Cinta Si Gadis Buta

Cinta Si Gadis Buta
Kebenaran


__ADS_3

Pagi ini Aldo berangkat lebih awal dari biasanya.


sepanjang perjalanan menuju ruang kelas ia selalu mendapat banyak tatapan dari para siswi perempuan. tatapan yang mendambakan sosok seorang ketua OSIS yang tampan dan pintar.


tak heran jika ia selalu menjadi incaran kaum hawa. hhe gantenge puoolll....


"Eh..mas Aldo baru dateng ya?"tanya pak Supri petugas kebersihan ramah.


"Iya nih pak."jawab Aldo sekenanya.


"Tumben nggak bareng yang lain mas?"tanya pak Supri lagi.


"Ada yang mesti saya urus pak,permisi."ucap Aldo dan pamit untuk masuk ke kelas.


kondisi ruang kelas tentu masih sepi karena belum banyak siswa yang datang,


ia memutuskan mendudukkan dirinya di bangku kayu dan diam memikirkan isi kepalanya.


hidup ini penuh dengan teka-teki. dan harus serumit ini kah...


hingga ada seseorang yang datang membuat Aldo bangun dan menghampiri nya.


"Reza.."ucap Aldo memanggil.


"Iya ada apa Al..?"jawab Reza ramah.


"Kita perlu bicara."ucapnya sekenanya.


"Baiklah."jawab Reza dingin.


mereka memutuskan untuk bicara di taman belakang sekolah,karena jika dikelas mungkin akan banyak yang akan dengar dan ingin tahu.


keduanya berjalan berdampingan tanpa ada pembicaraan.


mereka memang siswa tampan dan pintar. meski berjalan dengan tatapan dingin sekalipun tak mengurangi ketampanan mereka.


hingga mereka tiba di taman belakang sekolah tepat dibawah pohon rimbun.


"Ada apa Al?"tanya Reza mengawali pembicaraan.


"Apa hubungan mu dengan nya?"tanya Aldo dingin.


"Siapa yang kau maksud?''jawab Reza.


"Raisa Andriana."ucap Aldo.


"Oo." itu saja jawaban yang Reza ucapkan dan berhasil membuat Aldo kesal.


"Ayolah za, tidak perlu berbelit seperti ini."ucap Aldo geram.


"Dia adalah teman ku,Al. untuk apa kau mengetahui nya."jelas Reza asal bicara.


"Aku hanya ingin tau apa maksud ucapan mu saat dipesta."ucap Aldo ingin tahu.


"Apa yang dia lakukan lebih mahal dari harga gelas itu,?" ucap Aldo lagi menuntut penjelasan.


"Kau sungguh ingin tau Al?"tanya Reza serius.


"Maka dengar kan baik-baik."ucap Reza.


"Hingga saat ini kau bisa melihat seperti semula karena seseorang, dan orang itu harus kesusahan dan menerima segalanya untuk mu."ujar Reza sedih mengingat yang terjadi.


terlebih kejadian saat pesta.melihat Raisa diperlakukan seperti itu membuatnya terpaksa hampir mengatakan segalanya.


hingga membuat Aldo ingin mengetahui segalanya hari ini.


"Dia yang mencintai mu, dan rela melakukan itu semua hanya untuk mu."ucap Reza lagi.


"Siapa yang kau maksud, tunggu ---."ucap Aldo terjeda karena ia sempat memikirkan seseorang.


"Apa dia orang yang kau maksud adalah Raisa?"tanya Aldo.


Reza hanya mengangguk pasrah mendapat pertanyaan dari Aldo.


"Di---dia melakukan semua itu."ucap Aldo kaget.


ternyata dia lah gadis yang selama ini mendonorkan matanya.


"Jika tidak percaya kau bisa ke rumah sakit."ucap Reza datar.


ia berniat pergi dari sana namun dicegah oleh aldo.dan kembali melayangkan pertanyaan.


"Kenapa kau menutupi semua ini?''


"Jadi, gadis yang selama ini bersama mu adalah dia juga?"


"Apa kau juga memiliki perasaan untuk nya?"tanya Aldo bertubi-tubi tanpa mendengar jawaban dari Reza yang hanya diam membeku.sebekum akhirnya ia menjawab.


"Aku berteman baik dengan nya, dan dia membuatku berjanji untuk tidak memberitahu semua ini padamu ataupun yang lain."jelas Reza panjang lebar.


"Kini aku mengingkari janji itu."tatapan nya masih sama tanpa beralih.


bel masuk berbunyi membuat Reza segera melangkah pergi dan masuk ke kelas sebelum guru datang.


disusul dengan Aldo yang berjalan lambat dengan fikiran yang tidak fokus.


hingga ia menabrak seseorang dihadapanya.


'Brukkk...'


'Awss.'

__ADS_1


Aldo tersadar dan membantu gadis itu berdiri,lalu membereskan buku-buku yang ia bawa.


"Maaf."ucap Aldo datar.


