
Bagian Ketujuh
Cinta Sang Penyair
Pengukuhanmitu akhirnya terjadi. Aku telah dibaptis menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Anak
yang diberi nama Galaksi. Entah apa makna dari nama itu, yang memberinya Hamid
Utomo alias Beib sang penyandang dana. Dengan pengukuhan ini, otomatis aku
harus meninggalkan tabloid dewasa yang selama ini menjadi tempat aku menjaring
ilmu dan mengekspresikan apa yang kurasa dan kualami ke dalam bentuk tulisan.
Di tabloid dewasa itu, aku yang semula menjadi diriku sendiri dan sama seperti
apa yang aku cita-citakan sejak masa remajaku, kini harus kukubur rasa bahagia
dan jati diriku.
Menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid Anak-Anak, aku bagai berada di jalan panjang yang tak
berujung. Kadang aku merasa linglung harus bagaimana bertindak, sementara aku
sendiri belum punya pengalaman dengan anak-anak. Seperti yang sudah kututurkan,
jika aku menolak maka banyak teman yang akan kehilangan mata pencaharian. Sebab
di dunia media massa, persaingan itu cepat dan ganas. Dan dengan adanya investor
pada tabloid anak-anak, maka dia bisa menjadi pembantu jika tabloid dewasa
mengalami kemunduran atau oplag turun. Menurut Mas Heri Pemimpin Redaksiku,
pangsa pasar untuk tabloid anak bagus dan yang disasar bukan pembaca anak saja,
akan tetapi juga orangtua mereka, itu berarti harus ada keterikatan antara
orangtua, anak-anak pada tabloid yang akan kupimpin. Itu artinya, di dalam
rubrikasi nanti, harus ada metode pembelajaran yang membantu para pembaca
anak-anak di dalam belajar. Dengan demikian, aku harus paham pula tentang
kurikulum anak-anak usia kelas satu SD hingga kelas enam. Antara kesal, sedih
dan memikul tanggungjawab yang ada di pundakku, aku menangis diam-diam di kamar
kostku. Kali ini, aku membaca surat ibuku, mengabarkan kalau adikku yang sakit
skizofrenia itu kini harus berobat sebulan dua kali ke rumah sakit jiwa. Ayahku
yang manula, sudah letih bila harus naik turun angkot untuk mengantar adikku.
Ibu bilang, jika aku punya dana lebih, ia aku membelikan ayah motor bekas agar ia tidak
letih naik turun angkutan kota. “Maafkan Ibu Nak, karena kami selama ini selalu
memberatkanmu. Kami tidak berani minta ke adikmu yang dosen itu, istrinya baru
melahirkan. Tanggungjawab untuk keluarganya sangat besar. Karena kau belum
menikah, maka Ibu memberanikan diri meminta bantuan padamu.” Kata ibu di
__ADS_1
suratnya.
Membaca surat ibu, aku tercenung. Ingin kuceritakan padanya kalau aku menjadi mahluk
yang super irit di Ibu Kota ini. Aku jarang membeli baju baru, sepatuku pun
solnya sudah mulai robek dan aku kerap kedinginan bila tidak memakai kaos kaki
di kantor. Hampir sepertiga gajiku kuberikan pada ibu. Sisanya aku sangat
menghemat. Bahkan di lemari dapurku, selalu kupenuhi dengan mie instant, agar
bila aku lapar dan kehabisan uang, masih ada makanan dengan pelezat buatan itu
untuk mengganjal perutku. Bagiku yang penting ibu dan Bapak serta adikku yang
sakit bisa makan dan tidak kelaparan, itu sudah membahagian hatiku yang
terdalam. Kini, ibu meminta aku membelikan bapak motor bekas agar ia tidak
berjalan kaki kala mengajak adikku berobat ke rumah sakit jiwa. Rasa sedih itu
bagai mengikis ruang terdalam di dadaku. Aku tidak memiliki uang lebih, bahkan
tabunganku pun saldonya nol. Dibarengi dengan situasi kantor yang menuntutku untuk
memberikan ide-ide cemerlang agar oplag Tabloid Anak-Anak ini melambung tinggi,
beban itu bagai hendak menindih tubuhku hingga gepeng.
