
Bagian Keduapuluh
Cinta Sang Penyair
Barangkali di dunia nyata, apa yang aku alami merupakan mimpi yang bisa saja penuh rekayasa atau
angan-angan semata. Seorang pengusaha tampan dengan penampilan nyaris sempurna,
kaya-raya, punya beberapa perusahaan, anak laki-laki satu-satunya dan pintar,
jatuh cinta padaku setelah melihatku di Facebook. Dia menyamar dengan nama
Bintang, memposisikan diri sebagai penyair, seniman idealis yang tergila-gila
pada puisi. Dan ketika aku sadar siapa dia, aku terkesima, terlebih lagi dia
sudah lama menyukaiku, seorang gadis dengan profesi jurnalis, mencari nafkah
dari ‘kata’ yang berjuang untuk keluarga dan adiknya yang sakit jiwa.
Aku sendiri berusaha meyakinkan diriki dan berkata bahwa peristiwa cinta
yang melandaku adalah cinta yang absurd, cinta yang terjadi di masa zaman
raja-raja terdahulu di mana seorang pangeran kerap jatuh cinta pada pelayannya.
Bahkan kalian pun mungkin akan mengatakan kalau perjalanan cinta yang menyerang
diriku adalah fiksi atau hanya kisah
terselubung yang bersumber dari mimpi seorang gadis miskin agar bisa terhibur
dari kehidupan papa yang dialaminya. Ini tidak nyata, Hanya imajinasi semata.
Tapi yang terjadi tidaklah demikian, semua nyata. Lelaki yang telah
menyusun semua skenario mulai dari pendirian sekaligus pendanaan tabloid
anak-anak yang ia berikan, mendudukkan aku di posisi Pemimpin Redaksi, kemudian
mengikatku dengan cinta yang bertahun-tahun telah dipendamnya, cinta yang
selalu ia wujudnyatakan ke dalam bentuk puisi yang ia kirim melalui messenger
di Fb padaku, memperkenalkan namanya Bintang, lalu mengajakku bertunangan,
seterusnya penghinaan dari sang kakak angkat, dan kegamangan pihak papa dan
mamanya saat tahu aku memiliki adik yang berpenyakit jiwa, semuanya terjadi
dalam hitungan beberapa bulan saja. Dan sesudah itu segalanya berubah, aku
bagai terjerat ke dalam suguhan skenario yang dibuatnya. Harusnya aku merasa
nyaman dengan suguhannya itu. Tapi aku yang selalu merasa kuat dan inpenden,
malah berpikir sebaliknya. Aku merasa kebebasan dan demokrasi di dalam
__ADS_1
keberadaanku sebagai manusia telah terpangkas. Bukan masalah cinta atau segala
atribut yang ada padanya yang menjadi permasalahan utama buatku, akan tetapi
aku yang menyukai kehidupan seniman bercampur bohemian seperti ayah dan ibuku,
bebas merdeka dan tidak terkungkung oleh aturan birokrasi yang terkadang
membikin kita seperti robot, aku sedikit pun tidak tergiur dengan harta yang
tak habis dimakan tujuh turunan miliknya. Penampilan glamour dan pergaulan
kelas atas yang penuh basa-basi dan aturan-aturan mengikat yang memangkas semua
kebebasan kemanusiaanku, sangat mengekang kehidupanku. Aku manusia simpel yang
berpikiran juga simpel, penderitaan memang harus ada dan harus dihadapi bukan
dihindari. Aku tak suka berada di lingkungan jet set meski kadang aku
mewawancarai mereka, aku suka berada di kehidupan marginal, sebab menurutku di
sana ketulusan dan kejujuran terpancar secara verbal, bukan basa-basi. Yang
terpenting dari semua itu, aku manusia yang merdeka, merdeka meski di balik
senyum yang kutebarkan, derita dan kepahitan hidup menjadi selimut yang selalu
menaungi diriku. Tapi aku sudah terbiasa dengan itu. Selama kebebasanku untuk
menentukan ke mana langkahku menapak tidak terbelenggu, maka aku akan merasa
“Tidak bisa, kita harus bertunangan, kau tidak bisa memutuskannya begitu
saja!” Beib memegang bahuku dengan kuat. Tulang-tulangku mau remuk rasanya.
