Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 11


__ADS_3

Bagian Kesebelas


 Cinta Sang Penyair


            Aku mematuhi perkataan Beib untuk merahasiakan proyek penulisan biografi yang


digagasnya. Tapi perasaan tidak enakku pada teman-teman di kantor termasuk Mas


Heri bila suatu saat mereka tahu tentang kegiatan kepenulisan ini, membuatku jadi


terbebani.  Andai buku ini tiba-tiba terbit dan diluncurkan


di depan banyak orang serta dimuat di berbagai media massa, maka seluruh temanku


akan tahu. Mereka pasti akan menduga yang bukan-bukan.


            “Mengapa kamu selalu khawatir dan cemas dengan lingkunganmu? Kamu harus punya privacy sendiri, jika tabloid itu oplagnya turun, perusahaan gulung tikar dan semua karyawannya di-PHK, apakah


kamu akan ikut terbenam juga bersama teman-temanmu? Kamu tidak seharusnya


selalu khawatir dan khawatir,” Pak Beib tiba-tiba saja berkata dengan nada


tinggi, usai kuutarakan rasa cemasku.


        “Kamu tahu, jika proyek biografi ini kuutarakan di rapat redaksi, maka


semua hal yang berkaitan dengan honorarium harus melalui perusahaan, padahal


itu semua kamu yang kerjakan. Kamu mau begitu?” Pak Beib kembali menatapku


tajam.


            Baru kali ini aku melihat Pak Beibnmarah. Wajahnya yang putih bersih memerah.  Aku yang sedari tadi sudah menggigil, kini tambah kedinginan. “Terserah Pak Beib deh. Berapa pun honor yang Bapak berikan


saya terima, yang penting seluruh teman termasuk Mas Heri harus tahu. Jika Pak


Beib tak berkenan, Bapak bisa pecat saya sebagai jurnalis di Tabloid Anak itu,”


ucapku dengan suara tercekat. Aku letih sekali. Aku juga harus memikirkan orang


tua serta adikku. Aku ingin lari dari semua ini, tapi tidak bisa. Mereka


tanggungjawabku, terutama adikku. Air mata perlahan mengambang di pelupuk


mataku. Tapi kusembunyikan.


            “Ya baiklah, semua kuserahkan


padamu. Nanti di rapat redaksi, akan kuutarakan apa rencanaku yang berkaitan


dengan penulisan biografi itu pada Pak Heri dan kawan-kawan. Hasil rapat akan


kuterima. Sudah jangan menangis,” ucap Pak Beib akhirnya.


            Aku segera berdiri dan menyalami tangan direktur muda yang tampan itu dengan spontan. Air mata yang mengambang di pipiku dengan cepat kuhapus. “Terima kasih Pak Beib,” kataku masih dengan


suara serak.


            Siang itu tidak terjadi wawancara pribadi yang berkaitan dengan penulisan biografi. Sebelum aku kembali ke kantor, Pak Beib menatapku sekejap. Ia menjadi lebih pendiam. Katanya, “Sebelum


meninggalkan tempat ini, sebaiknya kita makan siang dulu. Hana asisten rumah


tanggaku sudah menyediakan masakan spesial untuk kita berdua.” Suara Pak Beib


terdengar lembut.


            Ketika aku ke luar dari apartemennya, Pak Beib mengantarku hingga di depan pintu. Ia berpesan agar aku


hati-hati di jalan. Sebelum pulang, ia hendak memberiku amplop berwarna putih, yang

__ADS_1


kuyakin itu berisi uang untuk transportasiku, tapi kutolak. Akhirnya ia


menelpon sopirnya untuk mengantarkanku ke kantor. Aku juga menolaknya.


        “Sudah, jangan cemas, nanti kuminta sopirku untuk menurunkanmu beberapa


puluh meter dari kantor supaya tak terlihat teman-temanmu, cantik...” katanya


sambil memegang bahuku lembut  disertai


senyumnya yang menawan. Aku menundukkan wajahku dengan penuh rasa malu. Ucapan


dan usapan tangannya di bahuku, sungguh membuatku tak nyaman. Pasalnya, selama


ini baru si Bintang Kejora itu saja yang berani mengucapkan kata sayang padaku,


itu pun melalui dunia maya, tidak secara nyata.


