung tinggi,


beban itu bagai hendak menindih tubuhku hingga gepeng.


            Ini semua salah si Beib alias Hamid Utomo, taipan keparat itu! Dengusku kesal di


dalam hati. Tapi aku harus bagaimana? Semua yang ada di kantorku, sekarang


berpaling kepadaku dengan tatapan penuh harap. Persaingan dengan media online


bukan lagi persaingan yang berupa HOAX semata, tapi ini nyata. Satu-persatu


media mainstream gulung tikar. Dan banyak pengangguran di bidang jurnalistik


itu terjadi juga di tempat aku bekerja? Tanya itu membuat butiran air mata


melarung perlahan di pipiku. Aku merasa sunyi.


            Kawan,


            Jika ada


            duka yang ingin kusampaikan


            Haruskah


            itu kukatakan padamu?


            Aku menyimpan puluhan pedih dari situasi yang ada


           Semua berakumulasi dengan serangan balik


            yang membuat   dadaku sakit


            Tapi aku malu untuk berbagi


           Tak ingin


            derita ini kulimpahkan pada sesiapa


            Biar...biarlah ia membebani pundak


            Dan menjadi


            cerita kala sunyi datang lamat...lamat


             Sungguh aku sedih sekali...

__ADS_1


            Aku,


            teman yang sering kau kirimi puisi


            Maaf...


            Tanpa sengaja, kutulis curahan hatiku di messanger Fb-ku. Aku yakin Bintang pasti


membacanya. Sebenarnya aku malu. Tapi aku merasa tak sanggup harus menanggung


semua ini sendirian. Jujur, saat ini aku tak punya teman untuk berbagi. Aku


bagai merasa sendirian di dunia ini. Sebenarnya aku malu jika harus mengeluh


pada orang yang tak kukenal, orang yang sosoknya pun tak pernah kulihat. Tapi


untuk beberapa waktu lamanya, kuanggap dia telah menjadi sahabat baruku. Meski


hanya puisi dan satu atau dua kalimat yang ia ucapkan, diam-diam aku mulai


menyimak kalau Bintang sosok yang tulus, dia tampaknya bukan laki-laki penjerat


wanita yang memanfaatkan Facebook sebagai ladang untuk mencari keuntungan. Mudah-mudahan


penilaianku tentangnya tidak salah.


            “Hi, ada apakah dear?” tanyanya cepat.


            Aku berdebar. “Ah tidak, aku hanya ingin membuat puisi melankolik saja. Tapi kurasa


ini bukan puisi, ya?” jawabku sembari memberi emoticon gambar tertawa lucu.


            “Jangan berbohong. Aku bisa menerawangmu dari sini. Aku bisa melihat air mata yang


mengalir di pipimu. Please honey, ceritakan, jangan buat aku cemas. Well,


berikan nomor WA-mu, segera kutelpon kau...” katanya lagi. Ada gambar tangan


penuh permohonan yang ia perlihatkan.


            Aku diam sejenak. Kalimat-kalimatnya yang menunjukkan kalau ia sudah lama mengenal


diriku dan memperlihatkan kalau aku dan dia seolah-olah pernah bertemu,


membuatku jadi semakin hanyut pada perasaanku sendiri. Aku semakin sedih.


    “Naina, tolong nomor WA-mu. Aku mengkhawatirkanmu, sungguh!” dia menulis lagi di


messangerku.


    Air mata kian membasahi pipiku. Aku yang tegar, kini benar-benar terpuruk. Meski


demikian, nalarku masih jalan. Aku tetap waspada, tak mau ada orang yang


memanfaatkan kepedihanku.


            “Naina, jangan berpikir yang bukan-bukan tentang aku. Aku bukan lelaki pecundang yang


menjebak perempuan-perempuan muda sepertimu. Sungguh. Kalau boleh jujur, aku


sudah lama mengikuti wall-mu, apa saja kegiatanmu dan segala hal yang


sekecil-kecilnya tentangmu. Aku ingin masuk ke kehidupanmu. Kau yang tegar dan


kuat, selalu kukagumi apa saja yang kau lakukan. Aku tahu apa yang terjadi


padamu. Ayo Naina, berikan nomor WA-mu, sekali lagi, please...kumohon...”


            Aku terkejut. “kau tahu tentang aku, termasuk adikku?” tanyaku.


            “Semuanya. Aku tahu tentangmu. Percayalah, aku tidak akan menjebakmu!” (Bersambung)


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2