"Tidak apa-apa,"jawab gadis itu dan bukanya bangun ia malah masih fokus menatap wajah tampan Aldo.


"Ekhm!''deheman Aldo berhasil membuatnya kembali sadar.


"Ee--ehh iya."ia gugup saat mendapat tatapan intens dari Aldo.


tanpa menghiraukan gadis itu Aldo kembali berjalan ke kelasnya. yang mungkin guru sudah ada disana.


dan benar saja guru sudah memulai sedikit pelajaran di pagi ini.


"Permisi."ucap Aldo dingin.


menghentikan guru yang lagi mengajar itu.dan beralih menatap Aldo.


"Ya, dari mana saja Al?"tanya Bu Anis ramah.


"Ada keperluan sebentar tadi Bu, maaf."ucapnya lirih dan menunduk.


"Oo..baik silahkan duduk kita mulai pelajaran hari ini."ucap Bu Anis dan akan memulai pelajaran kembali setelahnya.


dikelas lain baru saja kedatangan siswa baru.yang ternyata adalah gadis tadi yang bertemu dengan Aldo.


"Perhatian, untuk hari ini kita kedatangan siswi baru. bapak harap kalian bisa berteman baik."ucap pak Budi menjelaskan.


"Silahkan perkenalkan dirimu nak."ucap pak Budi lagi.


"Perkenalkan nama saya Anisa Hermawati, saya harap kita bisa berteman, terimakasih."ucapnya pelan dengan senyum yang merekah.


"Silahkan kamu duduk disebelah Kanya,"ujar pak Budi sambil menunjuk tempat yang ia maksud.


Anisa pun menurut dan duduk disebelah Kanya. senyum ramah ia tampilkan pada Kanya yang hanya menatap nya dingin.tanpa berniat untuk menyapa.


pikiran ketiga orang itu sama masih tentang Raisa..


pelajaran pertama berjalan dengan baik dan lancar. semua siswa terlihat tenang tidak seperti kelas sebelah yang selalu ribut.


hari ini pelajaran pertama berakhir diganti dengan bunyi bel istirahat.dan membuat semua siswa tersenyum senang.


"Kantin yuk..."ucap Naya lemas.


"Hm..ayo."jawab Nasya dan Kanya datar.


baru saja mereka ingin pergi tapi dihalangi oleh Anisa.


"Boleh aku ikut?"tanya Anisa ragu-ragu.


mereka menatap Anisa tak suka karena saat ini suasana hati mereka yang buruk.tak seperti biasa yang selalu welcome.


dengan ragu Anisa pun mengikuti mereka ke kantin.


suasana kantin tidak terlalu ramai, karena mungkin belum sepenuhnya keluar.mereka mencari tempat yang nyaman dan jauh dari keramaian dan akhirnya memilih dipojokkan.


selepas mereka duduk, datanglah siswa yang lain bersamaan Aldo dengan teman-teman nya yang tampan.


pandangan Anisa tak berkedip saat menatap Aldo yang sedang berjalan tak jauh darinya saat ini.


"Liatin apan Lo?"tanya Kanya to the poin.


"Ee--ii--ittu nggak ada kok."jawab Anisa bohong.


Kanya yang terus memperhatikan nya sangat paham jika saat ini Anisa sedang menatap sang ketua OSIS.


setelah lama menunggu pesanan mereka pun datang dan segera menyantap nya. karena memang perut mereka sudah sangat lapar.


"Wih ada pesaing baru nih yang mau rebutin pak ketu."celetuk Iyan tanpa dosa.


"Siapa emangnya?"tanya Dito penasaran.


"Tuh liat dipojokan deh, ada yang curi-curi pandang."ucap Iyan mengisyaratkan dengan kode mata.


mereka berempat menengok bersamaan dan Aldo hanya memutar bola matanya malas. ternyata gadis tadi lah yang selalu menatapnya seperti itu.


"Maklum anak baru."ucap Daffa menimpali.


"Hm..asal nggak kecentilan dan nggak bikin ilfeel aja."ucap Reza datar. ia sangat tahu jika beberapa cewek yang menaksir sahabatnya itu rata-rata kecentilan semua.


ucapan Reza berhasil membuat Aldo tersenyum tipis nyaris tak terlihat.


"Eh.. ngomong-ngomong kok kaya ada yang kurang diantara mereka ya?"tanya Daffa.


lantas membuat Aldo dan Reza saling menatap satu sama lain. mungkin yang daffa cari adalah Raisa.


"Mungkin dia ada urusan."ucap Reza dingin.


dan kembali menyesap minuman nya hingga habis. setelah nya ia berpamitan untuk ke kelas lebih dahulu.


"Duluan bro."ucap Reza dan berlalu pergi dari sana.


Aldo yang merasa risih terus ditatap oleh gadis itu pun memutuskan untuk pergi juga dari kantin setelah memberikan uang untuk membayar makanan mereka bersama.


"Makasih Boss."ucap Iyan dengan cengiran.


