
Bagian Keduapuluh Satu
Cinta Sang Penyair
Tamat
Tembakan cinta yang diluncurkan Beib padaku, semakin mengikat kebebasanku. Lambat-laun
aku mulai merasa tak berdaya. Terlebih lagi Mas Heri, Ace dan teman-teman
seolah memberi lampu hijau dengan situasi yang kualami. Ibu dan Ayahku tidak
tahu akan hal ini. Mereka tak mau pusing dengan hal-hal yang mereka anggap
remeh-temeh seperti yang kualami. Seperti yang sudah kugambarkan, mereka adalah
manusia merdeka yang sama denganku, memberikan padaku keputusan akan masa
depanku tanpa mau mengekangnya, mereka menganggap aku mahluk dewasa yang yang
sudah bisa menentukan jalan hidupku sendiri, selama aku mengikuti norma-norma
adat ketimuran yang selalu mereka dengungkan di telingaku.
“Jika kau bersikap murah dengan memberikan tubuhmu dari satu lelaki ke lelaki lain, maka kau akan tercerabut dari akar keperempuananmu. Kau akan menjadi komoditi sex yang dengan mudahnya terlena
karena uang, dan kau akan menjadi mahluk hedonis yang menjual alat vitalmu demi
lembar-lembar rupiah, kau tak punya harga diri dan kau murah. Ingat Nak, kau
tak bisa bebas merdeka dengan memberikan tubuhmu pada siapa saja, kau perempuan
dan perempuan selalu menjadi pesakitan yang tertuduh dan dihina apabila dia
sudah tercemar, camkan itu,” kata ayahku selalu. Lelaki yang suka membaca buku filsafat
itu, meski terkadang lebih banyak menganggur di rumah, hobinya membaca membuat
cara berpikirnya berbeda dari para ayah lain di mataku. Itu sebabnya, meski aku
banting tulang untuk membiayai hidupnya dan ibu juga adikku, aku selalu
menyayangi mereka. Aku menyimpan nasehat ayahku di ruang benakku yang terdalam.
Dan kelak jika perjalanan kisahku bersama Beib akan berakhir dengan ending yang
membahagiakan, barulah akan kujelaskan semuanya pada mereka.
Di kantor, semua berjalan seperti biasa. Gonjang-ganjing perkembangan oplag yang naik turun akibat persaingan dengan media online, sudah menjadi peristiwa rutin yang terkadang mengaduk-aduk
perasaan kami. Kehadiran Beib yang hampir tiap hari di kantor, kini menjadi hal
biasa, teman-teman dan Mas Heri senang bila ia datang. Apabila Beib datang, itu
menjadi pertanda bahwa kami semua selalu disuguhi makanan fast food yang enak-enak. Namun, hingga saat ini ucapan kata ‘cinta
yang tetap dituntut Beib baik itu secara langsung maupun puisi-puisinya, gencar
menghujani messenger Fb-ku.
Cintaku
Katakan itu
bersama deru waktu yang bergulir
jangan buat
hatiku hancur oleh jawab yang tak pasti
aku mengeluh
__ADS_1
dalam diam di sunyinya malam
katakan Naina,
apakah cinta telah membatu di hatimu?
baiklah, andai
sedikit pun tak tersisa rasa yang merindu
biar aku
memelukmu lebih erat lagi
agar detak
jantung yang berbunyi membuat kita tak terpisahkan lagi
Naina sayang,
apakah harus
kurobek dada ini dan kau melihatnya di sana
ada rindu
demikian mencekam
katakan...katakan...kau
cinta padaku...
Bintang/Juli/ 2020
Aku ingin meyakinkan diriku dan berkata, bahwa aku juga mulai menyukai Beib. Namun
tak lama puisi itu masuk ke messengerku, WA dari Marly dan Jennifer berbunyi:
“Kau telah merebut kekasihku perempuan ******. Perempuan tak memiliki harga diri, miskin dan ingin masuk ke kehidupan mewah kami, memang sudah sepatutnya perempuan sepertimu dimusnahkan, lihat saja nanti!”
Dua ancaman yang datangnya dari Marly dan Jennifer, bagiku sebenarnya hanya ketakutan semu yang melanda tiap individu jika ketenangan mereka terusik, terlebih lagi mereka orang-orang kaya
yang tak mau ada sosok yang mereka anggap sebagai pengerat, masuk ke kehidupan
mereka. Tapi ancaman itu juga tidak bisa kuanggap remeh lagi. Mereka sudah tahu
kantor tempat aku bekerja, tempat kostku pun sudah mereka ketahui. Kecurigaanku
muncul sejak beberapa hari ini, aku sering melihat orang berpakaian jaket
gunung dengan topi kupluk nongkrong di halte tepat di depan tempat kostku.
