Cinta Sang Penyair

Cinta Sang Penyair
Episode 5


__ADS_3

Bagian Kelima


Cinta  Sang Penyair


            Rapat redaksi dimulai tiap Senin. Cover depan yang menjual dari tabloid  kami, rencananya wajah Hamid Utomo, si Beib, pengusaha muda yang berhasil membawa perusahaannya ke peringkat sepuluh besar


nasional. Aku menulis kisahnya dengan rinci dan berdasarkan fakta. Seperti yang


sudah kututurkan, suhu udara ruang tamu di apartemennya yang super dingin itu,


membuatku menggigil kedinginan. Beib tampaknya melihat itu. tanpa aku sadari, jacket


berbulu hangat milik ibunya, disampirkannya di pundakku. Dan jacket itu lupa


kukembalikan. Sekarang benda itu terbentang bisu di sandaran kursi tempat


dudukku.


            Ace melihat jacket hangat berbulu itu. Katanya, “Kayaknya ini jacket mahal Cik,


coba gue lihat mereknya, wah Channel. Pasti jutaan,” ucap fotografer otodidak


yang ceria ini.


            Aku mengangguk cepat, hari ini selian membicarakan rubrikasi tabloid untuk Minggu


depan, tentu membicarakan  tabloid


anak-anak itu juga. Sementara aku masih belum punya ide apa-apa untuk


diutarakan nanti.


            Pintu terbuka. Dan berbarengan dengan itu, bunyi notification dari layar Fb-ku


terdengar. Aku menunda langkah untuk masuk. Kubuka layar Fb, ada tiga bait


puisi terpampang di wall. Hm...si Bintang Kejora ini tidak punya kerjaan


rupanya, jam sembilan pagi ini sudah mengirimkanku puisi, jangan-jangan dia


pengangguran sejati, kerjanya cuma berkhayal saja, gumamku.


            Ketika aku hendak menaruh bokongku di kursi rapat, kulihat semua mata memandang ke


arahku. Ace yang masuk duluan menundukkan wajahnya, ia menyembunyikan


senyumnya. Bosku Mas Heri menatapku tajam. Sejenak aku bingung melihat sikap


mereka. Tak lama baru aku sadar, tepat di samping kananku ada Beib sedang


mempermainkan pulpennya. Di tangan kirinya ia memegang Handphone mahal dengan


gambar apel. Respek aku berdiri. “Oh, Pak Hamid, maaf saya tidak sadar ada


Bapak di ruangan ini,” ucapku sambil membungkukkan tubuh. Duh, gara-gara puisi


si Bintang Kejora ganjen itu, aku sampai tidak sadar kalau hari ini ada tamu


istimewa yang hadir di ruangan rapat. Aku menundukkan wajah beberapa detik, berusaha


menyembunyikan rona memerah di wajahku.


            “Oke, rapat kita mulai. Hari ini selain rencana rubrikasi untuk nomor depan, kita

__ADS_1


akan membicarakan tabloid anak-anak yang Minggu lalu kita bahas. Hari ini kita


kedatangan sang pemodal, Pak Hamid Utomo. Selamat datang Pak Hamid, senang


Bapak mau hadir di ruang rapat yang sederhana ini,” kata Mas Heri dengan senyum


merekah di wajahnya.


          “Selamat pagi rekan-rekan, salam, saya Hamid Utomo, tapi


teman-teman dan karyawan saya, saya minta panggil Beib saja. Mbak Naina dan


Kang Ace juga saya minta memanggil dengan nama itu.” ucapnya dengan berdiri.


Tubuhnya yang lumayan tinggi mungkin sekitar 185 cm, wajah tampan perpaduan


China dan Kaukasia lengkap dengan mata biru ke abu-abuan, kulit kuning bersih


dan tatanan rambut tercukur rapi hingga leher jenjangnya yang bersih terawat


tampak jelas, juga jari-jemari lentiknya yang halus kekuningan, membuat aku dan


teman-teman sejenak tidak memalingkan pandangan ke arah lain. Lelaki ini


benar-benar terlihat tampan sempurna, ia bagai laki-laki dari mitologi Yunani


yang memiliki daya tarik luar biasa, betapa sempurnanya laki-laki dia, dan


sempurna pula cewek yang telah menjadi kekasihnya, batinku.


