
Bagian Kedelapan
Cinta Sang Penyair
Ketika rapat redaksi pertama dari Tabloid Anak-Anak Galaksi dimulai, Pak Beib alias Hamid Utomo kembali hadir. Aku merasa kikukatas kehadirannya. Jujur saja, aku menjadi gagap saat menyampaikan dummy dari isitabloid yang kubuat bersama teman-temanku. Ada enam orang teman yang kuajak
bergabung, tiga masih orang lama, tiga lagi orang baru yang direkrut
perusahaan. Mereka satu menjadi reporter, satu bagian iklan dan satu lagi
manajer sirkulasi yang membawahi peredaran tabloid di seluruh Indonesia. Ace
memilih ikut aku. Sebagai fotografer, aku sudah tahu hasil kerjanya. Aku suka
Ace bersamaku. Dia pemuda yang baik, meski tingginya lebih pendek dariku,
lelaki asal Bogor, Jawa Barat ini, selalu merasa ganteng bila melihat cewek cantik.
Tingkahnya yang lucu tapi optimis dan penuh semangat, membuatku senang
bekerjasama dengannya.
“Cik,
kayaknya Pak Beib seneng sama Encik tuh, matanya selalu ke arah Encik. Dari
tadi gue perhatiin, dia gak pernah mengalihkan perhatiannya dari wajah Encik.
Wah kalau bener dia demen, jangan lupain gue ye...” Ace yang duduk di sampingku
mengirimkan pesan ke WA-ku..
Aku yang baru saja selesai memberikan review tentang rubrikasi halaman tabloid, menarik
nafas sekilas. Benar kata Ace, Beib beberapakali kulihat memperhatikan aku. “Jangan
berisik, kali aja dia lagi mikir berapa
dana yang bakal ke luar dari kantongnya untuk proyek kita,” balasku di WA juga.
Ace tersenyum tipis, aku juga. Kesepak kakinya. Lalu
kukirim WA, “fokus, perhatiin si Bos!”
Kali ini aku memanggilnya Bos Beib, ia menjelaskan pentingnya manajemen profesional dalam setiap pekerjaan yang dijalani. Ia menganjurkan ada departemen penelitian bagaimana perkembangan yang terjadi di dunia pers
saat ini, agar jika oplag menurun, turunnya tidak drastis, kemudian harus ada
kiat-kiat lain yang berkaitan dengan layout tabloid serta daya tarik
tokoh-tokoh yang dijadikan cover depan. “Jika bisa sesekali harus menjual cover
depan dengan perusahaan-perusahaan besar, itu seperti iklan terselubung yang menghasilkan
pemasukan yang sangat signifikan.” Katanya
sambil melirik ke arahku, usai aku membacakan rubrikasi tabloid yang sudah
kususun.
“Dan jangan lupa, di rubrik itu masukan juga kolom sastra
__ADS_1
baik itu berupa puisi dan cerita pendek. Nanti kapan-kapan saya hendak mengirimkan
puisi-puisi yang saya buat ke sana,” tambahnya.
Berkata tentang puisi, aku jadi teringat pada si Bintang
yang kutambahkan namanya lagi dengan Kejora. Ada binar di mataku, aku akan
memintanya mengirimkan puisi-puisinya ke Tabloid Anak yang kukelola nanti.
Pastinya bukan puisi cinta tapi puisi dengan tema pendidikan dan pesan moral
kebajikan untuk anak-anak, pikirku.
“Nona Naina, boleh kan nanti ada rubrik puisi?” Beib
mengejutkanku, lamunanku buyar.
“Oh...bo...boleh, Pak Beib...” sahutku cepat. Selang
berapa saat, pikiran jernihku mulai bertanya, rubrik puisi? Pengusaha macam dia
yang biasa menghitung laba atau rugi, kok masih berpikir tentang puisi?
Harusnya Bintang Kejora yang berkata
seperti itu, pikirku.
Tapi sudahlah, semua yang hadir tampak gembira dengan
ide-ide yang disampaikan Pak atau Mas Beib. Aku hanya berkata dalam hati,
menjadi seseorang yang punya uang berlebih itu menyenangkan. Apa yang dia
ucapkan selalu disertai dengan anggukan kepala. Kita para ‘cecoro’ alias orang
terkadang di mataku itu ‘lebay’, berlebihan. Namun itu harus, jika menjadi
pemberontak, maka semua kucuran dana ditutup. Hidup untuk diri sendiri,
keluarga dan orangtua, tak lagi bisa berjalan dengan baik. Kelaparan menunggu.
