
Bagian Kelimabelas
Cinta Sang Penyair
Dan apa yang aku cemaskan akhirnya menjadi kenyataan. Harusnya aku mengikuti apa yang
diucapkan Ace, berpikir positif, jangan terlalu mencemaskan keadaan, sedikit ‘cuek’,
jangan paranoid. Ya, seperti apa yang ditulis oleh Ronda Byrne dalam bukunya
The Secret, apa yang terus kita pikirkan, maka itu akan menjadi kenyataan dan
terjadilah seperti apa yang kita inginkan. Ya, di tengah kecemasanku pada oplag
tabloid yang semakin menurun, aku juga khawatir akan dampak yang muncul ketika bagian
keuangan menaikan seratus persen gajiku. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Dan yang
kontras juga, Pak Beib mulai terang-terangan menunjukkan sikap sukanya padaku. Berkali-kali
di messenger ia bilang cinta padaku.
Gossip itu akhirnya merebak seperti melesatnya lintasan meteor di langit. Bahkan office boy pun tahu. Sungguh aku bukannya kian menyukai lelaki itu,
tapi ada rasa kesal yang membumbung di dadaku. Dia telah menjadi seorang kapitalis
yang mengerangkeng kemerdekaanku sebagai manusia. Aku malu, sungguh sangat
malu. Sambil menahan air mata, kucurahkan semua perasaanku pada Mas Heri,
atasanku. Ia menjadi pemimpin umum untuk kedua tabloid di tempat aku bekerja.
“Aku tak sanggup lagi, Mas. Penderitaan yang kualami seolah menjadi senjata untuk melumpuhkan harga diriku. Aku tidak merasa senang dengan kenaikan seratus persen gajiku, perhatian Pak
Beib berlebihan padaku juga membuatku serba salah. Jujur aku tidak mau semua
ini terjadi. Biar aku hanya makan mie instan, pulang ke kost-sanku dengan
berjalan kaki, tapi aku menikmati kebebasan dan kemerdekaanku.” Ucapku pada Mas
Heri.
“Lho, kenapa kamu berpikir seperti itu? Naina, Pak Beib itu baik lho, apa yang dia lakukan bukan cuma untuk menolong kamu saja, tapi menolong kita semua. Kamu wajar menerima seratus
persen kenaikan gaji, karena kamu sudah berusaha keras untuk menaikan oplag
Tabloid Anak Pelangi. Kamu kan Pemimpin Redaksinya, jadi tidak apa-apa kalau
prosentase kenaikan gajimu lebih tinggi dari teman-teman yang lain. Lagi pula,
kalau Pak Beib menyukaimu, apa salahnya? Dia kan masih bujangan, kamu juga.
Kalau masing-masing dari kalian sudah menikah, lalu saling jatuh cinta, itu
yang repot. Kamu dan Pak Beib akan menyakiti banyak pihak. Santai sajalah,
orang memperbincangkan kamu itu biasa, itu hak mereka. Kamu nggak perlu repot,
lama-kelamaan yang mereka anggap itu aneh dan luar biasa, akan menjadi
biasa-biasa saja. Sudah, pikirkan saja pekerjaanmu, jangan berpikir yang berat-berat,
nanti maagmu kambuh lagi. Tenangkan pikiranmu...” Mas Heri berkata sambil
memegang kepalaku, bak seorang kakak yang penuh perhatian pada adiknya.
__ADS_1
Entah mengapa, mendengar ucapan Mas Heri, aku malah semakin sedih. Pikiranku campur aduk. Sambil mengedit beberapa cerita pendek dan puisi yang dikirimkan anak-anak sekolah untuk dimuat, air
mataku menitik satu-satu. Tak lama nada pesan di messengerku berbunyi. Sebuah
puisi muncul di situ.
Kata Hati
Naina, hilangkan
curiga dari benak terdalammu
Aku selalu
meraba rasa dan berkata pada diri, antara kita tak perlu saling curiga
Tentunya kau
menduga hubungan ini penuh rekayasa
Kau salah
Rasa terdalamku
padamu bukan skenario antara si kaya dan miskin
Dia tidak berada
dalam absurditas semu
Dia bukan pula
berdiam di kisah novel picisan
Seperti Cinderella
Aku dan kau
telah digiring oleh rasa
Rasa terdalam
dari cinta yang kupendam bertahun tahun untukmu
Ayolah Naina,
singkirkan semua hal tentang keraguan
Aku yakin kau tercipta
untukku
Ya untukku
Bintang/Juli/2020
Entah itu puisi atau semacam curahan hati, tangisku semakin luruh usai membaca kalimat-kalimat yang tertata apik itu. Aku merasa dia si Bintang Kejora, sosok yang mengisi hari-hari sepiku dan
kegundahan akan alur kehidupan yang tengah kujalani. Tapi ternyata dia Beib,
dia lelaki pengusaha yang memiliki segalanya, bukan penyair bohemian yang
terpatri di benakku. Bintang, mengapa kau mengejawantah di sosok Beib? Mengapa?
