Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 15


__ADS_3

Bagian Kelimabelas


Cinta Sang Penyair


            Dan apa yang aku cemaskan akhirnya menjadi kenyataan. Harusnya aku mengikuti apa yang


diucapkan Ace, berpikir positif, jangan terlalu mencemaskan keadaan, sedikit ‘cuek’,


jangan paranoid. Ya, seperti apa yang ditulis oleh Ronda Byrne dalam bukunya


The Secret, apa yang terus kita pikirkan, maka itu akan menjadi kenyataan dan


terjadilah seperti apa yang kita inginkan. Ya, di tengah kecemasanku pada oplag


tabloid yang semakin menurun, aku juga khawatir akan dampak yang muncul ketika bagian


keuangan menaikan seratus persen gajiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan yang


kontras juga, Pak Beib mulai terang-terangan menunjukkan sikap sukanya padaku. Berkali-kali


di messenger ia bilang cinta padaku.


            Gossip itu akhirnya merebak seperti melesatnya lintasan meteor di langit. Bahkan office boy pun tahu. Sungguh aku bukannya kian menyukai lelaki itu,


tapi ada rasa kesal yang membumbung di dadaku. Dia telah menjadi seorang kapitalis


yang mengerangkeng kemerdekaanku sebagai manusia. Aku malu, sungguh sangat


malu. Sambil menahan air mata, kucurahkan semua perasaanku pada Mas Heri,


atasanku. Ia menjadi pemimpin umum untuk kedua tabloid di tempat aku bekerja.


            “Aku tak sanggup lagi, Mas. Penderitaan yang kualami seolah menjadi senjata untuk melumpuhkan harga diriku. Aku tidak merasa senang dengan kenaikan seratus persen gajiku, perhatian Pak


Beib berlebihan padaku juga membuatku serba salah. Jujur aku tidak mau semua


ini terjadi. Biar aku hanya makan mie instan, pulang ke kost-sanku dengan


berjalan kaki, tapi aku menikmati kebebasan dan kemerdekaanku.” Ucapku pada Mas


Heri.


            “Lho, kenapa kamu berpikir seperti itu? Naina, Pak Beib itu baik lho, apa yang dia lakukan bukan cuma untuk menolong kamu saja, tapi menolong kita semua. Kamu wajar menerima seratus


persen kenaikan gaji, karena kamu sudah berusaha keras untuk menaikan oplag


Tabloid Anak Pelangi. Kamu kan Pemimpin Redaksinya, jadi tidak apa-apa kalau


prosentase kenaikan gajimu lebih tinggi dari teman-teman yang lain. Lagi pula,


kalau Pak Beib menyukaimu, apa salahnya? Dia kan masih bujangan, kamu juga.


Kalau masing-masing dari kalian sudah menikah, lalu saling jatuh cinta, itu


yang repot. Kamu dan Pak Beib akan menyakiti banyak pihak. Santai sajalah,


orang memperbincangkan kamu itu biasa, itu hak mereka. Kamu nggak perlu repot,


lama-kelamaan yang mereka anggap itu aneh dan luar biasa, akan menjadi


biasa-biasa saja. Sudah, pikirkan saja pekerjaanmu, jangan berpikir yang berat-berat,


nanti maagmu kambuh lagi. Tenangkan pikiranmu...” Mas Heri berkata sambil


memegang kepalaku, bak seorang kakak yang penuh perhatian pada adiknya.

__ADS_1


            Entah mengapa, mendengar ucapan Mas Heri, aku malah semakin sedih. Pikiranku campur aduk. Sambil mengedit beberapa cerita pendek dan puisi yang dikirimkan anak-anak sekolah untuk dimuat, air


mataku menitik satu-satu. Tak lama nada pesan di messengerku berbunyi. Sebuah


puisi muncul di situ.


Kata Hati


Naina, hilangkan


curiga dari benak terdalammu


Aku selalu


meraba rasa dan berkata pada diri, antara kita tak perlu saling curiga


Tentunya kau


menduga hubungan ini penuh rekayasa


Kau salah


Rasa terdalamku


padamu bukan skenario antara si kaya dan miskin


Dia tidak berada


dalam absurditas semu


Dia bukan pula


berdiam di kisah novel picisan


Seperti Cinderella


Aku dan kau


telah digiring oleh rasa


Rasa terdalam


dari cinta yang kupendam bertahun tahun untukmu


Ayolah Naina,


singkirkan semua hal tentang keraguan


Aku yakin kau tercipta


untukku


Ya untukku


Bintang/Juli/2020


            Entah itu puisi atau semacam curahan hati, tangisku semakin luruh usai membaca kalimat-kalimat yang tertata apik itu. Aku merasa dia si Bintang Kejora, sosok yang mengisi hari-hari sepiku dan


kegundahan akan alur kehidupan yang tengah kujalani. Tapi ternyata dia Beib,


dia lelaki pengusaha yang memiliki segalanya, bukan penyair bohemian yang


terpatri di benakku. Bintang, mengapa kau mengejawantah di sosok Beib? Mengapa?


