
Bagian Kesebelas
Cinta Sang Penyair
Aku mematuhi perkataan Beib untuk merahasiakan proyek penulisan biografi yang
digagasnya. Tapi perasaan tidak enakku pada teman-teman di kantor termasuk Mas
Heri bila suatu saat mereka tahu tentang kegiatan kepenulisan ini, membuatku jadi
terbebani. Andai buku ini tiba-tiba terbit dan diluncurkan
di depan banyak orang serta dimuat di berbagai media massa, maka seluruh temanku
akan tahu. Mereka pasti akan menduga yang bukan-bukan.
“Mengapa kamu selalu khawatir dan cemas dengan lingkunganmu? Kamu harus punya privacy sendiri, jika tabloid itu oplagnya turun, perusahaan gulung tikar dan semua karyawannya di-PHK, apakah
kamu akan ikut terbenam juga bersama teman-temanmu? Kamu tidak seharusnya
selalu khawatir dan khawatir,” Pak Beib tiba-tiba saja berkata dengan nada
tinggi, usai kuutarakan rasa cemasku.
“Kamu tahu, jika proyek biografi ini kuutarakan di rapat redaksi, maka
semua hal yang berkaitan dengan honorarium harus melalui perusahaan, padahal
itu semua kamu yang kerjakan. Kamu mau begitu?” Pak Beib kembali menatapku
tajam.
Baru kali ini aku melihat Pak Beibnmarah. Wajahnya yang putih bersih memerah. Aku yang sedari tadi sudah menggigil, kini tambah kedinginan. “Terserah Pak Beib deh. Berapa pun honor yang Bapak berikan
saya terima, yang penting seluruh teman termasuk Mas Heri harus tahu. Jika Pak
Beib tak berkenan, Bapak bisa pecat saya sebagai jurnalis di Tabloid Anak itu,”
ucapku dengan suara tercekat. Aku letih sekali. Aku juga harus memikirkan orang
tua serta adikku. Aku ingin lari dari semua ini, tapi tidak bisa. Mereka
tanggungjawabku, terutama adikku. Air mata perlahan mengambang di pelupuk
mataku. Tapi kusembunyikan.
“Ya baiklah, semua kuserahkan
padamu. Nanti di rapat redaksi, akan kuutarakan apa rencanaku yang berkaitan
dengan penulisan biografi itu pada Pak Heri dan kawan-kawan. Hasil rapat akan
kuterima. Sudah jangan menangis,” ucap Pak Beib akhirnya.
Aku segera berdiri dan menyalami tangan direktur muda yang tampan itu dengan spontan. Air mata yang mengambang di pipiku dengan cepat kuhapus. “Terima kasih Pak Beib,” kataku masih dengan
suara serak.
Siang itu tidak terjadi wawancara pribadi yang berkaitan dengan penulisan biografi. Sebelum aku kembali ke kantor, Pak Beib menatapku sekejap. Ia menjadi lebih pendiam. Katanya, “Sebelum
meninggalkan tempat ini, sebaiknya kita makan siang dulu. Hana asisten rumah
tanggaku sudah menyediakan masakan spesial untuk kita berdua.” Suara Pak Beib
terdengar lembut.
Ketika aku ke luar dari apartemennya, Pak Beib mengantarku hingga di depan pintu. Ia berpesan agar aku
hati-hati di jalan. Sebelum pulang, ia hendak memberiku amplop berwarna putih, yang
__ADS_1
kuyakin itu berisi uang untuk transportasiku, tapi kutolak. Akhirnya ia
menelpon sopirnya untuk mengantarkanku ke kantor. Aku juga menolaknya.
“Sudah, jangan cemas, nanti kuminta sopirku untuk menurunkanmu beberapa
puluh meter dari kantor supaya tak terlihat teman-temanmu, cantik...” katanya
sambil memegang bahuku lembut disertai
senyumnya yang menawan. Aku menundukkan wajahku dengan penuh rasa malu. Ucapan
dan usapan tangannya di bahuku, sungguh membuatku tak nyaman. Pasalnya, selama
ini baru si Bintang Kejora itu saja yang berani mengucapkan kata sayang padaku,
itu pun melalui dunia maya, tidak secara nyata.
