Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 19


__ADS_3

Bagian Keduapuluh


Cinta Sang Penyair


            Barangkali di dunia nyata, apa yang aku alami merupakan mimpi yang bisa saja penuh rekayasa atau


angan-angan semata. Seorang pengusaha tampan dengan penampilan nyaris sempurna,


kaya-raya, punya beberapa perusahaan, anak laki-laki satu-satunya dan pintar,


jatuh cinta padaku setelah melihatku di Facebook. Dia menyamar dengan nama


Bintang, memposisikan diri sebagai penyair, seniman idealis yang tergila-gila


pada puisi. Dan ketika aku sadar siapa dia, aku terkesima, terlebih lagi dia


sudah lama menyukaiku, seorang gadis dengan profesi jurnalis, mencari nafkah


dari ‘kata’ yang berjuang untuk keluarga dan adiknya yang sakit jiwa.


Aku sendiri berusaha meyakinkan diriki dan berkata bahwa peristiwa cinta


yang melandaku adalah cinta yang absurd, cinta yang terjadi di masa zaman


raja-raja terdahulu di mana seorang pangeran kerap jatuh cinta pada pelayannya.


Bahkan kalian pun mungkin akan mengatakan kalau perjalanan cinta yang menyerang


diriku adalah  fiksi atau hanya kisah


terselubung yang bersumber dari mimpi seorang gadis miskin agar bisa terhibur


dari kehidupan papa yang dialaminya. Ini tidak nyata, Hanya imajinasi semata.


Tapi yang terjadi tidaklah demikian, semua nyata. Lelaki yang telah


menyusun semua skenario mulai dari pendirian sekaligus pendanaan tabloid


anak-anak yang ia berikan, mendudukkan aku di posisi Pemimpin Redaksi, kemudian


mengikatku dengan cinta yang bertahun-tahun telah dipendamnya, cinta yang


selalu ia wujudnyatakan ke dalam bentuk puisi yang ia kirim melalui messenger


di Fb padaku, memperkenalkan namanya Bintang, lalu mengajakku bertunangan,


seterusnya penghinaan dari sang kakak angkat, dan kegamangan pihak papa dan


mamanya saat tahu aku memiliki adik yang berpenyakit jiwa, semuanya terjadi


dalam hitungan beberapa bulan saja. Dan sesudah itu segalanya berubah, aku


bagai terjerat ke dalam suguhan skenario yang dibuatnya. Harusnya aku merasa


nyaman dengan suguhannya itu. Tapi aku yang selalu merasa kuat dan inpenden,


malah berpikir sebaliknya. Aku merasa kebebasan dan demokrasi di dalam

__ADS_1


keberadaanku sebagai manusia telah terpangkas. Bukan masalah cinta atau segala


atribut yang ada padanya yang menjadi permasalahan utama buatku, akan tetapi


aku yang menyukai kehidupan seniman bercampur bohemian seperti ayah dan ibuku,


bebas merdeka dan tidak terkungkung oleh aturan birokrasi yang terkadang


membikin kita seperti robot, aku sedikit pun tidak tergiur dengan harta yang


tak habis dimakan tujuh turunan miliknya. Penampilan glamour dan pergaulan


kelas atas yang penuh basa-basi dan aturan-aturan mengikat yang memangkas semua


kebebasan kemanusiaanku, sangat mengekang kehidupanku. Aku manusia simpel yang


berpikiran juga simpel, penderitaan memang harus ada dan harus dihadapi bukan


dihindari. Aku tak suka berada di lingkungan jet set meski kadang aku


mewawancarai mereka, aku suka berada di kehidupan marginal, sebab menurutku di


sana ketulusan dan kejujuran terpancar secara verbal, bukan basa-basi. Yang


terpenting dari semua itu, aku manusia yang merdeka, merdeka meski di balik


senyum yang kutebarkan, derita dan kepahitan hidup menjadi selimut yang selalu


menaungi diriku. Tapi aku sudah terbiasa dengan itu. Selama kebebasanku untuk


menentukan ke mana langkahku menapak tidak terbelenggu, maka aku akan merasa


“Tidak bisa, kita harus bertunangan, kau tidak bisa memutuskannya begitu


saja!” Beib memegang bahuku dengan kuat. Tulang-tulangku mau remuk rasanya.


