Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 6


__ADS_3

Episode ke Enam


 


 


 


Cinta Sang Penyair


Hapus raut


murung di bingkai wajahmu


Kesedihan hanya membuat rasa luka semakin dalam


Biar tangis merayap diam diam


Karena rasa memang demikian, mengoyak harap yang tak


sejalan


Jangan...jangan kau simpan lelah terlalu lama


Sebab waktu akan memangkas yang ada


Marilah kekasih


Lihat derai hujan di balik jendela


Kirim salam dengan senyum tak lagi pekat


Atau kau berlabuh di bidang dada milikku semata


Agar rinai  turun


penuh makna


Dan kita berkirim rindu melalui kata


Hingga mimpi selalu meninggalkan jejak


Ayo, jangan terus di lingkup murung


Hitam biar hitam, dan putih melenggang sempurna


Di sana nanti ada pertemuan tak terduga


Kau dan aku melenggang penuh cerita


Hingga masa menunggu dengan sempurna


Dan cinta terngiang di gendang telinga


Bintang/Juli/2020


            Kini perasaanku bagai disiram air pegunungan yang sejuk usai membaca puisi yang


dikirim Bintang. Entah mengapa dalam situasi seperti ini, aku mulai merasakan


kerinduan sekaligus ketergantungan untuk memeriksa message darinya. Sehari ia tidak mengirimkan pesan di messanger Fb,aku mulai gelisah. Aku yang terbiasa mandiri, tidak tergantung dengan segala


*****- bengek yang berkaitan dengan cinta atau yang lainnya, kali ini harus


mengalah dengan perasaanku itu. Apakah ini yang dinamakan cinta? Ah, tidak! Aku


tidak boleh jatuh cinta. Banyak yang harus kuurus, tanggungjawabku harus

__ADS_1


kulaksanakan dengan sekuat tenaga. Aku tidak boleh bekerjasama dengan segala


hal yang namanya cinta. Tidak boleh!


            Tentang aku, baiklah akan kujelaskan siapa diriku sebenarnya. Aku anak sulung dari tiga


bersaudara. Ayahku seorang pelukis bohemian yang merdeka dengan dirinya.


Artinya, dia bebas mau berbuat apa saja khususnya yang berkaitan dengan dunia


seni lukis. Ayah selalu bilang, “Hidupku milikku sendiri, bukan milik kalian.


Aku merdeka dengan diriku sendiri, jadi jangan paksa aku untuk melakukan apa


yang tidak aku sukai.”


            Ayah sosok yang sangat idealis dengan karirnya sebagai pelukis. Tiap lukisan tidak


memiliki harga khusus. Ada yang bernilai puluhan juta, ada dengan harga ratusan


ribu, bahkan ada yang ia berikan secara gratis. Jika ia ikut pameran, terkadang


ia pulang membawa uang untuk ibu yang ia dapatkan dari hasil jualan lukisan,


kadang dengan santainya ia bilang uangnya sudah habis dibagi-bagikan ke


teman-temannya yang lukisannya tak laku. “Kasihan!” katanya. Hasil yang besar


dari lukisan, biasanya ditabung ibu untuk biaya pendidikan kami, juga makan


sehari-hari. Tapi jika uang sudah habis, jangan paksa ayah untuk mencarinya.


Baginya rasa lapar dan semua pengeluaran di dalam rumahtangga adalah


tanggungjawab bersama. Ayah akan marah dan membanting segala yang ada di rumah


apabila ibu mengeluh uang habis dan kita tak punya beras untuk dimakan.


untuk memenuhi kebutuhan di rumah. Aku akan berjualan es cream keliling kampung,


atau menjadi kuli angkut belanjaan di pasar dekat rumah usai pulang sekolah.