"Hmm..."Jawab Aldo dan berjalan dengan langkah tegapnya membuat nya semakin terlihat cool saja.


ditempat Kanya mereka juga ingin pergi karena makanan mereka telah habis. tak lupa membayar lebih dulu.


diperjalanan menuju kelas terlihat hening tanpa ada candaan.

__ADS_1


hingga pertanyaan Anisa menarik perhatian mereka berempat.


"Apa kalian selalu diam seperti ini?"tanya Anisa pelan.


"Nggak."jawab Kanya datar masih dengan mode itu.


"Kami hanya kehilangan satu orang yang membuat kita diam dan tak bersemangat."ucap Nasya menjelaskan.


"Mungkin saat ini dia sedang marah pada kami."ucap Nasya dengan wajah sendu.


"Ngapain sih pake ngomng sama dia."ucap Kanya kesal dan berlalu meninggalkan Naya dan Nasya.


"Eh...tungguin dong."rengek Naya manja dan Nasya mengikuti langkah Kanya yang cepat.


meninggalkan Anisa seorang diri dengan perasaan heran.


"Iiiih gak jelas tau gak. emang siapa dia yang buat mereka ketus sama aku."ucap Anisa kesal.


"Emang sepenting itu ya dia?"ucap Anisa lagi sambil menghentakkan kakinya.


...----------------...


sepulang sekolah Reza berniat langsung menemui Raisa untuk mengantarkan nya ke kontrakan baru. yang kemarin mereka kunjungi bersama.


Reza berjalan santai menuju parkiran. hari ini free karena tidak ada rapat ataupun kegiatan lainnya.


membuat Reza lega karena tidak perlu kesorean menemui Raisa.


tanpa sepengetahuan temannya ia berlalu dengan cepat.berharap tidak ada yang tahu saat itu.


tak memerlukan waktu lama kini Reza sudah didepan kontrakan lama Raisa.


tokk... tokk.


"Saa..."ucap reza memanggil.


Raisa datang dan segera membuka pintu depan.


"Iya kak."jawab Raisa ramah.


"Duduk dulu."ucap Raisa lembut.


Reza menurut dan mendudukkan dirinya dibanku depan kontrakan. Ia memilih didepan daripada harus masuk yang nantinya akan menjadi fitnah.karena Raisa tinggal sendiri disini.


"Apa sudah siap?"tanya Reza mengawali pembicaraan.


"Udah dong kak."jawab Raisa semangat.


"Apa kau sudah mengabari teman-teman mu, jika kau akan pindah?"tanya Reza lagi.


"Mereka tidak perlu tau kak, aku pergi karena ingin sendiri tanpa ada yang tau."jawab Raisa dengan mata yang berkaca-kaca.


ia sedih jika harus hidup sendiri dan tanpa mereka. tapi dia kecewa saat ia membutuhkan mereka sama sekali tidak datang dan membantu walaupun hanya sekedar menyemangati.


kemudian ia tepis pikiran itu jauh-jauh dari benaknya dan berusaha memulainya kembali tanpa siapa pun kecuali Reza.


"Ayo.."ucap Reza.


Raisa mengangguk dan berjalan ke arah motor Reza. dengan menggendong tas ransel mini miliknya.dan melanjutkan perjalanan.


disekolah Aldo sedang mencari keberadaan Reza yang sudah pergi tanpa sepengetahuan nya.


"Kemana si reza?"tanya nya pada Daffa.


"Kan udah pulang dari tadi."jawab Daffa.


"Oo.."ucap Aldo setengah berfikir.


"Apa dia menemui Raisa."gumam Aldo didalam hati.


setelah nya ia memutuskan untuk pergi juga sekarang.


"Aku duluan."ucap Aldo pada Dafa Dito dan Iyan.


sebelum ketiganya mengangguk ia berlalu terlebih dahulu.


"Ada apa si kok kaya aneh gitu?''tanya Dito bingung.


"Kayaknya gara-gara cewek deh."ucap Iyan serius.


"Maksudnya?"tanya Daffa.


"Duduk dulu deh."ucap Iyan dan langsung duduk di meja.


Daffa dan Dito menurut ikut duduk di bangku ruang kelasnya.


"Apaan yan?''tanya Dito tak sabaran.


"Waktu di cafe tuh gue sempet liat Reza sama cewek, nah karena sadar gue liatin terus dia bawa pergi tuh cewek."ucap Iyan menjelaskan.


"Cewek?? sejak kapan Reza punya cewek ngarang lu."ucap Daffa tak percaya.


"Ish..masa gue boong sih. beneran tau."ucap Iyan kesal.


"Terus kenapa pas Reza pergi Aldo jadi ikut-ikutan dah?"tanya Dito.


"Mungkin juga ada urusan yang sama."jawab Iyan santai.


''Pulang yuk, kita tanya langsung aja besok."ucap Daffa.


kemudian mereka memutuskan untuk pulang karena suasana sekolah sudah sangat sepi.

__ADS_1


__ADS_2