Beberapa kali kulihat dia ada di sana. Aku yang pernah mempelajari ilmu
beladiri karate, sedikit pun tidak takut dengan sosok pria muda tersebut. Suatu
senja, ia kembali ada di sana, ditempat yang sama. Aku menghampirinya dan menatapnya
dengan berani, aku sudah memasang kuda-kuda, siap menendangnya jika ia hendak
melakukan sesuatu. Lelaki itu balik menatapku, ia memegang sesuatu yang
menyembul di pinggangnya, naluriku mengatakan kalau benda itu pistol. Ketika beberapa pegawai kantoran yang baru pulang kerja berdiri di halte itu dan memandang laki-laki itu dengan curiga,
dia pergi diam-diam. Dan ancaman ini, tidak bisa dianggap sepele. Beib harus
tahu. Harus!
“Dasar perempuan-peremouan gila. Aku tidak pernah berpacaran dengan Jennifer. Mereka sudah ketakutan bila kau masuk di kehidupanku. Mau apa mereka? Enak saja mau mengatur kehidupan dan kisah
cintaku!” Beib tampak kesal sekali. Urat-urat di pelipisnya terlihat menonjol.
__ADS_1
Aku agak ngeri melihat ia marah. Takut dia kena setrok.
Tindakan yang diambil Beib cukup di luar dugaanku. Ketika diumumkan berita pemutusan hubungan kekeluargaan di iklan koran ternama berkaitan dirinya dan Marly saudara angkatnya itu, semua yang
berkaitan dengan dia dan aku menjadi semakin menukik tajam. Papa dan Mamanya
memintaku untuk bertemu. Mereka mengadiliku dan menuduh aku menjadi biang
keladi dari semua ini. Tapi Beib membelaku habis-habisan.
“Kak Marly dan Jennifer mengancam hendak membunuh Naina. Mereka juga memasang mata-mata untuk mengintainya di depan tempat kostnya. Ini ancaman yang tidak main-main Ma, Pa. Mengapa Kak
Marly begitu takut jika aku jatuh cinta pada gadis lain? Aku harus menikahi
Jennifer, keponakannya. Apakah dia bermaksud agar harta keluarga selalu berada
di dalam pengawasannya? Siapa dia yang selalu mengawasi kehidupan pribadiku.
Papa dan Mama tahu, Naina sedikit pun tak ingin berada di lingkungan kita. Aku
yang mencintainya, aku sangat mencintainya. Aku yang mengejar-ngejarnya. Dia
berbeda dari gadis-gadis kaya yang selama ini kukenal, gadis yang hanya mau
kunikahi karena melihat latar belakangku, menginginkan agar ada kerjasama di
dalam perusahaan kita, agar harta mereka terus menumpuk. Aku tidak suka
gadis-gadis seperti itu. Aku ingin memiliki kehidupan yang merdeka, merdeka
mengasihi orang yang kucinta. Kalian tahu kan aku begitu sangat mencintai
Naina. Hanya Naina dalam hidupku Pa, Ma...” Beib menitikkan air mata, ia
menarik tenganku dan memelukku di Hadapan Papa, Mamanya. “Jika kalian tidak
setuju aku menikahi Naina, lebih baik aku mati bunuh diri saja!” katanya lagi.
Keheningan yang mencekam menaungi.ruangan itu. Marly, Jennifer, suami Marly, Bapak dan Ibu Utomo, duduk terpaku di kursi masing-masing. Aku tak perlu menunggu terlalu lama lagi, ucapanku yang
tajam kurasa kembali menghujam ke ulu hati mereka. “Bapak dan Ibu Utomo, untuk
menjadi catatan kalian, saya tidak pernah tertarik pada harta kalian. Saya
punya kehidupan sendiri. Saya bukan gadis lemah yang bodoh lalu memberikan
tubuhnya pada seorang lelaki demi harta. Saya manusia merdeka, andai tak makanan
pun saya masih bisa hidup, karena saya masih memiliki Tuhan yang menuntun saya
untuk berjalan ke kehidupan selanjutnya, bukan harta benda duniawi yang jika
mati pun tak bisa dibawa mati. Jadi janganlah menilai seseorang dari tampilan
dan kehidupan sosialnya bahwa mereka yang miskin akan menjadi parasit pada si
kaya. Tidak selamanya kehidupan akan begitu, Dunia ini berputar, si kaya bisa
menjadi si miskin dan sebaliknya. Jika Tuhan berkehendak, tak perlu hitungan
detik, dalam sekejap saja manusia bisa kehilangan segalanya. Permisi!”
Aku berjalan meninggalkan ruangan itu. Rasanya hatiku puas sekali. Tanpa kusadari Beib memegang pergelangan tanganku. Kami berjalan beriringan. “Naina, jangan tinggalkan aku, cintailah
aku...” ucapnya dengan suara serak.
Air mataku menitik perlahan. Aku rindu pada Bintang, rindu pada cinta sang penyair untukku. “Aku tak akan meninggalkanmu, Beib. Mari kita berjalan mengarungi hidup ini dan menjadi diri kita sendiri. Seperti puisi-puisimu, yang mengalir bebas membuat siapa saja yang membacanya bahagia...”
“Mari sayang...” Beib memegang tanganku kian erat.
Tamat
__ADS_1