
Bagian Kesembilan
Cinta Sang Penyair
Hari ini aku bangun agak siang. Deadline tabloid sudah
selesai tadi pukul dua dini hari. Semua copy naskah sudah dibawa ke percetakan.
Tak ada lagi tugas yang bolong-bolong di white
board, tiap halaman sudah sesuai dengan rubrikasi. Aku menggerakkan
tubuh ke kiri dan ke kanan, melemaskan
otot-otot yang kaku akibat mengoreksi semua tulisan yang menumpuk di meja
kerjaku.
Handphoneku bergetar cukup lama. Aku memang terbiasa
mematikan dering Hp jika hendak beristirahat. Kadang hanya nada getar saja yang
kupasang, kadang tak ada nada sama sekali. Sebenarnya aku tidak mematikan Hpku,
sebelum tidur aku terbiasa menonton film-film pendek ringan dari negeri Tirai
Bambu alias China sana. Meski akting para bintangnya terlalu dibuat-buat, aku
senang. Paling tidak film pendek itu menemaniku hingga aku benar-benar
mengantuk dan terlelap.
Aku terkejut ketika membuka WA ada pesan singkat dari Pak
Beib, ia menulis agar aku menemuinya jam makan siang hari ini di sebuah restoran mewah yang
terletak di sebuah hotel berbintang di Jalan Thamrin. Pesannya, ia ingin aku
datang sendirian, ada hal yang pribadi yang akan disampaikannya dan orang lain tak boleh tahu. Ingin kujawab,
perihal apakah yang akan disampaikannya sehingga aku harus datang sendirian ke
restoran mewah itu? Selama aku menjadi wartawati, jarang sekali aku menemui
seorang lelaki sendirian, aku selalu bersama Ace sang fotografer. Menemui
penyandang dana tabloid anak yang kugawangi tidak ditemani siapa-siapa, sungguh
membuatku tak enak hati. Aku takut nanti ada yang melihat dan berpikir yang
bukan-bukan tentang diriku. Apalagi jika sampai kepergok teman-temanku. Tak
bisa kubayangkan imbas yang akan terjadi. Ingin kutolak undangan atau jelasnya
perintah itu. Aku ingin mengadukan hal ini pada Mas Heri, tapi nanti akan jadi
melebar. Dan Pak Beib tentunya akan marah apabila aku melanggar pesannya.
“Jangan lupa, jam makan siang ya. Kamu jangan makan dulu,
nanti makan di sini saja!” tulisnya dengan tanda seru yang bernada memerintah.
Sial! Pikirku. Harusnya hari ini aku tidur sampai puas di
kamar kostku. Harusnya tak kubuka Hp-ku dan tidak membaca pesan di WA itu. Duh,
__ADS_1
apes apa aku hari ini. Kemudian, baru beberapa menit aku selesai berganti
pakaian dan berdandan a la reporter, tak bermake-up dan tomboy, aku menerima messanger
di Fb, dari Bintang Kejora sang penyair ‘picisan’ itu.
Hai Naina Dear
Sudah berapa waktu berlalu dalam sunyi
Rindu ******* detak jantungku
Ingin kudengar suaramu meski kau mungkin menolaknya
Janganlah kata berlalu sia sia
Sebab ada jemari yang menari di sela teriknya mentari
Aku menunggu penuh harap
Ingin melihat mata, bibir dan ucapmu dalam nada memikat
Datanglah sayang, meski itu hanya sekelebat
Bintang, Juli, 2020
Ah, membaca puisi itu, rasa gundahku kian menjadi-jadi.