“Oh Baik, Pak Beib. Saya permisi,”
Kataku dengan cepat dan jantung berdebar tak karuan. Uf! Andai si Pak Beib ini
tahu betapa malunya aku, pasti dia akan tertawa melihat sikapku. Di benakku,
lelaki ini pastinya sudah sangat lihai di dalam mempermainkan perasaan perempuan.
Hiiii...aku jadi ngeri, buru-buru menekan tombol lift, meninggalkan Pak Beib
yang masih berdiri menatapku tanpa berkedip. Selamat...selamat...pikirku dalam
hati.
Tiba di kantor kubuka WA, tiga larik puisi muncul di messanger. Kali ini ada emoticon bergambar jantung di baitterakhir puisi yang dikirimnya.
Naina Cantik
Kupikir inilah yang terbaik
Karena menyimpan duri di dada
akan perih sendiri
Dan onak tak akan mampu menampung
keluh
Sebab jika api menjilat maka
pedih akan semakin kuat
Di sana gemelutuk keluh hanya
menaruh resah
Karena damai menjadi cermin abadi
bagi semesta
Jika hatimu tak berkecamuk
Kesal tak perlu mendera raga
Jangan menjadi perisai bagi lelah
di dalam jiwa
Sebab menyimpan luka akan sakit
sendiri
__ADS_1
Ayo, tersenyumlah
Biarkan aura bahagia terpancar
dari tawa lepas tanpa kendala
Lihat burung di udara, mereka dijaga
bersama semesta
Tak perlu cemas meski dahaga
Naina sayang, jangan simpan
mendung bersemayam terlalu dalam
Jangan juga takut pada sekeliling
Sebab kemana langkah menapak,
di sana kau merdeka
Bintang/Juli/2020
Puisi itu membuatku trenyuh. Aku menjadi cengeng seketika. Dan semua yang terjadi tak semulus perkiraanku.Tapi itu tak lama, di terbitan kelima Tabloid Anak Galaksi, saingan baru muncul. Nama
tabloid anak itu Bianglala, ada kemiripan dengan nama Galaksi, sama-sama
bernuansa angkasa raya. Rapat redaksi mendadak segera dilakukan. Mas Heri yang menjadi pemred dari seluruh media, mendapat teguran dari Pak Beib, terlebih lagi terbitan yang kelima ini oplag menurun.
Aku cemas. Tanggungjawabku sebagai Pemimpin Redaksi membuat tidurku tak tenang. Sudah terbayang bagaimana sang investor akan marah-marah dan menuduh di antara kita para anggota redaksi ada
yang membocorkan rahasia perusahaan atau menjualnya ke Tabloid Anak yang baru
itu. Kecemasanku yang berada di luar batas akhirnya membuatku terkena GERD,
asam lambungku meningkat, semua berkecamuk di kepalaku. Setiap kali selesai
makan, aku merasa ingin muntah. Rasanya beban yang kupikul berat sekali. Belum
lagi telpon dari ibuku yang terus menuntut dibelikan motor bekas agar Bapakku bisa
mengantar adikku ke rumah sakit jiwa dan ia tidak naik turun angkot. Rasanya
lengkap sudah penderitaanku ini.
Ketika rapat redaksi membahas hal itu, kulihat wajah Pak Beib dingin tanpa
senyum. Sikapnya tidak seperti biasanya. Ia menatapku sekilas. Kemudian
katanya, “Saya ingin ada perombakan yang signifikan mulai dari rubrikasi hingga
teknik kepenulisannya. Saya mohon setiap rapat redaksi, jangan ada yang
membocorkannya, karena di era globalisasi ini, kejatuhan media mainstream
seperti koran, tabloid dan majalah sangat mudah. Media online dengan cepat akan
menggilas semua media konvensional.” Ujarnya.
Dan sakit di perutku semakin menjadi-jadi. Keringat dingin membasahi
wajahku. Saat kulihat Handphoneku dan kubaca WA dari Pak Beib, di mana ia
memintaku ke apartemennya sendirian sore ini, dengkulku lemas. Aku masih
terkenang ketika ia memegang bahuku dengan kuat saat aku ke luar dari apartemennya,
rasa takut menjalar diam-diam. Duh andai Ace ikut, aku merasa aman. Tapi dia minta aku datang lagi sendirian. Keringat dingin membasahi wajahku dan aku merasakan semuanya gelap. Lalu aku tidak ingat apa-apa lagi, gelap sungguh gelap...
__ADS_1
(Bersambung)