Aku menyeka air mata dengan perlahan. Sungguh, aku merasa telah kehilangan
__ADS_1
Bintang, sang penyair yang telah ratusan kali mengirimkan ucapan cinta padaku.
Cinta sang penyair, itu yang selalu terekam di benakku.
Rapat Redaksi kali ini kembali dihadiri Pak Beib. Di tengah rapat dan berkumpulnya teman-temanku, aku tetap tak mau mengubah panggilanku padanya. Sengaja ini kulakukan agar ada rentang
jarak antara atasan dan bawahan, terlebih lagi dia adalah investor tabloid, apa
pun alasan atau rekayasa yang
bersembunyi di belakang itu, aku tetap merasa ia orang penting yang harus
kuhormati. “Perkembangan yang terjadi, oplag naik dua ribu ekslemplar. Ini berita baik. Bagaimana jika kita memberikan bonus pada pembaca yang disisipkan di setiap tabloid. Misalnya dengan menyisipkan
gambar salah satu tokoh film kartun yang saat ini digemari anak-anak?” ujarku
membuka rapat.
“Itu ide yang bagus, bagaimana dengan teman-teman yang lain?” tanya Mas Heri.
“Kalau saya, sisipkan saja lima puisi yang diberi judul Puisi Buat Ibu. Puisi itu nanti dilipat rapi, diberi
gambar karikatur yang cantik yaitu wajah seorang ibu di halaman depannya, lalu
di dalamnya diberi gambar-gambar unik yang mewakili puisi itu. Gambar itu bisa
bunga, wajah anak-anak sekolah yang imut dan lain-lain,” Ace memberi masukan.
“Wah, ini nambah kerjaan untuk
ilustrator dong, hehe...” Giri sang ilustrator yang suka bercanda itu nyeletuk.
“Semua ide bagus, tapi menurut sayaide Naina rasanya lebih pas. Sebab selain simple dan ringan juga tidak perlu banyak buang tenaga. Kita tinggal kasih ke yang ahli membuatnya, lalu tinggal
dibungkus plastik dan dijepret yang kuat dengan straples di bagian tengah
tabloid, itu lebih efektif.” Suara Pak Beib terdengar tegas.
Mas Heri dan semua teman menatapku, aku menjadi tak enak hati.
“Iya, pendapat Pak Beib ada benarnya. Saya setuju.” Kata Mas Heri kemudian, semua teman ikut menganggukkan
kepala.
Pak Beib menatapku sekilas. Tak lama, nada messengerku berbunyi lagi. Ada pesan dari lelaki pengusaha itu. “Akumengundangmu ke apartemenku, nanti malam kita makan malam bersama Papa dan
Mamaku, aku ingin memperkenalkanmu pada mereka dan mereka juga ingin tahu
tentangmu. Nanti kujemput ke tempat kostmu ya, tolong inbox alamatmu!”
Aku tidak segera menjawab pesannya itu. Laki-laki ini sudah merasa yakin kalau aku cinta padanya. Padahal aku belum mengatakan ‘iya’. Hhh...dia mengundang makan malam dan hendak
memperkenalkanku pada orangtuanya tanpa menanyakan persetujuanku dulu, kalimatnya
di messenger memakai tanda seru lagi, sungguh keterlaluan.
Usai rapat aku tidak menegur atau mengucapkan selamat siang pada Pak Beib. Aku berjalan tergesa, kembali ke meja kerjaku. Baru beberapa menit aku menjatuhkan tubuhku di kursi yang ada di
samping meja, Mas Hari tampak mendatangiku.
“Naina, ayo turun sebentar, Pak Beib ingin bicara denganmu. Ayolah, jangan merengut seperti itu,” Mas Heri membujukku.
Aku tidak bisa mebolak. Denganlangkah perlahan aku turun ke lantai dasar, menemui lelaki tampan yang entah mengapa selalu membuatku kesal. Meski ia selalu mengatakan mencintaiku, aku masih belum bisa menerimanya. Yang kurindukan hanya Bintang, tapi Bintang telah
berubah menjadi Beib, ah...
__ADS_1
Bersambung