            “Oh Baik, Pak Beib. Saya permisi,”


Kataku dengan cepat dan jantung berdebar tak karuan. Uf! Andai si Pak Beib ini


tahu betapa malunya aku, pasti dia akan tertawa melihat sikapku. Di benakku,


lelaki ini pastinya sudah sangat lihai di dalam mempermainkan perasaan perempuan.


Hiiii...aku jadi ngeri, buru-buru menekan tombol lift, meninggalkan Pak Beib


yang masih berdiri menatapku tanpa berkedip. Selamat...selamat...pikirku dalam


hati.


            Tiba di kantor kubuka WA, tiga larik puisi muncul di messanger. Kali ini ada emoticon bergambar jantung di baitterakhir puisi yang dikirimnya.


Naina Cantik


 Kupikir inilah yang terbaik


Karena menyimpan duri di dada


akan perih sendiri


Dan onak tak akan mampu menampung


keluh


Sebab jika api menjilat maka


pedih akan semakin kuat


Di sana gemelutuk keluh hanya


menaruh resah


Karena damai menjadi cermin abadi


bagi semesta


Jika hatimu tak berkecamuk


Kesal tak perlu mendera raga


Jangan menjadi perisai bagi lelah


di dalam jiwa


Sebab menyimpan luka akan sakit


sendiri

__ADS_1


Ayo, tersenyumlah


Biarkan aura bahagia terpancar


dari tawa lepas tanpa kendala


Lihat burung di udara, mereka dijaga


bersama semesta


Tak perlu cemas meski dahaga


Naina sayang, jangan simpan


mendung bersemayam terlalu dalam


Jangan juga takut pada sekeliling


Sebab kemana langkah menapak,


di sana kau  merdeka


Bintang/Juli/2020


            Puisi itu membuatku trenyuh. Aku menjadi cengeng seketika. Dan semua yang terjadi tak semulus perkiraanku.Tapi itu tak lama, di terbitan kelima Tabloid Anak Galaksi, saingan baru muncul. Nama


tabloid anak itu Bianglala, ada kemiripan dengan nama Galaksi, sama-sama


bernuansa angkasa raya. Rapat  redaksi mendadak segera dilakukan. Mas Heri yang menjadi pemred dari seluruh media, mendapat teguran dari Pak Beib, terlebih lagi terbitan yang kelima ini oplag menurun.


            Aku cemas. Tanggungjawabku sebagai Pemimpin Redaksi membuat tidurku tak tenang. Sudah terbayang bagaimana sang investor akan marah-marah dan menuduh di antara kita para anggota redaksi ada


yang membocorkan rahasia perusahaan atau menjualnya ke Tabloid Anak yang baru


itu. Kecemasanku yang berada di luar batas akhirnya membuatku terkena GERD,


asam lambungku meningkat, semua berkecamuk di kepalaku. Setiap kali selesai


makan, aku merasa ingin muntah. Rasanya beban yang kupikul berat sekali. Belum


lagi telpon dari ibuku yang terus menuntut dibelikan motor bekas agar Bapakku bisa


mengantar adikku ke rumah sakit jiwa dan ia tidak naik turun angkot. Rasanya


lengkap sudah penderitaanku ini.


Ketika rapat redaksi membahas hal itu, kulihat wajah Pak Beib dingin tanpa


senyum. Sikapnya tidak seperti biasanya. Ia menatapku sekilas. Kemudian


katanya, “Saya ingin ada perombakan yang signifikan mulai dari rubrikasi hingga


teknik kepenulisannya. Saya mohon setiap rapat redaksi, jangan ada yang


membocorkannya, karena di era globalisasi ini, kejatuhan media mainstream


seperti koran, tabloid dan majalah sangat mudah. Media online dengan cepat akan


menggilas semua media konvensional.” Ujarnya.


Dan sakit di perutku semakin menjadi-jadi. Keringat dingin membasahi


wajahku. Saat kulihat Handphoneku dan kubaca WA dari Pak Beib, di mana ia


memintaku ke apartemennya sendirian sore ini, dengkulku lemas. Aku masih


terkenang ketika ia memegang bahuku dengan kuat saat aku ke luar dari apartemennya,


rasa takut menjalar diam-diam. Duh andai Ace ikut, aku merasa aman. Tapi  dia minta aku datang lagi sendirian. Keringat dingin  membasahi wajahku dan aku merasakan semuanya gelap. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi, gelap sungguh gelap...

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2