Aku kian terbawa dalam perasaanku sendiri. Rasa tak nyaman itu semakin
membuatku gelisah. Atau kutulis saja aku tak enak badan ya, agar si Beib tidak
lagi memintaku untuk makan siang bersamanya. Tapi itu berarti aku berbohong dan
sendiri tanpa kusadari. Satu hal lagi yang ingin kusampaikan, aku tak merasa
ada kesetaraan dalam hal apa pun bila disandingkan dengan Beib. Dia tampan dan
kaya, dia sempurna. Sedang aku, seperti yang sudah kututurkan di atas, kedua
orangtuaku sangat tergantung padaku, terutama dalam hal perekonomian, adikku yang terkena skizofrenia pastinya akan terus menjadi stigma hitam di sepanjang hidupku. Orang timur macam Indonesia
ini, biasanya dalam hal perjodohan kerap melihat bibit, bobot dan bebet,
artinya latar belakang keluarga kedua belah pihak baik dari pihak perempuan
maupun laki-laki, akan menjadi pertimbangan yang kuat di dalam menjalin
hubungan yang lebih dalam, misalnya menuju ke gerbang pernikahan. Aku sadar
akan hal itu. itu sebabnya aku menjauh dari urusan cinta. Dan kini, rasa cemas
itu semakin memuncak.
“Jangan terlambat ya Naina, jam dua siang aku ada
meeting." Pesan di WA kembali muncul.
Akhirnya, aku mengambil keputusan seketika itu juga,
kugunakan pakaian terbaikku, meski tanpa make-up, aku menata penampilanku agar
terlihat agak terhormat, agar tak tampak miskin-miskin amat. Kesan tidak
feminin memang masih tampak. Tapi aku memang tak suka dengan penampilan a la
__ADS_1
sosialita, pegang tas bermerek, sepatu high heel dan jalan berlenggok mirip
peragawati. Cukup celana jins, atasan putih bunga-bunga yang kubeli melalui
online (itu pun masih kedodoran sedikit), tas selempang dan sepatu sniker berwarna
kesukaanku dan memang tak ada lagi yang lain karena aku belum punya cukup dana
untuk membeli yang baru. Fiks! Kurasa penampilanku sudah lumayan. Kemudian aku
memesan ojek online dan ngebut ke tempat yang ditulis Beib sang bos.
Tiba di hotel itu, aku tidak langsung turun di depan
lobby, ojek online yang mengantarku kuminta untuk berhenti sekitar lima puluh
meter dari hotel. Dan yangb pasti, aku tidak mau terlihat kurang elegan dengan
turun dari ojek online di depan lobby hotel mewah itu. Kemudian, untuk
menyamarkan wajahku, kupakai kaca mata hitam dan topi base ball berwarna cream
tua kesukaanku. Bagiku ini penyamaran yang sempurna. Aku melenggang perlahan
mirip seorang agen rahasia. Dari kejauhan aku melihat di dalam restoran sudah
ada Beib yang duduk dengan elegan sembari melihat Handphone canggihnya yang aku
yakin berharga puluhan juta rupiah. Ia terlihat tampan sekali, gayanya yang bak
peragawan dan keren itu, sudah menggambarkan kalau ia memang sosok pengusaha
yang kaya raya. Duh, apa kata orang jika aku menghampirinya dan duduk semeja
dengannya? Rasa minderku tiba-tiba saja muncul. Aku ingin putar balik dan
meninggalkan tempat itu, tapi WA-ku kembali berbunyi, aku membaca tulisan di
situ, “cepat ke sini, jangan seperti orang linglung!”
Ups! Aku melemparkan pandangan ke arahnya. Beib sedang
melambaikan tangannya ke arahku. Gila! Ternyata dia sudah melihatku.
“Aku sudah melihatmu dari kejauhan. Senang kau mau
datang. Silahkan duduk!” katanya sembari berdiri dan menarikkan kursi untukku.
“Wah, terima kasih Pak.” Ucapku dengan wajah malu. Aku
merasa tak enak hati saat ia yang begitu keren memberikan kursi untuk gadis
dengan penampilan ‘slebor’ sepertiku, dan aku juga merasa para pelayan serta orang-orang
yang ada di restoran mewah itu, memperhatikan aku.
“Silakan pesan makanan yang kamu suka. Kamu pasti lapar.”
Katanya lagi.
Aku menundukkan wajah, ada rasa takut saat Beib menatapku
dengan serius. Entah ini aku yang kegeeran, atau hanya perasaanku saja, tatapannya sangat aneh, menurutku. Mengapa dia
menatapku seperti itu? (Bersambung)
__ADS_1