    “Baiklah, kami persilakan Mas Beib untuk menyampaikan


maksud dan tujuannya ikut di rapat ini. Minggu lalu kami sudah menyinggung


sekilas tentang tabloid anak-anak yang Mas usulkan itu.”


melanda diriku. Entah mengapa, spiritku sebagai jurnalis kali ini agak


melempen. Mungkin karena ada keterpaksaan yang menumpulkan nalarku tentang


tabloid anak-anak itu. Jiwa mudaku seakan memberontak, aku sedang penuh dengan


semangat sebagai penulis beragam isu dengan konsumsi pembaca orang-orang muda


dan dewasa. Di dalam gaya menulisku yang kurangkai berdasarkan perpaduan bahasa


sastra dan gaya anak muda masa kini, aku merasa menemukan jati diriku sendiri.


Tapi sekarang, apabila aku harus menjadi pemimpin redaksi dari sebuah tabloid


anak-anak, itu sama saja membelenggu kebebasan bereksperimenku di dalam


merangkai kata. Ini tak adil namanya. Beib yang awalnya kukagumi sebagai sosok


anak muda yang sukses memimpin perusahaan, kini tak lebih dari seorang taipan dengan


ego yang akan memaksakan kehendaknya dengan semena-mena. Dia berubah menjadi


seorang kapitalis muda yang tidak tahu tentang perasaan seorang wartawati seperti


aku. Tentu ini tidak demokratis namanya. Maka selama rapat yang berlangsung


penuh keriangan itu, aku tiba-tiba menjadi sangat pendiam. Aku merasa tercerabut

__ADS_1


dari dunia kewartawanan yang selama ini selalu membuatku melihat kehidupan


dengan penuh warna-warna ceria. Aku sedih, sungguh!


    “Jadi sudah dipastikan yang menjadi Pemimpin Redaksi dari


tabloid anak-anak itu Naina Jaqueline Haning. Kau setuju kan, Naina?” Mas Heri


kembali mengulangi pertanyaannya. Semua teman termasuk Beib melemparkan


pandangannya ke arahku. Aku tahu mereka melihat wajah keruhku. Mereka seolah-olah


menuntut agar aku menganggukkan kepala. Terlebih lagi ada bos besar di sini.


    “Baiklah, saya mewakili Naina, ia senang akan jabatan


barunya ini Mas Beib. Minggu depan kita akan mematangkan rencana ini. Kita


rapat lagi dengan seluruh manajemen perusahaan ini.” Mas Heri berkata dengan


suara tegas.


    Beib atau Hamid Utomo segera pamit dari kami semua.  Wajahku masih terlihat tidak ceria. Aku


merasakan kalau Beib juga tahu tentang suasana hatiku. Aku bersyukur menyimpan


no Handphonenya, dalam hati aku berencana untuk menelponnya malam nanti.


Tapi...niat itu kuurungkan. Ucapan Mas Heri membuatku berpikir ulang untuk


mengambil tindakan, dan ini pada akhirnya mengubah seluruh keinginan dan


pemberontakan yang hendak kulakukan.


    “Pikirkan dengan matang Naina, saya tahu kau tidak suka


dengan jabatan ini. Jika kau menolaknya, ini akan merembet ke semua lini. Dana


yang akan dia luncurkan sangat besar, dan semua itu akan sangat bermanfaat


untuk kita semua. Kau tahu, dengan maraknya majalah dan koran online yang ada


saat ini, di mana orang-orang perkotaan tinggal mengarahkan jemarinya untuk


mencari berita-berita yang mereka inginkan, situasi tabloid mainstream seperti


kita, lambat laun akan gulung tikar. Media kita kelak berubah menjadi media


online, dan akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja besar-besaran. Kau mau semua


itu terjadi? Teman-teman kita akan dirumahkan, istri dan anak mereka tak lagi


menerima gaji, sekolah anak-anak mereka akan terbengkalai. Dan kau, juga kita


semua bisa menjadi pengangguran, mencari pekerjaan dengan modal dari nol lagi.


Ayo cantik, singkirkan egomu itu. Terimalah tawaran itu!”


    Aku menarik nafas panjang, lalu kuanggukkan kepalaku. “Ya,


saya bersedia,” ucapku. Hari itu, usai menyelesaikan beberapa artikel, termasuk


ramalan bintang, kubuka kembali wall Fbku. Di messanger kulihat tiga bait puisi

__ADS_1


terkirim, Aku membacanya dengan antusiasme penuh rindu. Sepertinya perasaanku


telah terbawa oleh pikat si Bintang Kejora. (Bersambung)


__ADS_2