Ini semua salah si Beib alias Hamid Utomo, taipan keparat itu! Dengusku kesal di
dalam hati. Tapi aku harus bagaimana? Semua yang ada di kantorku, sekarang
berpaling kepadaku dengan tatapan penuh harap. Persaingan dengan media online
bukan lagi persaingan yang berupa HOAX semata, tapi ini nyata. Satu-persatu
media mainstream gulung tikar. Dan banyak pengangguran di bidang jurnalistik
itu terjadi juga di tempat aku bekerja? Tanya itu membuat butiran air mata
melarung perlahan di pipiku. Aku merasa sunyi.
Kawan,
Jika ada
duka yang ingin kusampaikan
Haruskah
itu kukatakan padamu?
Aku menyimpan puluhan pedih dari situasi yang ada
Semua berakumulasi dengan serangan balik
yang membuat dadaku sakit
Tapi aku malu untuk berbagi
Tak ingin
derita ini kulimpahkan pada sesiapa
Biar...biarlah ia membebani pundak
Dan menjadi
cerita kala sunyi datang lamat...lamat
Sungguh aku sedih sekali...
__ADS_1
Aku,
teman yang sering kau kirimi puisi
Maaf...
Tanpa sengaja, kutulis curahan hatiku di messanger Fb-ku. Aku yakin Bintang pasti
membacanya. Sebenarnya aku malu. Tapi aku merasa tak sanggup harus menanggung
semua ini sendirian. Jujur, saat ini aku tak punya teman untuk berbagi. Aku
bagai merasa sendirian di dunia ini. Sebenarnya aku malu jika harus mengeluh
pada orang yang tak kukenal, orang yang sosoknya pun tak pernah kulihat. Tapi
untuk beberapa waktu lamanya, kuanggap dia telah menjadi sahabat baruku. Meski
hanya puisi dan satu atau dua kalimat yang ia ucapkan, diam-diam aku mulai
menyimak kalau Bintang sosok yang tulus, dia tampaknya bukan laki-laki penjerat
wanita yang memanfaatkan Facebook sebagai ladang untuk mencari keuntungan. Mudah-mudahan
penilaianku tentangnya tidak salah.
“Hi, ada apakah dear?” tanyanya cepat.
Aku berdebar. “Ah tidak, aku hanya ingin membuat puisi melankolik saja. Tapi kurasa
ini bukan puisi, ya?” jawabku sembari memberi emoticon gambar tertawa lucu.
“Jangan berbohong. Aku bisa menerawangmu dari sini. Aku bisa melihat air mata yang
mengalir di pipimu. Please honey, ceritakan, jangan buat aku cemas. Well,
berikan nomor WA-mu, segera kutelpon kau...” katanya lagi. Ada gambar tangan
penuh permohonan yang ia perlihatkan.
Aku diam sejenak. Kalimat-kalimatnya yang menunjukkan kalau ia sudah lama mengenal
diriku dan memperlihatkan kalau aku dan dia seolah-olah pernah bertemu,
membuatku jadi semakin hanyut pada perasaanku sendiri. Aku semakin sedih.
“Naina, tolong nomor WA-mu. Aku mengkhawatirkanmu, sungguh!” dia menulis lagi di
messangerku.
Air mata kian membasahi pipiku. Aku yang tegar, kini benar-benar terpuruk. Meski
demikian, nalarku masih jalan. Aku tetap waspada, tak mau ada orang yang
memanfaatkan kepedihanku.
“Naina, jangan berpikir yang bukan-bukan tentang aku. Aku bukan lelaki pecundang yang
menjebak perempuan-perempuan muda sepertimu. Sungguh. Kalau boleh jujur, aku
sudah lama mengikuti wall-mu, apa saja kegiatanmu dan segala hal yang
sekecil-kecilnya tentangmu. Aku ingin masuk ke kehidupanmu. Kau yang tegar dan
kuat, selalu kukagumi apa saja yang kau lakukan. Aku tahu apa yang terjadi
padamu. Ayo Naina, berikan nomor WA-mu, sekali lagi, please...kumohon...”
Aku terkejut. “kau tahu tentang aku, termasuk adikku?” tanyaku.
“Semuanya. Aku tahu tentangmu. Percayalah, aku tidak akan menjebakmu!” (Bersambung)
__ADS_1