Kreativitasku di dalam mencari uang untuk membantu ibu, sudah kulakukan sejak


aku duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Untungnya otakku tidak bodoh, aku


berjuang keras belajar dengan tekun agar memperoleh beasiswa. Ibuku yang juga


menjadi pekerja lepas di sebuah perusahaan asuransi, jadi terbantu dengan


usaha-usaha kecilku dan prestasi belajarku. Satu adik laki-lakiku juga lebih


jenius dariku. Ia sejak kelas dua SD hingga S2 selalu mendapat beasiswa. Adikku


yang nomor tiga menderita skizofrenia, dulunya ia anak yang sangat jenius. Ia


pernah menjadi penari Bali dan ikut dalam kegiatan drama tari  Bali  yang berjudul Dongeng dari Dirah, sebuah tarian yang erat kaitannya dengan kisah mistik Calonarang. Ia melalangbuana ke Paris dan beberapa negara


Eropa lainnya saat usianya baru kelas tiga SD. Ya, kala itu kami memang masih


tinggal di Bali. Entah mengapa, sepulangnya dari Paris, ia mulai bersikap


aneh.Sering tertawa sendiri dan menari tanpa diminta. Ketika ayah membawanya ke


psikiater, sang dokter bilang adikku terlalu hiper aktif. Tapi sesungguhnya aku


merasa apa yang terjadi pada adikku adalah akumulasi dari sikap ayah yang kuanggap

__ADS_1


egois. Kemiskinan yang lebih sering melanda kami kurasakan semuanya akibat ulah


ayah. Ia selalu menuntut semua urusan rumah beres, selalu ada makanan dan sewa


rumah yang disewa ayah perbulan harus terbayarkan. Ibu dan daku yang


pontang-panting memikirkan semuanya. Honor adikku menari keliling Eropa pun


habis tak bersisa.


            Kekasaran ayah pada ibu, sementara ibuku sudah banting-tulang mencari penghasilan untuk


hidup kami sekeluarga, sesungguhnya itulah yang membuat aku kecewa pada


laki-laki. Orang bilang aku manis dan menarik. Dengan kecerdasan yang kumiliki,


tubuh proporsional, rambut ikal lebat, tinggi sekitar 167 cm, membuat banyak


lelaki yang tergila-gila padaku. Tapi aku menepis semua perhatian itu. Melihat


sikap ayah dan kehidupan yang miskin serta ada satu adik dengan penyakit yang


mengarah ke skizofrenia, membuat aku harus berpikir ulang untuk menjalin kasih


dengan pria manapun. Ada keangukahan terselubung yang kuciptakan dari semua


situasi yang kualami sejak kecil hingga dewasa. Ya, meski miskin dan memiliki


orangtua seniman serta adik yang sakit jiwa, aku tidak mau jika suatu saat


lelaki yang aku cintai, menghina latar belakang keluarga. Aku merasa memiliki


kecerdasan di atas rata-rata dan itu membuatku dapat meraih mimpiku untuk


menjadi seorang jurnalis. Memang terkesan sombong, tapi itulah aku. Hidup dengan


keterpurukan dan stigma kelam tentang adikku yang sakit jiwa, sudah pasti akan


membuat siapa pun menjadi nyinyir dan menatap penuh keanehan dengan keadaanku.


Aku tidak mau itu terjadi. Menarik diri dari pergaulan, menjadi sosok tertutup


dan mengalihkan semuanya ke jalur pendidikan, itulah yang kusasar. Dan ketika


berbagai beasiswa berhasil kuperoleh, hingga cita-citaku menjadi jurnalis dapat


tercapai, aku merasa selain Tuhan, kerja kerasku tak sia-sia. Dengan begitu aku


bisa mandiri dan menjadi penopang dana untuk kehidupan adik laki-laki yang


sakit jiwa itu. Bagiku kehidupan itu keras, aku harus menerobosnya dengan semua


kemampuan yang kumiliki.


            “Sudah jangan melamun lagi, Minggu depan kau ikut rapat bersama manajemen, siapkan


rubrikasi secara kasar dulu. Nanti kita bedah di rapat redaksi. Oh ya, Beib eh


Hamid Utomo akan hadir juga. Ayo, hadapi semuanya dengan senyum, Kau petarung


tangguh, aku yakin kau bisa!” Mas Heri tiba-tiba menepuk pundakku.


            “Nanti bantu saya ya, Mas.” Ucapku.


            “Tentu saja.”


             Meski aku mulai menyukai kiriman puisinya, tapi kali ini larik-larik puisi yang kuharap muncul, tidak ada. Kemana si Bintang Kejora itu? Pikirku. Tampaknya, aku mulai menyukai hubungan seperti

__ADS_1


ini. Mungkin ini bisa dikatakan sebuah hubungan platonik, tidak terlihat nyata,


namun mulai membuat rindu (Bersambung)


__ADS_2