Dan aku serta teman-teman tak lebih dari sekumpulan budak yang bekerja
berdasarkan surat kontrak.
“Baiklah, jika Naina merasa semua ide-idenya dan contoh
dummy (bentuk mentah) tabloid ini sudah memenuhi syarat, maka rapat hari ini
kita tutup. Bukan begitu Pak Beib?” tatapan Mas Heri ditujukan ke Pak Beib.
Lelaki yang sangat tampan, bersih dan menggambarkan jika dia memang orang ‘tajir
melintir’ kata anak muda masa kini itu, tersenyum senang. Kali ini aku mulai
percaya akan ucapan Ace, Beib kemballi menatap ke arahku, tatapan itu kurasakan
punya makna khusus. Ah, benarkah ini? Ace kulihat menundukkan wajahnya, dia
tersenyum dalam diam. Aku paham apa arti senyuman itu.
Begitulah, akhirnya tabloid anak-anak itu terbit.
Beberapa artis cilik yang dulu sempat ngetop kami wawancara ulang untuk
__ADS_1
mengilas balik tentang bagaimana mereka berjuang hingga menjadi artis top. Aku
dan tim menyewa beberapa guru SD yang belum diangkat menjadi ASN atau guru
negeri. Mereka tiap minggu memberikan modul pembelajaran yang sesuai dengan
kurikulum anak-anak SD mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Respon yang
kami peroleh sangat bagus, dalam sekejap oplag naik, aku gembira. Tapi yang
membuatku gundah, puisi yang dikirim Pak Beib untuk dimuat di tabloid itu
ternyata bukan puisi anak-anak. Larik-lariknya penuh dengan diksi dan metafora
bernada cinta. Menurutku ini tidak cocok dan terlalu dewasa.
“Bagaimana ini Mas? Jika tidak dimuat nanti beliau
tersinggung. Andai dimuat, ini terlalu dewasa, tabloid kita kan pangsa pasarnya
anak-anak kelas satu hingga enam SD, nanti kalau orangtua mereka protes dan
menolak untuk berlangganan lagi bahaya. Apalagi sekarang zamannya memviralkan
sesuatu yang kurang disukai. Andai puisi itu diviralkan, bahaya tabloid kita,”
kuadukan keresahanku pada Mas Heri.
Pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan perut agak
membuncit itu mengernyitkan dahinya. Ia lalu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah,
akan kubicarakan hal ini pada Pak Beib, semoga beliau tidak tersinggung.”
“Terima kasih, Mas.” Sahutku. Dan beberapa jam kemudian,
kulihat wajah Mas Heri ceria.
“Naina, Bos tidak marah. Dia bilang puisi itu untukmu
saja. Dia akan membuat puisi lagi dengan tema yang sesuai untuk anak-anak.
Puisi itu kau simpan saja. Oh ya, bukankah kau suka puisi? Kulihat di Fb-mu ada
beberapa puisi yang dikirim seseorang, aku baca juga lho, syair-syairnya
lumayan, penuh nada-nada cinta. Hati...hati..., penyair itu banyak gombalnya.
Kau jangan sampai ikut terlena dan masuk ke dalam ‘pukat’ lelaki dengan rayuan
ulung melalui puisi.” Mas Heri berkata sambil tersenyum penuh arti.
Ah ya, Mas Heri memang berteman denganku di Facebook.
Pastinya dia memantau semua gerak-gerikku di sana. Pesannya agar aku hati-hati
dengan ‘pukat’ penyair melalui puisi-puisi yang dikirimkan kepadaku, membuat
nalarku tersentak. Ya, Mas Heri benar. Tapi, muncul lagi penolakan, tidak!
Bintang tidak mungkin lelaki pecundang yang mengirim pesonanya melalui puisi.
Kurasa dia tulus. Bukan lelaki playboy picisan yang hendak menjebak perempuan.
Tapi...ya aku juga harus hati-hati. Aku harus mengalahkan perasaanku, tak boleh
__ADS_1
nada melankolik itu menguasai segenap akal sehatku. Meski puisi-puisi yang
dikirimnya indah dan memikat, aku tidak boleh terlena. (Bersambung)