Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 16


__ADS_3

Bagian Keenambelas


Cinta Sang Penyair


            Tadinya aku tidak mau datang ke apartemen Pak Beib untuk memenuhi undangan makan malam


bersama Papa dan Mamanya. Ini permintaan yang penuh rasa cemas buatku. Nanti


pasti kedua orangtuanya akan menanyakan asal-usul dan pertanyaan lainnya. Lalu


mereka akan mengorek kisah tentang keluargaku dan juga adikku. Aku tidak bisa


menutupi keadaan sesungguhnya tentang kehidupanku, aku tak suka berbohong. Bohong


itu menurutku mengandung beban moral yang amat berat. Dan satu lagi, aku belum


mengiyakan tentang pernyataan cinta Pak Beib. Belum ada kepastian rasa yang


berdiam di hatiku.


            Salah satu penyebabnya ya itu tadi, Bintang yang mulai kusukai, ternyata Beib atau tepatnya Pak Beib. Aku merasa perasaanku porak-poranda, rasa suka dan kerinduanku pada Bintang yang pada


awalnya kurasa cukup besar, kini perlahan-lahan pupus. Aku tahu ini merupakan


bagian dari ego terselubung yang ada di hatiku. Bila gadis lain, terlebih lagi


dia miskin, mungkin dia akan gembira dicintai oleh lelaki tampan, kaya raya,


pengusaha dan memiliki pergaulan luas baik di tingkat nasional maupun


internasional. Mereka, para gadis cantik itu tentunya akan bersujud di kakinya,


dan memuja lelaki itu bagai dewa-dewa Yunani yang maha sempurna.


Aku bisa jadi menjadi sosok yang tak tahu diri dan orang akan berkata, “Sudah


miskin, punya adik sakit jiwa, belagu lagi” Atau, bisa jadi aku menempatkan


harga diriku pada posisi yang terlalu tinggi.


Aku yang terbiasa bergaul dengan kalangan seniman, penulis, penyair,


pelukis dan pemain teater, barangkali memiliki kriteria kehidupan yang berbeda


dengan para gadis kota besar pada umumnya. Kebanyakan teman-temanku menganggap


cinta adalah perpaduan antara keinginan biologis dan psikologis. Jika keduanya


tidak singkron, maka getar rasa yang pada awalnya menggebu, tiba-tiba bisa


surut seperti gelombang tsunami yang lenyap dalam sekejap. Tidak peduli dia


kaya atau berasal dari keluarga terpandang. Harta tidak menjadi jaminan bila


rasa cinta itu tak ada. Andai pun cinta, namun bila ada sesautu hal yang


mengganjal di hati, maka ego dan idealisme lebih mendominasi. Aku bisa saja


menjauh, kembali pada kehidupan kemanusiaan yang paling hakiki, yaitu demokrasi


di dalam menjalani kehidupan sebagai manusia.


Tatanan dunia tentang status sosial ekonomi, fisik, penampilan, jabatan,


pangkat, dan segala atribut lainnya yang menyertai sosok pribadi sebagai


manusia, tidak menjadi hal yang utama. Bagiku, selama aku sehat dan bisa


bekerja dengan kemampuanku sendiri, itu adalah perjalanan hidup yang paling

__ADS_1


membanggakan. Fatalisme kehidupan bila itu terjadi padaku, misalnya aku


terpuruk dan tak lagi memiliki daya, maka aku berserah pada takdir. Menderita


dan membusuk dalam keadaan terhormat itu lebih menyenangkan ketimbang menjadi


budak si kaya yang menguasai seluruh alur jalan kehidupanku. Kini perang batin


itu kembali kurasakan. Haruskah aku menghamba dengan tampilan klasik, elegan


dan anggun seperti yang diminta Pak Beib saat bertemu dengan orangtuanya malam


ini? Kebimbangan dan harga diriku mengaduk-ngaduk benak terdalamku.


“Aku tidak bisa datang, Pak Beib. Maafkan...” tulisku di Wa-nya.


Dia menjawab beberapa menit kemudian. Dan jawabannya di WA-ku sungguh


membuat hatiku geram. Rasa benciku muncul dengan tiba-tiba, tapi aku


benar-benar tak berdaya.


“Makanan sudah disiapkan, Papa dan Mamaku sudah oke akan datang. Jangan


membuat aku malu sayang, jika sampai kamu tak datang, maka aku akan mencabut


semua investasi yang sudah kuberikan. Pikirkan itu Naina Jaqueline Haning.


