Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 21


__ADS_3

Bagian Keduapuluh Satu


            Cinta Sang Penyair


            Tamat


            Tembakan cinta yang diluncurkan Beib padaku, semakin mengikat kebebasanku. Lambat-laun


aku mulai merasa tak berdaya. Terlebih lagi Mas Heri, Ace dan teman-teman


seolah memberi lampu hijau dengan situasi yang kualami. Ibu dan Ayahku tidak


tahu akan hal ini. Mereka tak mau pusing dengan hal-hal yang mereka anggap


remeh-temeh seperti yang kualami. Seperti yang sudah kugambarkan, mereka adalah


manusia merdeka yang sama denganku, memberikan padaku keputusan akan masa


depanku tanpa mau mengekangnya, mereka menganggap aku mahluk dewasa yang yang


sudah bisa menentukan jalan hidupku sendiri, selama aku mengikuti norma-norma


adat ketimuran yang selalu mereka dengungkan di telingaku.


            “Jika kau bersikap murah dengan memberikan tubuhmu dari satu lelaki ke lelaki lain, maka kau akan tercerabut dari akar keperempuananmu. Kau akan menjadi komoditi sex yang dengan mudahnya terlena


karena uang, dan kau akan menjadi mahluk hedonis yang menjual alat vitalmu demi


lembar-lembar rupiah, kau tak punya harga diri dan kau murah. Ingat Nak, kau


tak bisa bebas merdeka dengan memberikan tubuhmu pada siapa saja, kau perempuan


dan perempuan selalu menjadi pesakitan yang tertuduh dan dihina apabila dia


sudah tercemar, camkan itu,” kata ayahku selalu. Lelaki yang suka membaca buku filsafat


itu, meski terkadang lebih banyak menganggur di rumah, hobinya membaca membuat


cara berpikirnya berbeda dari para ayah lain di mataku. Itu sebabnya, meski aku


banting tulang untuk membiayai hidupnya dan ibu juga adikku, aku selalu


menyayangi mereka. Aku menyimpan nasehat ayahku di ruang benakku yang terdalam.


Dan kelak jika perjalanan kisahku bersama Beib akan berakhir dengan ending yang


membahagiakan, barulah akan kujelaskan semuanya pada mereka.


            Di kantor, semua berjalan seperti biasa. Gonjang-ganjing perkembangan oplag yang naik turun akibat persaingan dengan media online, sudah menjadi peristiwa rutin yang terkadang mengaduk-aduk


perasaan kami. Kehadiran Beib yang hampir tiap hari di kantor, kini menjadi hal


biasa, teman-teman dan Mas Heri senang bila ia datang. Apabila Beib datang, itu


menjadi pertanda bahwa kami semua selalu disuguhi makanan fast food yang enak-enak. Namun, hingga saat ini ucapan kata ‘cinta


yang tetap dituntut Beib baik itu secara langsung maupun puisi-puisinya, gencar


menghujani messenger Fb-ku.


Cintaku


Katakan itu


bersama deru waktu yang bergulir


jangan buat


hatiku hancur oleh jawab yang tak pasti


aku mengeluh

__ADS_1


dalam diam di sunyinya malam


katakan Naina,


apakah cinta telah membatu di hatimu?


baiklah, andai


sedikit pun tak tersisa rasa yang merindu


biar aku


memelukmu lebih erat lagi


agar detak


jantung yang berbunyi membuat kita tak terpisahkan lagi


Naina sayang,


apakah harus


kurobek dada ini dan kau melihatnya di sana


ada rindu


demikian mencekam


katakan...katakan...kau


cinta padaku...


Bintang/Juli/ 2020


            Aku ingin meyakinkan diriku dan berkata, bahwa aku juga mulai menyukai Beib. Namun


tak lama puisi itu masuk ke messengerku, WA dari Marly dan Jennifer berbunyi:


            “Kau telah merebut kekasihku perempuan ******. Perempuan tak memiliki harga diri, miskin dan ingin masuk ke kehidupan mewah kami, memang sudah sepatutnya perempuan sepertimu  dimusnahkan, lihat saja nanti!”


            Dua ancaman yang datangnya dari Marly dan Jennifer, bagiku sebenarnya hanya ketakutan semu yang melanda tiap individu jika ketenangan mereka terusik, terlebih lagi mereka orang-orang kaya


yang tak mau ada sosok yang mereka anggap sebagai pengerat, masuk ke kehidupan


mereka. Tapi ancaman itu juga tidak bisa kuanggap remeh lagi. Mereka sudah tahu


kantor tempat aku bekerja, tempat kostku pun sudah mereka ketahui. Kecurigaanku


muncul sejak beberapa hari ini, aku sering melihat orang berpakaian jaket


gunung dengan topi kupluk nongkrong di halte tepat di depan tempat kostku.


