Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 18


__ADS_3

Bagian Kedelapanbelas


Cinta Sang Penyair


            Undangan yang disebarkan tanpa sepengetahuanku, membuat seisi kantor gempar. Mas Heri segera menemuiku dan menanyakan perihal undangan pertunangan tersebut. Begitu juga Ace, teman-teman


dibagian layout, karikatur dan seluruh manajemen. Semua pertanyaan kujawab


dengan gelengan kepala. “Aku tidak tahu, sungguh aku tidak tahu. Ya, Pak Beib


melamarku, dia meminta kami bertunangan dulu. Tapi aku belum memberikan sinyal persetujuan.


Aku belum menjawab permintaannya itu, Mas. Sungguh aku juga bingung dengan


undangan pertunangan ini.” Ucapku sembari memegang keningku.


            Pimpinan Umum kedua tabloid tempat aku bekerja itu, diam sejenak. Ia juga terlihat bingung. Aku meraba jalan pikirannya, bisa jadi ia juga tak tahu harus berbuat apa, sebab semua ini


berkaitan dengan pendanaan perusahaan. Dia juga tahu kalau aku masih gamang


soal pernyataan cinta yang dinyatakan Pak Beib.


            “Biarlah Mas, biar kuhadapi ini sendirian, aku tidak mau masalah pribadiku menjadi beban Mas Heri juga. Mas sudah pusing memikirkan masalah dua tabloid ini,” ucapku akhirnya.


            “Naina, aku belum bisa memberikan jawaban yang pasti, sebab ini menyangkut perasaan. Jika kau belum dapat memberikan keputusan, semuanya tergantung pada dirimu. Ini menjadi masalah yang


rumit, sebab semuanya berpadu dari masalah rasa, perusahaan dan kepentingan


kita semua.”


    “Iya Mas.”


    “Jujur aku ingin tahu jawabanmu, apakah kau mencintainya? Atau tanyakan hal


itu pada hatimu sendiri. Sebab jika kau mengambil keputusan yang salah dan


tidak sesuai dengan kata hatimu, maka jangan sampai hal itu akan membuatmu


menyesal seumur hidup.” Mas Heri menepuk bahuku.


    Waktu berdetak mengikuti alur yang sudah ditentukan oleh sang pencipta. Aku


menjalani rutinitas pekerjaan seperti biasa. Seminggu lagi pesta pertunangan


itu akan digelar. Teman-teman menyalami dan memberi selamat padaku. Ada yang


tahu masalah yang sebenarnya yang tengah kuhadapi, ada pula yang tidak. Dan


yang membuatku lega, mereka berusaha menjaga perasaanku dengan tidak menanyakan


atau mengorek-ngorek lagi tentang undangan pertunangan itu. Ketenangan di


kantor mengalir bagai arus air yang lembut berjalan menuju ke muara. Namun itu


tidak berlasung lama, dan ketengan itu mulai terusik tatkala di WA-ku muncul pesan


dari kakak Pak Beib, Marly. Ia mengirimkan tulisan yang membuat seluruh

__ADS_1


persendian di tubuhku lemas.


    Pada WA yang dikirimnya, ia menuliskan kalimat yang berbunyi demikian, Naina yang memakai pesona kecantikannya


untuk menjerat adikku, Beib. Begini perempuan ******, Beib sudah memiliki


kekasih, namanya Jennifer, dia keponakan suamiku. Jennifer cantik,


berpendidikan dan berasal dari kelas yang sama dengan kami. Dia sangat serasi


dengan Beib adikku. Jangan kamu pikir dengan pertunangan yang dirancang antara adikku


dan kamu, itu sudah menjadi keputusan akhir yang pasti. Aku bisa


mengobrak-abriknya dalam sekejap. Naina, aku tahu siapa kamu. Posisi dan


kelasmu sangat jauh di bawah kami. Hati-hati, keluargamu dalam pengawasan kami.


Kamu keturunan sakit jiwa, jadi tidak pantas bersanding dan masuk ke lingkungan


keluarga kami. Awas, jika sampai Beib tahu tentang WA ini, kamu akan menerima


akibatnya. Tinggalkan dan pergi jauh dari adikku, Marly Sutoyo!