“Sudah kukatakan, aku tidak bisa masuk ke dalam kehidupanmu. Kau seperti
langit dan aku tanah. Kau akan membawa seorang perempuan kampungan yang tidak
tahu tatakrama dan tatacara pergaulan kalangan menengah ke atas, kau akan malu
jika bersama denganku.” Balasku dengan nada tinggi.
“Itu menurutmu. Kau tahu kan seperti apa Bintang? Aku bisa melebur diriku
secara utuh sebagai Bintang Naina. Kau hanya kuminta untuk memahami posisiku
sebagai Hamid Utomo di saat tertentu saja, selebihnya aku Bintang, sosok yang
kau cintai yang begitu bahagia dengan puisi-puisi yang dibuatnya, cintaku
padamu adalah cinta sang penyair tanpa perhitungan apa pun. Aku tulus
mencintaimu Naina...” Beib memelukku erat.
Kami terdiam beberapa saat. Kurasakan degup jantungnya yang berdetak cepat.
__ADS_1
Jemarinya yang halus mengusap rambutku. “Jangan pergi dariku Naina,
sesungguhnya aku bosan dengan kehidupanku sendiri. Hanya puisi dan kau yang
selalu kuingini. Aku tahu apa yang kau rasakan, kau merasa ngeri apabila
kemerdekaanmu terenggut bila kau masuk dalam kehidupanku. Itu tidak akan
terjadi sayang. Aku mengerti benar kalau di dalam jiwamu ada sisi kesenimanan
yang berbeda jauh dengan kehidupanku. Tapi sebagai manusia, bukankah semua yang
diciptakan Tuhan tidak selalu sama? Begitu juga dengan tingkat kehidupan sosial
yang ada di dunia ini. Jika kau bersamaku, aku akan selalu melindungimu, tak
ada seorang pun yang bisa menista atau mengganggumu. Kau tetap berapa pada
alurmu. Percayalah Naina sayang...”
Aku mendengarkan semua ucapan Beib dengan diam. Hari itu kurasa aku telah
kalah dengan egoku. Lelaki yang selalu kuanggap sebagai Bintang, sang penyair yang
tak pernah bosan mengirimiku puisi-puisi indah penuh metafora dan diksi yang
membuat semangat hidupku membuncah, kini tak mau melepaskan pelukannya dari
tubuhku. Kurasakan air matanya menitik di bahuku. “Kau tidak sedang merayuku,
kan? Memberikanku janji-janji manis yang suatu saat kelak bisa kau pungkiri?”
tanyaku perlahan. Aku masih berada di dalam kesadaran yang prima, tak mau
hanyut oleh suasana.
Beib mengangkat daguku. “Jika aku menghianatimu, bunuh saja aku. Naina,
jika kau mau menjadi istriku, aku membebaskanmu untuk melakukan apa yang kau
suka, maksudku hal-hal yang berkaitan dengan dunia yang kau sukai. Kau mau
tetap jadi jurnalis silakan, mau bergaul dengan teman-teman senimanmu aku tak
melarang, mau nongkrong di tempat-tempat yang kau suka lakukan saja. Tapi...”
“Tapi apa?” tanyaku.
“Tapi harus ada aku di sampingmu selalu. Kita ke mana-mana harus berdua.
Aku takut kau diculik orang...” Beib menatap wajahku. Sepertinya ia hendak
menciumku, namun aku segera mengelak. “Oke, baiklah jika kau telah mengenalku
lebih jauh, kau akan tahu seberapa besar cintaku padamu. Aku akan selalu
menunggu kau jatuh cinta padaku,” katanya dengan memelukku lebih kuat lagi,
__ADS_1
sampai aku sesak nafas. (Bersambung)