
Bagian Ketujuhbelas
Cinta Sang Penyair
Percakapan yang semula kubayangkan penuh dengan nada selidik dari kedua orangtua Pak Beib,
tampaknya tidak terjadi. Pertanyaan mainstream tentang keluarga, berapa
saudara, pekerjaan ayah dan ibu apa, atau pendidikanku bagaimana, tidak
dilontarkan. Topik pembicaraan hanya seputar pekerjaan dan perkembangan tabloid
anak-anak yang kugawangi. Sesekali diselingi dengan candaan atau cerita mereka
sendiri yang berkaitan dengan perusahaan atau sikap orang-orang yang mereka
kenal.
Usai makan malam, mereka akan pamit pulang. Jika mereka pergi berarti tinggal aku dan Pak Beib di apartemen ini. Asisten rumah tangga sudah pulang beberapa jam yang lalu. Wah, ini bahaya,
pikirku. Tidak, aku harus ikut pulang juga.
“Saya juga harus pulang, habis ini kembali ke kantor karena deadline. Besok semua tulisan harus dikirim ke percetakan. Dan saya harus melakukan pengeditan akhir,” ucapku sembari berdiri.
“What? Deadline di malam begini?
Bagaimana ini Beib? Mengapa kau biarkan Naina bekerja sampai larut malam?” Tanya
sang mama.
“Oh tak apa Ibu. Pekerjaan jurnalis memang begitu. Kami tidak memiliki jam kerja seperti orang yang bekerja kantoran. Pekerjaan kami tergantung pada berita yang didapat, setelah itu diketik
dan saya bertugas menunggu hasil tulisan para teman. Begadang di kantor sampai
pagi pun sudah biasa.” Sahutku datar tanpa tekanan.
“Oh my God, pantas kamu tidak gemuk-gemuk. Hati-hati, jaga kesehatan. Oke baiklah, ayo kita pulang sama-sama.” Ajak mamanya.
“Biarkan Naina saya yang antar, Ma. Mama dan Papa duluan saja bersama Kang Maman,” tukas Pak Beib cepat. Kang Maman sopir mereka.
Aku ingin bilang tidak. Tapi kilatan mata Pak Beib seolah melarang aku ikut pulang dengan kedua orangtuanya terlihat sekilas. Malam itu, dengan wajah merengut, aku kembali menjatuhkan tubuh di
kursi yang tadi aku tempati.
“Hm...jangan berpikiran yang tidak-tidak dan jangan merengut memperlihatkan wajah tak sedap begitu. Aku bukan harimau yang akan menerkam kamu. Aku ingin berbicara serius denganmu
setelah kedua orangtuaku pulang. Ini pembicaraan yang tidak main-main Naina.
Aku ingin menikahimu. Sungguh.”
__ADS_1
“Apa?” mataku menatapnya tajam. “Kau belum menanyakan apakah aku mencintaimu atau tidak, tapi sudah mau melamarku, lagi pula kita belum mengenal lebih dekat.” Aku masih memperlihatkan wajah tak
senang.
“Lho, apakah aku harus menanyakan itu lagi? Perhatianmu pada Bintang sudah membuktikannya, kau menyukai dia, kan? Nah, apa bedanya Bintang dengan aku, kita kan satu tubuh.”
“Ada bedanya, Pak.”
“Apa itu?”
“Bintang itu seniman, dia membumi dan bukan orang kaya juga pengusaha seperti Bapak. Di imajiku Bintang adalah penyair bohemian yang tak pernah malu bila kuajak makan ketoprak di pelataran
TIM atau di tepi trotoar stasiun kereta. Pastinya dia juga suka baca puisi di mana-mana. Aku tak cocok dengan kehidupanmu yang glamour Pak Beib. Semuanya berkelas, semua bermerek dan kau bisa membeli apa saja seharga ratusan juta dengan sekali gesek, tanpa perhitungan akan masa depan. Kau hidup dengan
kemewahan yang sudah turun-temurun, sedang Bintang mungkin tidak demikian. Dia
sama sepertiku, manusia marjinal yang memandang hari esok dengan penuh
keraguan, bertanya pada alam, apakah yang bisa kami makan esok hari. Tapi...” aku menghentikan kalimatku.
“Tapi apa?” tanyamu.
“Bintang Kejora yang mulai kucintai hanya bersemayam di imajiku saja. Dia tidak nyata.”