“Sudah kukatakan, aku tidak bisa masuk ke dalam kehidupanmu. Kau seperti


langit dan aku tanah. Kau akan membawa seorang perempuan kampungan yang tidak


tahu tatakrama dan tatacara pergaulan kalangan menengah ke atas, kau akan malu


jika bersama denganku.” Balasku dengan nada tinggi.


“Itu menurutmu. Kau tahu kan seperti apa Bintang? Aku bisa melebur diriku


secara utuh sebagai Bintang Naina. Kau hanya kuminta untuk memahami posisiku


sebagai Hamid Utomo di saat tertentu saja, selebihnya aku Bintang, sosok yang


kau cintai yang begitu bahagia dengan puisi-puisi yang dibuatnya, cintaku


padamu adalah cinta sang penyair tanpa perhitungan apa pun. Aku tulus


mencintaimu Naina...” Beib memelukku erat.


Kami terdiam beberapa saat. Kurasakan degup jantungnya yang berdetak cepat.

__ADS_1


Jemarinya yang halus mengusap rambutku. “Jangan pergi dariku Naina,


sesungguhnya aku bosan dengan kehidupanku sendiri. Hanya puisi dan kau yang


selalu kuingini. Aku tahu apa yang kau rasakan, kau merasa ngeri apabila


kemerdekaanmu terenggut bila kau masuk dalam kehidupanku. Itu tidak akan


terjadi sayang. Aku mengerti benar kalau di dalam jiwamu ada sisi kesenimanan


yang berbeda jauh dengan kehidupanku. Tapi sebagai manusia, bukankah semua yang


diciptakan Tuhan tidak selalu sama? Begitu juga dengan tingkat kehidupan sosial


yang ada di dunia ini. Jika kau bersamaku, aku akan selalu melindungimu, tak


ada seorang pun yang bisa menista atau mengganggumu. Kau tetap berapa pada


alurmu. Percayalah Naina sayang...”


Aku mendengarkan semua ucapan Beib dengan diam. Hari itu kurasa aku telah


kalah dengan egoku. Lelaki yang selalu kuanggap sebagai Bintang, sang penyair yang


tak pernah bosan mengirimiku puisi-puisi indah penuh metafora dan diksi yang


membuat semangat hidupku membuncah, kini tak mau melepaskan pelukannya dari


tubuhku. Kurasakan air matanya menitik di bahuku. “Kau tidak sedang merayuku,


kan? Memberikanku janji-janji manis yang suatu saat kelak bisa kau pungkiri?”


tanyaku perlahan. Aku masih berada di dalam kesadaran yang prima, tak mau


hanyut oleh suasana.


Beib mengangkat daguku. “Jika aku menghianatimu, bunuh saja aku. Naina,


jika kau mau menjadi istriku, aku membebaskanmu untuk melakukan apa yang kau


suka, maksudku hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang kau sukai. Kau mau


tetap jadi jurnalis silakan, mau bergaul dengan teman-teman senimanmu aku tak


melarang, mau nongkrong di tempat-tempat yang kau suka lakukan saja. Tapi...”


“Tapi apa?” tanyaku.


“Tapi harus ada aku di sampingmu selalu. Kita ke mana-mana harus berdua.


Aku takut kau diculik orang...” Beib menatap wajahku. Sepertinya ia hendak


menciumku, namun aku segera mengelak. “Oke, baiklah jika kau telah mengenalku


lebih jauh, kau akan tahu seberapa besar cintaku padamu. Aku akan selalu


menunggu kau jatuh cinta padaku,” katanya dengan memelukku lebih kuat lagi,

__ADS_1


sampai aku sesak nafas. (Bersambung)


__ADS_2