Beberapa kali kulihat dia ada di sana. Aku yang pernah mempelajari ilmu


beladiri karate, sedikit pun tidak takut dengan sosok pria muda tersebut. Suatu


senja, ia kembali ada di sana, ditempat yang sama. Aku menghampirinya dan menatapnya


dengan berani, aku sudah memasang kuda-kuda, siap menendangnya jika ia hendak


melakukan sesuatu. Lelaki itu balik menatapku, ia memegang sesuatu yang


menyembul di pinggangnya, naluriku mengatakan kalau benda itu pistol.  Ketika beberapa pegawai kantoran yang baru pulang kerja berdiri di halte itu dan memandang laki-laki itu dengan curiga,


dia pergi diam-diam. Dan ancaman ini, tidak bisa dianggap sepele. Beib harus


tahu. Harus!


            “Dasar perempuan-peremouan gila. Aku tidak pernah berpacaran dengan Jennifer. Mereka sudah ketakutan bila kau masuk di kehidupanku. Mau apa mereka? Enak saja mau mengatur kehidupan dan kisah


cintaku!” Beib tampak kesal sekali. Urat-urat di pelipisnya terlihat menonjol.

__ADS_1


Aku agak ngeri melihat ia marah. Takut dia kena setrok.


            Tindakan yang diambil Beib cukup di luar dugaanku. Ketika diumumkan berita pemutusan hubungan kekeluargaan di iklan koran ternama berkaitan dirinya dan Marly saudara angkatnya itu, semua yang


berkaitan dengan dia dan aku menjadi semakin menukik tajam. Papa dan Mamanya


memintaku untuk bertemu. Mereka mengadiliku dan menuduh aku menjadi biang


keladi dari semua ini. Tapi Beib membelaku habis-habisan.


            “Kak Marly dan Jennifer mengancam hendak membunuh Naina. Mereka juga memasang mata-mata untuk mengintainya di depan tempat kostnya. Ini ancaman yang tidak main-main Ma, Pa. Mengapa Kak


Marly begitu takut jika aku jatuh cinta pada gadis lain? Aku harus menikahi


Jennifer, keponakannya. Apakah dia bermaksud agar harta keluarga selalu berada


di dalam pengawasannya? Siapa dia yang selalu mengawasi kehidupan pribadiku.


Papa dan Mama tahu, Naina sedikit pun tak ingin berada di lingkungan kita. Aku


yang mencintainya, aku sangat mencintainya. Aku yang mengejar-ngejarnya. Dia


berbeda dari gadis-gadis kaya yang selama ini kukenal, gadis yang hanya mau


kunikahi karena melihat latar belakangku, menginginkan agar ada kerjasama di


dalam perusahaan kita, agar harta mereka terus menumpuk. Aku tidak suka


gadis-gadis seperti itu. Aku ingin memiliki kehidupan yang merdeka, merdeka


mengasihi orang yang kucinta. Kalian tahu kan aku begitu sangat mencintai


Naina. Hanya Naina dalam hidupku Pa, Ma...” Beib menitikkan air mata, ia


menarik tenganku dan memelukku di Hadapan Papa, Mamanya. “Jika kalian tidak


setuju aku menikahi Naina, lebih baik aku mati bunuh diri saja!” katanya lagi.


            Keheningan yang mencekam menaungi.ruangan itu. Marly, Jennifer, suami Marly, Bapak dan Ibu Utomo, duduk terpaku di kursi masing-masing. Aku tak perlu menunggu terlalu lama lagi, ucapanku yang


tajam kurasa kembali menghujam ke ulu hati mereka. “Bapak dan Ibu Utomo, untuk


menjadi catatan kalian, saya tidak pernah tertarik pada harta kalian. Saya


punya kehidupan sendiri. Saya bukan gadis lemah yang bodoh lalu memberikan


tubuhnya pada seorang lelaki demi harta. Saya manusia merdeka, andai tak makanan


pun saya masih bisa hidup, karena saya masih memiliki Tuhan yang menuntun saya


untuk berjalan ke kehidupan selanjutnya, bukan harta benda duniawi yang jika


mati pun tak bisa dibawa mati. Jadi janganlah menilai seseorang dari tampilan


dan kehidupan sosialnya bahwa mereka yang miskin akan menjadi parasit pada si


kaya. Tidak selamanya kehidupan akan begitu, Dunia ini berputar, si kaya bisa


menjadi si miskin dan sebaliknya. Jika Tuhan berkehendak, tak perlu hitungan


detik, dalam sekejap saja manusia bisa kehilangan segalanya. Permisi!”


            Aku berjalan meninggalkan ruangan itu. Rasanya hatiku puas sekali. Tanpa kusadari Beib memegang pergelangan tanganku. Kami berjalan beriringan. “Naina, jangan tinggalkan aku, cintailah


aku...” ucapnya dengan suara serak.


            Air mataku menitik perlahan. Aku rindu pada Bintang, rindu pada cinta sang penyair untukku. “Aku tak akan meninggalkanmu, Beib. Mari kita berjalan mengarungi hidup ini dan menjadi diri kita sendiri. Seperti puisi-puisimu, yang mengalir bebas membuat siapa saja yang membacanya bahagia...”


            “Mari sayang...” Beib memegang tanganku kian erat.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2