“Dia nyata. Dia ada di hadapanmu...” tiba-tiba Pak Beib berlutut di depanku. “Apa yang kau pikirkan
tentang Bintang Kejoramu, dia ada di hadapanmu Naina. Di tubuhku memang ada dua
lainnya aku sosok seniman yang selalu ada di benakmu. Aku harus bisa memainkan
kedua peran itu. Jika aku menghilangkan salah satunya, maka ada ribuan orang
yang akan menderita. Tapi cintaku padamu tulus. Naina, aku bukan lelaki kaya
yang bisa membeli cinta semalam, andai pun aku mau, banyak gadis yang mengantri
menunggu untuk kulakukan itu. Tapi aku bukan tipe seperti itu. Aku mencari
cinta yang utuh, yang bisa membuat hidupku tenang, yang mampu mengisi kesepian
dan rasa rinduku pada kehidupan kemanusiaan yang seutuhnya. Itu semua kulihat
ada padamu. Bertahun-tahun aku sudah mempelajari karaktermu. Kau perempuan yang
dicitakan Tuhan dengan kewajaran utuh di dalam wujud keperempuananmu. Kau
adalah kau bukan rekayasa fisik mapun psikis. Kau apa adanya, itu yang kusuka
darimu. Percayalah ini bukan gombal atau rayuan dengan ucapan kosong, sungguh
__ADS_1
aku tidak bermaksud menjebakmu...” Pak Beib menggenggam tanganku. Hatiku masih
tawar. Aku hanya diam tak berekspresi.
“Aku tak cocok untukmu Pak Beib. Aku miskin, orangtuaku bukan siapa-siapa mereka pengangguran manula yang menjadi tanggunganku, aku punya adik sakit jiwa, seumur hidup aku harus
memperhatikannya. Aku hanya seorang jurnalis yang kadang menahan lapar atau
makin semangkuk mie instan agar bisa bertahan hidup. Aku bukan gadis dengan
penampilan modis yang elegan berbalut pakaian dan tas mahal dengan make-up
sempurna. Kau bisa mendapatkan ratusan gadis yang melebihi diriku. Mereka akan
mengejar-ngejarmu karena kau memiliki daya tarik yang sempurna. Aku sungguh rendah diri bila berada di
dekatmu, jujur aku merasa tak nyaman. Kadang aku merasa menderita karena
dicintai oleh sosok seperti dirimu. Siapalah aku, aku cuma manusia berujud
perempuan yang hanya bisa mengembangkan kata-kata, suka puisi dan kehidupan
marjinal yang memang sudah akrab denganku, bahkan sejak aku masih kecil. Aku...”
Belum selesai ucapanku, dadaku serasa sesak. Pak Beib berdiri dan menarik tubuhku, kemudian dia memelukku dengan erat. Kulihat air matanya menggenang di pelupuk. Aku menjadi serba
salah.
“Naina, jangan ucapkan itu lagi. Katakan saja maukah kau menerima lamaranku? Atau paling tidak kita bertunangan dulu. Aku sangat mencintaimu...sangat...” peluknya semakin erat.
“Pak Beib, tolong lepaskan pelukanmu dulu. Aku tak bisa bernafas, dadaku sesak.” Ucapku gemetar, tepat di telinganya.
Kemudian dia mendudukkanku kembali, perlahan-lahan kutata ucapan yang akan ke luar dari bibirku. “Begini, kita tak perlu terburu-buru, Pak. Kau hanya mengenalku di luarnya saja. Kita butuh waktu
untuk saling mengenal lebih jauh lagi, kau harus melihat keluargaku lebih dekat
dan aku pun demikian. Aku tak mau setelah mengenal lebih dalam, akan ada erosi
rasa yang membuat masing-masing dari kita mulai menyesali semua yang telah
terjadi.”
“Berapa lama hal itu harus kulakukan? Tidak, bagusnya kita bertunangan dulu, dan itu harus segera dilaksanakan!” katanya tegas.
Rupanya Pak Beib tahu akan kebimbangan di benakku. Maka tatkala ia menentukan tanggal pertunangan yang ternyata sudah dirancangnya bersama Papa dan Mamanya, aku tidak bisa berkata
apa-apa. Bukan aku gembira, namun aku tak punya jalan keluar untuk menolaknya. Kulihat
ia memang tidak main-main. Dan ketika undangan pertunangan itu di sebar di
__ADS_1
kantorku, seluruh teman bahkan Mas Heri gempar. (Bersambung)