    Whatsapp yang dikirimkan Marly kakak Pak Beib, tidak membuatku gentar.


Dengan adanya tulisan itu, keyakinanku akan imbas yang bakal kuterima kini


menjadi nyata. Keluarga Pak Beib mulai bergerak, menyerangku dengan segala


jernih. Dan hal ini sudah kuperhitungkan matang-matang. Sebagai orang kaya yang


memiliki uang dengan jumlah tak terbatas, dia bisa melakukan apa saja. Bahkan


kematian yang absurd pun bisa dilakukannya. Aku tahu itu sebab aku pernah mewawancarai


seorang konglomerat yang dipenjara akibat perbuatannya membunuh satu keluarga


saingan bisnisnya. “Balas dendam dan menumpas habis orang-orang yang menjadi


batu sandungan kami, itu perlu. Urusan penjara hanya masalah kecil. Aku bisa


memerintahnya dari balik jeruji rumah tahanan. Uang yang berbicara, semua bisa


kututupi dengan uang,” katanya waktu itu. Ucapannya itu, kusimpan dengan baik


di hatiku. Ya, uang bisa membuat orang tak percaya bahwa, ada kehidupan lain


yang lebih membahagiakan dari itu, yaitu hidup penuh kasih terhadap sesama.


    Dua hari aku memendam semua masalah yang datang menimpaku. Ada ungkapan ‘menyimpan


masalah sendirian tak baik, dia akan menjadi pembunuh terselubung yang datang


mengendap-endap’ . Aku berusaha menyimpan ungkapan itu untuk diriku sendiri.


Tapi pada hari ketiga, ketika WA dari Marly muncul lagi, kuforward WA tersebut

__ADS_1


ke Pak Beib. Di bawahnya kutambahkan, ‘pertunangan kita batal, saya akan resign


dari perusahaan. Bapak bisa cari Pemimpin Redaksi yang lain. Cukup sudah


permainan rasa yang tak bermutu ini. Uang bukan segalanya dan hidup saya tidak


bisa direkayasa dengan uang!


    Kulaporkan semua yang terjadi pada Mas Heri, juga surat pengunduran


diriku.


    “Jika kau pergi dari sini kau kalah, Naina. Kau pergi sebelum peperangan


dimulai. Percayalah pada kita semuanya, teman-teman akan membantu jika terjadi


apa-apa denganmu. Jangan pergi,” pinta Mas Heri dengan suara parau.


    “Mas, aku sudah memperhitungkan kalau semua ini akan terjadi. Cinta yang


diberikan Pak Beib bukan cinta sederhana seperti Cinderella yang memakai sepatu


kaca lalu dijemput oleh pangeran tampan, dan setelah itu mereka menikah,


bahagia selamanya. Di kisahku berbeda. Aku bukan si Cinderella yang langsung


jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Pak Beib. Selain perbedaan


kelas strata sosial, aku sudah memperhitungkan apa yang akan terjadi selanjutnya


dan hal itu sudah kuceritakan pada Mas Heri.  Sesungguhnya andai dia benar-benar Bintang


sang penyair, perasaanku pasti bisa bebricara banyak untuk mencintainya, ada


ketulusan di situ. Tapi semuanya buyar, Bintang yang kusukai ternyata Pak Beib.


Andai Pak Beib membatalkan pertunangan ini dan tidak mengusik-usikku lagi, membiarkan


aku bekerja dengan bebas seperti dulu, aku tidak akan berhenti dari perusahaan


ini. Tapi jika dia terus melakukan manuver-manuver yang membuatku tak nyaman,


terpaksa aku harus pergi dari sini, Mas...” ucapku. “Dan juga mereka akan


terbebas dari ketakutan-ketakutan sebuah keluarga kaya apabila ada orang asing


akan masuk di dalamnya, itu sudah kuprediksi.” Tambahku lagi.


    Mas Heri membisu. Baru beberapa langkah aku berjalan ke luar dari


ruangannya, Pak Beib sudah  berdiri di


depan pintu. Wajahnya tegang dan kaku. Ia menarik lenganku dengan paksa,


kemudian mengajak aku ke luar kantor dan memasukkan aku ke dalam mobilnya


dengan paksa. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2