Aku menyeka air mata dengan perlahan. Sungguh, aku merasa telah kehilangan

__ADS_1


Bintang, sang penyair yang telah ratusan kali mengirimkan ucapan cinta padaku.


Cinta sang penyair, itu yang selalu terekam di benakku.


            Rapat Redaksi kali ini kembali dihadiri Pak Beib. Di tengah rapat dan berkumpulnya teman-temanku, aku tetap tak mau mengubah panggilanku padanya. Sengaja ini kulakukan agar ada rentang


jarak antara atasan dan bawahan, terlebih lagi dia adalah investor tabloid, apa


pun alasan  atau rekayasa yang


bersembunyi di belakang itu, aku tetap merasa ia orang penting yang harus


kuhormati.  “Perkembangan yang terjadi, oplag naik dua ribu ekslemplar. Ini berita baik. Bagaimana jika kita memberikan bonus pada pembaca yang disisipkan di setiap tabloid. Misalnya dengan menyisipkan


gambar salah satu tokoh film kartun yang saat ini digemari anak-anak?” ujarku


membuka rapat.


            “Itu ide yang bagus, bagaimana dengan teman-teman yang lain?” tanya Mas Heri.


            “Kalau saya, sisipkan saja lima puisi yang diberi judul Puisi Buat Ibu. Puisi itu nanti dilipat rapi, diberi


gambar karikatur yang cantik yaitu wajah seorang ibu di halaman depannya, lalu


di dalamnya diberi gambar-gambar unik yang mewakili puisi itu. Gambar itu bisa


bunga, wajah anak-anak sekolah yang imut dan lain-lain,” Ace memberi masukan.


            “Wah, ini nambah kerjaan untuk


ilustrator dong, hehe...” Giri sang ilustrator yang suka bercanda itu nyeletuk.


            “Semua ide bagus, tapi menurut sayaide Naina rasanya lebih pas. Sebab selain simple dan ringan juga tidak perlu banyak buang tenaga. Kita tinggal kasih ke yang ahli membuatnya, lalu tinggal


dibungkus plastik dan dijepret yang kuat dengan straples di bagian tengah


tabloid, itu lebih efektif.” Suara Pak Beib terdengar tegas.


            Mas Heri dan semua teman menatapku, aku menjadi tak enak hati.


            “Iya, pendapat Pak Beib ada benarnya. Saya setuju.” Kata Mas Heri kemudian, semua teman ikut menganggukkan


kepala.


            Pak Beib menatapku sekilas. Tak lama, nada messengerku berbunyi lagi. Ada pesan dari lelaki pengusaha itu. “Akumengundangmu ke apartemenku, nanti malam kita makan malam bersama Papa dan


Mamaku, aku ingin memperkenalkanmu pada mereka dan mereka juga ingin tahu


tentangmu. Nanti kujemput ke tempat kostmu ya, tolong inbox alamatmu!”


            Aku tidak segera menjawab pesannya itu. Laki-laki ini sudah merasa yakin kalau aku cinta padanya. Padahal aku belum mengatakan ‘iya’. Hhh...dia mengundang makan malam dan hendak


memperkenalkanku pada orangtuanya tanpa menanyakan persetujuanku dulu, kalimatnya


di messenger memakai tanda seru lagi, sungguh keterlaluan.


            Usai rapat aku tidak menegur atau mengucapkan selamat siang pada Pak Beib. Aku berjalan tergesa, kembali ke meja kerjaku. Baru beberapa menit aku menjatuhkan tubuhku di kursi yang ada di


samping meja, Mas Hari tampak mendatangiku.


            “Naina, ayo turun sebentar, Pak Beib ingin bicara denganmu. Ayolah, jangan merengut seperti itu,” Mas Heri membujukku.


            Aku tidak bisa mebolak. Denganlangkah perlahan aku turun ke lantai dasar, menemui lelaki tampan yang entah mengapa selalu membuatku kesal. Meski ia selalu mengatakan mencintaiku, aku masih belum bisa menerimanya. Yang kurindukan hanya Bintang, tapi Bintang telah


berubah menjadi Beib, ah...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2