Cinta yang kusodorkan bukan cinta berdasarkan kesepakatan bisnis, tapi itu


cinta yang tulus. Namun, jika kau menolaknya, maka semua yang berlaku akan


berubah. Datanglah, kami menunggumu!


Sial! Gerutuku. Akhirnya semua akan menjurus ke arah seperti yang sudah


mengeluarkan taringnya, ancaman yang dia tulis di WA sungguh membuatku tak


berdaya.


Malam itu kusetujui semua yang ia ajukan. Aku merendahkan diri menjadi


sosok perempuan dengan selera pop, berdandan secantik dan seanggun mungkin.


Kukenakan pakaian terbaik bernuansa etnik NTT pemberian seorang disainer


terkenal, ia pernah kuwawancarai dan sebagai tanda terima kasihnya, ia


memberikan gaun ini, gaun yang menurutku sangat mewah dan jarang kupakai.


Malam itu, aku naik mobil Cadillac warna hitam mulus yang dikirim Pak Beib


untuk menjemputku. Sang sopir mengetuk pintu kamar kostku, dia menatapku


sejenak, aku tidak tahu apa yang ada di benaknya. Mungkin dia akan menyamakan


aku seperti gadis panggilan kelas atas seperti yang kerap dilakukan majikannya,


mungkin.


“Nona cantik sekali. Cantik dan pintar,” katanya sambil membukakan pintu


mobil.


“Terima kasih, semoga pujian ini bukan basa-basi,” balasku tanpa senyum.


Sang sopir terdiam. Sepanjang perjalanan kami membisu. Mungkin dia takut


memulai percakapan karena sikap dan wajahku yang ‘jutek’. Ketika kami tiba di

__ADS_1


apartemen Pak Beib, beberapa orang yang ada di lobby seolah memandangku penuh


curiga. Aku jadi teringat pada film Pretty Woman, di mana Julia Robert sang


aktris yang berperan sebagai ******* dan Richard Gere sebagai pengusaha kaya itu


saling jatuh cinta. Aku merasa seperti ******* yang siap mengantarkan tubuh


pada si pengusaha kaya yang sudah mengungguku di kamar apartemennya.


Menyedihkan.


Pak Beib menyambutku ketika pintu apartemen diketuk oleh sang sopir. Ia


berdiri terpaku di depan pintu. “Ayo masuk Naina, Papa dan Mamaku sudah


menunggu!” Katanya mempersilakan.


Di ruang tamu apartemen mewah itu, kulihat dua manula tengah duduk dan


bercakap-cakap. Seorang lelaki yang kutaksir berusia sekitar 70 tahun dan


seorang perempuan berusia hampir sama, penampilan mereka terlihat sangat


berkelas. Sang lelaki manula dengan wajah tampan dan tinggi di atas rata-rata


dan perempuan cantik anggun dengan perhiasan berlian yang bersinar dari telinga


dan lehernya, sungguh membuatku terpesona. Mereka berdiri bersamaan. Mereka masing-masing


mengulurkan tangannya dengan posisi yang tegak lurus  tidak membungkuk, gayanya itu mengingatkan aku


pada gesture para pejabat dan petinggi negara bila bersalaman dengan orang yang


berada beberapa tingkat lebih rendah di bawahnya. Dengan posisi seperti itu,


maka orang yang disalami akan membungkuk sedikit dan menyalaminya juga dengan


penuh rasa hormat. Seperti kala kita bersalaman dengan raja atau ratu. Dan aku


melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Kuanggukkan wajahku, lalu kuberikan


senyum termanisku sembari berkata, “Saya Naina, terima kasih.”


Keduanya kemudian mempersilakan aku duduk. Kutegakkan bahuku dan aku duduk


dengan anggun layaknya seorang putri aristokrat. Aku tahu Pak Beib melihat


semuanya. Dia yang biasa melihat penampilanku yang ‘slebor’ dan sikap juga


perilakuku yang seenak jidat, kali ini kurasa, ada antithesis yang berkembang di benaknya


tentang aku. Percakapan yang penuh basa-basi kurasa akan segera dimulai.


Kutunggu itu beberapa detik. Namun, dugaanku keliru.


“Jangan malu-malu Naina, dicoba penganan kecil yang ada di meja tamu ini, jangan


sungkan-sungkan.” Kata pria itu dengan keramahan yang tidak dibuat-buat.


“Saya juga ingin coba ah, kayaknya kue risolesnya enak, betul nggak Beib?”


ujar perempuan anggun di hadapanku dengan gayanya yang kocak.


Pak Beib tertawa ringan. “Naina takut nanti disidang Pa, Ma...”


Mereka tertawa dan aku menjadi semakin salah tingkah...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2